AYOBANDUNG.ID - Di tengah hiruk-pikuk Jalan Kiaracondong yang nyaris tak pernah sepi, tersimpan kisah tentang daya tahan sebuah warisan produk lokal. Keramik Haji Oma hadir bukan sekadar sebagai tempat produksi, melainkan sebagai simbol hidup dari sentra kerajinan yang perlahan memudar.
Dari sekitar 30 pengrajin yang dahulu memenuhi kawasan ini, kini hanya tersisa satu tungku yang masih aktif memancarkan panas. Mereka bertahan demi menjaga reputasi keramik Bandung agar tetap dikenal, bahkan hingga ke mancanegara.
Penjaga Warisan Produk Lokal
Kelangsungan pabrik ini merupakan buah dari kerja keras Dikdik Gumilar, generasi ketiga penerus usaha keluarga, bersama Didin Saifuddin, pengrajin yang telah menekuni keramik selama 26 tahun. Keduanya berbagi visi yang sama: menjaga agar api tradisi keramik Kiaracondong tetap menyala.
Bagi Dikdik, mempertahankan operasional pabrik adalah bentuk penghormatan terhadap sejarah panjang keluarganya.
“Sayang kalau sampai nggak ada penerus. Dari 30 pengrajin di sini, sekarang sisa satu,” ungkapnya.
Didin pun merasakan dorongan serupa setiap kali duduk di depan meja putar. Ia meyakini bahwa keramik buatan tangan memiliki nilai yang tak tergantikan oleh mesin.
“Kenapa masih mempertahankan lukisan tangan? Karena di situlah seninya. Kalau pakai sablon, otomatis gambarnya pasti sama,” ujarnya.

Bertahan di Antara Tanah dan Api
Tantangan yang dihadapi tidak sederhana. Mulai dari karakter tanah Sukabumi sebagai bahan baku yang kualitasnya kerap berubah, hingga meningkatnya biaya produksi. Dalam situasi itu, efisiensi yang diciptakan Dikdik melalui desain tungku menjadi kunci keberlangsungan usaha.
“Kalau saya bikin tungku, memang mahal. Tapi saya pikirkan bagaimana caranya mengirit bahan bakar,” jelasnya.
Di sisi lain, Didin memastikan setiap produk yang keluar dari tungku bersuhu hingga 1.200 derajat Celsius memiliki mutu terbaik. Ia menolak jalan pintas demi menjaga keistimewaan karya.
“Kalau sablon itu ribet juga, harus dua kali bakar. Kalau manual, sekali bakar langsung jadi. Daya tariknya lebih ke nilai plus yang nggak ada di produk lain,” tambahnya.
Harapan yang Masih Hidup
Meski permintaan sempat melonjak pada masa pandemi, kini kondisinya kembali mereda. Kekhawatiran pun muncul akibat minimnya perhatian pemerintah terhadap pelestarian sentra keramik ini.
Dikdik mengungkapkan bahwa pemasaran masih dilakukan secara mandiri, mengandalkan pelanggan setia dari kota-kota sekitar.
“Kita masarin sendiri. Dulu banyak kunjungan wali kota sampai gubernur, tapi itu dulu,” keluh Didin.
Ia berharap ada dukungan nyata, terutama dalam hal promosi, agar industri keramik Kiaracondong tidak benar-benar padam.
“Harapannya dibantu dari sisi pemasaran. Padahal ini sudah berjuang lama banget. Sayang kalau sampai hilang,” pungkasnya.
