Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

5 menit baca
T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)

Untuk mengabadikan ingatan masyarakat akan peristiwa alam, atau tentang keragaman bumi, keragaman hayati, dan keragaman budaya yang ada dan terjadi di lingkungan masyarakat di Tatar Sunda, oleh warganya, atau oleh orang yang mempunyai otoritas dalam kehidupan bermasyarakat, peristiwa alam itu dilekatkan menjadi nama geografis.

Misalnya, ketika ada longsor besar yang terjadi di lereng gunung, maka persistiwa itu diabadikan menjadi penanda kawasan, menjadi pengingat, dinamailah Gunung Urug. Ketika ada kawasan yang bergerak menurun, lalu ambles secara luas, dinamailah tempat itu Lemahneundeut. Ketika di suatu tempat terjadi gempa bumi yang membuat penduduk di sana merasa pusing seperti diputar-putar, dinamailah tempat itu Muril. 

Keadaan dan peristiwa alam yang terjadi, yang dilakoninya, ada yang merangkainya menjadi kisah yang dipertalikan dengan tokoh-tokoh imajiner yang berpengaruh dalam pikiran bawah sadar masyarakat. Lalu disampaikan secara lisan, diceritakan dalam cerita pantun yang dikisahkan dan dilantunkan dalam acara selamatan yang berhubungan siklus hidup seseorang. Seperti geomitologi Sang Kuriang – Dayang Sumbi, Situ Bagendit, Gunung Guntur, dll. Ada pula tokoh yang mencatat semua kisah perjalanannya, seperti yang dilakukan oleh Bujangga Manik. 

Begitu pun dengan peristiwa gempa bumi yang terjadi di lereng utara Gunung Salak pada tahun 1699. Dampaknya sangat luas di sepanjang aliran sungai dan anak-anak sungainya. Goyangan gempabumi itu telah membuat lereng gunung menjadi rapuh kemudian runtuh. Dari ketinggian +900 meter dpl, dinding gunung ambrol, materialnya runtuh meluncur ke lembah-lembah yang berlimpah air. 

Peristiwa gempa bumi dahsyat yang merobohkan dinding gunung itu diingat dan dikenang oleh masyarakat saat itu, lalu diceritakan kembali dalam perhelatan syukuran yang khas, yang disebut pantun. Inotji Hajatullah menulis penggalan pantun itu dalam tulisannya di majalah berbahasa Sunda Balébat nomor 15 tahun 2010. Pada halaman 33, penggalan pantun Disaeurna Talaga Rancamaya: “Baheula mah Gunung Salak tara eureun ngelun bae di puncakna. Tapi harita mah, laju bae ngadadak eureun ngebulna. Kawahna ngadadak ngaguruh mani eundeur, lamping-lampingna loba nu arurug. Ti suku gunung terus ka jauh, taneuh ngariyeg deui ngariyeg deui. Ngariyegna, ngariyegna lila. Jagad sakalereun Gunung Salak dioyag-oyag lini gede nu terus noron ririntakan”.

Zaman dulu, Gunung Salak tidak pernah berhenti mengepulkan asap dari puncaknya. Tapi, pada waktu itu, bubungan asap mendadak berhenti. Kawahnya bergemuruh sampai bergetar. Lereng-lereng gunung banyak yang urug (longsor). Dari kaki gunung sampai jauh, tanah bergoyang lagi dan bergoyang lagi. Bergoyangnya, bergoyangnya lama. Begitu pun kawasan di utara Gunung Salak, digoyang-goyang gempa besar terus beruntun. 

Saleh Danasasmita (1983) mengutip laporan Nederlandsch-Indisch Plakaatboek 1602-1811 karya Mr JA Van Der Chijs (1886), “Dataran tinggi antara Batavia dengan Ci Sadane, di belakang bekas keraton raja-raja Jakarta yang disebut Pakuan, yang asalnya berupa hutan besar, setelah terjadi gempa bumi, berubah menjadi lapangan luas dan terbuka, tanpa pepohonan sama sekali. 

Setelah dinding gunung itu ambrol ke lembah, menimbun anak-anak sungai, tanah vulkanik yang gembur itu langsung bercampur air, menjadi bubur tanah yang meluncur di anak-anak sungai, kemudian mengalir deras di sungai yang lebih besar. Perjalanan aliran lumpur yang berupa campuran abu, pasir, kerikil, kerekal, dan bebatuan yang lebih besar, akhirnya daya luncurnya mengecil, terutama di ketinggian +150 m dpl sampai 200 m dpl. Di Kawasan ini, sebagian material longsorannya mengendap sangat tebal, seperti di sebelah barat Ci Apus, di sebelah timur Ci Sindangbarang, yang sekarang dicirikan di utaranya ada jalan berarah barat – timur, yaitu jalan antara Ciampea dan Dramaga. Batang-batang pohon yang terbawa longsor hanyut di sungai hingga ke hilir.

Masyarakat saat itu menyebutnya endapan pasir halus itu ladu. Makanya, di Jawa Barat ada dodol berbahan dasar tepung ketan dan gula merah, namanua ladu. Setelah teraduk bagus, dibentuk menjadi segitiga sama sisi, yang panjangnya sekitar satu jengkal orang dewasa. Dodol ini dinamai ladu, karena bagian luarnya ditaburi tepung sangrai putih dengan ukuran butir agak kasar. Sehingga ketika dimakan, tepung sangrai terasa sedikit keras, tapi mudah melunak, seolah pasir. 

Endapan pasir luapan dari aliran Ci Apus dan Ci Sindangbarang itu oleh masyarakatnya disebut ladu. Ada juga endapan pasir berwarna kopi kemerahan, seperti dodol ladu. Boleh jadi, inspirasi dari wujud alam berupa pasir itulah nama laladon itu berasal. Laladon itu semula dari kata la-la-du-an. Gabungan dua huruf u-a, oleh masyarakat dilafalkan o, sehingga kata la-la-du-an menjadi la-la-don. 

Baca Juga: Toponimi Kampung Muril: Serasa Berputar karena Gempa Sesar Lembang

Masyarakat setempat menyaksikan caah dengdeng atau banjir bandang menyusul gempa besar, yang menyebabkan dinding utara Gunung Salak longsor. Air bah itu meluap ke kiri kanan sungai, mengendapkan pasir yang tebal dan luas. Peristiwa alam itu abadi menjadi nama geografis Laladon yang berada di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. Nama geografis Laladon dilekatkan pada kawasan yang berupa endapat pasir.

Semula, banjir besar itu diduga banjir lahar karena adanya letusan Gunung Salak. Namun, Verbeek & Fennema (1896) dalam tulisannya De Salak, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh K Kusumadina (1982), menegaskan bahwa, “Letusan Gunung Salak pada tahun 1699 itu tidak terjadi, sehingga harus dicoret dari daftar gejala letusan gunungapi”.

Begitu pun hasil penelitian Christopher J Harpel (2015) dari Earth Observatory of Singapore, berkesimpulan, bahwa pada tahun 1699 itu terjadi letusan Gunung Salak, tapi telah terjadi gempa bumi besar yang memicu longsoran sangat besar di dinding utara. Batang kayu yang tertimbun endapan aliran guguranpuing di Ci Apus dan di tiga sungai lainnya, menghasilkan usia yang sama, bahwa batang pohon itu telah tertimbun sejak sekitar 1699 M. 

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak. Material lahar purba itu di antaranya berupa pasir halus yang mengendap tebal di dataran banjir. Endapan pasir yang luas itu telah menginspirasi warga setempat untuk menamai kampungnya Laladon, yang menjadi penanda dan pengingat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)