Kenapa Mahasiswa Bangga Begadang? Sains Membongkar Kebiasaannya

4 menit baca
Muhamad Alan Azizal
Ditulis oleh Muhamad Alan Azizal diterbitkan
ilustrasi begadang (Sumber: Pexels | Foto: Cottonbro Studio)
ilustrasi begadang (Sumber: Pexels | Foto: Cottonbro Studio)

Fenomena begadang, seolah-olah menjadi kebiasaan umum bagi kalangan mahasiswa. Ketika jam menunjukkan pukul dua dini hari, banyak mahasiswa justru baru memasuki fase kedua dari aktivitas hariannya, ada yang menyelesaikan tugas kuliah, berdiskusi lewat Zoom, memperbaiki laporan praktikum, atau hanya sekadar menatap layar sambil menyeruput kopi yang sudah tidak panas.

Kebiasaan ini seolah menjadi identitas tidak resmi dalam dunia kampus, seakan-akan mahasiswa sejati adalah mereka yang akrab dengan malam panjang. Pertanyaannya, bagaimana kebiasaan ini bisa begitu melekat, dan apakah benar begadang membuat mereka lebih produktif?

Sebagian besar mahasiswa meyakini bahwa malam hari adalah waktu paling tepat untuk fokus. Sunyi, minim gangguan, dan memberikan perasaan seolah dunia hanya milik mereka. Dari sisi sains, pernyataan ini memiliki hubungan dengan ritme sirkadian, yaitu jam biologis tubuh yang mengatur kapan seseorang merasa segar atau mengantuk. Namun ritme ini sangat fleksibel dan bisa dipengaruhi oleh kebiasaan seseorang.

Penelitian dari National Sleep Foundation menjelaskan bahwa jadwal tidur yang sering bergeser akan mengacaukan produksi hormon melatonin, hormon yang memicu rasa kantuk. Semakin sering seseorang begadang, semakin lambat melatonin dilepas dan tubuh akan mulai produktif justru pada jam-jam ketika seharusnya istirahat.

Dengan kata lain, mahasiswa bukan terlahir sebagai makhluk nokturnal, kebiasaan tersebut terbentuk oleh kebiasaan yang terus diulang. Survei di beberapa kampus besar di Indonesia juga menunjukkan pola serupa dimana mayoritas mahasiswa tidur di rentang tengah malam hingga pukul dua pagi, dan hal ini lebih dianggap sebagai budaya daripada pilihan sadar.

ilustrasi mengerjakan tugas pada malam hari (Sumber: pribadi | Foto: ajil)
ilustrasi mengerjakan tugas pada malam hari (Sumber: pribadi | Foto: ajil)

Tekanan akademik turut memberikan kontribusi besar dalam kebiasaan begadang dikalangan mahasiswa. Jadwal kuliah yang padat, laporan praktikum, kegiatan organisasi, serta pekerjaan sambilan membuat banyak mahasiswa merasa waktu mereka tidak pernah cukup. Akibatnya, malam menjadi ruang cadangan, tempat menebus apa yang tidak sempat diselesaikan di siang hari.

Fenomena ini dikenal sebagai sleep procrastination, yaitu menunda tidur bukan karena tubuh tidak mengantuk, melainkan karena seseorang merasa butuh waktu personal setelah hari yang melelahkan. Studi dari Utrecht University menunjukkan bahwa banyak anak muda menunda tidur sebagai bentuk mengambil kembali waktu pribadi yang terpotong aktivitas lain. Dalam suasana tenang itulah muncul ilusi produktivitas dimana mahasiswa merasa bekerja lebih baik pada malam hari, padahal penelitian dari Harvard Medical School menemukan bahwa kurang tidur dapat menurunkan efisiensi belajar hingga 40 persen.

Begadang bukan hanya tentang rasa kantuk esok hari, karena tubuh dan otak bekerja lebih keras dari yang terlihat oleh fisik. Bagian otak bernama prefrontal cortex yang bertanggung jawab pada fokus dan pengambilan keputusan akan menurun kinerjanya ketika tidur tidak cukup. Centers for Disease Control and Prevention bahkan menyebutkan bahwa kurang tidur selama 17 jam setara dengan kemampuan fokus seseorang yang memiliki kadar alkohol ringan dalam darah. Selain itu fenomena begadang juga menyebabkan emosi juga ikut terdampak.

Penelitian dari University of California menunjukkan bahwa kurang tidur meningkatkan aktivitas amigdala hingga 60 persen, membuat seseorang lebih mudah tersinggung, sedih, atau stres. Pada saat bersamaan, proses konsolidasi memori dengan mekanisme otak menyimpan informasi baru akan terhambat. Akibatnya belajar sambil begadang membuat materi sulit menempel meski waktu belajar terasa lebih lama. Jika hal ini terjadi terus menerus, dampaknya dapat meluas ke kesehatan fisik. American College Health Association mencatat bahwa sekitar 35–40 persen mahasiswa mengalami kurang tidur kronis yang memengaruhi imunitas, metabolisme, dan fungsi tubuh lainnya.

ilustrasi gangguan mental akibat begadang (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
ilustrasi gangguan mental akibat begadang (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)

Jika semua efeknya sudah cukup jelas, mengapa kebiasaan ini tetap dipertahankan? Jawabannya berkaitan dengan psikologi dan budaya. Begadang memberikan mahasiswa perasaan sedang memegang kendali penuh atas waktunya terutama setelah hari yang penuh tuntutan.

Selain itu, ada unsur kebersamaan. Ketika satu kos, satu kelas, atau satu kelompok tugas sama-sama begadang, terbentuk solidaritas yang membuat kebiasaan itu terasa wajar. Budaya kampus juga memperkuatnya. Skripsi identik dengan begadang. Laporan praktikum identik dengan begadang. Kerja kelompok sering kali baru bisa dilakukan larut malam. Lama kelamaan muncul narasi tidak resmi bahwa mahasiswa yang tidur cepat dianggap kurang berjuang. Padahal narasi tersebut lebih merupakan mitos sosial daripada kebutuhan biologis.

Baca Juga: Bisakah Transportasi Publik Memutus Rantai Kemacetan?

Meski begitu, produktivitas tidak mesti dibayar dengan jam tidur yang dikurangi. Berbagai riset justru menunjukkan bahwa tidur cukup adalah faktor penting yang meningkatkan kemampuan berpikir, fokus, dan daya tahan terhadap stres. Stanford University menyebutkan bahwa mahasiswa yang tidur 7–8 jam per hari memiliki performa akademik lebih baik daripada mereka yang menambah jam belajar dengan mengorbankan tidur.

Strategi sederhana seperti menjaga konsistensi jam tidur, membatasi kafein di sore hari, memisahkan waktu belajar dari waktu bermedia sosial, hingga menggunakan teknik Pomodoro dapat membantu mengurangi kebutuhan lembur tanpa menurunkan produktivitas.

ilustasi tidur cukup demi menunjang produktivitas (Sumber: Pexels | Foto: Andrea Piacquadio)
ilustasi tidur cukup demi menunjang produktivitas (Sumber: Pexels | Foto: Andrea Piacquadio)

Begadang memang tidak selalu bisa dihindari, terutama saat masa intens seperti menjelang ujian atau menyelesaikan skripsi. Namun menjadikannya gaya hidup adalah pilihan yang kurang baik. Tubuh lebih cepat lelah, emosi lebih sulit dikendalikan dan kemampuan belajar justru menurun.

Banyak mahasiswa bangga karena mampu bertahan hingga pagi, tetapi sains memberikan pesan yang berbeda. Istirahat adalah bagian dari kecerdasan, bukan kebalikannya. Kuliah tidak ditujukan untuk melihat siapa yang paling lama tidak tidur, melainkan siapa yang paling mampu mengelola energi, waktu, dan kesehatan diri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhamad Alan Azizal
Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Jul 2026, 20:11

Masih Ada Asa untuk Pos Indonesia

Sektor logistik merupakan asa bagi karyawan Posindo.

Ilustrasi kondisi Posindo yang sedang menghadapi badai disrupsi namun masih ada harapan yang tersisa. (Sumber: Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 18:20

Saat Medium Musik Menjadi Jembatan Emosi antara Institusi dan Publik

Konsistensi gaya komunikasi mampu memperkuat hubungan antara institusi dan publik.

konsistensi gaya komunikasi mampu memperkuat hubungan antara institusi dan publik. (Sumber: https://newsroom.spotify.com)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 18:01

Bagaimana Perusahaan Kosmetik Global Membentuk Opini Publik di Era Media Sosial?

Kunci keberhasilan strategi PR digital dalam membentuk opini publik yang positif dan berkelanjutan.

Kunci keberhasilan strategi PR digital dalam membentuk opini publik yang positif dan berkelanjutan. (Ilustrasi oleh AI)
Wisata & Kuliner 22 Jul 2026, 17:45

Wisata Edukasi Museum ITB Sabuga: Lokasi, Harga Tiket, dan Fasilitas

Berencana mengunjungi Museum ITB? Ketahui harga tiket, cara pemesanan online, jam buka, lokasi, dan fasilitas museum terbaru di Kampus Ganesha Bandung.

Museum ITB. (Sumber: Instagram @indonesiaartdocumentary)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 17:15

Butiran Debu Kapur yang Mengundang Gangguan Saluran Pernapasan

Sepanjang jalan dengan pemandangan pohon berwarna putih saya kira karena warnanya ternyata ada serpihan debu dari pertambangan. Dampaknya terhadap gangguan pernapasan perlu diperhatikan

Pohon yang penuh debu halus dari pertambangan kapur. (Minggu, 19/06/2025) (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 16:48

Festival Film Bandung, Jejak Panjang Apresiasi Independen Perfilman Indonesia

Selama hampir empat dekade, Festival Film Bandung terus bertahan melewati berbagai fase perkembangan sinema nasional.

Pengumuman daftar nominasi Festival Film Bandung (FFB) 2026 yang digelar di Gulapadi, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Kamis, 16 Juli 2026. (Foto: Ratna Ayu Budhiarti)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 15:10

Parkir Kendaraan Konvensional di Area Pengisian Daya: Pelanggaran Etika dan Mengganggu Fungsi SPKLU

Parkir kendaraan konvensional di area pengisian daya bukan sekadar pelanggaran etika. Praktik ini dapat mengganggu fungsi SPKLU, mengurangi keandalan layanan, dan menurunkan kenyamanan pengguna.

Kendaraan konvensional yang parkir di area pengisian daya kendaraan listrik pada sebuah SPKLU di Kota Bandung. (Foto: Angga Marditama)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 13:14

Bandung dalam Bayang-Bayang Begal: Realitas atau Efek Viral?

Begal, dengan segala unsur ketegangan dan ancamannya, menjadi “konten” yang nyaris sempurna.

Tersangka Begal di Kawasan Cicendo Kota Bandung, beberapa waktu lalu. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Kurniawan)
Ikon 22 Jul 2026, 12:58

Pempek Palembang, Warisan Kuliner Legendaris dengan Sejarah dari Era Sriwijaya

Pempek Palembang bukan sekadar makanan khas Sumatera Selatan. Simak sejarah, bahan utama, jenis-jenis pempek, dan kisah cuko yang membuatnya mendunia.

Pempek Palembang, salah satu kuliner legendaris Indonesia.
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 11:02

Gunung Pangradinan: Ketika Pendakian Singkat Menjadi Perjalanan yang Berkesan

Pendakian tektok ke Gunung Pangradinan membuktikan bahwa perjalanan terbaik bukan hanya soal puncak, tetapi juga orang-orang yang ditemui di sepanjang jalan.

Potret kebersamaan yang diambil saat berada di puncak Gunung Pangradinan (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Sifa Nurfauziah)
Beranda 22 Jul 2026, 08:33

Air Situ Ciburuy Menyusut, Dasar Danau Berusia 1 Abad Ini Perlahan Terbuka

Kemarau panjang yang diprediksi BMKG berlangsung hingga Oktober membuat debit air Situ Ciburuy terus surut, hingga dasar bendungan bersejarah berusia satu abad itu mulai terlihat.

Fenomena tahunan menyusutnya air Situ Ciburuy kian terasa di musim kemarau ini, berdampak langsung pada sektor pertanian, pariwisata lokal, hingga aktivitas warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 08:00

Rendezvous Masa Lalu dan Kini di Tanah Pasundan

Bagaimana membaca ingatan antara masa lalu dan kini. Titik pertemuan ini adalah sebuah rendezvous.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 19:52

Menilik Komunikasi Digital dalam Publikasi Peluncuran Layanan Kereta Api

Penggunaan kata kunci pada website dan Instagram memiliki fokus informasi yang sama kepada seluruh masyarakat pembaca digital.

Ilustrasi komunikasi digital layanan kereta api. (AI)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 17:12

Propaganda Masa Pendudukan Jepang di Bandung

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik.

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik. (Foto: wowshack.com)
Wisata & Kuliner 21 Jul 2026, 17:05

Lontong Balap, Kuliner Ikonik Surabaya yang Lahir dari Para Pedagang Berlari

Sejarah lontong balap Surabaya, dari tradisi pedagang memikul kemaron hingga menjadi salah satu makanan khas Jawa Timur yang paling legendaris.

Lontong Balap khas Surabaya. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:20

Time Travel Seru bareng Cerita Bunda: Menguak Sejarah dan Thrifting Perangko di Museum Pos Bandung!

Kemarin, hari Sabtu tanggal 18 Juli 2026, saya bareng 20 orang teman-teman dari komunitas Cerita Bunda, main ke Museum Pos Indonesia. Mari simak keseruannya!

Foto 1 Peserta Komunitas Cerita Bunda Sedang Thrifting Perangko dan Postcard. (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:07

Tren Manusia Digital: Ketika Live Streamer menjadi Pekerjaan Baru bagi Masyarakat

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun dibalik gemerlap dunia maya seringkali menyisakan moral dan budaya yang semakin terkikis.

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun terkadang ada harga yang dibayar untuk moral. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 15:32

Kampanye Digital Akhir Tahun Terbesar Raih Lebih dari 200 Juta Pengguna dalam Satu Hari

Spotify Wrapped 2025 jadi kampanye digital akhir tahun terbesar dengan lebih dari 200 juta pengguna dalam 24 jam pertama dan lebih dari 500 juta kali dibagikan di TikTok, Instagram, dan X.

Ilustrasi platform musik. (Sumber: Pexels | Foto: Breakingpic)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 14:48

Pengembangan Stadion GBLA dan Pusat Produk Peralatan Olahraga

Pentingnya transformasi stadion olahraga dengan ekosistem yang memberikan tempat untuk menumbuhkan industri produk peralatan olahraga

Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 12:06

Tangkis Tengkes untuk Generasi Emas Bandung

Urusan stunting pada dasarnya kompleks dan penuh perjuangan dengan menggunakan pendekatan multi sektor dan multi disiplin.

Pencegahan stunting di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)