Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

5 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)

AYOBANDUNG.ID - Bagi sebagian orang, cerobong Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) mungkin hanya terlihat sebagai bagian dari lanskap industri—tinggi, menjulang, dan kerap dianggap simbol pasokan listrik yang menjaga kota tetap menyala. Namun bagi warga yang tinggal tak jauh dari sana, cerobong itu menjadi penanda perubahan dalam hidup mereka. Perubahan yang tidak pernah mereka minta.

Suasana diskusi publik itu tidak hanya diisi paparan data dan grafik. Satu per satu warga berdiri dan menceritakan pengalaman hidup di sekitar PLTU. Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.

Cirebon

Sarjum, warga Desa Kanci Kulon, Cirebon, masih mengingat jelas kondisi pesisir sebelum PLTU berdiri. Sejak kecil, ia mencari kerang dan ikan di laut dangkal. Bermodalkan ban dalam mobil, ia bisa membawa pulang lauk untuk keluarga.

“Dulu kalau cuma ada nasi di rumah, saya tinggal ke laut. Setengah jam sudah dapat kerang atau ikan. Bahkan bisa dijual,” katanya.

Ia menyebut kerang bangku, kerang kukur, dan rajungan sebagai hasil tangkapan yang dulu mudah ditemukan. Pada akhir pekan, pesisir bahkan ramai oleh warga dari luar daerah yang ikut mencari hasil laut.

Sarjum, warga Desa Kanci Kulon, Cirebon, yang merasakan dampak langsung kehadiran PLTU. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Sarjum, warga Desa Kanci Kulon, Cirebon, yang merasakan dampak langsung kehadiran PLTU. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Namun sejak proses pengurukan lahan pada 2007 dan PLTU mulai beroperasi pada 2012, menurutnya kondisi berubah drastis.

“Sekarang cari sepuluh biji saja susah. Yang ada cangkangnya saja. Kalau ikan, satu pun sekarang susah,” ujarnya.

Kini, di usia 47 tahun, Sarjum mengatakan banyak nelayan pesisir terpaksa beralih profesi. Ada yang menjadi buruh bangunan, ada pula yang bekerja serabutan. Ia sendiri tidak lagi sepenuhnya bergantung pada laut.

“Saya dan teman-teman sudah jarang melaut karena susah. Sekarang kerja apa saja, kadang di bangunan, yang penting dapur ngebul,” katanya.

Bekerja di PLTU bukan pilihan mudah bagi warga sekitar.

“Mau kerja di PLTU minimal ijazah SMP atau S1. Itu pun kadang harus bayar Rp2 juta sampai Rp5 juta. Belum tentu keterima,” ujarnya.

Ia menggeleng. “Uang segitu buat beli beras bisa dapat dua sampai lima karung.”

Sejak pembangkit beroperasi, Sarjum juga merasakan perubahan lingkungan. Debu lebih sering menempel di rumah, udara terasa berbeda, dan kekhawatiran tumbuh perlahan di antara warga.

“Dulu kami hidup biasa saja. Sekarang rasanya selalu ada yang mengganjal. Debu sering ada, anak-anak batuk. Kami tidak tahu persis apa yang terjadi di dalam sana, tapi ini yang kami rasakan,” ujarnya.

Bagi Sarjum, yang paling berat bukan hanya kondisi fisik lingkungan, tetapi rasa tidak didengar.

“Kami ini hidup di sini, bukan datang sementara. Kalau ada dampak, ya kami yang paling dulu merasakan. Harusnya kami juga yang paling dulu diajak bicara,” katanya.

Rumahnya berjarak sekitar 500 meter dari area PLTU. Debu batu bara kerap terlihat, terutama saat musim kemarau.

“Kalau kemarau, meja di pinggir jalan hitam. Di rumah juga banyak debu,” ujarnya.

Sebagai ketua RW, ia juga mencatat peningkatan keluhan kesehatan.

“Dalam satu dusun pernah 27 orang meninggal dalam sebulan. Banyak yang sesak napas,” katanya.

Ia mengingat, sejak awal proyek dimulai pada 2007, tidak ada sosialisasi memadai.

“Enggak ada amdal, enggak ada sosialisasi ke nelayan. Tahu-tahu mau dibangun besar,” ujarnya.

Menurutnya, sosialisasi baru dilakukan setelah alat berat masuk.

“Sosialisasi itu datang belakangan, tahun 2009. Dua tahun setelah pengurukan,” katanya.

Ia mengaku cucunya pernah dirawat karena gangguan pernapasan. Karena itu, sejak awal ia aktif menyuarakan penolakan.

“Saya bukan melawan untuk diri sendiri. Saya mau selamatkan anak cucu dan warga ke depan,” ujarnya.

Pada 2017 dan 2023, Sarjum bahkan berangkat ke Jepang untuk menggugat lembaga pendana PLTU.

“Saya ketemu langsung direkturnya. Media Jepang siaran langsung. Tapi sampai sekarang belum ada tindakan,” katanya.

Menurutnya, persoalan ini bukan sekadar proyek.

“Kalau dulu menjajah pakai perang, sekarang pelan-pelan lewat proyek besar. Masyarakat dibunuh perlahan,” ujarnya.

Di pesisir Cirebon, laut mungkin masih membentang luas. Namun bagi Sarjum, ruang hidupnya terasa makin sempit. Selama masih mampu berdiri, ia memilih terus menggugat.

Indramayu

Cerita serupa datang dari Desa Mekarsari, Kecamatan Patrol, Indramayu. Ahmad Yani, warga setempat, menuturkan perubahan sejak PLTU beroperasi.

“Kalau angin kencang, debunya masuk ke rumah,” katanya.

Mayoritas warga desa itu adalah petani dan buruh tani. Sawah bukan sekadar mata pencaharian, tetapi warisan hidup.

“Dulu tanah kami subur. Apa saja tumbuh,” ujar Ahmad.

Kini, ia merasakan perubahan.

“Setelah dipupuk, bukan makin subur, malah seperti mati. Padi tumbuh, tapi hasilnya putih semua,” katanya.

Ia menyebut banyak pohon kelapa mati setelah PLTU beroperasi.

“Dulu sekali panen bisa lima truk. Sekarang cari satu saja susah,” ujarnya.

Ketika rencana pembangunan PLTU 2 muncul, warga mulai melawan.

“Karena dampak PLTU 1 sudah kami rasakan,” katanya.

Perlawanan itu tidak mudah. Sejumlah warga mengalami kriminalisasi.

“Tujuh orang pernah kena. Tapi kami tetap berjuang,” ujarnya.

Bagi Ahmad, perjuangan ini soal mempertahankan hak hidup.

“Kami hanya ingin lahan subur lagi dan bisa menanam dengan tenang,” katanya.

Sukabumi

Dari pesisir dan sawah, cerita berlanjut ke hulu hutan Sukabumi. Fajri Mulyono, Ketua LMDH Waluran Mandiri, tinggal di kawasan hutan Hanjuang Barat.

“Kampung kami memang sejak dulu di dalam hutan. Ini hutan titipan,” katanya.

Wilayah ini menjadi sumber air bagi banyak kecamatan di Sukabumi Selatan.

“Kalau hulu rusak, yang kena bukan cuma kami,” ujarnya.

Kekhawatiran Fajri muncul sejak program co-firing biomassa disosialisasikan.

“Produksinya lima ton per jam. Kami langsung berpikir, kayunya dari mana?” katanya.

Fajri Mulyono resah dengan pembukaan lahan besar-besaran untuk hutan tanaman energi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Fajri Mulyono resah dengan pembukaan lahan besar-besaran untuk hutan tanaman energi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Ia khawatir pembukaan lahan merusak resapan air. Kekhawatiran itu menguat setelah banjir dan longsor pada Desember 2024.

“Air jadi keruh, rumah tersapu. Dulu tidak pernah sebesar itu,” ujarnya.

Menurutnya, pembukaan lahan berkontribusi pada bencana.

“Resapan sudah tidak normal,” katanya.

Sebagai Ketua LMDH dengan 230 anggota, ia memilih bersuara.

“Kami menolak bukan karena anti pembangunan, tapi takut hutan kami hancur,” ujarnya.

Di tengah keterbatasan, ia memilih jalan sederhana: menanam dan mengedukasi generasi muda.

“Sanajan saetik tapi mahi. Sedikit tapi berarti,” katanya.

Cerobong-cerobong itu mungkin tetap menjulang, menjaga kota tetap terang. Di atas kertas, ia simbol kemajuan.

Namun di Cirebon, laut tak lagi seberlimpah dulu. Di Indramayu, tanah tak lagi seramah masa lalu. Di Sukabumi, hutan mulai dihitung sebagai bahan baku.

Sarjum berbicara tentang laut yang menyempit. Ahmad Yani tentang sawah yang kehilangan kesuburan. Fajri tentang hulu yang perlahan dibuka.

Mereka hidup di wilayah berbeda, dengan lanskap tak sama. Namun satu benang merah menyatukan cerita mereka: ruang hidup yang berubah tanpa pernah benar-benar mengajak mereka menentukan arah perubahan itu.

Mereka tidak berbicara dengan bahasa teknis. Mereka berbicara tentang rumah, udara, sekolah, anak-anak, dan masa depan—serta harapan agar suara mereka tidak berhenti di ruang diskusi.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti
Tag Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)