Satu Minggu Menunggu Tanah Membatu

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Selasa 17 Feb 2026, 07:46 WIB
Tanah liat diolah secara bertahap, dibentuk sedikit demi sedikit di meja putar, hingga menjadi suatu keramik yang diinginkan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Tanah liat diolah secara bertahap, dibentuk sedikit demi sedikit di meja putar, hingga menjadi suatu keramik yang diinginkan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di lantai dua pabrik keramik Haji Oma, suasana terasa lebih hening dan kontemplatif. Di ruang inilah Didin Saifuddin, pria berusia 42 tahun, menghabiskan sebagian besar waktunya di depan meja putar, membentuk tanah liat menjadi karya bernilai seni.

Tangannya yang menggelap oleh tanah liat Sukabumi bergerak dengan tempo tenang, namun pasti. Di tempat ini, waktu seolah berjalan lebih lambat. Untuk menciptakan keramik berukuran besar, kecepatan bukanlah faktor utama. Kesabaran dan ketelitian justru menjadi kunci.

“Manual itu lebih mahal karena ada daya seninya juga, dan nggak semua orang bisa,” ujar Didin, menjelaskan nilai eksklusivitas karya yang dibuat dengan tangan.

Seni Menggabungkan Potongan Tanah

Berbeda dengan keramik kecil hasil cetakan, keramik dengan tinggi lebih dari 60 sentimeter membutuhkan pendekatan yang jauh lebih rumit. Didin tidak bisa langsung membentuk tanah liat setinggi itu dalam satu tahap karena risiko runtuh.

Prosesnya harus dilakukan secara bertahap dan terukur. Ia memulai dengan membentuk bagian dasar, lalu membiarkannya terkena angin agar sedikit mengeras sebelum dilanjutkan ke tahap berikutnya.

“Kalau manual itu nggak langsung jadi, harus sepotong-sepotong. Ini awalnya dari sini sampai sini. Diemin dulu supaya bagian atasnya agak keras. Kalau sudah, tambah lagi, disambung lagi,” kata Didin.

Proses penggabungan ini dilakukan berulang kali hingga keramik mencapai tinggi yang diinginkan. Untuk menyelesaikan lima unit keramik besar secara manual, Didin setidaknya membutuhkan waktu satu minggu penuh.

Perbedaan Kecepatan dan Nilai Estetika

Di pabrik ini, perbedaan antara produk mesin dan karya tangan manusia tampak jelas. Dengan mesin cetak, Didin mampu memproduksi hingga 25 unit keramik kecil dalam sehari. Sebaliknya, untuk keramik manual, hasilnya hanya sekitar lima unit dalam seminggu.

“Kalau cetakan, belajar satu hari juga sudah bisa. Kalau manual, bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Saya saja dulu belajar dasar tiga bulan, lancarnya sampai satu tahun,” akunya, mengenang masa awal belajar membuat guci.

Meski mesin menawarkan efisiensi, keramik buatan tangan tetap menjadi incaran para kolektor yang mencari keunikan. Bagi Didin, teknik manual memberinya ruang untuk berkreasi tanpa batas.

“Kelebihannya, kita bisa bikin semau kita. Mau bikin tinggi, lebih besar dari ini juga bisa,” tambahnya.

Keramik diukir untuk mempertegas detail dan karakter, sebelum akhirnya dibakar pada suhu 1.200 derajat Celsius. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Keramik diukir untuk mempertegas detail dan karakter, sebelum akhirnya dibakar pada suhu 1.200 derajat Celsius. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Kepuasan dari Suhu 1.200 Derajat

Tantangan terbesar datang ketika karya yang dikerjakan selama berhari-hari harus masuk ke dalam oven pembakaran. Suhu di dalam tungku bisa mencapai 1.200 derajat Celsius, titik ketika tanah liat berubah menjadi material keras menyerupai kaca.

Risiko retak atau pecah selalu mengintai. Jika keramik rusak dalam proses pembakaran, material tersebut tidak bisa didaur ulang dan harus dibuang.

“Kalau sudah dibakar dan hasilnya mulus semua, itu senangnya luar biasa. Bikinnya lama, nggak bisa satu-dua hari. Jadi kalau pecah, rasanya sia-sia,” ujar Didin.

Sejak akhir 1999, Didin telah menekuni dunia keramik selama 26 tahun. Baginya, waktu yang dihabiskan untuk menunggu tanah mengeras, menyambung bagian demi bagian, hingga menanti hasil pembakaran, adalah bentuk dedikasi.

Setiap karya yang lahir dari tangannya bukan sekadar produk, melainkan hasil dari kesabaran panjang—sebuah upaya untuk memastikan bahwa setiap keramik memiliki jiwa dan karakter yang tak bisa digantikan oleh mesin.

News Update

Ayo Netizen 05 Mar 2026, 19:20

10 Netizen Terpilih Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Pameran Al-Qur’an Mushaf Sundawi berhias motif khas budaya Jawa Barat di Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 05 Mar 2026, 14:47

Sejarah Bandung Dijuluki Twente van Indonesië, Kota Kembang Diproyeksikan jadi Pusat Industri

Catatan koran 1949 menggambarkan Bandung dipenuhi pabrik tekstil yang membuatnya dibandingkan dengan Twente di Belanda.

Nederlandsch-Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF) di Bandung tahun 1950-an (Sumber: Wikimedia)
Mayantara 05 Mar 2026, 14:05

Kemarahan Digital Perang Iran dan Keuntungannya bagi Platform Media Sosial

Beberapa hari terakhir ini, linimasa media sosial dan juga WhatsApp Group di Indonesia dipenuhi umpatan dan kutukan.

Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 12:06

Suara Tionghoa Menyigi Ruang Dialog, Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Ruang perjumpaan dari berbagai umat beragama menjadi taman bertumbuh, tempat pengalaman yang dibagikan tanpa takut, juga tempat identitas dirayakan tanpa curiga.

Suara Tionghoa di Majalengka. (Dok. Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 11:53

Night Walk di Bulan Ramadan, Kaki Besi Perkuat Tren Komunitas Jalan Kaki di Bandung

Meski digelar pada bulan Ramadan, antusiasme peserta tidak surut. Dengan dress code serba hitam yang telah ditentukan panitia, para peserta memadati trotoar dengan tambahan aksesori khas.

Salah satu event komunitas Kaki Besi. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Seni Budaya 05 Mar 2026, 10:03

Sejarah Tari Saman, Jejak Warisan Syeikh di Dataran Tinggi Gayo

Jejak nama Saman dikaitkan dengan ulama abad ke-14 dan pengaruh Islam di Aceh, membentuk tarian komunal yang sarat syair moral.

Pagelaran Tari Saman terbesar di dunia dengan 12.262 penari. Acara kolosal ini diadakan pada 13 Agustus 2017 di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 09:25

Renungan Ramadan dan Jadwal Puasa Bandung 1969 dalam Koran Lawas

Membuka kembali lembaran surat kabar lama sering menghadirkan pengalaman yang unik.

Surat kabar Berdikari terbitan Bandung, 28 November 1969, bertepatan dengan 18 Ramadan 1389 Hijriah (57 tahun silam). (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 06:55

Berawal dari Konten Viral, Kaki Besi Menjadi Komunitas Jalan Kaki Terbesar di Bandung

Berawal dari konten viral di media sosial, Komunitas Kaki Besi berkembang menjadi komunitas jalan kaki terbesar di Bandung. Didirikan oleh Insan Buana, Kaki Besi kini memiliki puluhan ribu pengikut.

Salah satu event Komunitas Kaki Besi. Dalam waktu kurang dari satu tahun, komunitas ini mencatat ribuan anggota aktif. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Bandung 04 Mar 2026, 21:33

Menilik Eksistensi Kue Balok Kang Didin, Kuliner Legendaris Bandung sejak 1950 yang Melawan Arus Zaman

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya.

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 16:42

Kisah Ramadan dalam Lagu ‘Lebaran Sebentar Lagi’

Lagu Lebaran Sebentar Lagi merupakan salah satu lagu remake dari band Gigi yang sebelumnya dinyanyikan pertama kali oleh Bimbo. 

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 04 Mar 2026, 15:22

Hampir 9 Tahun Bertahan, Begini Cara Dagelan Jabar Mengikuti Perubahan Zaman di Instagram

Berawal dari repost meme receh khas tongkrongan warganet Jawa Barat, akun ini tak memaksa diri menjadi media berita, tetapi juga tak bertahan sebagai sekadar akun humor.

Admin Dagelan Jabar Nono Sugianto. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 15:04

Cikalintu, Tempat yang Keliru Dipilih

Dalam nama Cikalintu, kata 'Kalintu' berarti keliru atau ditukar.

Toponim Cikalintu dalam Peta Topografi Lembar Bandoeng Tahun 1905 (diperbaiki dari peta tahun 1904). Dipetakan oleh Topographisch Bureau, Batavia. (Sumber: Peta koleksi KITLV Heritage)
Sejarah 04 Mar 2026, 14:46

Misteri Danau Cipanas Rancaekek, Tempat Pemandian Bupati Bandung Zaman Dulu

Warga menyebut penambangan bukit Gunung Cipanas memicu lenyapnya sumber panas yang dulu jadi tempat rekreasi elite Bandung.

Danau Cipanas Rancaekek. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 13:30

Benny Soebardja Pelopor Progresif Rock Indonesia

Musisi rock asal Bandung, Benny Soebardja, dikenal lewat band-band yang pernah ia bentuk, mulai dari The Peels, Shark Move, hingga Giant Step.

Benny Soebardja dengan vinyl "Shark Move" (1973) di Delft, Belanda. Dijuluki oleh media asing sebagai The Godfather of Indonesian Progrock Underground. (Sumber: Istimewa)
Ikon 04 Mar 2026, 13:15

Jejak Pitalka, Roti Pipih Ramadan dari Kosovo yang Bertahan Sejak Era Ottoman

anya muncul setahun sekali di Kosovo, pitalka menjadi warisan kuliner sejak masa Ottoman yang tetap hidup di meja iftar Prizren.

Pitalka, roti khas Kosovo yang jadi iftar Ramadan.
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 11:09

Siwok Cante, Konsep Puasa dalam Masyarakat Sunda Pra-Islam

Siwok cante, merupakan salah satu hal yang harus dihindari oleh mereka yang sedang mengemban tugas negara.

Buku hasil transliterasi dan terjemahan pertama Sanghyang Siksakandang Karesian bersama dua naskah Sunda kuna lainnya oleh Tim Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda 1987. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 09:38

Bukan Sekadar Nunggu Azan Magrib, 5 Aktivitas Ngabuburit Berfaedah

Sejatinya, ngabuburit bukan sekadar cara “mengisi waktu”, menunggu azan magrib.

Aktivitas apik ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 03 Mar 2026, 20:40

Sentuhan Estetika di Balik The Edit, Titik Temu Kurasi Fashion Muslim Premium di Bandung

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia.

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 03 Mar 2026, 19:24

Rumah Tumbuh, Akses Menguat: Ujian Transformasi BTN di Tengah Rekor Pembiayaan

Di tengah lanskap itu, PT Bank Tabungan Negara (BTN) tampil sebagai aktor sentral.

Pekerja merampungkan proyek rumah subsidi di El Hago Residence, Mekarbakti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang (3/12/2020). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Deni Suhendar/Magang)
Seni Budaya 03 Mar 2026, 16:37

Sejarah Batik Pekalongan, Warisan Budaya dari Pantura Sejak 1802

Sejak awal 1800-an, batik di Pekalongan berkembang dari perdagangan pesisir hingga diakui UNESCO sebagai bagian jejaring kota kreatif dunia.

Kain sarung motif batik Pekalongan tahun 1980-an di Museum Honolulu. (Sumber: Wikimedia)