Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Ditulis oleh Eneng Reni Nuraisyah Jamil diterbitkan Jumat 09 Jan 2026, 17:49 WIB
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)

Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)

AYOBANDUNG.ID -- Kepercayaan menjadi kata kunci yang terus bergema ketika para ahli teknologi, riset, dan etika membicarakan masa depan kecerdasan buatan. Di Indonesia, isu ini terasa semakin relevan karena AI sudah meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.

Bagi generasi muda seperti millennial dan Gen Z yang begitu melek teknologi, kepercayaan bukan sekadar jargon, melainkan fondasi yang menentukan apakah mereka akan menerima atau menolak kehadiran AI dalam rutinitas mereka. AI kini hadir tanpa disadari, mengatur jadwal, mengkurasi rutinitas, bahkan mengantisipasi kebutuhan pengguna.

Namun, para ahli menekankan bahwa kepercayaan tidak dibangun melalui janji manis, melainkan melalui perilaku yang konsisten, transparan, dan mudah dipahami. Di tengah derasnya arus digitalisasi, masyarakat Indonesia semakin kritis terhadap bagaimana data pribadi mereka digunakan. Mereka menuntut kejelasan, bukan sekadar fitur canggih yang sulit dijelaskan.

Fenomoena ini mencerminkan keresahan nyata di masyarakat, terutama di kalangan anak muda yang terbiasa hidup dengan teknologi namun tetap ingin menjadi pemegang kendali atas pengalaman digital mereka.

“Ketika berbicara tentang AI, pengguna menginginkan transparansi dan dapat kontrol," ujar Allie Miller dalam sebuah sesi diskusi In Tech We Trust? Rethinking Security & Privacy in the AI Age.

Miller menambahkan bahwa pengguna ingin memahami apakah model AI berjalan hanya di perangkat atau di cloud, memastikan data mereka aman, serta melihat dengan jelas fitur apa yang didukung AI dan yang tidak. Tingkat visibilitas seperti ini, menurutnya, adalah fondasi rasa percaya.

Di Indonesia, hal ini tercermin dari meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap keamanan data, terutama setelah beberapa kasus kebocoran data publik yang sempat mencuat.

“Di sisi penyedia, terdapat tanggung jawab untuk hadir bagi pengguna dengan merancang pengalaman yang dipersonalisasi berlandaskan asas kepercayaan, kejelasan, keamanan, dan akuntabilitas," lanjut Miller.

Tanggung jawab ini semakin berat di Indonesia, di mana regulasi perlindungan data pribadi baru saja diberlakukan dan masih dalam tahap implementasi.

Shin Baik, pakar lain dalam diskusi tersebut, menekankan bahwa kepercayaan akan tumbuh ketika AI berperilaku secara prediktif dan aman di berbagai perangkat, serta ketika pengguna mendapatkan sinyal kontrol yang jelas, bukan sistem “kotak hitam” yang sulit dipahami.

Hal ini sejalan dengan fenomena di Indonesia, di mana banyak pengguna muda merasa bingung dengan algoritma yang bekerja di balik layar aplikasi media sosial atau e-commerce.

Allie Miller kembali menyoroti pentingnya transparansi, termasuk kejelasan mengenai di mana model AI dijalankan, bagaimana data digunakan, serta label eksplisit untuk menunjukkan fitur mana yang ditenagai oleh AI dan mana yang tidak.

Di Indonesia, kebutuhan akan labelisasi ini semakin mendesak, mengingat literasi digital masyarakat masih beragam dan sering kali pengguna tidak menyadari bahwa mereka sedang berinteraksi dengan sistem AI.

Zack Kass menambahkan dimensi lain khususnya terkait misinformasi dan penyalahgunaan. Hal ini relevan dengan kondisi Indonesia, di mana penyebaran hoaks dan misinformasi digital masih menjadi tantangan besar, terutama di media sosial yang banyak digunakan oleh Gen Z dan millennial.

“Untuk setiap risiko, selalu ada penangkalnya, dan teknologi akan memainkan peran krusial dalam memitigasi dampak negatif AI,” ujarnya.

Data terbaru dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2025 menunjukkan bahwa 27,34 persen masyarakat Indonesia sudah menggunakan AI, naik dari 24,73 persen tahun sebelumnya. Gen Z mendominasi dengan 43,7 persen, disusul millennial 22,3 persen.

Angka ini menegaskan bahwa generasi muda adalah motor utama adopsi AI di Indonesia. Namun, literasi AI masih rendah, sehingga risiko keamanan data dan privasi tetap tinggi.

Generasi muda Indonesia menggunakan AI untuk berbagai kebutuhan. Contoh, Gen Z banyak memanfaatkannya untuk belajar dan hiburan, sementara millennial lebih fokus pada produktivitas dan bisnis.

Namun, keduanya sama-sama menuntut kejelasan dan kontrol atas data pribadi mereka. Fenomena ini menunjukkan bahwa kepercayaan bukan hanya isu teknis, melainkan juga isu sosial yang menentukan arah masa depan AI di Indonesia.

Potensi pasar AI di Indonesia sangat besar. Laporan GoodStats 2025 menegaskan bahwa generasi muda menjadi penggerak utama tren ini, dengan adopsi yang terus meningkat di sektor pendidikan, hiburan, dan e-commerce. Namun, tantangan terbesar tetap pada keamanan data pribadi dan regulasi yang belum sepenuhnya matang.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kominfo menyoroti perlunya regulasi yang menjamin keamanan data dan privasi pengguna. Regulasi ini diharapkan mampu membangun kepercayaan publik, sehingga adopsi AI tidak menimbulkan krisis kepercayaan yang bisa menghambat pertumbuhan teknologi.

Di lapangan, masyarakat Indonesia mulai menunjukkan sikap ambivalen. Di satu sisi, mereka antusias dengan kemudahan yang ditawarkan AI. Di sisi lain, mereka khawatir akan penyalahgunaan data pribadi. Sikap ini mencerminkan bahwa kepercayaan terhadap AI masih rapuh dan membutuhkan fondasi yang lebih kuat.

Generasi muda Indonesia, dengan keterbukaan mereka terhadap teknologi, sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi pionir dalam membentuk masa depan AI yang lebih etis dan transparan. Namun, hal ini hanya bisa terwujud jika penyedia teknologi dan pemerintah bekerja sama membangun ekosistem yang aman dan akuntabel.

Oleh karena itu, para panelis sepakat bahwa teknologi yang mampu membangun kepercayaan jangka panjang adalah teknologi yang sejak awal sudah mengedepankan keamanan, transparansi, serta pilihan yang bermakna bagi pengguna.

Di Indonesia, masa depan AI akan ditentukan oleh bagaimana kepercayaan ini dirawat dan dijaga, terutama di kalangan generasi muda yang menjadi tulang punggung adopsi teknologi.

Masa depan AI di Indonesia bukan hanya soal inovasi, tetapi juga soal kepercayaan. Jika kepercayaan dapat dibangun melalui transparansi, keamanan, dan akuntabilitas, maka AI akan menjadi motor penggerak inovasi dan pertumbuhan ekonomi. Namun, jika kepercayaan diabaikan, maka AI berisiko menjadi teknologi yang ditolak masyarakat.

Alternatif produk kecerdasan buatan (AI) atau kebutuhan serupa:

  1. https://s.shopee.co.id/2VlKtSYAMu
  2. https://s.shopee.co.id/AKUCDbSTaJ
  3. https://s.shopee.co.id/3LKRsuNWiG
  4. https://s.shopee.co.id/AKUCDiL2hV
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:06 WIB

'Berkawan' dengan Gelapnya Jalan Soekarno Hatta

Jalan Soekarno Hatta makin gelap karena lampu PJU mati, membuat warga merasa was-was setiap melintas.
Jalan Soekarno Hatta ramai malam hari, motor, dan mobil bergerak di tengah padatnya arus, (01/12/2025). (Sumber: Fayyaza Jasmine | Foto: Fayyaza Jasmine)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 14:39 WIB

Bobotoh Cek! Cara Beli Single Ticket Pertandingan PERSIB di Aplikasi Resmi

Cara membeli single ticket pertandingan kandang PERSIB Bandung melalui aplikasi resmi PERSIB (PERSIBapp).
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 13:26 WIB

Bandung Terus Diganggu oleh Pungli yang Tak Kunjung Teratasi

Pungli terus mengganggu kenyamanan warga Bandung muncul berulang di berbagai ruang publik, menunjukkan lemahnya pengawasan dan kebutuhan akan tindakan tegas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Area parkir di salah satu kawasan kuliner Bandung yang sedang dipadati oleh beberapa kendaraan, terutama pada jam makan siang (4/12/2025). (Sumber: Keira Khalila K | Foto: Keira Khalila K)
Beranda 09 Jan 2026, 11:20 WIB

PKL Cicadas Tolak Jalur BRT, Spanduk Protes Bermunculan: Kami Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Proyek

Berdasarkan temuan di lapangan, kegelisahan pedagang memuncak setelah adanya pendataan mendadak yang dilakukan dua kali, masing-masing oleh konsultan dan Satpol PP.
Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:27 WIB

Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia

Suasana akrab dan inspiratif menyelimuti acara "Weekend Retreat" yang diselenggarakan oleh Bright Scholarship Regional Bandung.
Membangun Visi dan Networking: Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung Bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:01 WIB

Optimalisasi Keterampilan Pemrograman dalam Kehidupan Sehari-Hari

Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya?
Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya? (Sumber: Pexels | Foto: hitesh choudhary)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 07:53 WIB

Bentuk Sadar Toleransi terhadap Penganut Sunda Wiwitan

Kesadaran toleransi sedang ramai digaungkan, namun terkadang hanya dirasakan oleh penganut agama resmi versi pemerintah.
Podcast bersama Bapak Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si., Dosen Antropologi Universitas Padjajaran. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Paguyuban Project)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:32 WIB

Dari Ancaman TPA hingga Harapan Transformasi

Sampah menumpuk, citra kota terancam. Bagaimana Bandung mengubah krisis jadi peluang?
Tumpukan sampah yang mencerminkan darurat lingkungan yang butuh solusi cepat di Gudang Selatan, Bandung, Jawa Barat, (01/12/2025). (Sumber: Azzahra Syifa Lestari)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:16 WIB

Kenapa Stoikisme Lebih Ampuh daripada Terjerat Pinjol? Seni Menghadapi Quarter Life Crisis

Jangan sampai salah langkah demi gengsi! Kenali cara hadapi Quarter Life Crisis dengan Stoikisme agar terhindar dari jeratan Pinjol.
Ilustrasi perasaan tersesat dan lelah mental saat menghadapi Quarter Life Crisis. (Sumber: unplash | Foto: Mehran Biabani)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 19:19 WIB

Kota Bandung dan Krisis Sampah

Kota Bandung kembali berada dalam sorotan publik akibat persoalan sampah yang tak kunjung teratasi.
Gunung"sampah di daerah warga jl. buanasari II no.1 , Kota Bandung pada Selasa, 2 Desember 2025. (Foto:Muhammad Fiqri A.)