Sejarah Gereja Santo Petrus, Katedral Tertua di Bandung

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Gereja Katedral Santo Petrus Bandung (Sumber: KITLV)
Gereja Katedral Santo Petrus Bandung (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Pada akhir abad ke-19, Jalan Merdeka belum seramai sekarang. Tak ada deretan toko modern atau lalu lintas yang saling berebut ruang. Di kawasan yang masih berdekatan dengan gudang kopi milik pemerintah kolonial itulah, sebuah bangunan kecil berdiri nyaris tanpa pretensi. Ukurannya sederhana, fungsinya jelas: menjadi tempat singgah iman bagi komunitas Katolik yang jumlahnya masih bisa dihitung jari-jari tangan.

Bangunan itu kelak dikenal sebagai Gereja St. Franciscus Regis, gereja Katolik pertama di Bandung. Dari ruang sempit berukuran 8 x 21 meter inilah, sejarah panjang Gereja Katolik di Bandung berawal. Gereja ikonik ini hadir dari kebutuhan paling dasar sebuah komunitas yang ingin memiliki tempat berdoa tetap di kota yang sedang belajar menjadi pusat kekuasaan kolonial.

Kisah ini bermula pada 1878, ketika keberadaan umat Katolik di Bandung masih seperti benih yang baru ditanam. Ada, tapi belum cukup kuat untuk berdiri sendiri. Pelayanan rohani bagi umat Katolik kala itu belum bersifat menetap. Bandung masih bergantung pada pastor dari Cirebon yang secara administratif berada di bawah Vikariat Apostolik Batavia.

Baca Juga: Hikayat Patung Bugil Citarum, Jejak Pantat Kolonial yang Hubungkan Bandung dengan Den Haag

Perjalanan pastoral pada masa itu bukan perkara ringan. Jarak jauh, kondisi jalan terbatas, dan sarana transportasi yang belum ramah waktu membuat pelayanan keagamaan berjalan ala kadarnya.

Situasi mulai berubah ketika jalur kereta api Batavia–Bandung resmi dibuka pada 1884. Rel besi ini bukan sekadar memindahkan manusia dan barang, tetapi juga membawa ritme baru kehidupan kota. Bandung tidak lagi terasa sejauh Cirebon, dan pelayanan gereja pun bisa lebih teratur. Dari sinilah gagasan mendirikan gereja permanen mulai masuk akal, bukan sekadar wacana.

Gereja Katolik pertama di Bandung akhirnya berdiri di Schoolweg, yang kini dikenal sebagai Jalan Merdeka. Ukurannya jauh dari kata megah, hanya sekitar 8 x 21 meter. Luasnya kurang lebih setara aula kecil serbaguna zaman sekarang. Di sampingnya terdapat pastoran sederhana, cukup untuk tempat tinggal imam yang bertugas. Lokasinya pun unik, berdekatan dengan gudang kopi milik pemerintah kolonial, seolah menegaskan bahwa iman dan ekonomi memang kerap berjalan beriringan dalam sejarah kota.

Bangunan sederhana itu diberi nama Gereja St. Franciscus Regis, merujuk pada santo Yesuit asal Prancis yang dikenal dekat dengan kaum kecil. Gereja ini diberkati pada 16 Juni 1895, menjadi tonggak penting bagi umat Katolik di Bandung. Meski kecil dan bersahaja, gereja ini berfungsi sebagai pusat kehidupan rohani yang sebelumnya tercerai-berai. Dari sinilah denyut komunitas Katolik Bandung mulai terasa nyata.

Seiring waktu, Bandung bergerak cepat. Pada 1 April 1906, kota ini resmi menyandang status gemeente, setara kotamadya. Status baru itu membawa ambisi besar: menjadikan Bandung kota modern dengan tata ruang ala Eropa. Pemerintah kolonial mulai membangun civic centre, lengkap dengan balaikota dan taman Pieterspark. Kawasan di sekitar gereja pun ikut terseret dalam arus perencanaan kota yang lebih sistematis.

Baca Juga: Sejarah Panjang ITB, Kampus Insinyur Impian Kolonial di Tanah Tropis

Dalam konsep civic centre tersebut, rumah ibadah tidak ditempatkan di pinggiran, melainkan sebagai bagian dari ekosistem kota. Sekolah, bank, kantor polisi, dan gereja dirancang saling berdekatan. Bagi pemerintah kolonial, tata kota yang baik bukan hanya soal administrasi, tetapi juga soal keseimbangan sosial dan spiritual.

Pada 1907, Bandung resmi dipisahkan dari Distrik Cirebon dalam urusan gerejawi. Kota ini ditetapkan sebagai stasi tersendiri, dengan pastor yang secara khusus melayani umat setempat. Dampaknya terasa cepat. Dalam waktu empat tahun, jumlah umat Katolik melonjak hingga sekitar 1.800 orang. Setiap misa bisa dihadiri ratusan jemaat. Gereja St. Franciscus Regis yang mungil pun mulai kewalahan.

Bangunan Gereja St. Franciscus Regis. (Sumber: KITLV)
Bangunan Gereja St. Franciscus Regis. (Sumber: KITLV)

Bangunan yang semula terasa cukup mendadak berubah menjadi sempit. Jemaat berdesakan, sirkulasi udara terbatas, dan kenyamanan menjadi kemewahan yang langka. Kondisi ini memaksa pimpinan gereja berpikir realistis. Jika Bandung terus berkembang, gereja pun harus ikut bertumbuh.

Baca Juga: Julukan Parijs van Java Bandung Diprotes Sejak Zaman Baheula

Gereja Sederhana yang jadi Katedral Ikonik di Jantung Kota

Keputusan membangun gereja baru akhirnya diambil. Lokasinya masih di kawasan yang sama, tak jauh dari gereja lama, tepatnya di bekas area peternakan di Merpikaweg atau Jalan Merdeka. Lahan ini dipilih bukan tanpa pertimbangan. Selain strategis, kawasan tersebut sudah menjadi pusat aktivitas kota yang terus hidup.

Untuk merancang bangunan baru, dipilihlah Charles Prosper Wolff Schoemaker, arsitek Belanda yang namanya lekat dengan wajah Bandung. Schoemaker dikenal piawai meramu gaya Eropa dengan penyesuaian tropis. Tangannya kelak melahirkan banyak bangunan ikonik, dan gereja ini menjadi salah satu karya pentingnya.

Pembangunan gereja berlangsung sepanjang 1921. Prosesnya relatif cepat untuk ukuran proyek besar pada masa itu. Perencanaan matang dan dukungan teknis yang solid membuat konstruksi berjalan tanpa banyak hambatan berarti. Setahun kemudian, pada 19 Februari 1922, gereja baru tersebut resmi diberkati dan dipersembahkan kepada Santo Petrus.

Pemilihan nama Santo Petrus bukan sembarangan. Ia melambangkan fondasi dan kepemimpinan dalam tradisi Gereja Katolik. Penamaan ini seolah menjadi pernyataan bahwa gereja baru tersebut bukan hanya bangunan pengganti, melainkan simbol kematangan komunitas Katolik Bandung yang telah melewati fase rintisan.

Sementara itu, bangunan lama Gereja St. Franciscus Regis tidak dihapus dari peta sejarah. Bangunan tersebut dialihfungsikan menjadi gedung Perkumpulan Sosial Katolik, tetap hidup dalam peran yang berbeda. Dalam perjalanan waktu, kawasan itu kembali berubah mengikuti dinamika kota, hingga akhirnya menjadi bagian dari kompleks Bank Indonesia. Fungsi boleh berganti, tetapi jejak sejarahnya tetap melekat.

Katedral Santo Petrus kemudian tumbuh menjadi pusat kehidupan umat Katolik Bandung. Gaya neo-Gotiknya menjulang di tengah hiruk pikuk kota, menjadi pengingat bahwa Bandung pernah dibangun dengan visi yang memadukan iman, administrasi, dan estetika. Pada 2009, bangunan ini ditetapkan sebagai cagar budaya yang menegaskan nilainya bukan hanya bagi umat Katolik, tetapi juga bagi sejarah kota.

Baca Juga: Dari Gurun Pasir ke Kamp Konsentrasi, Kisah Tragis Keluarga Berretty Pemilik Vila Isola Bandung

Jika ditarik garis lurus, sejarah Gereja Katolik di Bandung adalah cermin perjalanan kota itu sendiri. Dari pelayanan seadanya, bangunan sederhana, hingga institusi mapan yang menyatu dengan wajah urban. Gereja St. Franciscus Regis mungkin sudah lama tak berdiri sebagai rumah ibadah, tetapi perannya sebagai fondasi tak tergantikan. Tanpa gereja kecil berukuran 8 x 21 meter itu, mungkin tak akan ada Katedral Santo Petrus yang hari ini berdiri anggun di Jalan Merdeka.

Sejarah ini mengingatkan bahwa kota tidak hanya dibangun dari beton dan aspal, tetapi juga dari kesabaran, kebutuhan, dan keputusan-keputusan kecil yang diambil pada waktu yang tepat. Bandung, dalam hal ini, menyimpan kisah tentang bagaimana iman ikut tumbuh bersama rel kereta, gudang kopi, dan rencana tata kota kolonial. Sebuah kisah yang diam-diam membentuk identitas kota hingga hari ini.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 15:18

Revolusi Perancis dan Bandung Nol Kilometer

Revolusi Prancis berawal dari penjara Bastille tahun 1789 telah membuat perubahan besar hak asasi manusia juga mempengaruhi perkembangan Bandung.

Monumen titik nol kilometer Kota Bandung diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada 18 Mei 2004 dan didedikasikan untuk masyarakat Priangan korban kerja paksa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Anya Dellanita)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 12:56

Bagaimana Teknologi Pengenal Plat Nomor Mengubah Wajah Transportasi Modern?

Teknologi License Plate Recognition (LPR) memungkinkan kamera dan AI mengenali plat nomor kendaraan secara otomatis untuk mendukung transportasi yang lebih aman, efisien, dan cerdas.

LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. (Sumber: ilmiteknik.co.id)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 11:48

Panduan Berkunjung ke Pulau Komodo: Cara ke Labuan Bajo, Pink Beach, dan Pulau Padar

Panduan lengkap Taman Nasional Komodo mulai dari harga tiket, aplikasi SiOra, Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point, hingga pilihan tour terbaik.

Pulau Komodo. (Sumber: Flickr)