Ketika Seni Menjadi Bahasa Mitigasi: Upaya Sesar Lembang Kalcer Menjinakkan Ketakutan Bencana

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Minggu 11 Jan 2026, 20:53 WIB
Anak-anak berlarian di atas sorot lampu yang menyapu rumput di Titik Kumpul–Backyard, Bandung, sebagai bagian dari aktivasi seni Sesar Lembang Kalcer dalam menyampaikan literasi mitigasi bencana secara ramah.

Anak-anak berlarian di atas sorot lampu yang menyapu rumput di Titik Kumpul–Backyard, Bandung, sebagai bagian dari aktivasi seni Sesar Lembang Kalcer dalam menyampaikan literasi mitigasi bencana secara ramah.

AYOBANDUNG.ID - Cahaya lampu berwarna ungu dan biru pada malam hari menyapu hamparan rumput di Titik Kumpul - Backyard, kawasan Cigadung, Cibeunying Kaler, Kota Bandung. Banyak anak berlarian sambil sesekali melompati cahaya yang terus bergerak. Sementara yang dewasa tak ingin ketinggalan mengabadikannya dengan gawai-gawai mereka.

Titik ini memang menawan, tetapi bukan hanya untuk berpiknik entah pada siang atau malam hari. Melainkan tempat yang bisa menumbuhkan kesadaran bahwa Bandung dengan potensi kebencanaannya begitu dekat sehingga harus selalu diingat dan dipahami secara mendalam.

Titik Kumpul - Backyard merupakan halaman belakang nan luas yang dikelola oleh Sesar Lembang Kalcer, sebuah komunitas yang berdiri pada 2023. Dinamai titik kumpul, seolah ingin mengingatkan bahwa tempat ini merupakan ruang yang merepresentasikan kesadaran penuh seseorang terhadap keselamatan akan kebencanaan.

Adi Panuntun, sang pencetus komunitas, mengakui bahwa narasi Sesar Lembang selama ini selalu ditakuti. Padahal, katanya, bencana itu nyata dan harus diantisipasi dengan pemahaman yang kuat. Maka, edukasi yang mungkin efektif untuk masyarakat adalah dengan cara-cara kreatif, sebuah pendekatan yang sejatinya 'Bandung pisan'.

“(Ruang, red) kreativitas kita itu untuk bisa mengambil peran terhadap isu mitigasi kebencanaan Sesar Lembang,” ujar Adi.

Baca Juga: Ketika Satu Menit Bisa Mengubah Hati

Sorot cahaya yang menari hanya satu dari sekian antraksi yang dipersiapkan komunitas untuk menarik massa berdatangan ke tempat ini. Pertunjukan lain yang juga memukau adalah 'Pohon Bercerita', sebuah pertunjukan video mapping dengan medium pepohonan yang bisa menghipnotis siapapun yang melihatnya untuk terdiam dan mematung.

Menurut Adi, pihaknya tidak sekali ini saja memanfaatkan pohon sebagai sarana pertunjukan video mapping. Jauh sebelumnya, pernah dipraktekkan untuk 'Dongeng Kelana', sebuah cerita yang terinspirasi dari kisah Smong yang sering diperdengarkan sebagai sebuah tradisi di Pulau Simeulue untuk mengenalkan mitigasi bencana di daerah pesisir.

Banyak penonton Dongeng Kelana yang terhibur dengan cara pengemasan cerita ala Sesar Lembang Kalcer. Edukatif dan out of the box. Itu yang menuntun komunitas meneruskan proyek video mapping termasuk yang diperlihatkan di Titik Kumpul - Backyard dari 1 hingga 11 Januari 2026.

Lewat cara ini, alih-alih ketakutan yang muncul, isu Sesar Lembang justru membangun jembatan diskusi. “Kita kemas menjadi pertunjukan agar isu Sesar Lembang itu menjadi kultur, menjadi hal yang dibicarakan sehari-hari. Tapi tidak menjadi sebuah ketakutan,” tambahnya.

Baca Juga: Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Titik Kumpul: Ruang Kreatif Penyama Visi

Ruang kreatif kemudian menjadi titik temu antara ekspresi seni dan kebutuhan akan literasi mitigasi. Di tengah aktivitas santai dan pertunjukan visual, pesan tentang kebencanaan tidak disampaikan sebagai peringatan keras, melainkan sebagai bagian dari pengalaman bersama. Pendekatan ini menjadi penting, mengingat konteks geografis Bandung yang berada di wilayah rawan bencana.

Sesar Lembang berada di area patahan aktif sepanjang kurang lebih 29 kilometer yang membentang dari Padalarang hingga Jatinangor. Kondisi geografis ini menjadi ancaman nyata bagi warga Bandung dan sekitarnya. Namun, Adi meyakini bahwa risiko bencana dapat diminimalisir. Keyakinan itulah yang melandasi gagasan menjadikan ruang kreativitas sebagai ruang aman bagi semua orang dalam menyikapi isu kebencanaan.

Di Titik Kumpul - Backyard, edukasi tidak dilakukan secara searah atau formal. Lewat aktivitas sederhana seperti menyeruput kopi atau bercengkerama santai, obrolan mengenai potensi bencana perlahan diselipkan. Obrolan ini yang kemudian berbuah menjadi program aktivasi bersama antara komunitas kreatif dengan pihak-pihak lain yang sevisi.

"Potensi power-nya Bandung sebagai kota kreatif dan kesadaran mitigasi yang tinggi itu ditarik kesamaannya. Kita perlu titik kumpul. Sehingga titik kumpul ini menjadi wadah literasi mitigasi sekaligus kreativitas," jelas Adi.

Baca Juga: Jejak Sejarah Gempa Besar di Sesar Lembang, dari Zaman Es hingga Kerajaan Pajajaran

Pendekatan ini secara sadar mengesampingkan narasi 'horor' yang tersemaikan di ingatan masyarakat kala mendapat informasi seputar sesar. Sebaliknya, narasi yang dikembangkan adalah narasi yang menghibur, penuh percaya diri, dan tidak memunculkan kekhawatiran berlebih.

Memasuki 2026, Sesar Lembang Kalcer berambisi untuk mengelola lahan luas ini menjadi laboratorium literasi mitigasi lintas sektor. Puluhan paket literasi telah disiapkan untuk memastikan warga Bandung mampu bersahabat dengan realita geografisnya.

Menyela obrolan serius, Adi mengaku memiliki anak yang harus mengetahui edukasi tentang sesar sejak dini. Dia tidak ingin, jika bencana benar-benar terjadi, anaknya malah panik dan kebingungan. Kesadaran itu muncul karena Adi memahami bahwa keluarganya, serta banyak orang yang dia kenal hidup di lingkar sesar. Dirinya enggan untuk menafikan kesadaran tentang potensi bencana yang nyata.

Lebih jauh, Adi menilai Bandung sebagai kawasan dengan beragam destinasi wisata yang semestinya aman dan nyaman bagi siapa pun yang berkunjung. Karena itu, ia mempertanyakan mengapa edukasi kebencanaan tidak dibungkus dengan pendekatan yang lebih ramah. Edukasi dengan cara yang bersahabat dapat menentukan masa depan kawasan bersama penghuninya.

"Satu hal yang bisa kita lakukan sekarang adalah membersamai keberadaan Sesar Lembang itu dengan pengetahuan, dan menyiapkan diri kita melakukan mitigasi," tutup Adi.

Berita Terkait

News Update

Komunitas 13 Apr 2026, 05:25

Bandung Berpuisi Buka Panggung, Siapa Saja Bisa Bersuara Lewat Kata

Komunitas Bandung Berpuisi menghadirkan panggung terbuka melalui Open Mic Vol. 17 sebagai ruang ekspresi bagi siapa saja untuk membacakan karya, sekaligus mendekatkan puisi kepada masyarakat.

Puluhan penampil memeriahkan Open Mic Vol. 17 Bandung Berpuisi untuk mengekspresikan karya dan merayakan puisi secara langsung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Sejarah 12 Apr 2026, 14:38

Sejarah Letusan Galunggung 1982, Sembilan Bulan Bencana Vulkanik di Jawa Barat

Letusan Galunggung 1982 berlangsung sembilan bulan, memicu pengungsian massal, kerusakan luas, dan menjadi salah satu bencana vulkanik terbesar di Jawa Barat.

Letusan Galunggung 1982. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 12 Apr 2026, 13:26

4 Ide Cerita untuk Kamu yang Merasa 'Terasing' di Bandung Kampung Halamanmu

Kita berdiri di kota tempat lahir, tapi merasa seperti tamu.

Wisata kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, Rabu 25 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 12 Apr 2026, 09:39

Hikayat Kampung Adat Mahmud, Penyebaran Islam hingga Larangan Menabuh Gong

Kampung Adat Mahmud di Bandung menyimpan sejarah penyebaran Islam, tradisi rumah panggung, dan larangan menabuh gong yang masih dijaga.

Kampung Mahmud, Bandung. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 12 Apr 2026, 08:52

Bandung Era 1990-an dalam Ingatan Anak Kost

Bandung era 90-an, bagi saya, bukan sekadar kenangan. Ia adalah rumah yang selalu bisa saya kunjungi, kapan saja, dalam ingatan.

Anak kost era 1990-an, bersahabat dengan Erwan Setiawan, kini Wagub Jawa Barat. Kenangan sederhana yang tak lekang waktu. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:18

Panduan Wisata Gunung Guntur, "Semeru"-nya Jawa Barat dengan Panorama Spektakuler

Gunung Guntur menawarkan jalur berpasir terjal, panorama pegunungan luas, serta pengalaman mendaki unik di gunung berapi aktif dekat pusat Kota Garut.

Gunung Guntur dilihat dari kawasan pemandian Cipanas, Garut (Sumber: Wikimedia)
Beranda 10 Apr 2026, 09:29

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Power of Ibu-Ibu Cibogo mengubah pengelolaan sampah rumah tangga menjadi gerakan kolektif yang berdampak, menghadirkan solusi lingkungan sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi warga.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 08:30

Tren Rambut Lady Diana

Kehebohan para wanita Kota Bandung dari berbagai kalangan usia meniru gaya rambut Lady Diana saat tahun 1980-an

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)
Bandung 09 Apr 2026, 19:40

Urgensi Literasi Keuangan dan Akselerasi Sektor Riil demi Resiliensi Ekonomi Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi?

Ilustrasi. Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi. (Sumber: Ayobiz.id/Gemini Generated)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 18:18

Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 16:40

Wisata Pantai Patimban, Pesisir Subang Utara yang jadi Pelabuhan Logistik

Pantai Patimban tawarkan sunset, kuliner laut, dan suasana santai, namun kini berubah sejak hadirnya Pelabuhan Internasional.

Pantai Patimban Subang. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 09 Apr 2026, 16:39

Beralih ke Motor Listrik, Ojol Hadapi Dilema Antara Hemat Biaya dan Keterbatasan Jarak

Peralihan ojol ke motor listrik menghadirkan efisiensi biaya, namun dibayangi tantangan jarak tempuh dan infrastruktur, memaksa pengemudi lebih cermat mengatur strategi kerja.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 15:02

4 Ide Tulisan Hari Besar Terkait Tema Ayonetizen April 2026: Kartini, Asia-Afrika, sampai Hari Puisi

Bulan April penuh dengan momentum yang bisa diubah jadi cerita.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 09 Apr 2026, 13:42

Menjembatani Kreativitas dan Regulasi: Menilik Tantangan Ekonomi Kreatif di Bandung

Pemerintah dan pelaku ekraf Bandung bedah regulasi & standar harga pengadaan dalam Ruang Dialog Ekraf guna dorong dampak ekonomi nyata.

Ilustrasi. Ekonomi kreatif (Sumber: Ist)