Budaya Ngalaksa: Warisan Leluhur yang Dijaga oleh Warga Rancakalong Sumedang

2 menit baca
Fayyaza Jasmine Chelsea Kuncara
Ditulis oleh Fayyaza Jasmine Chelsea Kuncara diterbitkan
Ibu-ibu Rancakalong mengolah adonan meniadi laksa saat prosesi Meseul Geulis dalam Adat Ngalaksa di Desa Rancakalong, Sumedang, Jumat (15/05/2025). (Sumber: @kangzamzamnikmat on Tiktok | Foto: Zamzam Nikmat)
Ibu-ibu Rancakalong mengolah adonan meniadi laksa saat prosesi Meseul Geulis dalam Adat Ngalaksa di Desa Rancakalong, Sumedang, Jumat (15/05/2025). (Sumber: @kangzamzamnikmat on Tiktok | Foto: Zamzam Nikmat)

Matahari pelan memanjat bukit, menyisakan embun di dedaunan. Udara segar pedesaan menyambut warga yang mulai memadati kawasan adat. Namun suasana pagi itu justru menambah semarak tradisi Ngalaksa di Desa Wisata, Desa Rancakalong, Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Sabtu (25/10/2025).

Zamzam Nikmat, keturunan pelaksana adat Ngalaksa sekaligus penerus seni tarawangsa di Rancakalong, menjelaskan bahwa tradisi Ngalaksa merupakan kebiasaan sejak dulu terhadap rasa syukur hasil panen.

Ngalaksa ini kebiasaan yang dilakukan sejak dulu, seperti meseul bakal, jadi lebih ke mengingat kebiasaan zaman dahulu,” ujarnya.

Tahun ini, Ngalaksa digelar pada Mei 2025 dengan penyelenggara inti dari keturunan pelestari adat. Kegiatan ini melibatkan seluruh warga mulai dari persiapan hingga prosesi utama, menunjukan rasa hormat terhadap warisan leluhur.

Keturunan adat pelaksana adat itu turut mengisahkan awal mula tradisi yang masih lestari hingga kini.

“Dulu pernah ada masa panen di Rancakalong itu gagal terus, lalu orang tua zaman dulu bersemedi dan mendapat petunjuk bahwa masyarakat kurang bersedekah. Dari situlah tradisi Ngalaksa hadir sebagai wujud syukur,” ujarnya.

Dahulu, tradisi digelar tiga hingga empat tahun sekali, bergiliran di beberapa desa. Memasuki tahun 1990-an, pelaksanaannya di Desa Wisata Rancakalong. Kini, kegiatan digelar setiap tahun, dengan beberapa desa bergantian menjadi “hajat”-nya.

Rangkaian Ngalaksa berlangsung selama kurang lebih satu minggu. Sebelum prosesi inti dimulai, warga lebih dulu menggelar Badami atau musyawarah untuk menentukan tanggal pelaksanaan yang biasanya jatuh pada bulan Hapit.

Setelah itu, dilakukan Bewara atau pengumuman kepada warga, dilanjutkan Ngahayu-hayu sebagai ajakan bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi ataupun memberikan sumbangan berupa padi atau beras. Seluruh sumbangan kemudian dibagi untuk kebutuhan dapur, operasional, serta bahan pembuatan laksa sebagai hidangan utama tradisi.

Prosesi puncak dimulai dengan acara pembukaan yang turut dihadiri pemerintah daerah dan tokoh masyarakat. Pada hari kedua, digelar meseul bakal atau menumbuk padi menjadi beras yang kemudian diibakan atau dicuci.

Warga Desa Rancakalong mengikuti prosesi Meseul
Bakal dengan menumbuk padi menjadi beras pada upacara adat Ngalaksa, Jumat (15/05/2025). (Sumber: @kangzamzamnikmat on Tiktok | Foto: Zamzam Nikmat)
Warga Desa Rancakalong mengikuti prosesi Meseul Bakal dengan menumbuk padi menjadi beras pada upacara adat Ngalaksa, Jumat (15/05/2025). (Sumber: @kangzamzamnikmat on Tiktok | Foto: Zamzam Nikmat)

Memasuki hari ketiga hingga kelima, beras tersebut disimpan di dalam goa dan menjalani prosesi Nyiraman setiap pagi dan sore menggunakan air combrang, mirip proses fermentasi. Di hari keenam, dilakukan meseul geulis atau menumbuk beras menjadi tepung, lalu diolah menjadi laksa sebagai simbol rasa syukur masyarakat.

Meski adaptasi dengan perkembangan zaman tak terhindarkan seperti adanya bantuan pemerintah, yang kini dialokasikan untuk dibelikan padi secara langsung, berbeda dengan zaman dulu ketika padi benar-benar diambil dari hasil panen sendiri lalu dimasukkan ke leuit untuk kegiatan meseul bakal, namun masyarakat tetap menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Penerus tradisi adat Ngalaksa, Zamzam Nikmat mengakui tantangan terbesar saat ini adalah menjaga minat generasi muda terhadap prosesi adat, karena banyak yang lebih tertarik pada seni tarawangsa. Untuk mengatasinya, ia rutin mendokumentasikan prosesi Ngalaksa dan membagikannya di media sosial.

“Harapannya, jangan sampai adat ini pareum atau terputus. Semoga generasi selanjutnya bisa tetap belajar, mengenal, dan ikut melestarikan kebiasaan leluhur ini,” ujarnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Fayyaza Jasmine Chelsea Kuncara
Mahasiswi Digital Public Relation Telkom University 2024

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 15:18

Revolusi Perancis dan Bandung Nol Kilometer

Revolusi Prancis berawal dari penjara Bastille tahun 1789 telah membuat perubahan besar hak asasi manusia juga mempengaruhi perkembangan Bandung.

Monumen titik nol kilometer Kota Bandung diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada 18 Mei 2004 dan didedikasikan untuk masyarakat Priangan korban kerja paksa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Anya Dellanita)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 12:56

Bagaimana Teknologi Pengenal Plat Nomor Mengubah Wajah Transportasi Modern?

Teknologi License Plate Recognition (LPR) memungkinkan kamera dan AI mengenali plat nomor kendaraan secara otomatis untuk mendukung transportasi yang lebih aman, efisien, dan cerdas.

LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. (Sumber: ilmiteknik.co.id)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 11:48

Panduan Berkunjung ke Pulau Komodo: Cara ke Labuan Bajo, Pink Beach, dan Pulau Padar

Panduan lengkap Taman Nasional Komodo mulai dari harga tiket, aplikasi SiOra, Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point, hingga pilihan tour terbaik.

Pulau Komodo. (Sumber: Flickr)