Turisme Bandung dan Menjaga Rasa 'Urang' Sunda

Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan Senin 17 Nov 2025, 08:48 WIB
Atraksi seni tradisional di pusat Kota Bandung mampu menarik wisatawan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar Putra)

Atraksi seni tradisional di pusat Kota Bandung mampu menarik wisatawan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar Putra)

BAHASA Sunda bukan sekadar kosakata. Dalam bahasa itu, tersimpan nilai-nilai yang tak gampang ditimbang maupun ditakar dengan angka-angka kunjungan turis.

Turisme memang membawa manfaat nyata untuk Bandung. Ekonomi bergerak. Tempat usaha baru muncul. Orang-orang mendapatkan lahan pekerjaan. 

Tapi, ada dinamika lain. Banyak papan nama kini pakai bahasa Inggris. Muncul pula mural bertema global. Kafe menggunakan nama asing. Dan itu sesungguhnya bukan dosa. 

Kota Bandung toh berkembang. Namun, setiap pergantian nama adalah pilihan. Kira-kira, maukah kita menukar sebutan lama yang penuh makna dengan logo yang bisa dipahami di mana-mana?

Di sudut-sudut jalan di Bandung, masih ada para penjual bubur maupun kupat tahu yang menyapa dengan bahasa Sunda. Di situ terasa getar asli kota ini. Dan itu  mungkin pengalaman yang sering dilewatkan wisatawan yang buru-buru mencari spot foto Instagramable.

Soal transmisi

Bahasa menyangkut soal transmisi antar-generasi. Ketika rumah makan mengganti pelayan lokal dengan staf dari luar, ketika warung kopi mengadopsi playlist internasional, anak muda kian akrab dengan bahasa global. Di sini, bahasa Sunda menjadi pilihan, bukan kebutuhan.

Namun, jangan salah. Anak muda Bandung tak butuh “ditegur”. Mereka bisa mencintai kotanya dan memilih gaya hidup modern. Persoalannya mungkin adalah: apakah ada ruang yang menjaga agar gaya hidup modern itu tetap berakar pada nilai lokal?

Sektor pariwisata sering memproduksi versi Sunda yang “aman” dan mudah dikonsumsi. Cukup secuil tarian di panggung, lagu yang dipotong, suvenir dengan embel-embel nyunda. Itu memang membantu mengerek brand, tapi sekaligus mereduksi kompleksitas budaya menjadi produk.

Ada juga mekanisme pembelajaran yang positif. Komunitas budaya, sanggar, dan kelompok musik tradisi yang masih aktif. Mereka bukan hanya tampil di pentas, mereka juga mengajarkan bahasa Sunda, teknik, dan filosofi kasundaan. Sayang, upaya mereka tidak selalu mendapat sorotan yang setimpal.

Daya tarik

Kota yang keren biasanya memiliki daya tarik kuat. Misalnya, lewat festival musik, pameran seni, dan event-event kreatif memancing kunjungan. Hal baiknya, acara-acara itu bisa menjadi ruang pengenalan budaya Sunda jika dirancang dengan niat.

Banyak kampus di Bandung sesungguhnya menghasilkan generasi yang sadar budaya. Dalam hal ini, mahasiswa bisa menjadi mediator. Mereka diharapkan dapat menerjemahkan nila-nilai kasudaan ke wacana baru, menggabungkan tradisi dan modernitas tanpa kehilangan akar kasundaan

Tata ruang juga bisa turut berperan. Ruang publik yang inklusif memberi kesempatan semua lapisan masyarakat bertemu dan dapat diupayakan agar tetap menonjolkan bahasa lokal -- bahasa Sunda. 

Peran pemerintah lokal penting pula. Bukan hanya lewat ajang promosi wisata, tetapi lewat kebijakan kebahasaan dan budaya. Misalnya, memberi insentif buat pelaku budaya lokal, menjaga pasar tradisional, atau menginisiasi program-program pendidikan bahasa dan budaya Sunda di sekolah.

Tapi, jangan berharap pada solusi tunggal. Pelestarian bahasa dan budaya Sunda memerlukan kerja kolektif. Mulai dari keluarga, komunitas, sekolah, media, dan pelaku ekonomi kreatif. Semua harus berkontribusi, dengan cara yang saling melengkapi.

Masih hidup

Pertumbuhan sektor pariwisata Jawa Barat tidak bisa dilepaskan dari kontribusi berbagai komponen industri, terutama perhotelan dan restoran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Pertumbuhan sektor pariwisata Jawa Barat tidak bisa dilepaskan dari kontribusi berbagai komponen industri, terutama perhotelan dan restoran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Di banyak sudut Bandung, bahasa Sunda masih hidup dengan kuat. Warga bercakap tentang tetangga, tentang hujan, tentang Persib dalam bahasa Sunda. Pelajaran pentingnya adalah bahasa Sunda hidup lewat rutinitas kecil.

Wisata kuliner tak jarang bisa menjadi pintu masuk bahasa. Makanan membawa istilah, ritual makan, dan cerita. Jika resto-resto yang ikut meramaikan turisme Bandung menjaga nama menu asli Sunda, maka bahasa dan budaya Sunda bisa turut hadir tanpa paksaan.

Seni pertunjukan juga bisa menjadi medium penguatan. Pertunjukan yang mengajak audiens berdialog dalam bahasa Sunda, bukan sekadar menyaksikan, memberi kesempatan bahasa ini berkembang.

Komunitas kreatif Bandung tentu memiliki potensi besar.  Karya desain, musik, film, dan teater yang diproduksi bisa dipakai sebagai sarana untuk mengenalkan basa Sunda dan kasundaan secara kontemporer.

Cara beretika

Bahasa Sunda mengandung tata cara beretika yang tetap relevan di kota besar. Misalnya, menahan ego, memberi tempat pada orang lain, dan berbicara dengan lemah-lembut. Nilai-nilai seperti ini jika dipraktikkan membantu Kota Bandung tetap ramah, terutama ketika banyak orang datang dari berbagai daerah.

Kita boleh bangga pada Bandung yang bisa menarik perhatian dunia. Namun, hal ini harus diseimbangkan. Bukan hanya pada soal memoles facade, tetapi juga merawat akar kasundaan-nya. Bandung yang ideal adalah kota yang membuat tamu merasa diterima tanpa membuat tuan rumah merasa terpinggirkan.

Perubahan generasi juga sejatinya memberi harapan. Banyak seniman muda yang memadukan bahasa Sunda dengan bahasa global dalam musik, puisi, atau film pendek karya mereka. Mereka menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan soal mengubur modernitas, tapi soal melakukan dialog secara kreatif.

Di sisi lain, sektor pendidikan formal turut mempengaruhi. Sekolah yang mengajarkan bahasa Sunda, cerita rakyat Sunda, dan praktik kebudayaan Sunda akan memberi alat bagi generasi muda untuk mengidentifikasi diri mereka. Tanpa itu, kebanggaan akan Kota Bandung dan kasundaan-nya mungkin cuma jadi label estetis semata.

Tak perlu memusuhi

Kita tak perlu memusuhi kafe hipster atau festival besar bergaya asing. Lebih berguna bila mengajak dialog nan konstruktif. Contohnya, bagaimana kafe dapat menjadi tempat belajar kecil tentang bahasa dan budaya Sunda, bagaimana festival modern memberi ruang untuk komunitas lokal yang fokus pada aspek kasundaan.

Bisa juga lewat cara praktis nan sederhana. Umpamanya, menata nama jalan sehingga lebih menonjol nuansa kasundaanya, menempatkan informasi bilingual (Indonesia–Sunda), dan memfasilitasi pasar seni lokal di tengah event-event besar. Langkah-langkah kecil bisa memberi efek besar pada kelangsungan bahasa Sunda.

Semuanya pada akhirnya menyangkut masalah pilihan. Maukah kita menjadikan Bandung hanya sebagai label keren yang cepat habis dimakan tren, atau sebagai kota yang tetap menyimpan rasa menjadi urang Sunda di dalam rutinitasnya?

Pilihan itu bukan perkara nostalgia, atau romantisme, melainkan perkara bagaimana menjaga kelanggengan bahasa dan budaya Sunda agar tetap hidup serta relevan.

Bandung akan terus berubah. Dan itu pasti. Yang bisa kita lakukan adalah menjaga agar perubahan itu juga menyisakan ruang yang cukup untuk bisik-bisik lembut bahasa Sunda, untuk salam nan someah, dan untuk rasa kasundaan yang membuat kota ini bukan sebatas indah dipandang mata, tetapi benar-benar sebagai rumah yang menentramkan jiwa. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:18

Panduan Wisata Gunung Guntur, "Semeru"-nya Jawa Barat dengan Panorama Spektakuler

Gunung Guntur menawarkan jalur berpasir terjal, panorama pegunungan luas, serta pengalaman mendaki unik di gunung berapi aktif dekat pusat Kota Garut.

Gunung Guntur dilihat dari kawasan pemandian Cipanas, Garut (Sumber: Wikimedia)
Beranda 10 Apr 2026, 09:29

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Power of Ibu-Ibu Cibogo mengubah pengelolaan sampah rumah tangga menjadi gerakan kolektif yang berdampak, menghadirkan solusi lingkungan sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi warga.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 08:30

Tren Rambut Lady Diana

Kehebohan para wanita Kota Bandung dari berbagai kalangan usia meniru gaya rambut Lady Diana saat tahun 1980-an

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)
Bandung 09 Apr 2026, 19:40

Urgensi Literasi Keuangan dan Akselerasi Sektor Riil demi Resiliensi Ekonomi Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi?

Ilustrasi. Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi. (Sumber: Ayobiz.id/Gemini Generated)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 18:18

Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 16:40

Wisata Pantai Patimban, Pesisir Subang Utara yang jadi Pelabuhan Logistik

Pantai Patimban tawarkan sunset, kuliner laut, dan suasana santai, namun kini berubah sejak hadirnya Pelabuhan Internasional.

Pantai Patimban Subang. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 09 Apr 2026, 16:39

Beralih ke Motor Listrik, Ojol Hadapi Dilema Antara Hemat Biaya dan Keterbatasan Jarak

Peralihan ojol ke motor listrik menghadirkan efisiensi biaya, namun dibayangi tantangan jarak tempuh dan infrastruktur, memaksa pengemudi lebih cermat mengatur strategi kerja.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 15:02

4 Ide Tulisan Hari Besar Terkait Tema Ayonetizen April 2026: Kartini, Asia-Afrika, sampai Hari Puisi

Bulan April penuh dengan momentum yang bisa diubah jadi cerita.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 09 Apr 2026, 13:42

Menjembatani Kreativitas dan Regulasi: Menilik Tantangan Ekonomi Kreatif di Bandung

Pemerintah dan pelaku ekraf Bandung bedah regulasi & standar harga pengadaan dalam Ruang Dialog Ekraf guna dorong dampak ekonomi nyata.

Ilustrasi. Ekonomi kreatif (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 13:14

Dari Sampah Menjadi Penjernih Sungai

Mahasiswa Tel-U menggagas website edukasi Ecoenzyme untuk atasi banjir Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 12:03

Doktrin Pemikiran Manusia

Dalam konteks apapun, doktrin menjadikan sebuah pemikiran otak manusia menjadi lebih aktif dalam berbagai permasalahan.

Ilustrasi manusia. (Sumber: Pexels | Foto: beytlik)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 11:18

Acara Radio Legendaris Top Hits Pop Indonesia (THPI) dari Radio Ganesha Bandung

Di Bandung, salah satu acara yang paling ditunggu adalah Top Hits Pop Indonesia (THPI).

Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 09 Apr 2026, 09:55

Menjembatani Kesenjangan Internet: Antara Fiber, FWA, dan Harapan 5G

Kesenjangan akses internet di Indonesia masih tinggi, sehingga kombinasi fiber optik, 4G, 5G, dan FWA serta kolaborasi pemerintah dan operator jadi kunci pemerataan broadband.

Suasana Seminar Teknologi FTTH, FWA & Mobile Broadband di Aula Timur ITB Kampus Ganesa, yang membahas strategi pemerataan akses internet di tengah kesenjangan infrastruktur digital di Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 09:54

Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

Rambu pudar, tertutup, dan marka hilang meningkatkan risiko kecelakaan di Bandung. Masalah ini menegaskan pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)