Dari Semula ‘Parijs van Java’ ke ‘Parijs van Property’

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Kondisi kawasan resapan air yang beralih fungsi menjadi permukiman di Kawasan Bandung Utara (KBU). (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kondisi kawasan resapan air yang beralih fungsi menjadi permukiman di Kawasan Bandung Utara (KBU). (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

BANDUNG dahulu kala kawentar dengan udaranya yang sejuk, bungalow bercorak art deco, dan julukan nan elok: Parijs van Java alias Paris-nya Jawa. Julukan itu bukan cuma sekadar label pemanis bibir, melainkan janji. Ya, janji. Janji ihwal estetika kota, janji ihwal ruang publik yang nyaman, dan janji ihwal ritme hidup yang melambat.

Tapi,  kota, seperti juga manusia, tidak diam. Ia terus bergerak. Lihat saja, jalan-jalan yang di masa baheula disesaki pejalan kaki kini disesaki mobil. Trotoar berubah menjadi parkiran dan pusat jual-beli. Bangunan lama tak jarang malah dirobohkan. Beberapa dipoles menjadi kafe atau restoran yang Instagramable. Itu sekadar beberapa contoh betapa kota terus bergerak dan berubah.

Untuk melihat

Bisa dibilang aktivitas turisme di Kota Bandung awalnya cuma terkait dengan aktivitas untuk melihat. Wisatawan datang ke ibukota Jawa Barat ini untuk melihat pemandangan, melihat karya arsitekturnya, maupun melihat kehidupan lokal. 

Sekarang? Wisatawan datang untuk membeli. Mereka membeli pengalaman, membeli kopi, membeli foto. Maka, pengalaman pun  menjadi komoditas yang bisa dinilai dalam like dan share.

Dan di balik itu semua, ada mesin yang tak terlihat mata kita: geliat kapitalisme kota. Salah satu indikatornya, tanah menjadi komoditas berharga. Developer pun melihat ini sebagai peluang cuan. Lokasi lahan strategis dekat kampus, taman, atau kafe keren langsung menjadi ladang investasi bernilai tinggi.

Bandung yang di masa lampau terikat erat dengan budaya dan melankolia kini harus berhadapan dengan label baru, yakni Paris van Property. Julukan ini mungkin terdengar lucu. Tapi, mengandung ironi. Kota yang dulu dipuja-puji karena pesonanya, kini dipuja-puji karena potensi keuntungan dari tiap meter persegi tanahnya.

Soal selera kopi

Seiring merebaknya, aktivitas turisme membeli pengalaman, fenomena kafe-kafe yang bermunculan di kota ini bukan pula hanya soal selera kopi. Kafe-kafe itu adalah titik pertemuan antara estetika dan pasar. Kafe menjadi semacam etalase, dan etalase itu menarik konsumen yang ingin membeli citra Bandung.

Di saat yang sama, jaringan bisnis kreatif -- desainer, barista, fotografer -- muncul dan tumbuh. Dan itu sehat secara ekonomi. Namun, ketika ruang kreatif bergeser ke logika investasi, kreativitas ikut dipaksa menyesuaikan bahwa estetika harus aman buat feed Instagram, dan bukan lagi tempat eksperimen radikal.

Transformasi semacam ini juga merembet ke kawasan permukiman. Daerah-daerah yang dulu tiisieun sontak berubah menjadi lokasi proyek hunian vertikal. Kos-kosan tradisional berubah menjadi apartemen sewa jangka pendek. Penghuni lama merasakan tekanan, apakah bertahan atau pindah.

Ada yang setuju bahwa segala perubahan yang terjadi di Bandung mendorong infrastruktur yang lebih baik, lebih banyak lapangan kerja, dan lebih banyak peluang bisnis. Tapi,  ada pula lho yang menghela nafas, saat keseharian warga lokal semakin terpinggirkan oleh arus kapital nan besar dan tak mengenal nostalgia.

Standar baru

Bandros atau Bandung Tour on Bus adalah bus wisata ikonik Kota Bandung. (Sumber: Pexels/arwin waworuntu)
Bandros atau Bandung Tour on Bus adalah bus wisata ikonik Kota Bandung. (Sumber: Pexels/arwin waworuntu)

Turisme masa kini tentu saja menuntut standar baru: trotoar harus rapi, taman harus bersih, fasilitas publik perlu terus dipoles. Namun, tuntutan standar itu tak jarang menampilkan kota sebagai panggung semata, bukan sebagai ruang hidup.

Nah, ketika ruang hidup menjadi panggung, maka fungsi sosial kota pun bergeser. Ruang yang dulu untuk interaksi warga berubah menjadi tempat konsumsi. Anak-anak kehilangan lapangan bermain, warung tradisional tergantikan oleh outlet waralaba yang mematok harga di atas rata-rata.

Dalam perspektif ekonomi, hal tersebut sesungguhnya wajar. Bagaimanapun, kota perlu menyesuaikan dirinya pada demand. Sayangnya, politik ruang tak pernah netral. Keputusan zonasi, izin usaha, dan promosi wisata kerap lebih memberi keuntungan pada aktor tertentu -- developer dan investor besar -- ketimbang komunitas lokal.

Dari sisi sosiokultural, perubahan-perubahan yang terjadi tentu saja mempengaruhi identitas kota. Bandung yang dulu identik dengan kesederhanaan dan kehangatan kini ditopang oleh pencitraan urban yang lebih dingin, rapi, terkurasi, dan kadang terasa asing.

Aliran uang

Ekonomi pariwisata sendiri tak selalu menyuburkan pemerataan. Lantaran terkonsentrasi pada pusat-pusat wisata, aliran uang kerap tak sampai menetes rata ke pinggiran. Pengusaha mikro di pasisian mungkin cuma merasakan efek kosmetik -- lebih sedikit --sementara para pelaku besar menuai manfaat utamanya.

Namun, bukan berarti kita harus buru-buru menolak segala perubahan secara brutal dan total. Yang lebih krusial adalah bagaimana mengelola perubahan agar tetap mengucurkan keadilan. Model kolaboratif antara pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha kreatif diharapkan bisa menahan arus kapitalisme yang tamak dan rakus.

Salah satu jalan, misalnya, adalah dengan melindungi ruang publik sebagai commons, yakni sumber daya bersama yang dimiliki, diakses, dan dikelola oleh masyarakat untuk kepentingan kolektif, bukan untuk keuntungan pribadi atau korporasi. Menjaga pasar tradisional, memberi insentif untuk bisnis lokal, serta kebijakan zonasi yang melindungi pemukiman dari eksploitasi spekulatif diharapkan pula bisa menjadi semacam tameng  atau perisai agar kota tidak sepenuhnya dikuasai pasar.

Praktik perencanaan kota yang inklusif juga diperlukan. Melibatkan warga dalam keputusan pembangunan, transparansi soal izin usaha, dan audit sosial pada proyek-proyek besar adalah praktik yang dibutuhkan. 

Akan njomplang

Bila pembangunan hanya dirancang oleh segelintir pihak, hasilnya dipastikan bakal njomplang. Walau demikian, toh kita juga perlu mengapresiasi dinamika ekonomi baru hasil pembangunan yang tercipta di mana banyak orang Bandung mendapat penghidupan dari sektor kreatif. Desainer, barista, content creator, mereka semua  mendapat peluang. Tantangannya yaitu memastikan peluang itu bukan bentuk kerja upah murah. 

Kelak, Bandung mungkin akan menemukan keseimbangan antara menjadi kota yang dicintai lantaran pesona dan kota yang produktif secara ekonomi. Perjalanan Bandung dari semula Parijs van Java ke Paris van Property sesungguhnya bukan sekadar perkara estetika yang berubah atau bangunan berganti. Ini soal bagaimana kita memilih siapa yang mesti diuntungkan ketika kota terus berevolusi. 

Apakah Bandung akan tetap menjadi rumah bagi segenap warganya, ataukah menjadi koleksi properti cantik untuk sekadar dipandangi dari kejauhan, pilihannya ada pada kebijakan, praktik bisnis, dan -- yang paling penting -- pada kepekaan kita terhadap suara-suara kecil yang seringkali  tak terdengar. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)