Hari ini, menjelang Ramadan, linimasa media sosial dipenuhi kata “ngabuburit”, “bukber”, hingga “war takjil”. Bahasa yang ringkas, populer, dan mudah dipasarkan. Namun jauh sebelum istilah-istilah itu mendominasi ruang publik, masyarakat di berbagai daerah Nusantara telah memiliki kosakata sendiri untuk menyambut bulan suci.
Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Di tanah Sunda, orang mengenal munggahan. Kata ini berasal dari bahasa Sunda yang berarti “naik”—sebuah simbol kenaikan derajat spiritual sebelum memasuki Ramadan. Tradisi ini biasanya diisi dengan makan bersama keluarga dan ziarah kubur. Ia bukan sekadar seremoni, melainkan mekanisme sosial untuk mempererat relasi sebelum memasuki fase pengendalian diri.
Di Jawa, ada padusan, dari kata “adus” yang berarti mandi. Ritual mandi di sendang atau sumber air alami dilakukan sebagai simbol pembersihan lahir dan batin. Air menjadi metafora penyucian sebelum memasuki bulan penuh disiplin.
Sementara di Jawa Timur, terutama Surabaya, dikenal megengan. Tradisi ini identik dengan pembagian kue apem dan doa bersama. Kata “megeng” dalam bahasa Jawa berarti menahan—inti dari praktik puasa itu sendiri.
Di Aceh, ada meugang, momentum membeli dan memasak daging bersama keluarga menjelang Ramadan. Aktivitas ini begitu kuat sehingga berdampak langsung pada pergerakan ekonomi lokal. Harga daging naik, pasar ramai, dan solidaritas sosial menguat.
Di wilayah Melayu seperti Riau dan Sumatra Barat, dikenal belimau atau balimau—mandi dengan air campuran limau sebagai simbol penyucian diri. Ritual ini sarat makna simbolik sekaligus menjadi peristiwa sosial yang mempertemukan warga.

Jika diperhatikan, hampir semua istilah lama tersebut berbasis tindakan kolektif: mandi bersama, makan bersama, berbagi makanan, atau berkumpul keluarga. Bahasa lahir dari praktik sosial yang komunal.
Sebaliknya, istilah modern seperti “ngabuburit” lebih merujuk pada aktivitas menunggu waktu berbuka yang fleksibel dan individual. Ia bisa dilakukan sendirian, di mal, di kafe, atau sambil scrolling media sosial. Bahasa mengikuti pola hidup.
Perubahan ini bukan semata soal kata yang hilang, melainkan transformasi struktur sosial. Urbanisasi membuat masyarakat lebih mobile dan longgar secara komunal. Media sosial menciptakan kosakata yang seragam secara nasional. Ekonomi pasar mendorong istilah yang mudah dikomersialisasikan.
Kata yang ringkas, catchy, dan mudah dijual akan bertahan lebih lama di ruang publik.
Baca Juga: Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699
Ketika istilah seperti munggahan atau padusan semakin jarang terdengar, yang meredup bukan hanya bunyinya, tetapi juga konteks sosial yang melahirkannya. Bahasa adalah arsip kebudayaan. Ia menyimpan cara suatu masyarakat memahami waktu, kesucian, dan kebersamaan.
Ramadan di Indonesia selalu kaya warna. Namun warna itu kini cenderung menyatu dalam palet yang lebih seragam. Pertanyaannya bukan apakah istilah lama harus kembali populer, melainkan apakah kita masih menyadari keragaman makna yang pernah hidup di dalamnya.
Sebelum ada “ngabuburit”, ada kata-kata yang lebih sunyi tetapi sarat makna. Dan mungkin, merawatnya dalam ingatan adalah cara lain menyambut Ramadan—dengan kesadaran sejarah.
