Kenapa Mahasiswa Bangga Begadang? Sains Membongkar Kebiasaannya

Muhamad Alan Azizal
Ditulis oleh Muhamad Alan Azizal diterbitkan Kamis 08 Jan 2026, 09:59 WIB
ilustrasi begadang (Sumber: Pexels | Foto: Cottonbro Studio)

ilustrasi begadang (Sumber: Pexels | Foto: Cottonbro Studio)

Fenomena begadang, seolah-olah menjadi kebiasaan umum bagi kalangan mahasiswa. Ketika jam menunjukkan pukul dua dini hari, banyak mahasiswa justru baru memasuki fase kedua dari aktivitas hariannya, ada yang menyelesaikan tugas kuliah, berdiskusi lewat Zoom, memperbaiki laporan praktikum, atau hanya sekadar menatap layar sambil menyeruput kopi yang sudah tidak panas.

Kebiasaan ini seolah menjadi identitas tidak resmi dalam dunia kampus, seakan-akan mahasiswa sejati adalah mereka yang akrab dengan malam panjang. Pertanyaannya, bagaimana kebiasaan ini bisa begitu melekat, dan apakah benar begadang membuat mereka lebih produktif?

Sebagian besar mahasiswa meyakini bahwa malam hari adalah waktu paling tepat untuk fokus. Sunyi, minim gangguan, dan memberikan perasaan seolah dunia hanya milik mereka. Dari sisi sains, pernyataan ini memiliki hubungan dengan ritme sirkadian, yaitu jam biologis tubuh yang mengatur kapan seseorang merasa segar atau mengantuk. Namun ritme ini sangat fleksibel dan bisa dipengaruhi oleh kebiasaan seseorang.

Penelitian dari National Sleep Foundation menjelaskan bahwa jadwal tidur yang sering bergeser akan mengacaukan produksi hormon melatonin, hormon yang memicu rasa kantuk. Semakin sering seseorang begadang, semakin lambat melatonin dilepas dan tubuh akan mulai produktif justru pada jam-jam ketika seharusnya istirahat.

Dengan kata lain, mahasiswa bukan terlahir sebagai makhluk nokturnal, kebiasaan tersebut terbentuk oleh kebiasaan yang terus diulang. Survei di beberapa kampus besar di Indonesia juga menunjukkan pola serupa dimana mayoritas mahasiswa tidur di rentang tengah malam hingga pukul dua pagi, dan hal ini lebih dianggap sebagai budaya daripada pilihan sadar.

ilustrasi mengerjakan tugas pada malam hari (Sumber: pribadi | Foto: ajil)
ilustrasi mengerjakan tugas pada malam hari (Sumber: pribadi | Foto: ajil)

Tekanan akademik turut memberikan kontribusi besar dalam kebiasaan begadang dikalangan mahasiswa. Jadwal kuliah yang padat, laporan praktikum, kegiatan organisasi, serta pekerjaan sambilan membuat banyak mahasiswa merasa waktu mereka tidak pernah cukup. Akibatnya, malam menjadi ruang cadangan, tempat menebus apa yang tidak sempat diselesaikan di siang hari.

Fenomena ini dikenal sebagai sleep procrastination, yaitu menunda tidur bukan karena tubuh tidak mengantuk, melainkan karena seseorang merasa butuh waktu personal setelah hari yang melelahkan. Studi dari Utrecht University menunjukkan bahwa banyak anak muda menunda tidur sebagai bentuk mengambil kembali waktu pribadi yang terpotong aktivitas lain. Dalam suasana tenang itulah muncul ilusi produktivitas dimana mahasiswa merasa bekerja lebih baik pada malam hari, padahal penelitian dari Harvard Medical School menemukan bahwa kurang tidur dapat menurunkan efisiensi belajar hingga 40 persen.

Begadang bukan hanya tentang rasa kantuk esok hari, karena tubuh dan otak bekerja lebih keras dari yang terlihat oleh fisik. Bagian otak bernama prefrontal cortex yang bertanggung jawab pada fokus dan pengambilan keputusan akan menurun kinerjanya ketika tidur tidak cukup. Centers for Disease Control and Prevention bahkan menyebutkan bahwa kurang tidur selama 17 jam setara dengan kemampuan fokus seseorang yang memiliki kadar alkohol ringan dalam darah. Selain itu fenomena begadang juga menyebabkan emosi juga ikut terdampak.

Penelitian dari University of California menunjukkan bahwa kurang tidur meningkatkan aktivitas amigdala hingga 60 persen, membuat seseorang lebih mudah tersinggung, sedih, atau stres. Pada saat bersamaan, proses konsolidasi memori dengan mekanisme otak menyimpan informasi baru akan terhambat. Akibatnya belajar sambil begadang membuat materi sulit menempel meski waktu belajar terasa lebih lama. Jika hal ini terjadi terus menerus, dampaknya dapat meluas ke kesehatan fisik. American College Health Association mencatat bahwa sekitar 35–40 persen mahasiswa mengalami kurang tidur kronis yang memengaruhi imunitas, metabolisme, dan fungsi tubuh lainnya.

ilustrasi gangguan mental akibat begadang (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
ilustrasi gangguan mental akibat begadang (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)

Jika semua efeknya sudah cukup jelas, mengapa kebiasaan ini tetap dipertahankan? Jawabannya berkaitan dengan psikologi dan budaya. Begadang memberikan mahasiswa perasaan sedang memegang kendali penuh atas waktunya terutama setelah hari yang penuh tuntutan.

Selain itu, ada unsur kebersamaan. Ketika satu kos, satu kelas, atau satu kelompok tugas sama-sama begadang, terbentuk solidaritas yang membuat kebiasaan itu terasa wajar. Budaya kampus juga memperkuatnya. Skripsi identik dengan begadang. Laporan praktikum identik dengan begadang. Kerja kelompok sering kali baru bisa dilakukan larut malam. Lama kelamaan muncul narasi tidak resmi bahwa mahasiswa yang tidur cepat dianggap kurang berjuang. Padahal narasi tersebut lebih merupakan mitos sosial daripada kebutuhan biologis.

Baca Juga: Bisakah Transportasi Publik Memutus Rantai Kemacetan?

Meski begitu, produktivitas tidak mesti dibayar dengan jam tidur yang dikurangi. Berbagai riset justru menunjukkan bahwa tidur cukup adalah faktor penting yang meningkatkan kemampuan berpikir, fokus, dan daya tahan terhadap stres. Stanford University menyebutkan bahwa mahasiswa yang tidur 7–8 jam per hari memiliki performa akademik lebih baik daripada mereka yang menambah jam belajar dengan mengorbankan tidur.

Strategi sederhana seperti menjaga konsistensi jam tidur, membatasi kafein di sore hari, memisahkan waktu belajar dari waktu bermedia sosial, hingga menggunakan teknik Pomodoro dapat membantu mengurangi kebutuhan lembur tanpa menurunkan produktivitas.

ilustasi tidur cukup demi menunjang produktivitas (Sumber: Pexels | Foto: Andrea Piacquadio)
ilustasi tidur cukup demi menunjang produktivitas (Sumber: Pexels | Foto: Andrea Piacquadio)

Begadang memang tidak selalu bisa dihindari, terutama saat masa intens seperti menjelang ujian atau menyelesaikan skripsi. Namun menjadikannya gaya hidup adalah pilihan yang kurang baik. Tubuh lebih cepat lelah, emosi lebih sulit dikendalikan dan kemampuan belajar justru menurun.

Banyak mahasiswa bangga karena mampu bertahan hingga pagi, tetapi sains memberikan pesan yang berbeda. Istirahat adalah bagian dari kecerdasan, bukan kebalikannya. Kuliah tidak ditujukan untuk melihat siapa yang paling lama tidak tidur, melainkan siapa yang paling mampu mengelola energi, waktu, dan kesehatan diri. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhamad Alan Azizal
Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Jan 2026, 18:15 WIB

Mencintai Kota seperti Kekasih: Kota Bandung, Konferensi Asia Afrika, dan Tanggung Jawab Kita

Bagaimana rasanya mencintai kota seperti kekasih? Dari Bandung yang terasa asing di kening hingga Bandung yang asyik untuk dikenang.
Bangku yang terduduk di Perpustakaan Kota Bandung (Sumber: Koleksi Pribadi Penulis | Foto: Penulis)
Ayo Jelajah 25 Jan 2026, 17:21 WIB

Sejarah Pasar Cimol Gedebage Bandung, Surga Thrifting Kota Kembang di Ujung Jalan

Jejak sejarah Pasar Cimol Gedebage bermula dari Cibadak hingga menjadi pusat pakaian bekas terbesar di Bandung.
Pasar Cimol Gedebage. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 25 Jan 2026, 16:13 WIB

Toponimi Kampung Muril: Serasa Berputar karena Gempa Sesar Lembang

Bila makna kata berputar-putar dikaitkan dengan toponimi Kampung Muril, sangat mungkin, penduduk di sana pada masa lalu pernah merasakannya.
Sangat mungkin toponim Muril karena pernah terjadi gempabumi yang menyebabkan serasa berputar-putar. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 25 Jan 2026, 13:38 WIB

Gali Potensi, Raih Prestasi

Pengalaman LDKB menjadi bekal berharga bagi kita untuk terus menggali potensi diri, memperbaiki diri, meraih prestasi
Sejumlah siswa SD Cirendeu saat bermain permainan tradisional. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Jan 2026, 11:05 WIB

Interior Bus Listrik Metro sebagai Pengalaman Ruang Bergerak di Kota Bandung

Transportasi publik dalam konteks ini, dipahami sebagai ruang interior bergerak yang dialami secara nyata oleh pengguna/penumpang.
Bus listrik metro. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Biz 24 Jan 2026, 21:30 WIB

Menyelami Dinamika Properti Indonesia: Antara Regulasi, Pasar, dan Integritas Developer

Industri properti kini bukan lagi sekadar urusan semen dan baja, melainkan pertarungan kecerdasan dalam menafsirkan naskah regulasi yang terus berganti.
Industri properti kini bukan lagi sekadar urusan semen dan baja, melainkan pertarungan kecerdasan dalam menafsirkan naskah regulasi yang terus berganti. (Sumber: Freepik)
Beranda 24 Jan 2026, 09:15 WIB

Memaknai Filosofi Warna Wayang Golek sebagai Cermin Karakter dan Arti Kehidupan

Tak hanya posisi mahkota, warna pada wajah wayang juga menjadi kunci untuk memahami filosofi karakter.
Tatang Ruhiana dan koleksi wayan goleknya yang dijual di galeri Alan Ruchiat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 22:10 WIB

Normalisasi Sungai Mandiri: Kepemimpinan RT/RW Menjawab Tantangan Banjir

Kabupaten Bandung termasuk wilayah yang hampir setiap musim penghujan mengalami banjir di sejumlah titik.
Ketua RT 02 dan warga membersihkan tumbuhan liar dan semak semak di aliran sungai. (Foto: Jumali indrayanto)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 20:43 WIB

Kualitas Perjalanan Warga Bandung Menurun, Evaluasi Infrastruktur Transportasi Mengemuka

Kemacetan di Bandung membuat perjalanan harian warga lebih lama, menurunkan produktivitas, dan menurunkan kenyamanan mobilitas. Perlu pengaturan lalu-lintas lebih baik.
Pengendara terjebak macet di Buah Batu Ketika hujan turun, Senin (01/12/2025). (Foto: Nabila Khairunnisa P)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 19:47 WIB

Lisa Blackpink di Bandung Barat: Antara Gengsi Global dan Ujian Tatakrama Kita

Lisa Blackpink syuting di Bandung Barat? Intip alasan Netflix memilih Citatah dan bagaimana warga menyikapi bocornya lokasi syuting tersebut.
Salah satu tebing karst yang terus dijaga bersama adalah Tebing Citatah 125 karena di sinilah sejarah panjat tebing Indonesia bermula. (Sumber: Eiger)
Ayo Biz 23 Jan 2026, 17:24 WIB

Industri Sepak Bola Putri Indonesia Sedang Bertumbuh di Tengah Kekosongan Liga Resmi

Dari Bandung, Tangerang hingga Samarinda, gairah sepak bola putri tumbuh dengan cepat, menghadirkan pemandangan baru yang beberapa tahun lalu masih jarang terlihat.
Dari Bandung, Tangerang hingga Samarinda, gairah sepak bola putri tumbuh dengan cepat, menghadirkan pemandangan baru yang beberapa tahun lalu masih jarang terlihat. (Sumber: MilkLife Soccer Challenge)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 16:58 WIB

Menata Ulang Wajah Transportasi Bandung

Lalu lintas Bandung yang terbilang sangat padat telah menjadi masalah bagi warga sejak tahun 2024.
Kemacetan Bandung Pada malam hari (21.52 WIB) di Jln. Terusan Buah Batu. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Muhammad Airell Fairuzia)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 16:24 WIB

Kota Wisata dengan Beban Mobilitas Tinggi: Tantangan Tata Transportasi Bandung

Pemerintah sudah mencoba menerapkan berbagai cara untuk mengatasi permasalahan kemacetan, namun masih tak kunjung menemukan solusi yang tepat.
Kemacetan arus lalu lintas di ruas jalan Buah Batu, Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, menjadi pemandangan sehari hari bagi warga yang melintas (03/12/2025). (Sumber: Ramadhan Dwiadya Nugraha)
Ayo Biz 23 Jan 2026, 15:58 WIB

Menjaga Pertumbuhan di Tengah Krisis Fiskal: Strategi Obligasi dan Sukuk Jawa Barat

Ekonomi Jawa Barat pada Triwulan II 2025 tumbuh solid sebesar 5,23% year-on-year. Namun, di balik angka yang tampak menjanjikan itu, terdapat bayangan tantangan fiskal yang semakin nyata.
Ilustrasi obligasi dan sukuk daerah memperluas inklusi keuangan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 15:01 WIB

Ketika Mobilitas Tersendat, Kepercayaan Publik Ikut Tergerus

Kemacetan yang terus menerus terjadi membuat masyarakat Bandung semakin resah.
Pengendara mobil dan motor yang menunggu macet di malam hari (02/11/2025). (Foto: Sherina Khairunisa)
Ayo Jelajah 23 Jan 2026, 14:03 WIB

Kisah Para Warga Bandung yang Terjerat Tipu Daya Judi Online Kamboja

Judi online jaringan Kamboja menjalar hingga Bandung lewat iklan kerja digital. Anak muda direkrut sebagai operator dari rumah kontrakan atau luar negeri dengan janji gaji bulanan yang terlihat wajar.
Ilustrasi judi Kamboja.
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 13:38 WIB

Dana Indonesiana Tertunda, Pelestari Budaya Ngada Alami Tekanan Mental

Dana Indonesiana belum cair, program budaya Ngada tertunda, pelakunya menghadapi tekanan sosial dan mental di kampungnya sendiri.
Desa Adat Bena. (Sumber: Arsip pribadi narasumber)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 12:08 WIB

Catatan Awal Tahun dari Wargi Bandung

Januari 2026 tiba, udara Bandung terasa berbeda.
Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di dekat Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 10:07 WIB

Semestinya Kita Berefleksi dari Bencana Sumatra

Peristiwa ini bukan sekadar kabar duka dari satu wilayah, melainkan cermin rapuhnya kesiapsiagaan kita menghadapi bencana yang berulang.
Sisa banjir di Sumatra Barat pada awal Desember 2025. (Sumber: pkp.go.id)
Beranda 23 Jan 2026, 06:49 WIB

Konsistensi infoantapani Menyapa Warga Antapani Selama 12 Tahun, Bukan Cuma Urusan Algoritma dan Engagement

Akun ini tidak ingin dipandang sebagai media yang semata-mata mengutamakan kecepatan, namun juga tidak memilih gaya bahasa yang saklek, kaku, atau terlalu formal.
Owner dan founder @infoantapani, Venda Setya Nugraha. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)