Menyoal 'Sora' Sunda di Tengah Sorak Wisatawan

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Mengenalkan budaya dan nilai kesundaan bisa dilakukan lewat atraksi kaulinan barudak. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Mengenalkan budaya dan nilai kesundaan bisa dilakukan lewat atraksi kaulinan barudak. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Di kota yang riuh oleh festival, konser, dan event-event besar lainnya, seperti Bandung, suara-suara kecil sering susah terdengar. Bukan karena mereka tak bersuara, tapi karena sorak wisatawan kadang menenggelamkan yang halus, termasuk sora Sunda yang lembut.

Seniman lokal, yang mewakili sora Sunda, sejatinya  bukan sekadar penghibur. Mereka penjaga memori kolektif, penyambung kisah, pengrajin kata, dan pelestari ritual. Ketika panggung menuntut yang spektakuler, pekerjaan seniman menjadi dua, yaitu tampil dan bertahan.

Budayawan Sunda memegang peran yang serupa. Mereka bukan hanya sebagai kurator, tetapi juga mediator antara tradisi dan modernitas. Mereka sering berada di persimpangan, lantaran harus  menerjemahkan makna lama agar tetap relevan tanpa kehilangan esensi.

Komunitas lokal, dari sanggar tari sampai kelompok pemuda karawitan, adalah ruang hidup bahasa dan nilai Sunda. Di sanalah ragam tutur, lelucon kampung, dan etika bertetangga dipelihara. Tapi, ruang itu rapuh bila ekonomi kota terus menekannya.

Menawarkan insentif

Tak bisa kita mungkiri, industri pariwisata menawarkan insentif yang tampak nyata berupa honor pentas, kesempatan tampil, dan visibilitas. Namun, seringkali insentif itu membawa implikasi -- kultur harus dikemas supaya “enak” dikonsumsi pengunjung.

Pengemasan budaya untuk turis toh bukan selalu buruk. Ia membuka jalan bagi pendanaan dan publisitas. Persoalan muncul ketika pengemasan mengubah makna. Contohnya, sebuah tarian menjadi rutinitas foto, cerita leluhur menjadi narasi singkat tanpa konteks.

Di sinilah dilema etis muncul: antara survival ekonomi dan integritas budaya. Seniman perlu makan. Mereka juga ingin menjaga nilai. Pilihan yang dihadapi seringkali pragmatis, bukan ideologis.

Seniman lokal tak jarang menjadi pekerja multi-peran. Mereka penampil, pengajar, dan wiraswasta. Mereka membuka kelas, menjual karya, dan kadang menerima proyek yang menuntut mereka “mempermudah” tradisi agar mudah dipasarkan.

Namun, ada juga jalur positif berupa kolaborasi kreatif yang menghormati konteks. Misalnya, festival yang melibatkan seniman sejak tahap kurasi, memberi honor yang layak, dan mengakomodasi narasi panjang tentang makna budaya.

Hal lain adalah kepemilikan narasi. Ketika komunitas diberi ruang menentukan bagaimana mereka dipresentasikan, kemungkinan distorsi berkurang. Sayangnya, tak semua panitia event membuka ruang itu.

Di pihak lain, media pariwisata sering mencari cerita yang cepat dan padat. Judul menarik, gambar mencolok, lalu cepat berlalu. Sedangkan budaya lokal sering membutuhkan waktu untuk dicerna -- cerita yang panjang, bahasa yang berlapis, dan makna tersirat.

Maka, pendidikan budaya jadi aspek penting. Sekolah dan sanggar harus diberdayakan supaya bahasa Sunda tak hanya menjadi materi tontonan, tetapi bagian dari kurikulum hidup -- cara bicara, cara bersikap, cara berinteraksi.

Namun, sekolah formal pun terkadang tertekan oleh kurikulum nasional dan tuntutan global. Di sinilah peran komunitas ekstrakurikuler dan inisiatif lokal menjadi penyangga penting.

Doa orang Sunda hadir sederhana di keseharian, jadi pengikat relasi dan tanda solidaritas rakyat. (Sumber: Pexels/Andreas Suwardy)
Doa orang Sunda hadir sederhana di keseharian, jadi pengikat relasi dan tanda solidaritas rakyat. (Sumber: Pexels/Andreas Suwardy)

Para budayawan Sunda perlu peran ganda, yakni peneliti yang mengarsipkan dan fasilitator yang menerjemahkan. Arsip tanpa publik tidak hidup, pertunjukan tanpa konteks gampang hampa.

Ekonomi kreatif bisa menjadi sekutu. Jika model bisnis dirancang agar memberi keuntungan jangka panjang bagi komunitas -- bukan sekadar satu kali bayar -- maka pelestarian punya basis finansial.

Model profit-sharing, residensi seniman, dan ruang produksi bersama dapat mengurangi eksploitasi. Ketika seniman memiliki aset intelektual dan ruang ekonomi, mereka tidak terpaksa “menjual” budaya mereka secara murah.

Ada pula peranan penting pemerintah daerah. Kebijakan publik yang menghargai karya lokal -- dengan subsidi, fasilitasi izin, dan promosi yang berimbang -- diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang sehat.

Tersebab itu, pendekatan kebijakan harus sensitif. Jangan hanya mengangkat budaya Sunda untuk menghibur turis semata, tapi juga membiayai pendokumentasian, pelatihan, dan program regenerasi bagi penerus.

Regenerasi sendiri adalah soal waktu. Anak-anak harus melihat contoh hidup. Misalnya, tetangga yang tetap memainkan kecapi, paman yang mengajarkan pantun, atau guru yang memakai bahasa Sunda sebagai medium diskusi.

Festival besar boleh menarik pengunjung, tetapi bila ruang kecil -- perpustakaan lokal, sangar seni Sunda, majelis taklim -- menghilang, bahasa Sunda dan nilai-nilai kesundaan akan kehilangan medan praktik alami.

Kita sering terpesona dengan headline besar. Namun, perubahan paling menentukan terjadi di keseharian. Sora Sunda hidup di sapaan pagi, di ucapan terima kasih, di ungkapan kecewa yang halus. Itu yang membentuk karakter budaya Sunda secara nyata.

Peluang dan risiko

Kiwari, komunitas digital membuka peluang dan juga risiko. Media sosial mempermudah dokumentasi dan jaringan, tapi juga memicu komodifikasi cepat. Video viral tentang tarian tradisi bisa mendongkrak popularitas, sekaligus mengaburkan konteksnya.

Di platform digital, komunitas bisa mengontrol narasi lebih baik: membuat kanal sendiri, menerbitkan penjelasan panjang, dan mengajak dialog. Itu cara modern menjaga otoritas budaya Sunda.

Peran akademisi tidak kalah penting. Penelitian yang membumi --kolaboratif, partisipatif, dan berbagi hasil dengan komunitas -- membantu membuat kebijakan berbasis bukti serta menguatkan argumen perlunya dukungan jangka panjang.

Seringkali, dukungan itu bukan hanya berupa uang, tetapi penghargaan simbolik berupa pengakuan resmi atas peran kelompok, akses ruang tampil reguler, dan jaminan bahwa warisan mereka dihormati dalam promosi kota.

Solidaritas antar-komunitas kreatif juga berguna. Seniman musik, teater, pematung, dan tukang tenun bisa saling menguatkan dalam hal berbagi ruang, pertukaran audiens, dan kolaborasi lintas disiplin.

Yang perlu dihindari adalah nostalgia pasif, merindukan masa lalu tanpa rencana. Pelestarian harus aktif dengan jalan mencipta konteks baru agar budaya Sunda tetap relevan sekarang. Misalnya, dengan kolaborasi kontemporer yang tetap menghormati akar budaya Sunda.

Akhirnya, sora Sunda tidak harus berteriak paling keras untuk tetap hidup dan bertahan. Ia cukup dimulai dari kebiasaan kecil. Orang tua yang berbicara kepada anak dalam bahasa Sunda, pengelola event yang membaca naskah penuh konteks, dan penonton yang mau mendengar lebih dari sekadar tontonan.

Di tengah sorak wisatawan, sora itu tetap ada jika kita memberinya medan. Dan Menjaga sora itu bukan hanya soal pelestarian, melainkan soal memilih kota seperti apa yang kita inginkan, yakni kota yang kaya pengunjung, atau kota yang kaya suara-suara yang membentuknya dari hari ke hari. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)