Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

5 menit baca
T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan Jumat 13 Feb 2026, 15:55 WIB
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)

Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)

Untuk mengabadikan ingatan masyarakat akan peristiwa alam, atau tentang keragaman bumi, keragaman hayati, dan keragaman budaya yang ada dan terjadi di lingkungan masyarakat di Tatar Sunda, oleh warganya, atau oleh orang yang mempunyai otoritas dalam kehidupan bermasyarakat, peristiwa alam itu dilekatkan menjadi nama geografis.

Misalnya, ketika ada longsor besar yang terjadi di lereng gunung, maka persistiwa itu diabadikan menjadi penanda kawasan, menjadi pengingat, dinamailah Gunung Urug. Ketika ada kawasan yang bergerak menurun, lalu ambles secara luas, dinamailah tempat itu Lemahneundeut. Ketika di suatu tempat terjadi gempa bumi yang membuat penduduk di sana merasa pusing seperti diputar-putar, dinamailah tempat itu Muril. 

Keadaan dan peristiwa alam yang terjadi, yang dilakoninya, ada yang merangkainya menjadi kisah yang dipertalikan dengan tokoh-tokoh imajiner yang berpengaruh dalam pikiran bawah sadar masyarakat. Lalu disampaikan secara lisan, diceritakan dalam cerita pantun yang dikisahkan dan dilantunkan dalam acara selamatan yang berhubungan siklus hidup seseorang. Seperti geomitologi Sang Kuriang – Dayang Sumbi, Situ Bagendit, Gunung Guntur, dll. Ada pula tokoh yang mencatat semua kisah perjalanannya, seperti yang dilakukan oleh Bujangga Manik. 

Begitu pun dengan peristiwa gempa bumi yang terjadi di lereng utara Gunung Salak pada tahun 1699. Dampaknya sangat luas di sepanjang aliran sungai dan anak-anak sungainya. Goyangan gempabumi itu telah membuat lereng gunung menjadi rapuh kemudian runtuh. Dari ketinggian +900 meter dpl, dinding gunung ambrol, materialnya runtuh meluncur ke lembah-lembah yang berlimpah air. 

Peristiwa gempa bumi dahsyat yang merobohkan dinding gunung itu diingat dan dikenang oleh masyarakat saat itu, lalu diceritakan kembali dalam perhelatan syukuran yang khas, yang disebut pantun. Inotji Hajatullah menulis penggalan pantun itu dalam tulisannya di majalah berbahasa Sunda Balébat nomor 15 tahun 2010. Pada halaman 33, penggalan pantun Disaeurna Talaga Rancamaya: “Baheula mah Gunung Salak tara eureun ngelun bae di puncakna. Tapi harita mah, laju bae ngadadak eureun ngebulna. Kawahna ngadadak ngaguruh mani eundeur, lamping-lampingna loba nu arurug. Ti suku gunung terus ka jauh, taneuh ngariyeg deui ngariyeg deui. Ngariyegna, ngariyegna lila. Jagad sakalereun Gunung Salak dioyag-oyag lini gede nu terus noron ririntakan”.

Zaman dulu, Gunung Salak tidak pernah berhenti mengepulkan asap dari puncaknya. Tapi, pada waktu itu, bubungan asap mendadak berhenti. Kawahnya bergemuruh sampai bergetar. Lereng-lereng gunung banyak yang urug (longsor). Dari kaki gunung sampai jauh, tanah bergoyang lagi dan bergoyang lagi. Bergoyangnya, bergoyangnya lama. Begitu pun kawasan di utara Gunung Salak, digoyang-goyang gempa besar terus beruntun. 

Saleh Danasasmita (1983) mengutip laporan Nederlandsch-Indisch Plakaatboek 1602-1811 karya Mr JA Van Der Chijs (1886), “Dataran tinggi antara Batavia dengan Ci Sadane, di belakang bekas keraton raja-raja Jakarta yang disebut Pakuan, yang asalnya berupa hutan besar, setelah terjadi gempa bumi, berubah menjadi lapangan luas dan terbuka, tanpa pepohonan sama sekali. 

Setelah dinding gunung itu ambrol ke lembah, menimbun anak-anak sungai, tanah vulkanik yang gembur itu langsung bercampur air, menjadi bubur tanah yang meluncur di anak-anak sungai, kemudian mengalir deras di sungai yang lebih besar. Perjalanan aliran lumpur yang berupa campuran abu, pasir, kerikil, kerekal, dan bebatuan yang lebih besar, akhirnya daya luncurnya mengecil, terutama di ketinggian +150 m dpl sampai 200 m dpl. Di Kawasan ini, sebagian material longsorannya mengendap sangat tebal, seperti di sebelah barat Ci Apus, di sebelah timur Ci Sindangbarang, yang sekarang dicirikan di utaranya ada jalan berarah barat – timur, yaitu jalan antara Ciampea dan Dramaga. Batang-batang pohon yang terbawa longsor hanyut di sungai hingga ke hilir.

Masyarakat saat itu menyebutnya endapan pasir halus itu ladu. Makanya, di Jawa Barat ada dodol berbahan dasar tepung ketan dan gula merah, namanua ladu. Setelah teraduk bagus, dibentuk menjadi segitiga sama sisi, yang panjangnya sekitar satu jengkal orang dewasa. Dodol ini dinamai ladu, karena bagian luarnya ditaburi tepung sangrai putih dengan ukuran butir agak kasar. Sehingga ketika dimakan, tepung sangrai terasa sedikit keras, tapi mudah melunak, seolah pasir. 

Endapan pasir luapan dari aliran Ci Apus dan Ci Sindangbarang itu oleh masyarakatnya disebut ladu. Ada juga endapan pasir berwarna kopi kemerahan, seperti dodol ladu. Boleh jadi, inspirasi dari wujud alam berupa pasir itulah nama laladon itu berasal. Laladon itu semula dari kata la-la-du-an. Gabungan dua huruf u-a, oleh masyarakat dilafalkan o, sehingga kata la-la-du-an menjadi la-la-don

Baca Juga: Toponimi Kampung Muril: Serasa Berputar karena Gempa Sesar Lembang

Masyarakat setempat menyaksikan caah dengdeng atau banjir bandang menyusul gempa besar, yang menyebabkan dinding utara Gunung Salak longsor. Air bah itu meluap ke kiri kanan sungai, mengendapkan pasir yang tebal dan luas. Peristiwa alam itu abadi menjadi nama geografis Laladon yang berada di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. Nama geografis Laladon dilekatkan pada kawasan yang berupa endapat pasir.

Semula, banjir besar itu diduga banjir lahar karena adanya letusan Gunung Salak. Namun, Verbeek & Fennema (1896) dalam tulisannya De Salak, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh K Kusumadina (1982), menegaskan bahwa, “Letusan Gunung Salak pada tahun 1699 itu tidak terjadi, sehingga harus dicoret dari daftar gejala letusan gunungapi”.

Begitu pun hasil penelitian Christopher J Harpel (2015) dari Earth Observatory of Singapore, berkesimpulan, bahwa pada tahun 1699 itu terjadi letusan Gunung Salak, tapi telah terjadi gempa bumi besar yang memicu longsoran sangat besar di dinding utara. Batang kayu yang tertimbun endapan aliran guguranpuing di Ci Apus dan di tiga sungai lainnya, menghasilkan usia yang sama, bahwa batang pohon itu telah tertimbun sejak sekitar 1699 M. 

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak. Material lahar purba itu di antaranya berupa pasir halus yang mengendap tebal di dataran banjir. Endapan pasir yang luas itu telah menginspirasi warga setempat untuk menamai kampungnya Laladon, yang menjadi penanda dan pengingat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Jun 2026, 12:00

Perempuan yang Menjerit-Membuncah Keheningan Malam Kota Bandung

Bahkan di keheningan malam pun perempuan selalu ramai dengan isi kepalanya.

Suasana alam di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: KOSONGDANSATU)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 10:41

Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

Hujan mikroplastik di Ibu Kota dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun.

Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:43

Fenomena Geologi Mata Air Asin dalam Memori Kolektif dan Toponimi Desa Ciuyah

Fenomena mata air asin di Desa Ciuyah, Kab. Sumedang, berasal dari air laut purba (connate water).

Kondisi terkini situs mata air asin purba (connate water) di Desa Ciuyah, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, saat didokumentasikan pada 28 Maret 2026 pukul 10.50 WIB. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Fatia Siti Biladi)
Wisata & Kuliner 08 Jun 2026, 09:42

Panduan Wisata Sea World: Dunia Bawah Laut yang Bisa Dijelajahi dalam 3 Jam

Panduan lengkap Sea World Ancol mulai dari harga tiket, Antasena Tunnel, feeding shark, Jellyfish Sphere, hingga tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Sea World Indonesia. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:02

Rompi "Psikolog Klinis" di Puskesmas: Niat Baik yang Menabrak Aturan

Pemasangan rompi bertuliskan "Psikolog Klinis" di puskesmas menuai sorotan. Di balik niat baik meningkatkan layanan, ada aturan profesi yang dipertanyakan.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 08:26

Wujudkan Optimasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan Drone  

Mengelola Pajak Bumi dan Bangunan dengan drone sangat efektif untuk melakukan pemetaan udara, pemutakhiran data blok, dan penilaian properti secara presisi.

Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 19:05

Bangsa Penghafal: Ketika Pancasila Dipisahkan dari Tradisi Berpikir yang Melahirkannya

Pancasila tidak lahir dari hafalan. Ia lahir dari pergulatan pemikiran yang panjang. Ironisnya, bangsa yang mewarisinya justru semakin terbiasa menghafal daripada memahami.

Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)
Bandung 07 Jun 2026, 18:19

Dari K-Pop hingga Kuliner, Mengintip Cara Bandung dan Korea Selatan Ubah Hubungan Kultural Jadi Peluang Bisnis Kreatif

Dari kegemaran menikmati musik hingga tren produk kecantikan, adaptasi kultural ini perlahan tapi pasti membuka ruang-ruang usaha baru yang melibatkan para pelaku industri kreatif lokal.

“Oullim Korea: Rhythm & Recipes” yang memadati 23 Paskal Shopping Center, Bandung, pada 5–7 Juni 2026.
Bandung 07 Jun 2026, 15:04

Dari Tren Jadi Cuan, Kisah Mawaru Matcha Ekspansi Ratusan Gerai Lewat Minuman Kalcer

Gelombang hype yang mengakar dari tren makanan hingga minuman kalcer masa kini seperti dessert, kopi, sampai matcha greentea, kian menarik respons positif masyarakat.

Mawaru Matcha. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 06 Jun 2026, 12:29

Sasapedahan

Saatnya memberi kesempatan kepada sepeda untuk menunjukkan kemampuannya.

Asyiknya bermain sepeda. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 20:28

Tanara Berarti Tanah Merah

Toponim Tanara merujuk pada keadaan kawasan tersebut, yaitu tanah yang berwarna merah.

SD Negeri Tanara di Kampung Cibolang, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 19:09

Antara Batik dan Jas: Gaya Berpakaian Pribumi di Batavia

Evolusi berpakaian pribumi di Batavia pada tahun 1900-1942.

Kumpulan pribumi menggenakan jas dan sarung batik. (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:32

Obsesi Nasi: Hilangnya Diversitas Pangan Pokok Indonesia & Lingkaran Setan Food Estate

Membedah kebijakan penguasa membuat rakyat Indonesia ketergantungan beras dan kehilangan keragaman pangan lokal.

Presiden Soeharto panen padi perdana di Desa Jatimulya, Kec. Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat (8/7/1987). (Sumber: Perpusnas | Foto: Perpusnas)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:05

10 Netizen Terpilih Mei 2026 dan Format Baru untuk Bulan Berikutnya

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Warga beraktivitas di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 17:04

Bahan Bakar Plastik Menyisakan Risiko Lingkungan

Sampah dapat berkurang, tapi pencemarannya belum tentu hilang. Inilah sisi lain dari pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif yang jarang dibahas.

Tumpukan sampah plastik di Indonesia. (Sumber: pexels | Foto: Tom Fisk)
Wisata & Kuliner 05 Jun 2026, 16:46

Panduan Jelajah Dufan: Daftar Wahana Terbaik, Harga Tiket, dan Jam Operasional

Jelajahi Dunia Fantasi Jakarta dengan panduan lengkap berisi daftar wahana, harga tiket Dufan, jam buka, dan fasilitas yang tersedia.

Wisata Dufan. (Sumber: ancol.com)