Turisme Bandung dan Menjaga Rasa 'Urang' Sunda

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Atraksi seni tradisional di pusat Kota Bandung mampu menarik wisatawan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Atraksi seni tradisional di pusat Kota Bandung mampu menarik wisatawan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar Putra)

BAHASA Sunda bukan sekadar kosakata. Dalam bahasa itu, tersimpan nilai-nilai yang tak gampang ditimbang maupun ditakar dengan angka-angka kunjungan turis.

Turisme memang membawa manfaat nyata untuk Bandung. Ekonomi bergerak. Tempat usaha baru muncul. Orang-orang mendapatkan lahan pekerjaan. 

Tapi, ada dinamika lain. Banyak papan nama kini pakai bahasa Inggris. Muncul pula mural bertema global. Kafe menggunakan nama asing. Dan itu sesungguhnya bukan dosa. 

Kota Bandung toh berkembang. Namun, setiap pergantian nama adalah pilihan. Kira-kira, maukah kita menukar sebutan lama yang penuh makna dengan logo yang bisa dipahami di mana-mana?

Di sudut-sudut jalan di Bandung, masih ada para penjual bubur maupun kupat tahu yang menyapa dengan bahasa Sunda. Di situ terasa getar asli kota ini. Dan itu  mungkin pengalaman yang sering dilewatkan wisatawan yang buru-buru mencari spot foto Instagramable.

Soal transmisi

Bahasa menyangkut soal transmisi antar-generasi. Ketika rumah makan mengganti pelayan lokal dengan staf dari luar, ketika warung kopi mengadopsi playlist internasional, anak muda kian akrab dengan bahasa global. Di sini, bahasa Sunda menjadi pilihan, bukan kebutuhan.

Namun, jangan salah. Anak muda Bandung tak butuh “ditegur”. Mereka bisa mencintai kotanya dan memilih gaya hidup modern. Persoalannya mungkin adalah: apakah ada ruang yang menjaga agar gaya hidup modern itu tetap berakar pada nilai lokal?

Sektor pariwisata sering memproduksi versi Sunda yang “aman” dan mudah dikonsumsi. Cukup secuil tarian di panggung, lagu yang dipotong, suvenir dengan embel-embel nyunda. Itu memang membantu mengerek brand, tapi sekaligus mereduksi kompleksitas budaya menjadi produk.

Ada juga mekanisme pembelajaran yang positif. Komunitas budaya, sanggar, dan kelompok musik tradisi yang masih aktif. Mereka bukan hanya tampil di pentas, mereka juga mengajarkan bahasa Sunda, teknik, dan filosofi kasundaan. Sayang, upaya mereka tidak selalu mendapat sorotan yang setimpal.

Daya tarik

Kota yang keren biasanya memiliki daya tarik kuat. Misalnya, lewat festival musik, pameran seni, dan event-event kreatif memancing kunjungan. Hal baiknya, acara-acara itu bisa menjadi ruang pengenalan budaya Sunda jika dirancang dengan niat.

Banyak kampus di Bandung sesungguhnya menghasilkan generasi yang sadar budaya. Dalam hal ini, mahasiswa bisa menjadi mediator. Mereka diharapkan dapat menerjemahkan nila-nilai kasudaan ke wacana baru, menggabungkan tradisi dan modernitas tanpa kehilangan akar kasundaan. 

Tata ruang juga bisa turut berperan. Ruang publik yang inklusif memberi kesempatan semua lapisan masyarakat bertemu dan dapat diupayakan agar tetap menonjolkan bahasa lokal -- bahasa Sunda. 

Peran pemerintah lokal penting pula. Bukan hanya lewat ajang promosi wisata, tetapi lewat kebijakan kebahasaan dan budaya. Misalnya, memberi insentif buat pelaku budaya lokal, menjaga pasar tradisional, atau menginisiasi program-program pendidikan bahasa dan budaya Sunda di sekolah.

Tapi, jangan berharap pada solusi tunggal. Pelestarian bahasa dan budaya Sunda memerlukan kerja kolektif. Mulai dari keluarga, komunitas, sekolah, media, dan pelaku ekonomi kreatif. Semua harus berkontribusi, dengan cara yang saling melengkapi.

Masih hidup

Pertumbuhan sektor pariwisata Jawa Barat tidak bisa dilepaskan dari kontribusi berbagai komponen industri, terutama perhotelan dan restoran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Pertumbuhan sektor pariwisata Jawa Barat tidak bisa dilepaskan dari kontribusi berbagai komponen industri, terutama perhotelan dan restoran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Di banyak sudut Bandung, bahasa Sunda masih hidup dengan kuat. Warga bercakap tentang tetangga, tentang hujan, tentang Persib dalam bahasa Sunda. Pelajaran pentingnya adalah bahasa Sunda hidup lewat rutinitas kecil.

Wisata kuliner tak jarang bisa menjadi pintu masuk bahasa. Makanan membawa istilah, ritual makan, dan cerita. Jika resto-resto yang ikut meramaikan turisme Bandung menjaga nama menu asli Sunda, maka bahasa dan budaya Sunda bisa turut hadir tanpa paksaan.

Seni pertunjukan juga bisa menjadi medium penguatan. Pertunjukan yang mengajak audiens berdialog dalam bahasa Sunda, bukan sekadar menyaksikan, memberi kesempatan bahasa ini berkembang.

Komunitas kreatif Bandung tentu memiliki potensi besar.  Karya desain, musik, film, dan teater yang diproduksi bisa dipakai sebagai sarana untuk mengenalkan basa Sunda dan kasundaan secara kontemporer.

Cara beretika

Bahasa Sunda mengandung tata cara beretika yang tetap relevan di kota besar. Misalnya, menahan ego, memberi tempat pada orang lain, dan berbicara dengan lemah-lembut. Nilai-nilai seperti ini jika dipraktikkan membantu Kota Bandung tetap ramah, terutama ketika banyak orang datang dari berbagai daerah.

Kita boleh bangga pada Bandung yang bisa menarik perhatian dunia. Namun, hal ini harus diseimbangkan. Bukan hanya pada soal memoles facade, tetapi juga merawat akar kasundaan-nya. Bandung yang ideal adalah kota yang membuat tamu merasa diterima tanpa membuat tuan rumah merasa terpinggirkan.

Perubahan generasi juga sejatinya memberi harapan. Banyak seniman muda yang memadukan bahasa Sunda dengan bahasa global dalam musik, puisi, atau film pendek karya mereka. Mereka menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan soal mengubur modernitas, tapi soal melakukan dialog secara kreatif.

Di sisi lain, sektor pendidikan formal turut mempengaruhi. Sekolah yang mengajarkan bahasa Sunda, cerita rakyat Sunda, dan praktik kebudayaan Sunda akan memberi alat bagi generasi muda untuk mengidentifikasi diri mereka. Tanpa itu, kebanggaan akan Kota Bandung dan kasundaan-nya mungkin cuma jadi label estetis semata.

Tak perlu memusuhi

Kita tak perlu memusuhi kafe hipster atau festival besar bergaya asing. Lebih berguna bila mengajak dialog nan konstruktif. Contohnya, bagaimana kafe dapat menjadi tempat belajar kecil tentang bahasa dan budaya Sunda, bagaimana festival modern memberi ruang untuk komunitas lokal yang fokus pada aspek kasundaan.

Bisa juga lewat cara praktis nan sederhana. Umpamanya, menata nama jalan sehingga lebih menonjol nuansa kasundaanya, menempatkan informasi bilingual (Indonesia–Sunda), dan memfasilitasi pasar seni lokal di tengah event-event besar. Langkah-langkah kecil bisa memberi efek besar pada kelangsungan bahasa Sunda.

Semuanya pada akhirnya menyangkut masalah pilihan. Maukah kita menjadikan Bandung hanya sebagai label keren yang cepat habis dimakan tren, atau sebagai kota yang tetap menyimpan rasa menjadi urang Sunda di dalam rutinitasnya?

Pilihan itu bukan perkara nostalgia, atau romantisme, melainkan perkara bagaimana menjaga kelanggengan bahasa dan budaya Sunda agar tetap hidup serta relevan.

Bandung akan terus berubah. Dan itu pasti. Yang bisa kita lakukan adalah menjaga agar perubahan itu juga menyisakan ruang yang cukup untuk bisik-bisik lembut bahasa Sunda, untuk salam nan someah, dan untuk rasa kasundaan yang membuat kota ini bukan sebatas indah dipandang mata, tetapi benar-benar sebagai rumah yang menentramkan jiwa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)