Kenangan yang Menggenang di Masjid Agung Alun-Alun Bandung

4 menit baca
Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan
Masjid Agung Alun-Alun Bandung. (Sumber: ayobandung.com)
Masjid Agung Alun-Alun Bandung. (Sumber: ayobandung.com)

Ada yang bilang, Bandung itu kota yang kalau sudah pernah kamu tinggali, rasanya susah benar untuk benar-benar pergi. Aku baru sadar kalimat itu bukan sekadar kata-kata manis buat caption Instagram. Setelah belasan tahun merantau di Jakarta—kota yang katanya tidak pernah tidur tapi sering bikin mata panda—akhirnya aku menjejak lagi di tempat yang dulu jadi “halaman rumah” masa kuliah: Alun-Alun Bandung.

Waktu dulu, sekitar tahun 2002-an akhir, Alun-Alun belum serapih sekarang. Rumputnya bukan sintetis, tapi rumput beneran—yang kalau hujan bisa berubah jadi sawah mini dan kalau kering bisa bikin celana penuh noda coklat misterius. Tapi di situlah justru romantismenya. Duduk di bawah pohon sambil nonton orang main bola plastik, ngemil cilok lima ratusan, dan pura-pura belajar ujian (padahal ngelamun lihat yang lewat).

Sekarang, saat aku datang lagi, Alun-Alun terasa seperti versi upgrade dari masa laluku. Rumputnya hijau terang tapi anti-becek, anak-anak berlarian dengan sepatu bersih, dan semua orang sibuk berfoto dengan gaya “tangan di depan mulut” sambil menatap kamera dari bawah. Aku sempat berpikir, kalau dulu rumputnya sudah sintetis begini, mungkin nilai IPK-ku bisa lebih tinggi—soalnya pasti lebih betah nongkrong sambil belajar. Tapi ya, siapa juga yang mau belajar kalau di depan ada abang es cendol?

Aku berjalan ke arah Masjid Raya Bandung, menatap menara yang menjulang. Ada momen haru juga, saat aku berdiri di tengah lapangan rumput itu dan melihat sekitar. Di sana ada pasangan muda yang selfie, keluarga kecil yang piknik, turis luar kota yang takjub, dan aku—mantan anak Bandung yang tiba-tiba merasa pulang. Di antara tawa, teriakan anak kecil, dan aroma sate yang lewat, aku sadar: Bandung mungkin berubah, tapi rasa hangatnya tetap sama.

Saya masih ingat betul, waktu wisuda S1 di Bandung tahun 2009. Waktu itu rasanya seperti baru selesai maraton panjang penuh begadang, skripsi, dan Indomie rebus. Bandung buat saya bukan cuma kota kuliah, tapi tempat di mana hidup terasa lebih lambat, tapi justru di situlah banyak hal penting saya pelajari.

Sekarang, lima belas tahun kemudian, saya sudah menetap di Jakarta. Kota yang kalau pagi sudah sibuk, kalau siang makin macet, dan kalau malam... ya tetap macet juga. Tapi beberapa waktu lalu, saya memutuskan pulang sebentar ke Bandung. Alasannya sederhana: rindu. Selama belasan tahun itu, saya akan menyempatkan diri menarah rasa rindu menjadi kangen luar biasa dengan menjadi turis abal-abal ke Kota Bandung.

Dan entah kenapa, tujuan pertama saya bukan kampus, bukan Dago, bukan Lembang, tapi Alun-Alun Bandung.

Bandung yang Berubah, Tapi Tetap Sama

Wisatawan tumplek di kawasan Alun-alun Bandung (Sumber: Ayobandung)
Wisatawan tumplek di kawasan Alun-alun Bandung (Sumber: Ayobandung)

Begitu turun dari Busss   DAMRI yang modern sekarang mah, saya sempat bengong. “Lho, alun-alunnya jadi begini sekarang?” Rumput sintetis hijau terbentang luas, anak-anak berlarian tanpa alas kaki, ibu-ibu piknik, dan pasangan muda foto-foto sambil bawa balon karakter.

Dulu, tahun-tahun kuliah saya, alun-alun itu penuh pedagang kaki lima, tukang cilok, tukang balon, dan tukang parkir yang nyerocos lebih cepat dari dosen ngajar. Tapi entah kenapa, suasananya masih sama: ramai, hidup, dan hangat.

Saya duduk di pojokan, di bawah bayangan Masjid Raya yang megah itu, sambil beli kopi sachet di warung kecil. Rasanya sih biasa, tapi suasananya luar biasa. Ada aroma nostalgia bercampur debu dan gorengan yang entah kenapa bikin hati tenang.

Sambil menyeruput kopi, pikiran saya melayang ke masa kuliah. Dulu nongkrong bukan di kafe estetik, tapi di warung Indomie depan kosan. Bahasannya bukan bisnis, bukan saham, tapi tugas kelompok yang belum dikerjain dan gosip siapa yang telat ngumpulin laporan. Tapi justru dari situ, saya belajar dua hal penting dari Bandung:

  1. Hidup nggak perlu buru-buru.
  2. Kopi sachet dan obrolan ringan bisa jadi terapi terbaik.

Sekarang di Jakarta, dua hal itu nyaris hilang. Semua orang sibuk, semua hal serba cepat. Bahkan kadang saya lupa makan, tapi nggak pernah lupa ngecek notifikasi.

Mungkin itu sebabnya saya datang ke alun-alun hari itu: buat berhenti sejenak, buat ngobrol sama diri sendiri yang dulu — yang masih punya waktu untuk mikir pelan-pelan.

Merefleksi Alun-Alun Bandung

Buat banyak orang, Alun-Alun Bandung mungkin cuma tempat wisata. Tapi buat saya, ini semacam ruang refleksi publik. Tempat kita bisa duduk, lihat orang berlalu-lalang, dan menyadari bahwa waktu memang berjalan, tapi esensi hidup tetap sama: sederhana.

Saya lihat anak-anak kecil main bola, orang tua tertawa, dan pasangan muda foto-foto di depan tulisan “Alun-Alun Bandung”. Di tengah hiruk pikuk itu, saya merasa damai.

Sebelum pulang, saya beli cilok — masih 5 ribu dapat banyak. Rasanya masih sama seperti dulu. Saya makan sambil tersenyum, karena di setiap gigitan ada rasa masa lalu yang belum benar-benar pergi.

Jakarta boleh gemerlap, tapi Bandung punya pesonanya sendiri. Kota ini selalu mengingatkan bahwa hidup nggak harus terburu-buru. Kadang, cukup duduk di alun-alun, minum kopi sachet, dan menatap langit sore — itu saja sudah cukup untuk merasa hidup lagi.

Dan sambil melangkah meninggalkan alun-alun, saya berbisik pelan: “Hidup tidak perlu tergesa, Kang. Nikmati saja — sambil ngopi.”

Sebelum pulang, aku beli oleh-oleh kecil dari pedagang kaki lima di pinggir jalan. Abangnya masih dengan logat khas Sunda yang ramah, “Sok atuh, Kang, cobian sate padangnya!” Aku tertawa kecil. Rasanya seperti tidak pernah benar-benar pergi dari kota ini.

Dan saat bus kembali melaju menuju Jakarta, aku menatap keluar jendela—Bandung mulai mengecil di kaca, tapi membesar di dada. Karena seperti kata orang-orang, sekali kamu mencintai Bandung, kamu cuma bisa pulang atau kangen. Tidak ada di antaranya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Tentang Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)