Kairo Menguji, Mesir Membentuk: Perjalanan Mahasiswa Indonesia Bertahan di Negeri Baru

Kahla Qolbiani Rasyad
Ditulis oleh Kahla Qolbiani Rasyad diterbitkan Kamis 08 Jan 2026, 19:10 WIB
Komunitas Literasi Masisir. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nabil Irtifa)

Komunitas Literasi Masisir. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nabil Irtifa)

Kairo tidak pernah benar-benar diam. Kota ini berbicara melalui klakson yang saling bersahutan, langkah kaki yang tergesa, dan suara-suara asing yang datang tanpa permisi. Ia tidak menyambut pendatang dengan keramahan yang manis, melainkan dengan ujian. Di kota inilah Nabil Irtifa, mahasiswa asal Bandung kelahiran 2003, belajar bahwa merantau bukan hanya soal berpindah tempat, melainkan soal bertahan.

Nabil datang ke Mesir sebagai mahasiswa Al-Azhar angkatan 2023 dengan keyakinan yang telah lama ia simpan. Bagi dirinya, Mesir bukan sekadar negeri tujuan studi. Ia adalah pusat keilmuan Islam, tempat berbagai cabang ilmu bertemu dan diuji. Jika Ka’bah adalah kiblat shalat, maka Mesir dengan Al-Azhar adalah kiblat pencarian ilmu. Keyakinan itu ia bawa sebagai bekal utama, bahkan sebelum koper dan dokumen keberangkatan.

Namun, keyakinan sering kali diuji segera setelah kaki menginjak tanah baru. Hari-hari pertama di Kairo menghadirkan kejutan yang tidak kecil. Watak masyarakat Mesir yang keras, ekspresif, dan blak-blakan membuat Nabil tertegun. Teriakan di jalan, perdebatan yang terdengar seperti pertengkaran, bahkan perkelahian yang ia saksikan di awal kedatangan, menjadi penanda bahwa kehidupan di Mesir menuntut kesiapan mental yang tidak ringan.

Ujian lain datang dari hal-hal yang tampak sepele. Lidah yang terbiasa dengan cita rasa kuat masakan Indonesia harus bernegosiasi dengan selera lokal yang lebih sederhana. Selain itu, tantangan terbesar justru datang dari bahasa. Selama bertahun-tahun sebelum keberangkatan, Nabil mempelajari bahasa Arab fusha. Namun di jalanan Kairo, bahasa itu seolah berubah wajah. Masyarakat menggunakan bahasa ‘amiyah dengan dialek yang berlapis. Akibatnya, untuk sekadar membeli roti atau berbincang singkat, Nabil harus belajar kembali; bukan dari nol, tetapi dari kenyataan bahwa bahasa memiliki konteks sosial yang tidak selalu diajarkan di ruang kelas.

Perkuliahan Al-Azhar (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Nabil Irtifa)
Perkuliahan Al-Azhar (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Nabil Irtifa)

Di ruang kelas, tantangan terasa lebih sunyi namun menekan. Dua bulan pertama kuliah di Al-Azhar terasa seperti berjalan dalam kabut. Penjelasan dosen kerap disampaikan dengan bahasa Mesir, berbeda jauh dari bahasa pengantar di kelas persiapan. Kurikulum pun menuntut daya tahan tinggi. Dalam satu tahun akademik, mahasiswa harus menuntaskan sekitar 18 mata kuliah dalam dua termin. Gugur di tiga mata kuliah saja berarti mengulang satu tahun penuh. Masuk ke Al-Azhar mungkin tidak sesulit yang dibayangkan, tetapi bertahan dan lulus adalah perjuangan yang sesungguhnya.

Di tengah keterasingan itu, Nabil menemukan pegangan. Para senior hadir sebagai penunjuk jalan, mentransfer nilai budaya, bahasa, dan cara bertahan hidup. Teman-teman seangkatan menjadi tempat berbagi beban akademik, sementara organisasi mahasiswa membuka ruang untuk tumbuh, belajar berperan, dan mengenali diri sendiri. Dari relasi-relasi itulah, Mesir perlahan berubah dari ancaman menjadi ruang pembelajaran.

Soal rindu kampung halaman, Nabil memilih sikap yang sederhana. Rindu adalah bagian dari hidup perantau, tetapi bukan alasan untuk berhenti. Ketika rindu masakan rumah, ia memasak bersama kawan-kawan. Ketika rindu keluarga, percakapan jarak jauh menjadi penawar. Adaptasi, baginya, bukan soal meniadakan rasa, melainkan mengelolanya.

Sekitar sebulan setelah kedatangannya, ia mulai merasa menyatu dengan ritme Kairo. Bukan karena kota ini menjadi ramah, tetapi karena ia telah menerima kenyataan bahwa Mesir tidak bisa dihadapi dengan romantisme. Dari proses itu, ia menarik satu pelajaran penting: ilmu-ilmu dasar adalah kunci. Jika waktu bisa diputar ulang, ia ingin lebih menekan dirinya untuk menguasai nahwu, sharaf, dan bahasa Arab sebagai pintu masuk memahami lautan keilmuan Al-Azhar.

Komunitas Literasi Masisir (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Nabil Irtifa)
Komunitas Literasi Masisir (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Nabil Irtifa)

Pesan Nabil kepada calon mahasiswa Indonesia di Mesir terdengar tegas dan jujur. Jangan datang dengan bayangan indah yang dibentuk film atau cerita heroik. Al-Azhar tidak selalu ramah, tidak selalu menyenangkan, dan tidak pernah mudah. Mesir akan menguras tenaga, pikiran, dan mental. Di titik inilah ia mengingat satu kalimat yang belakangan terasa nyata dalam hidupnya “Jika seseorang tidak mampu menaklukkan Kairo, maka Kairo-lah yang akan menaklukkannya.” Bagi Nabil, kalimat itu bukan ancaman, melainkan pengingat agar niat belajar tidak pernah setengah-setengah.

Namun di balik semua ujian itu, Mesir memberi hadiah yang tak ternilai. Ia mengajarkan cara bertahan hidup, memperluas jejaring lintas bangsa, memperdalam toleransi terhadap perbedaan, dan membantu seseorang mengenali dirinya sendiri. Di Kairo, Nabil tidak hanya belajar ilmu, tetapi juga belajar menjadi manusia.

Kairo menguji dengan caranya sendiri. Mereka yang bertahan akan pulang membawa bentuk baru dari dirinya. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kahla Qolbiani Rasyad
Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam yang tertarik dengan dunia media, event, dan gaya hidup. Menulis untuk berbagi sudut pandang dan pengalaman pribadi.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Feb 2026, 10:24

Bukan Sekadar Bangun Pagi, 5 Tradisi Sahur Penuh Cinta

Ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Tradisi, iya. Cari amal, iya. Hiburan juga iya. Tapi yang paling terasa itu silaturahmi. Karena di luar Ramadan jarang sekali bisa kumpul seramai ini.

Tradisi membangunkan sahur di kota dan pedesaan. (Sumber: Instagram | Foto: @sekeloaselatann)
Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 15:01

Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Mengkritik politik kemiskinan ekologis: warga miskin hidup di ruang rusak, sementara bansos hanya jadi solusi tambal sulam struktural.

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 13:37

Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 11:58

15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, memahami istilah-istilah kuncinya adalah langkah awal yang penting.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Beranda 24 Feb 2026, 11:52

RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Tradisi bangunin sahur anak-anak muda Sekelo Selatan sudah berjalan sejak 2007. Bukan sekadar keliling kampung, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi yang kini viral di media sosial.

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 08:09

Puasa Perisai Konsumtif

Jangan sampai nilai-nilai Ramadan ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 20:20

Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding.

Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 16:20

Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Berikut kumpulan kata khas Ramadan yang sering digunakan beserta maknanya.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Bandung 23 Feb 2026, 15:25

Strategi Bertahan Gado Gado Gerobakan Cibadak Menembus Batas Zaman dan Pandemi

Merintis bisnis bukanlah wacana yang mudah. Perencanaan yang matang hingga eksekusi bisnis sampai di tahap mempunyai pelanggan setia, bukanlah proses yang mudah.

Kuliner tradisional yakni gado-gado gerobakan di kawasan Cibadak milik Efendi Wahyudin. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 14:18

Di Balik Kumpulan Kata Khas Ramadan, Memahami Bahasa dan Makna Sosial

Memahami istilah-istilah khas Ramadan berarti memahami bagaimana bahasa berfungsi sebagai medium pengalaman kolektif.

Seorang anak sedang mengaji. (Sumber: Pixabay | Foto: Joko_Narimo)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 12:13

Bahasa yang Menjadi Kontrol Sosial Kala Ramadan

Di Bulan Suci ini, bahasa menjaga puasa kita tetap tuntas dengan baik.

Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 09:07

Mendadak Pasar Takjil Ramadan

Yang membuat Pasar Takjil menarik, di antaranya adalah suasananya yang meriah dan penuh kejutan.

Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 18:04

Sejarah Es Cendol Elizabeth yang Selalu Menjadi Minuman 'Bintang' di Saat Ramadan

Kisah Es Cendol Elizabeth berawal dari cerita Haji Rohman pada 1972 yang ditinggal pergi ayahnya.

Es Cendol Elizabeth. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)
Bandung 22 Feb 2026, 15:08

Manisnya Berkah Ramadan di Jalan Cibadak, Kisah Pak Heri Merawat Tradisi Es Goyobod di Tengah Gempuran Zaman

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini.

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 15:02

Ngabuburead: Menemukan Ketenangan di Tengah Riuh Ramadan Jawa Barat

Inilah tren 'Ngabuburead', cara baru menepi lewat konten digital yang lebih intim dan berisi.

Media digital. (Sumber: Unsplash | Foto: @felirbe)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 11:43

Lembang Tempo Dulu

Dahulu Lembang adalah sebuah kawasan hijau yang pada masa VOC memiliki sebuah upeti istimewa.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 09:36

Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda

Denyut pers Sunda sebenarnya telah terdengar sejak akhir abad ke-19 melalui penerbitan seperti Sunda Almanak (1894) dan Panemu Guru (1906).

Wajah baru Majalah Mangle dalam manajemen Pusat Budaya Sunda Unpad. (Sumber: Dokumentasi Penulis)