Kairo Menguji, Mesir Membentuk: Perjalanan Mahasiswa Indonesia Bertahan di Negeri Baru

3 menit baca
Kahla Qolbiani Rasyad
Ditulis oleh Kahla Qolbiani Rasyad diterbitkan
Komunitas Literasi Masisir. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nabil Irtifa)
Komunitas Literasi Masisir. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nabil Irtifa)

Kairo tidak pernah benar-benar diam. Kota ini berbicara melalui klakson yang saling bersahutan, langkah kaki yang tergesa, dan suara-suara asing yang datang tanpa permisi. Ia tidak menyambut pendatang dengan keramahan yang manis, melainkan dengan ujian. Di kota inilah Nabil Irtifa, mahasiswa asal Bandung kelahiran 2003, belajar bahwa merantau bukan hanya soal berpindah tempat, melainkan soal bertahan.

Nabil datang ke Mesir sebagai mahasiswa Al-Azhar angkatan 2023 dengan keyakinan yang telah lama ia simpan. Bagi dirinya, Mesir bukan sekadar negeri tujuan studi. Ia adalah pusat keilmuan Islam, tempat berbagai cabang ilmu bertemu dan diuji. Jika Ka’bah adalah kiblat shalat, maka Mesir dengan Al-Azhar adalah kiblat pencarian ilmu. Keyakinan itu ia bawa sebagai bekal utama, bahkan sebelum koper dan dokumen keberangkatan.

Namun, keyakinan sering kali diuji segera setelah kaki menginjak tanah baru. Hari-hari pertama di Kairo menghadirkan kejutan yang tidak kecil. Watak masyarakat Mesir yang keras, ekspresif, dan blak-blakan membuat Nabil tertegun. Teriakan di jalan, perdebatan yang terdengar seperti pertengkaran, bahkan perkelahian yang ia saksikan di awal kedatangan, menjadi penanda bahwa kehidupan di Mesir menuntut kesiapan mental yang tidak ringan.

Ujian lain datang dari hal-hal yang tampak sepele. Lidah yang terbiasa dengan cita rasa kuat masakan Indonesia harus bernegosiasi dengan selera lokal yang lebih sederhana. Selain itu, tantangan terbesar justru datang dari bahasa. Selama bertahun-tahun sebelum keberangkatan, Nabil mempelajari bahasa Arab fusha. Namun di jalanan Kairo, bahasa itu seolah berubah wajah. Masyarakat menggunakan bahasa ‘amiyah dengan dialek yang berlapis. Akibatnya, untuk sekadar membeli roti atau berbincang singkat, Nabil harus belajar kembali; bukan dari nol, tetapi dari kenyataan bahwa bahasa memiliki konteks sosial yang tidak selalu diajarkan di ruang kelas.

Perkuliahan Al-Azhar (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Nabil Irtifa)
Perkuliahan Al-Azhar (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Nabil Irtifa)

Di ruang kelas, tantangan terasa lebih sunyi namun menekan. Dua bulan pertama kuliah di Al-Azhar terasa seperti berjalan dalam kabut. Penjelasan dosen kerap disampaikan dengan bahasa Mesir, berbeda jauh dari bahasa pengantar di kelas persiapan. Kurikulum pun menuntut daya tahan tinggi. Dalam satu tahun akademik, mahasiswa harus menuntaskan sekitar 18 mata kuliah dalam dua termin. Gugur di tiga mata kuliah saja berarti mengulang satu tahun penuh. Masuk ke Al-Azhar mungkin tidak sesulit yang dibayangkan, tetapi bertahan dan lulus adalah perjuangan yang sesungguhnya.

Di tengah keterasingan itu, Nabil menemukan pegangan. Para senior hadir sebagai penunjuk jalan, mentransfer nilai budaya, bahasa, dan cara bertahan hidup. Teman-teman seangkatan menjadi tempat berbagi beban akademik, sementara organisasi mahasiswa membuka ruang untuk tumbuh, belajar berperan, dan mengenali diri sendiri. Dari relasi-relasi itulah, Mesir perlahan berubah dari ancaman menjadi ruang pembelajaran.

Soal rindu kampung halaman, Nabil memilih sikap yang sederhana. Rindu adalah bagian dari hidup perantau, tetapi bukan alasan untuk berhenti. Ketika rindu masakan rumah, ia memasak bersama kawan-kawan. Ketika rindu keluarga, percakapan jarak jauh menjadi penawar. Adaptasi, baginya, bukan soal meniadakan rasa, melainkan mengelolanya.

Sekitar sebulan setelah kedatangannya, ia mulai merasa menyatu dengan ritme Kairo. Bukan karena kota ini menjadi ramah, tetapi karena ia telah menerima kenyataan bahwa Mesir tidak bisa dihadapi dengan romantisme. Dari proses itu, ia menarik satu pelajaran penting: ilmu-ilmu dasar adalah kunci. Jika waktu bisa diputar ulang, ia ingin lebih menekan dirinya untuk menguasai nahwu, sharaf, dan bahasa Arab sebagai pintu masuk memahami lautan keilmuan Al-Azhar.

Komunitas Literasi Masisir (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Nabil Irtifa)
Komunitas Literasi Masisir (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Nabil Irtifa)

Pesan Nabil kepada calon mahasiswa Indonesia di Mesir terdengar tegas dan jujur. Jangan datang dengan bayangan indah yang dibentuk film atau cerita heroik. Al-Azhar tidak selalu ramah, tidak selalu menyenangkan, dan tidak pernah mudah. Mesir akan menguras tenaga, pikiran, dan mental. Di titik inilah ia mengingat satu kalimat yang belakangan terasa nyata dalam hidupnya “Jika seseorang tidak mampu menaklukkan Kairo, maka Kairo-lah yang akan menaklukkannya.” Bagi Nabil, kalimat itu bukan ancaman, melainkan pengingat agar niat belajar tidak pernah setengah-setengah.

Namun di balik semua ujian itu, Mesir memberi hadiah yang tak ternilai. Ia mengajarkan cara bertahan hidup, memperluas jejaring lintas bangsa, memperdalam toleransi terhadap perbedaan, dan membantu seseorang mengenali dirinya sendiri. Di Kairo, Nabil tidak hanya belajar ilmu, tetapi juga belajar menjadi manusia.

Kairo menguji dengan caranya sendiri. Mereka yang bertahan akan pulang membawa bentuk baru dari dirinya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kahla Qolbiani Rasyad
Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam yang tertarik dengan dunia media, event, dan gaya hidup. Menulis untuk berbagi sudut pandang dan pengalaman pribadi.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)