AYOBANDUNG.ID - Sore menjelang waktu berbuka di kawasan Jalan Pelajar Pejuang, Kota Bandung. Kendaraan menumpuk di lampu merah. Di antara asap knalpot dan klakson yang bersahutan, dua tubuh berwarna perak berdiri nyaris tak bergerak.
Kulit mereka berkilau seperti patung hidup. Namun di balik warna silver itu, ada panas, gatal, dan risiko yang jarang terlihat.
Teguh Ade Anggana (30) mengusap wajahnya pelan sebelum mulai bercerita. Sudah delapan tahun ia menjalani pekerjaan sebagai manusia silver. Baginya, ini bukan hal baru, melainkan jalan yang ia tempuh sejak 2017.
“Dari 2017 saya sudah mulai. Enggak tentu tempatnya, bisa di Pasopati, Paster, Laswi, Malabar, lihat kondisi saja. Kalau lagi ramai di satu titik ya di situ. Kadang pindah-pindah juga. Kita lihat situasi jalan, lihat kendaraan, pokoknya menyesuaikan saja,” ujarnya.
Ia memulai hari sejak pagi. Saat sebagian orang baru berangkat kerja, Teguh sudah meracik catnya.

“Kalau lagi niat dari pagi, bisa mulai jam 09.00. Kadang pulang jam 10 malam. Tergantung dapatnya juga. Kalau masih kurang ya lanjut,” katanya.
Sebelum berdiri di lampu merah, ada proses yang harus dilewati. Teguh menggunakan silver body paint yang tidak dipakai begitu saja. Cat itu ia campur dengan minyak kelapa agar tidak terlalu panas di kulit.
“Body paint-nya saya campur sama minyak kelapa. Kalau enggak dicampur, panasnya kerasa banget di muka sama badan. Kadang saya tambahin hand body juga kalau ada, biar enggak terlalu panas dan enggak terlalu kering. Kalau ada parfum, saya kasih sedikit biar enggak terlalu bau cat,” jelasnya.
Harga bahannya relatif terjangkau. Satu ons body paint sekitar Rp20.000 hingga Rp25.000 dan bisa dipakai selama dua hari.
“Kalau sudah diracik, kita oles saja. Bukan disemprot. Yang bikin lama itu bagian belakang, enggak bisa sendiri, harus saling bantu,” ujarnya.
Proses melapisi seluruh tubuh memakan waktu sekitar 15 menit jika dilakukan bersama. Sambil tertawa kecil, Teguh mengakui membersihkan cat justru jauh lebih melelahkan dibanding memakainya.
“Bersihinnya pakai sabun colek dua kali. Pertama buat hilangin minyaknya dulu, kedua baru bersih. Habis itu baru mandi biasa,” katanya.
Awalnya terasa sulit, tetapi lama-kelamaan ia terbiasa.
Teguh mengaku tidak mengalami gangguan pernapasan serius, tetapi ada efek lain yang ia rasakan. Meski sudah terbiasa, dampaknya tetap muncul.
“Kalau kehujanan, kadang dari hidung suka keluar kayak lendir hitam. Soalnya pori-pori ketutup cat. Mata juga sering burem kalau kemasukan. Kadang orang ngira kita mabuk atau apa, padahal penglihatan lagi enggak jelas,” tuturnya.
Jika iritasi muncul, ia memilih berhenti beberapa hari.
“Kalau terasa perih atau merah banget, saya libur dulu. Belum pernah sampai periksa ke dokter,” tambahnya.
Beberapa meter dari Teguh, Erwin (42) berdiri dengan kondisi kulit yang lebih jelas menunjukkan dampaknya. Di beberapa bagian tangan dan lehernya tampak bintik-bintik kemerahan.

Berbeda dengan Teguh, Erwin baru menjadi manusia silver sejak Ramadan. Sebelumnya, ia bekerja di salon mobil. Namun sejak pandemi Covid-19, sistem gaji berubah menjadi persentase dan penghasilannya menurun drastis.
“Dulu saya kerja di salon mobil. Waktu Covid, sistemnya jadi persentase. Kalau enggak ada pelanggan ya enggak dapat apa-apa. Kadang sehari nol. Akhirnya saya turun ke jalan,” tuturnya.
Bahan yang ia gunakan berbeda. Ia memakai tinta sablon plastik berbahan kimia yang dicampur minyak goreng.
“Satu ons Rp20.000. Saya biasanya beli satu ons saja, enggak sanggup lebih. Dicampur minyak goreng sampai pas, jangan terlalu encer,” katanya.
Efeknya terasa langsung di kulit.
“Panas itu sudah pasti. Gatal-gatal sampai berdarah ini. Mata juga sering merah karena kemasukan. Tapi mau gimana lagi. Yang penting bisa bawa uang buat anak istri,” ucapnya tanpa banyak ekspresi.
Untuk membersihkan tubuhnya, Erwin menggunakan sabun cuci piring.
“Pakai sabun cuci piring, prosesnya lama. Kalau soal iritasi ya enggak tahu cara ngobatinnya. Dibiarkan saja. Yang penting sekarang bisa cari duit,” katanya.
Menjadi manusia silver bukan sekadar berdiri di lampu merah dengan tubuh dicat perak. Ada risiko yang sudah mereka pahami sejak awal—risiko fisik, sosial, hingga penertiban aparat. Razia Satpol PP dan penjangkauan Dinas Sosial bukan cerita asing bagi mereka.
Erwin mengingat betul pengalaman yang paling membekas. Ia tidak hanya diminta turun dari jalan, tetapi sempat dibawa dan tinggal sementara di tempat pembinaan.
“Pernah sampai nginep dua minggu di dinas sosial. Waktu itu lagi jalan dari siang, baru juga mulai dapat, tiba-tiba kena razia. Duit yang sudah dikumpulin kadang dibawa. Kita enggak bisa ngapa-ngapain. Mau protes juga percuma. Di sana ya ikut aturan saja,” tuturnya.
Dua minggu bukan waktu yang singkat. Di rumah, kebutuhan tetap berjalan.
“Kalau kita enggak turun, anak istri gimana? Mereka tetap butuh makan. Kontrakan tetap harus bayar. Jadi sebenarnya bukan takut atau kapok, tapi kalau enggak turun, kebutuhan enggak berhenti,” lanjutnya pelan.
Teguh pun memahami betul posisinya. Ia sadar tubuhnya masih sehat dan kuat untuk pekerjaan lain. Namun realitas tidak selalu menyediakan pilihan.
“Saya tahu ini sebenarnya enggak diperbolehkan. Saya juga sadar badan saya masih normal, masih bisa kerja keras. Kalau ada proyek atau kerja tetap, saya pasti pilih itu. Tapi sekarang enggak ada. Sedangkan anak istri harus makan tiap hari, kontrakan tiap bulan harus ada. Mau enggak mau ya turun,” ujarnya.
Ia mengaku pekerjaan ini bukan sesuatu yang dibanggakan, melainkan langkah sementara sambil menunggu kesempatan lain.
“Kalau ada kerjaan, saya enggak akan turun lagi ke jalan. Ini jalan terakhir saja. Selagi belum ada kerjaan, ya kita bertahan dengan yang ada,” katanya.

Di tengah lampu merah yang berganti warna, kilau perak di tubuh mereka tetap berkilau. Dari jauh, mereka tampak seperti hiburan singkat di sela kemacetan. Namun dari dekat, terlihat kulit yang memerah, mata yang berair dan merah, serta tangan yang sesekali menggaruk pelan karena gatal.
Silver itu memang mengilap di mata pengendara. Namun di balik kilaunya, ada panas yang ditahan berjam-jam di bawah matahari, ada iritasi yang dibiarkan tanpa obat, dan ada kecemasan setiap kali mobil patroli melintas.
Di antara risiko dan kebutuhan, pilihan mereka kerap bukan soal ingin atau tidak ingin, melainkan soal bertahan atau tidak bertahan.
