Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Jumat 13 Feb 2026, 21:23 WIB
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)

Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)

Hari ini, menjelang Ramadan, linimasa media sosial dipenuhi kata “ngabuburit”, “bukber”, hingga “war takjil”. Bahasa yang ringkas, populer, dan mudah dipasarkan. Namun jauh sebelum istilah-istilah itu mendominasi ruang publik, masyarakat di berbagai daerah Nusantara telah memiliki kosakata sendiri untuk menyambut bulan suci.

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.

Di tanah Sunda, orang mengenal munggahan. Kata ini berasal dari bahasa Sunda yang berarti “naik”—sebuah simbol kenaikan derajat spiritual sebelum memasuki Ramadan. Tradisi ini biasanya diisi dengan makan bersama keluarga dan ziarah kubur. Ia bukan sekadar seremoni, melainkan mekanisme sosial untuk mempererat relasi sebelum memasuki fase pengendalian diri.

Di Jawa, ada padusan, dari kata “adus” yang berarti mandi. Ritual mandi di sendang atau sumber air alami dilakukan sebagai simbol pembersihan lahir dan batin. Air menjadi metafora penyucian sebelum memasuki bulan penuh disiplin.

Sementara di Jawa Timur, terutama Surabaya, dikenal megengan. Tradisi ini identik dengan pembagian kue apem dan doa bersama. Kata “megeng” dalam bahasa Jawa berarti menahan—inti dari praktik puasa itu sendiri.

Di Aceh, ada meugang, momentum membeli dan memasak daging bersama keluarga menjelang Ramadan. Aktivitas ini begitu kuat sehingga berdampak langsung pada pergerakan ekonomi lokal. Harga daging naik, pasar ramai, dan solidaritas sosial menguat.

Di wilayah Melayu seperti Riau dan Sumatra Barat, dikenal belimau atau balimau—mandi dengan air campuran limau sebagai simbol penyucian diri. Ritual ini sarat makna simbolik sekaligus menjadi peristiwa sosial yang mempertemukan warga.

Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)

Jika diperhatikan, hampir semua istilah lama tersebut berbasis tindakan kolektif: mandi bersama, makan bersama, berbagi makanan, atau berkumpul keluarga. Bahasa lahir dari praktik sosial yang komunal.

Sebaliknya, istilah modern seperti “ngabuburit” lebih merujuk pada aktivitas menunggu waktu berbuka yang fleksibel dan individual. Ia bisa dilakukan sendirian, di mal, di kafe, atau sambil scrolling media sosial. Bahasa mengikuti pola hidup.

Perubahan ini bukan semata soal kata yang hilang, melainkan transformasi struktur sosial. Urbanisasi membuat masyarakat lebih mobile dan longgar secara komunal. Media sosial menciptakan kosakata yang seragam secara nasional. Ekonomi pasar mendorong istilah yang mudah dikomersialisasikan.

Kata yang ringkas, catchy, dan mudah dijual akan bertahan lebih lama di ruang publik.

Baca Juga: Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Ketika istilah seperti munggahan atau padusan semakin jarang terdengar, yang meredup bukan hanya bunyinya, tetapi juga konteks sosial yang melahirkannya. Bahasa adalah arsip kebudayaan. Ia menyimpan cara suatu masyarakat memahami waktu, kesucian, dan kebersamaan.

Ramadan di Indonesia selalu kaya warna. Namun warna itu kini cenderung menyatu dalam palet yang lebih seragam. Pertanyaannya bukan apakah istilah lama harus kembali populer, melainkan apakah kita masih menyadari keragaman makna yang pernah hidup di dalamnya.

Sebelum ada “ngabuburit”, ada kata-kata yang lebih sunyi tetapi sarat makna. Dan mungkin, merawatnya dalam ingatan adalah cara lain menyambut Ramadan—dengan kesadaran sejarah.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)
Beranda 13 Feb 2026, 08:13 WIB

Di Saat Media Arus Utama Tersandera Iklan, Zine Menemukan Jalannya Sendiri

Fenomena tersebut bukan sekadar nostalgia, melainkan bentuk perlawanan terhadap kejenuhan dunia digital yang serba cepat dan penuh ketidakpastian.
Salah satu karya yang ditampilkan di Bandung Zine Fest 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 07:36 WIB

Distraksi Massal: Alasan Mengapa Kita Sengaja Dibuat Sibuk dengan Skandal

Melalui analogi novel Tere Liye, artikel ini mengajak pembaca untuk berhenti terjebak dalam debat kusir dan kembali fokus pada navigasi diri di ambang bulan Ramadan.
Salah satu buku novel karya Tere Liye. (Dokumentasi Penulis)
Bandung 12 Feb 2026, 21:44 WIB

Tren Lebaran 2026: J&C Cookies Usung Konsep "Kukis Kalcer" dan Camilan Gluten Free

Tradisi mudik dan silaturahmi Idul Fitri 2026 diprediksi akan semakin berwarna dengan munculnya tren kuliner baru yang lebih inklusif.
J&C Cookies memperkenalkan lini produk terbaru mereka yang dirancang untuk memenuhi selera generasi masa kini tanpa meninggalkan cita rasa autentik yang telah melegenda. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 12 Feb 2026, 21:22 WIB

Bandung Zine Fest 2026, Ruang Kolektif Media Alternatif dari Shanghai Hingga Garut

Lebih dari sekadar ajang pameran, festival ini menjadi ruang silaturahmi bagi penerbit mandiri yang tidak bergantung pada modal besar.
Suasana Bandung Zine Fest 2026 di Gedung Tjap Sahabat di Cibadak, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 20:22 WIB

Ramadan Tanpa Petasan, Bermain Lodong dan Belesong pun Jadi

Sejak dahulu petasan dan lodong selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan.
Lodong selalu jadi pertanda datangnya Bulan Ramadan di sejumlah daerah Indonesia. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 16:22 WIB

Kartu Mati, Pengobatan Terhenti

Penonaktifan jutaan peserta PBI BPJS membuat warga Bandung kehilangan akses berobat. Padahal Islam punya cara pandang yang khas terkait kesehatan masyarakat.
Kartu Indonesia Sehat (KIS) merupakan kartu peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 13:43 WIB

Komunikasi Keluarga dalam Mengatasi Bunuh Diri

Bunuh diri pada anak menandakan terputusnya saluran komunikasi antara anak dan orang tua.
Bunuh diri pada anak menandakan terputusnya saluran komunikasi antara anak dan orang tua. (Sumber: Unsplash | Foto: K. Mitch Hodge)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 11:18 WIB

Tradisi ‘Nglabur’ Rumah saat Ramadan, Filosofi Bersih Diri dan Mencerahkan Suasana Hati

Melabur alias mengecat tembok dengan gamping menciptakan hasil akhir yang artistik, bertekstur, alami, dan ramah lingkungan.
Ilustrasi melabur rumah dengan batu kapur atau gamping. (Sumber: Pexels | Foto: Sergey Meshkov)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 08:49 WIB

3 Jejak Heroik K.H. Anwar Musaddad yang Terlupakan 

Ketua Kokesin di Makkah, Kepala Syuumuka dan Pendiri Hizbullah Priangan menjadi novelty dalam kajian tokoh KH Anwar Musaddad yang membuktikan jasa, kiprah dan perjuangan (pahlawan) kemanusiaan.
Cover buku KH. Anwar Musaddad: Ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan karya Iip D. Yahya, terbitan Lakpesdam PWNU Jawa Barat (2025). (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Mayantara 12 Feb 2026, 07:04 WIB

Keranjingan Info Bites Konten Religi 

Jelang Ramadan, salah satu fenomena yang terus menguat adalah keranjingan scrolling video pendek religi.
Ilustrasi muslimah sedang memandang smartphone. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Ayo Netizen 11 Feb 2026, 21:40 WIB

Ngabuburit di Bandung Tahun 1980-an

Tentang awal Ramadan dan ngabuburit warga Kota Bandung tahun 1980-an.
Gedung de Majestic, salah satu bioskop tertua di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Bandung 11 Feb 2026, 20:08 WIB

Rahasia Putu Ayu Simpang Dago Bertahan 18 Tahun di Tengah Gempuran Dessert Kekinian

Lapak kaki lima yang menjual putu ayu ini berhasil bertahan dengan pakem kualitas rasa yang mengembalikan memori sejak kecil pada indera perasa para konsumennya.
Lapak kaki lima yang menjual putu ayu ini berhasil bertahan dengan pakem kualitas rasa yang mengembalikan memori sejak kecil pada indera perasa para konsumennya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Bandung 11 Feb 2026, 19:29 WIB

Rahasia Resep Sekoteng Raja yang Membuat Warga Bandung Rela Mengantre Malam Hari

Tak hanya muncul sebab adanya kebutuhan warga, Sekoteng Raja menjadi suatu upaya bagaimana sebuah usaha dapat bertahan dan berperan sebagai salah satu pilar yang menjaga ekonomi rakyat.
Pemilik Sekoteng Raja, yakni Thema Mendrofa. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)