Kenapa Stoikisme Lebih Ampuh daripada Terjerat Pinjol? Seni Menghadapi Quarter Life Crisis

Nenah Haryati
Ditulis oleh Nenah Haryati diterbitkan Kamis 08 Jan 2026, 20:16 WIB
Ilustrasi perasaan tersesat dan lelah mental saat menghadapi Quarter Life Crisis. (Sumber: unplash | Foto: Mehran Biabani)

Ilustrasi perasaan tersesat dan lelah mental saat menghadapi Quarter Life Crisis. (Sumber: unplash | Foto: Mehran Biabani)

Berada di usia 20-an sering kali terasa seperti berjalan di atas tali tipis. Ada tekanan besar untuk segera sukses, mapan, dan terlihat "wah" di mata orang lain. Sialnya, alih-alih melangkah maju, kita justru sering terjebak dalam rasa bingung yang luar biasa, mau ngapain dan harus mana dulu yang dikerjain.

Inilah realita Quarter Life Crisis (QLC) yang sebenarnya: sebuah fase di mana kita merasa asing dengan diri sendiri dan tersesat di tengah hiruk-pikuk ekspektasi dunia. Mungkin tulisan ini akan terasa sedikit 'panas' bagi kita yang masih sibuk mengejar validasi lewat kemewahan semu. Sebab, pada akhirnya, orang yang benar-benar punya kualitas diri biasanya tidak akan sesibuk itu memamerkan apa yang mereka miliki.

Berdasarkan pengamatan saya, berikut adalah beberapa poin untuk kita merenung sejenak:

1. Ketika "Stuck" Lebih Menyakitkan daripada Patah Hati

Fase Quarter Life Crisis biasanya menyerang kita yang berumur 18-30 tahun. Menurut yang saya pelajari, hal ini disebabkan karena terlalu banyaknya standar keinginan atau ekspektasi yang terlalu tinggi. Mungkin perasaan stuck ini yang sering membuat kita lebih galau dibanding ditinggal HTS. Kita merasa kehilangan jati diri dan bingung harus melangkah ke mana. Melihat pencapaian orang lain bukannya dijadikan motivasi, malah menarik diri kita untuk merasakan insecure karena merasa tidak sehebat mereka.

2. Terapkan Ilmu Stoikisme dalam Keseharian

Kebahagiaan yang sejati itu bisa ditemukan saat kita mulai menerapkan prinsip Stoikisme. Intinya adalah menjaga pengaruh dari luar, karena satu-satunya hal yang benar-benar bisa kita kendalikan adalah sesuatu yang ada dalam diri kita sendiri. Dengan prinsip ini, kita belajar untuk tidak membiarkan komentar atau standar orang lain merusak ketenangan mental kita. Fokuslah pada apa yang bisa kita perbaiki hari ini, bukan pada apa yang orang lain katakan tentang kita.

3. Jadwalkan Kesuksesan, Jangan Hanya Menunggu

Kita harus tanamkan bahwa kesuksesan tidak melihat usia. Tapi, dengan menjadwalkan kesuksesan itu, harus. Bukan berarti kita pasrah menunggu kesuksesan itu datang begitu saja. Mulailah dengan mempelajari banyak keterampilan agar bisa menghasilkan pundi-pundi uang. Jangan hanya diam, karena kesempatan tidak datang kepada mereka yang hanya menunggu tanpa usaha.

4. Berhenti Memaksakan Gaya karena FOMO

Di tahun 2026 ini, kita bakal makin sering melihat orang-orang yang terlalu "memaksakan" gaya hidup karena takut ketinggalan zaman (FOMO). Padahal, tampil beda dan menjadi diri sendiri justru jauh lebih unik. Di saat orang lain sibuk pamer barang branded, kita justru bisa menggunakan uang itu untuk investasi masa depan. Saya menyaksikan sendiri betapa besarnya dampak negatif mengejar gengsi, bahkan ada yang sampai nekat terjerat Pinjol (Pinjaman Online) hanya untuk pamer gaya hidup. Hal seperti ini bukannya membuat terlihat kaya, malah justru membuat diri semakin miskin dan terjepit utang.

Baca Juga: Kota Bandung dan Krisis Sampah

5. Belajar Menerima dan Bersyukur

Hal terpenting yang harus ditekuni adalah belajar menerima. Terkadang hal ini disepelekan, namun memiliki nilai yang sangat tinggi. Sering sekali kita merasa kurang dari apa yang kita dapat, namun jarang melihat bahwa masih banyak orang yang lebih membutuhkan dari apa yang kita punya. Justru orang yang paling beruntung di fase ini adalah dia yang hidupnya tenang dan terbebas dari utang karena kemewahan semata.

Jadi bagaimana? Mau begitu-begitu saja seperti tahun sebelumnya? Atau bakal ada escape nih untuk menjadi lebih baik di fase Quarter Life Crisis ini? Pilihan untuk berhenti mengejar validasi dan mulai membangun kualitas diri ada di tangan kita masing-masing. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nenah Haryati
Tentang Nenah Haryati
Mahasiswa yang hobi mengamati sisi lain kehidupan sehari-hari, terutama yang dialami Generasi Z.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Feb 2026, 10:24

Bukan Sekadar Bangun Pagi, 5 Tradisi Sahur Penuh Cinta

Ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Tradisi, iya. Cari amal, iya. Hiburan juga iya. Tapi yang paling terasa itu silaturahmi. Karena di luar Ramadan jarang sekali bisa kumpul seramai ini.

Tradisi membangunkan sahur di kota dan pedesaan. (Sumber: Instagram | Foto: @sekeloaselatann)
Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 15:01

Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Mengkritik politik kemiskinan ekologis: warga miskin hidup di ruang rusak, sementara bansos hanya jadi solusi tambal sulam struktural.

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 13:37

Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 11:58

15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, memahami istilah-istilah kuncinya adalah langkah awal yang penting.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Beranda 24 Feb 2026, 11:52

RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Tradisi bangunin sahur anak-anak muda Sekelo Selatan sudah berjalan sejak 2007. Bukan sekadar keliling kampung, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi yang kini viral di media sosial.

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 08:09

Puasa Perisai Konsumtif

Jangan sampai nilai-nilai Ramadan ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 20:20

Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding.

Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 16:20

Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Berikut kumpulan kata khas Ramadan yang sering digunakan beserta maknanya.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Bandung 23 Feb 2026, 15:25

Strategi Bertahan Gado Gado Gerobakan Cibadak Menembus Batas Zaman dan Pandemi

Merintis bisnis bukanlah wacana yang mudah. Perencanaan yang matang hingga eksekusi bisnis sampai di tahap mempunyai pelanggan setia, bukanlah proses yang mudah.

Kuliner tradisional yakni gado-gado gerobakan di kawasan Cibadak milik Efendi Wahyudin. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 14:18

Di Balik Kumpulan Kata Khas Ramadan, Memahami Bahasa dan Makna Sosial

Memahami istilah-istilah khas Ramadan berarti memahami bagaimana bahasa berfungsi sebagai medium pengalaman kolektif.

Seorang anak sedang mengaji. (Sumber: Pixabay | Foto: Joko_Narimo)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 12:13

Bahasa yang Menjadi Kontrol Sosial Kala Ramadan

Di Bulan Suci ini, bahasa menjaga puasa kita tetap tuntas dengan baik.

Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 09:07

Mendadak Pasar Takjil Ramadan

Yang membuat Pasar Takjil menarik, di antaranya adalah suasananya yang meriah dan penuh kejutan.

Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 18:04

Sejarah Es Cendol Elizabeth yang Selalu Menjadi Minuman 'Bintang' di Saat Ramadan

Kisah Es Cendol Elizabeth berawal dari cerita Haji Rohman pada 1972 yang ditinggal pergi ayahnya.

Es Cendol Elizabeth. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)
Bandung 22 Feb 2026, 15:08

Manisnya Berkah Ramadan di Jalan Cibadak, Kisah Pak Heri Merawat Tradisi Es Goyobod di Tengah Gempuran Zaman

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini.

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 15:02

Ngabuburead: Menemukan Ketenangan di Tengah Riuh Ramadan Jawa Barat

Inilah tren 'Ngabuburead', cara baru menepi lewat konten digital yang lebih intim dan berisi.

Media digital. (Sumber: Unsplash | Foto: @felirbe)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 11:43

Lembang Tempo Dulu

Dahulu Lembang adalah sebuah kawasan hijau yang pada masa VOC memiliki sebuah upeti istimewa.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 09:36

Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda

Denyut pers Sunda sebenarnya telah terdengar sejak akhir abad ke-19 melalui penerbitan seperti Sunda Almanak (1894) dan Panemu Guru (1906).

Wajah baru Majalah Mangle dalam manajemen Pusat Budaya Sunda Unpad. (Sumber: Dokumentasi Penulis)