Satu Minggu Menunggu Tanah Membatu

2 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Tanah liat diolah secara bertahap, dibentuk sedikit demi sedikit di meja putar, hingga menjadi suatu keramik yang diinginkan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Tanah liat diolah secara bertahap, dibentuk sedikit demi sedikit di meja putar, hingga menjadi suatu keramik yang diinginkan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di lantai dua pabrik keramik Haji Oma, suasana terasa lebih hening dan kontemplatif. Di ruang inilah Didin Saifuddin, pria berusia 42 tahun, menghabiskan sebagian besar waktunya di depan meja putar, membentuk tanah liat menjadi karya bernilai seni.

Tangannya yang menggelap oleh tanah liat Sukabumi bergerak dengan tempo tenang, namun pasti. Di tempat ini, waktu seolah berjalan lebih lambat. Untuk menciptakan keramik berukuran besar, kecepatan bukanlah faktor utama. Kesabaran dan ketelitian justru menjadi kunci.

“Manual itu lebih mahal karena ada daya seninya juga, dan nggak semua orang bisa,” ujar Didin, menjelaskan nilai eksklusivitas karya yang dibuat dengan tangan.

Seni Menggabungkan Potongan Tanah

Berbeda dengan keramik kecil hasil cetakan, keramik dengan tinggi lebih dari 60 sentimeter membutuhkan pendekatan yang jauh lebih rumit. Didin tidak bisa langsung membentuk tanah liat setinggi itu dalam satu tahap karena risiko runtuh.

Prosesnya harus dilakukan secara bertahap dan terukur. Ia memulai dengan membentuk bagian dasar, lalu membiarkannya terkena angin agar sedikit mengeras sebelum dilanjutkan ke tahap berikutnya.

“Kalau manual itu nggak langsung jadi, harus sepotong-sepotong. Ini awalnya dari sini sampai sini. Diemin dulu supaya bagian atasnya agak keras. Kalau sudah, tambah lagi, disambung lagi,” kata Didin.

Proses penggabungan ini dilakukan berulang kali hingga keramik mencapai tinggi yang diinginkan. Untuk menyelesaikan lima unit keramik besar secara manual, Didin setidaknya membutuhkan waktu satu minggu penuh.

Perbedaan Kecepatan dan Nilai Estetika

Di pabrik ini, perbedaan antara produk mesin dan karya tangan manusia tampak jelas. Dengan mesin cetak, Didin mampu memproduksi hingga 25 unit keramik kecil dalam sehari. Sebaliknya, untuk keramik manual, hasilnya hanya sekitar lima unit dalam seminggu.

“Kalau cetakan, belajar satu hari juga sudah bisa. Kalau manual, bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Saya saja dulu belajar dasar tiga bulan, lancarnya sampai satu tahun,” akunya, mengenang masa awal belajar membuat guci.

Meski mesin menawarkan efisiensi, keramik buatan tangan tetap menjadi incaran para kolektor yang mencari keunikan. Bagi Didin, teknik manual memberinya ruang untuk berkreasi tanpa batas.

“Kelebihannya, kita bisa bikin semau kita. Mau bikin tinggi, lebih besar dari ini juga bisa,” tambahnya.

Keramik diukir untuk mempertegas detail dan karakter, sebelum akhirnya dibakar pada suhu 1.200 derajat Celsius. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Keramik diukir untuk mempertegas detail dan karakter, sebelum akhirnya dibakar pada suhu 1.200 derajat Celsius. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Kepuasan dari Suhu 1.200 Derajat

Tantangan terbesar datang ketika karya yang dikerjakan selama berhari-hari harus masuk ke dalam oven pembakaran. Suhu di dalam tungku bisa mencapai 1.200 derajat Celsius, titik ketika tanah liat berubah menjadi material keras menyerupai kaca.

Risiko retak atau pecah selalu mengintai. Jika keramik rusak dalam proses pembakaran, material tersebut tidak bisa didaur ulang dan harus dibuang.

“Kalau sudah dibakar dan hasilnya mulus semua, itu senangnya luar biasa. Bikinnya lama, nggak bisa satu-dua hari. Jadi kalau pecah, rasanya sia-sia,” ujar Didin.

Sejak akhir 1999, Didin telah menekuni dunia keramik selama 26 tahun. Baginya, waktu yang dihabiskan untuk menunggu tanah mengeras, menyambung bagian demi bagian, hingga menanti hasil pembakaran, adalah bentuk dedikasi.

Setiap karya yang lahir dari tangannya bukan sekadar produk, melainkan hasil dari kesabaran panjang—sebuah upaya untuk memastikan bahwa setiap keramik memiliki jiwa dan karakter yang tak bisa digantikan oleh mesin.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)