AYOBANDUNG.ID -- Kepercayaan menjadi kata kunci yang terus bergema ketika para ahli teknologi, riset, dan etika membicarakan masa depan kecerdasan buatan. Di Indonesia, isu ini terasa semakin relevan karena AI sudah meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Bagi generasi muda seperti millennial dan Gen Z yang begitu melek teknologi, kepercayaan bukan sekadar jargon, melainkan fondasi yang menentukan apakah mereka akan menerima atau menolak kehadiran AI dalam rutinitas mereka. AI kini hadir tanpa disadari, mengatur jadwal, mengkurasi rutinitas, bahkan mengantisipasi kebutuhan pengguna.
Namun, para ahli menekankan bahwa kepercayaan tidak dibangun melalui janji manis, melainkan melalui perilaku yang konsisten, transparan, dan mudah dipahami. Di tengah derasnya arus digitalisasi, masyarakat Indonesia semakin kritis terhadap bagaimana data pribadi mereka digunakan. Mereka menuntut kejelasan, bukan sekadar fitur canggih yang sulit dijelaskan.
Fenomoena ini mencerminkan keresahan nyata di masyarakat, terutama di kalangan anak muda yang terbiasa hidup dengan teknologi namun tetap ingin menjadi pemegang kendali atas pengalaman digital mereka.
“Ketika berbicara tentang AI, pengguna menginginkan transparansi dan dapat kontrol," ujar Allie Miller dalam sebuah sesi diskusi In Tech We Trust? Rethinking Security & Privacy in the AI Age.
Miller menambahkan bahwa pengguna ingin memahami apakah model AI berjalan hanya di perangkat atau di cloud, memastikan data mereka aman, serta melihat dengan jelas fitur apa yang didukung AI dan yang tidak. Tingkat visibilitas seperti ini, menurutnya, adalah fondasi rasa percaya.
Di Indonesia, hal ini tercermin dari meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap keamanan data, terutama setelah beberapa kasus kebocoran data publik yang sempat mencuat.
“Di sisi penyedia, terdapat tanggung jawab untuk hadir bagi pengguna dengan merancang pengalaman yang dipersonalisasi berlandaskan asas kepercayaan, kejelasan, keamanan, dan akuntabilitas," lanjut Miller.
Tanggung jawab ini semakin berat di Indonesia, di mana regulasi perlindungan data pribadi baru saja diberlakukan dan masih dalam tahap implementasi.
Shin Baik, pakar lain dalam diskusi tersebut, menekankan bahwa kepercayaan akan tumbuh ketika AI berperilaku secara prediktif dan aman di berbagai perangkat, serta ketika pengguna mendapatkan sinyal kontrol yang jelas, bukan sistem “kotak hitam” yang sulit dipahami.
Hal ini sejalan dengan fenomena di Indonesia, di mana banyak pengguna muda merasa bingung dengan algoritma yang bekerja di balik layar aplikasi media sosial atau e-commerce.
Allie Miller kembali menyoroti pentingnya transparansi, termasuk kejelasan mengenai di mana model AI dijalankan, bagaimana data digunakan, serta label eksplisit untuk menunjukkan fitur mana yang ditenagai oleh AI dan mana yang tidak.
Di Indonesia, kebutuhan akan labelisasi ini semakin mendesak, mengingat literasi digital masyarakat masih beragam dan sering kali pengguna tidak menyadari bahwa mereka sedang berinteraksi dengan sistem AI.
Zack Kass menambahkan dimensi lain khususnya terkait misinformasi dan penyalahgunaan. Hal ini relevan dengan kondisi Indonesia, di mana penyebaran hoaks dan misinformasi digital masih menjadi tantangan besar, terutama di media sosial yang banyak digunakan oleh Gen Z dan millennial.
“Untuk setiap risiko, selalu ada penangkalnya, dan teknologi akan memainkan peran krusial dalam memitigasi dampak negatif AI,” ujarnya.
Data terbaru dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2025 menunjukkan bahwa 27,34 persen masyarakat Indonesia sudah menggunakan AI, naik dari 24,73 persen tahun sebelumnya. Gen Z mendominasi dengan 43,7 persen, disusul millennial 22,3 persen.
Angka ini menegaskan bahwa generasi muda adalah motor utama adopsi AI di Indonesia. Namun, literasi AI masih rendah, sehingga risiko keamanan data dan privasi tetap tinggi.
Generasi muda Indonesia menggunakan AI untuk berbagai kebutuhan. Contoh, Gen Z banyak memanfaatkannya untuk belajar dan hiburan, sementara millennial lebih fokus pada produktivitas dan bisnis.
Namun, keduanya sama-sama menuntut kejelasan dan kontrol atas data pribadi mereka. Fenomena ini menunjukkan bahwa kepercayaan bukan hanya isu teknis, melainkan juga isu sosial yang menentukan arah masa depan AI di Indonesia.
Potensi pasar AI di Indonesia sangat besar. Laporan GoodStats 2025 menegaskan bahwa generasi muda menjadi penggerak utama tren ini, dengan adopsi yang terus meningkat di sektor pendidikan, hiburan, dan e-commerce. Namun, tantangan terbesar tetap pada keamanan data pribadi dan regulasi yang belum sepenuhnya matang.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kominfo menyoroti perlunya regulasi yang menjamin keamanan data dan privasi pengguna. Regulasi ini diharapkan mampu membangun kepercayaan publik, sehingga adopsi AI tidak menimbulkan krisis kepercayaan yang bisa menghambat pertumbuhan teknologi.
Di lapangan, masyarakat Indonesia mulai menunjukkan sikap ambivalen. Di satu sisi, mereka antusias dengan kemudahan yang ditawarkan AI. Di sisi lain, mereka khawatir akan penyalahgunaan data pribadi. Sikap ini mencerminkan bahwa kepercayaan terhadap AI masih rapuh dan membutuhkan fondasi yang lebih kuat.
Generasi muda Indonesia, dengan keterbukaan mereka terhadap teknologi, sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi pionir dalam membentuk masa depan AI yang lebih etis dan transparan. Namun, hal ini hanya bisa terwujud jika penyedia teknologi dan pemerintah bekerja sama membangun ekosistem yang aman dan akuntabel.
Oleh karena itu, para panelis sepakat bahwa teknologi yang mampu membangun kepercayaan jangka panjang adalah teknologi yang sejak awal sudah mengedepankan keamanan, transparansi, serta pilihan yang bermakna bagi pengguna.
Di Indonesia, masa depan AI akan ditentukan oleh bagaimana kepercayaan ini dirawat dan dijaga, terutama di kalangan generasi muda yang menjadi tulang punggung adopsi teknologi.
Masa depan AI di Indonesia bukan hanya soal inovasi, tetapi juga soal kepercayaan. Jika kepercayaan dapat dibangun melalui transparansi, keamanan, dan akuntabilitas, maka AI akan menjadi motor penggerak inovasi dan pertumbuhan ekonomi. Namun, jika kepercayaan diabaikan, maka AI berisiko menjadi teknologi yang ditolak masyarakat.
Alternatif produk kecerdasan buatan (AI) atau kebutuhan serupa:
