Kenapa Stoikisme Lebih Ampuh daripada Terjerat Pinjol? Seni Menghadapi Quarter Life Crisis

3 menit baca
Nenah Haryati
Ditulis oleh Nenah Haryati diterbitkan
Ilustrasi perasaan tersesat dan lelah mental saat menghadapi Quarter Life Crisis. (Sumber: unplash | Foto: Mehran Biabani)
Ilustrasi perasaan tersesat dan lelah mental saat menghadapi Quarter Life Crisis. (Sumber: unplash | Foto: Mehran Biabani)

Berada di usia 20-an sering kali terasa seperti berjalan di atas tali tipis. Ada tekanan besar untuk segera sukses, mapan, dan terlihat "wah" di mata orang lain. Sialnya, alih-alih melangkah maju, kita justru sering terjebak dalam rasa bingung yang luar biasa, mau ngapain dan harus mana dulu yang dikerjain.

Inilah realita Quarter Life Crisis (QLC) yang sebenarnya: sebuah fase di mana kita merasa asing dengan diri sendiri dan tersesat di tengah hiruk-pikuk ekspektasi dunia. Mungkin tulisan ini akan terasa sedikit 'panas' bagi kita yang masih sibuk mengejar validasi lewat kemewahan semu. Sebab, pada akhirnya, orang yang benar-benar punya kualitas diri biasanya tidak akan sesibuk itu memamerkan apa yang mereka miliki.

Berdasarkan pengamatan saya, berikut adalah beberapa poin untuk kita merenung sejenak:

1. Ketika "Stuck" Lebih Menyakitkan daripada Patah Hati

Fase Quarter Life Crisis biasanya menyerang kita yang berumur 18-30 tahun. Menurut yang saya pelajari, hal ini disebabkan karena terlalu banyaknya standar keinginan atau ekspektasi yang terlalu tinggi. Mungkin perasaan stuck ini yang sering membuat kita lebih galau dibanding ditinggal HTS. Kita merasa kehilangan jati diri dan bingung harus melangkah ke mana. Melihat pencapaian orang lain bukannya dijadikan motivasi, malah menarik diri kita untuk merasakan insecure karena merasa tidak sehebat mereka.

2. Terapkan Ilmu Stoikisme dalam Keseharian

Kebahagiaan yang sejati itu bisa ditemukan saat kita mulai menerapkan prinsip Stoikisme. Intinya adalah menjaga pengaruh dari luar, karena satu-satunya hal yang benar-benar bisa kita kendalikan adalah sesuatu yang ada dalam diri kita sendiri. Dengan prinsip ini, kita belajar untuk tidak membiarkan komentar atau standar orang lain merusak ketenangan mental kita. Fokuslah pada apa yang bisa kita perbaiki hari ini, bukan pada apa yang orang lain katakan tentang kita.

3. Jadwalkan Kesuksesan, Jangan Hanya Menunggu

Kita harus tanamkan bahwa kesuksesan tidak melihat usia. Tapi, dengan menjadwalkan kesuksesan itu, harus. Bukan berarti kita pasrah menunggu kesuksesan itu datang begitu saja. Mulailah dengan mempelajari banyak keterampilan agar bisa menghasilkan pundi-pundi uang. Jangan hanya diam, karena kesempatan tidak datang kepada mereka yang hanya menunggu tanpa usaha.

4. Berhenti Memaksakan Gaya karena FOMO

Di tahun 2026 ini, kita bakal makin sering melihat orang-orang yang terlalu "memaksakan" gaya hidup karena takut ketinggalan zaman (FOMO). Padahal, tampil beda dan menjadi diri sendiri justru jauh lebih unik. Di saat orang lain sibuk pamer barang branded, kita justru bisa menggunakan uang itu untuk investasi masa depan. Saya menyaksikan sendiri betapa besarnya dampak negatif mengejar gengsi, bahkan ada yang sampai nekat terjerat Pinjol (Pinjaman Online) hanya untuk pamer gaya hidup. Hal seperti ini bukannya membuat terlihat kaya, malah justru membuat diri semakin miskin dan terjepit utang.

Baca Juga: Kota Bandung dan Krisis Sampah

5. Belajar Menerima dan Bersyukur

Hal terpenting yang harus ditekuni adalah belajar menerima. Terkadang hal ini disepelekan, namun memiliki nilai yang sangat tinggi. Sering sekali kita merasa kurang dari apa yang kita dapat, namun jarang melihat bahwa masih banyak orang yang lebih membutuhkan dari apa yang kita punya. Justru orang yang paling beruntung di fase ini adalah dia yang hidupnya tenang dan terbebas dari utang karena kemewahan semata.

Jadi bagaimana? Mau begitu-begitu saja seperti tahun sebelumnya? Atau bakal ada escape nih untuk menjadi lebih baik di fase Quarter Life Crisis ini? Pilihan untuk berhenti mengejar validasi dan mulai membangun kualitas diri ada di tangan kita masing-masing. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)