Mapag Puasa

4 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Asyiknya pawai obor (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Asyiknya pawai obor (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Mapag Ramadan 1447 Hijriah menjadi wujud kesiapan dalam menyambut bulan suci penuh rahmat berkah dan magfirah dengan semangat kebersamaan, penguatan ibadah, dan peningkatan kepedulian sosial.

Ketua Umum PB Paguyuban Pasundan, Didi Turmudzi, mengajak seluruh keluarga besar organisasi untuk menyambut Ramadan dengan penuh kegembiraan serta kesiapan lahir dan batin.

Menurutnya, Ramadan merupakan momentum strategis untuk memperkuat syiar Islam sekaligus menata kehidupan pribadi, keluarga, dan lingkungan sosial.

Ramadan adalah media yang sangat efektif untuk memperbaiki diri, memperkuat akhlak, serta menumbuhkan semangat perjuangan melalui pendidikan dan pembinaan generasi muda,” tuturnya.

Dengan harapan rangkaian kegiatan Ramadan tahun ini dapat semakin memperkokoh nilai-nilai keagamaan, mempererat kebersamaan, meningkatkan solidaritas sosial, sehingga memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.

Ketua Bidang Agama PB Paguyuban Pasundan, Makbul Mansyur, menambahkan fokus kegiatan Ramadan tahun ini diarahkan pada penguatan nilai-nilai keagamaan, peningkatan kepedulian sosial di tengah masyarakat. (Koran Pikiran Rakyat, Jumat, 13 Februari 2026)

Aktivitas mapag ramadan di Cisurupan dan Cikajang Garut (Sumber: Instagram @panda.garut | Foto: Hasil tangkapan layar)
Aktivitas mapag ramadan di Cisurupan dan Cikajang Garut (Sumber: Instagram @panda.garut | Foto: Hasil tangkapan layar)

Menyalakan Harapan

Saat membaca Koran Pikiran Rakyat seorang kawan berkirim informasi tentang aktivitas mapag ramadan dalam liputan bertajuk Mapag Bagja Ramadhan Bersama Buruh Tani, Perjuangan buruh tani di Cikajang dan Cisurupan demi keluarga dan Ramadan, 11 Februari 2026

Pada gambar itu dijelaskan secara rinci,

Ada tangan-tangan sunyi yang menyiapkan kehidupan kita setiap hari menanam, merawat, dan berharap tanpa banyak sorot. Ramadan mengajarkan kita bahwa kebaikan sering dimulai dari kepedulian sederhana pada mereka yang jarang terlihat, tapi selalu memberi. Semoga langkah kecil yang kita akan menjadi pelukan hangat bagi mereka.

Sambil bertanya, "Kalau di Bungbulang model mapagnya seperti ini? Atau ada yang lain?"

Kujawab seadanya, "Aya nu sanes, sapertos pawai obor!"

Memang dalam posting sebelumnya akun @panda.garut berbagai video aktivitas Mapag Bagja Ramadhan dari Ladang Menuju Ramadhan yang Lebih Tenang pada 10 Februari 2026,

Di ladang-ladang Cisurupan dan Cikajang, langkah para buruh tani tetap setia menjaga nyala dapur keluarga.

Lewat Mapag Bagja Ramadhan, kami titipkan bekal sederhana dan peluk kebaikan agar bulan suci disambut dengan hati yang lebih tenang, lebih hangat, dan penuh harapan.

Ya kehidupan harus tetap tumbuh, merekah dari kesetiaan, kebersahajaan. Saat para pejuang sejati menunduk di antara hijau daun, memetik rezeki dengan sabar, menjaga nyala dapur keluarga dengan peluh yang tak banyak bicara. Tanah menjadi ruang tafakur, zikir bersama. Setiap langkah-langkah kecil menjadi untaian doa yang disemai dalam diam. Bismillah...

Pawai obor, tradisi mapag Ramadan di Bungbulang Garut Pakidulan, Sabtu (14/2/2026) (Sumber: YouTube @KangDegun | Foto: Hasil tangkapan layar)
Pawai obor, tradisi mapag Ramadan di Bungbulang Garut Pakidulan, Sabtu (14/2/2026) (Sumber: YouTube @KangDegun | Foto: Hasil tangkapan layar)

Menjemput Cahaya

Untuk di Alun-alun Bungbulang, Sabtu (14/2/2026), cahaya-cahaya kecil berarak dalam gelap. Tradisi Mapag Ramadhan diwujudkan melalui pawai obor.

Dalam video Kang Degun yang diberi judul Pawai Obor Menyambut Bulan Suci 1447 H yang sudah ditonton 1.204 dengan mendapatkan 4 suka dan dipublikasikan Sabtu (14/2/2026).

Anak-anak, remaja, muda-mudi, hingga orang tua berjalan bersama, menggenggam api yang menyala, sebagai simbol kesiapan hati menyambut bulan penuh rahmat, berkah dan magfirah.

Ingat, dalam khazanah budaya Sunda, mapag berarti menjemput dengan hormat dan sukacita. Mapag puasa bukan sekadar seremoni, melainkan laku batin kolektif.

Memang di berbagai kampung, pedesaan, termasuk Darussalam Bungbulang Garut Pakidulan selalu hadir dalam beragama tradisi mulai dari pawai obor, doa bersama, membersihkan masjid, sampai makan bersama (botram, balakecrakan) sebagai simbol silaturahmi. Semuanya dilakukan agar tidak pareuman obor.

Asyik Botram di Kawasan Kebun Binatang Bandung. Tradisi ini pun diungkapkan telah berlangsung sejak tahun 1957. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Asyik Botram di Kawasan Kebun Binatang Bandung. Tradisi ini pun diungkapkan telah berlangsung sejak tahun 1957. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)

Memupuk Tradisi

Ada yang mengenalnya sebagai munggahan, yang berharapan dapat naik ke suasana yang lebih tinggi, menyiapkan diri memasuki bulan suci dengan hati yang lebih bersih.

Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal filosofi Sunda yang mengedepankan prinsip silih asah, silih asih, silih asuh, dengan saling menajamkan, saling mengasihi, saling membimbing. Nilai inilah yang terasa dalam tradisi Mapag Ramadan. Baik untuk di ladang, tampak dalam kerja keras yang sunyi demi keluarga. Di alun-alun, dapat menjelma dalam kebersamaan warga yang berjalan seiring, menjaga api agar tetap menyala.

Dari dua ruang itu (ladang dan alun-alun) sejatinya bertemu dalam makna yang sama ihwal pentingnya menjaga dan menyalakan.

Pasalnya, di ladang, nyala itu bernama tanggung jawab. Di Alun-alun Bungbulang, semangat membara itu bermakna harapan. Keduanya lahir dari kesadaran Ramadan bukan hanya momentum ritual, melainkan perjalanan spiritual, madrasah ruhani yang berusaha hadir dari gelap menuju terang.

Dengan demikian, mapag Ramadan dalam tradisi Sunda menjadi pengingat iman tidak tumbuh dalam kesendirian. Justru tumbuh, berkembang dan dirawat dalam komunitas, kebersamaan, guna dijaga tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dengan penuh hati.

Baca Juga: Kampung Gajah: Viral ketika Berjaya dan karena Tercium 'Bau Busuk'

Obor-obor yang berkelip di malam hari (di Bungbulang) seakan menyambung cahaya yang lebih dulu dinyalakan oleh tangan-tangan petani di ladang (di Cisurupan, Cikajang) agar terus menyala, menyinari saat bekerja, berdoa, dan menjaga (asa) harapan.

Rupanya, dari Cisurupan, Cikajang, Bungbulang, hingga Cibiru dan masyarakat Sunda pada umumnya mengajarkan satu persoalan. Ihwal pentingnya menyambut Ramadan berarti menjemput cahaya dengan kesungguhan. Bukan sekadar merayakan datangnya bulan suci, tetapi menyiapkan diri agar hati benar-benar siap diterangi.

Walhasil, ketika Ramadan tiba, diharapkan dapat menemukan umat yang telah bersiap, dengan ketekunan, kebersamaan, dan cahaya yang telah dinyalakan sejak jauh hari dalam tradisi mapag puasa yang sarat makna, bukan basa-basi. Apalagi selebrasi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)