Di Balik Kilau Manusia Silver: Lendir Hitam dari Hidung, Kulit Memerah, dan Panas yang Harus Ditahan

5 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Erwin melumuri badanya mengggunakan tinta sablon plastik berbahan kimia yang dicampur minyak goreng. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Erwin melumuri badanya mengggunakan tinta sablon plastik berbahan kimia yang dicampur minyak goreng. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Sore menjelang waktu berbuka di kawasan Jalan Pelajar Pejuang, Kota Bandung. Kendaraan menumpuk di lampu merah. Di antara asap knalpot dan klakson yang bersahutan, dua tubuh berwarna perak berdiri nyaris tak bergerak.

Kulit mereka berkilau seperti patung hidup. Namun di balik warna silver itu, ada panas, gatal, dan risiko yang jarang terlihat.

Teguh Ade Anggana (30) mengusap wajahnya pelan sebelum mulai bercerita. Sudah delapan tahun ia menjalani pekerjaan sebagai manusia silver. Baginya, ini bukan hal baru, melainkan jalan yang ia tempuh sejak 2017.

“Dari 2017 saya sudah mulai. Enggak tentu tempatnya, bisa di Pasopati, Paster, Laswi, Malabar, lihat kondisi saja. Kalau lagi ramai di satu titik ya di situ. Kadang pindah-pindah juga. Kita lihat situasi jalan, lihat kendaraan, pokoknya menyesuaikan saja,” ujarnya.

Ia memulai hari sejak pagi. Saat sebagian orang baru berangkat kerja, Teguh sudah meracik catnya.

Teguh menggunakan silver body paint yang dicampur minyak kelapa untuk mengecat sekujur tubuhnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Teguh menggunakan silver body paint yang dicampur minyak kelapa untuk mengecat sekujur tubuhnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

“Kalau lagi niat dari pagi, bisa mulai jam 09.00. Kadang pulang jam 10 malam. Tergantung dapatnya juga. Kalau masih kurang ya lanjut,” katanya.

Sebelum berdiri di lampu merah, ada proses yang harus dilewati. Teguh menggunakan silver body paint yang tidak dipakai begitu saja. Cat itu ia campur dengan minyak kelapa agar tidak terlalu panas di kulit.

“Body paint-nya saya campur sama minyak kelapa. Kalau enggak dicampur, panasnya kerasa banget di muka sama badan. Kadang saya tambahin hand body juga kalau ada, biar enggak terlalu panas dan enggak terlalu kering. Kalau ada parfum, saya kasih sedikit biar enggak terlalu bau cat,” jelasnya.

Harga bahannya relatif terjangkau. Satu ons body paint sekitar Rp20.000 hingga Rp25.000 dan bisa dipakai selama dua hari.

“Kalau sudah diracik, kita oles saja. Bukan disemprot. Yang bikin lama itu bagian belakang, enggak bisa sendiri, harus saling bantu,” ujarnya.

Proses melapisi seluruh tubuh memakan waktu sekitar 15 menit jika dilakukan bersama. Sambil tertawa kecil, Teguh mengakui membersihkan cat justru jauh lebih melelahkan dibanding memakainya.

“Bersihinnya pakai sabun colek dua kali. Pertama buat hilangin minyaknya dulu, kedua baru bersih. Habis itu baru mandi biasa,” katanya.

Awalnya terasa sulit, tetapi lama-kelamaan ia terbiasa.

Teguh mengaku tidak mengalami gangguan pernapasan serius, tetapi ada efek lain yang ia rasakan. Meski sudah terbiasa, dampaknya tetap muncul.

“Kalau kehujanan, kadang dari hidung suka keluar kayak lendir hitam. Soalnya pori-pori ketutup cat. Mata juga sering burem kalau kemasukan. Kadang orang ngira kita mabuk atau apa, padahal penglihatan lagi enggak jelas,” tuturnya.

Jika iritasi muncul, ia memilih berhenti beberapa hari.

“Kalau terasa perih atau merah banget, saya libur dulu. Belum pernah sampai periksa ke dokter,” tambahnya.

Beberapa meter dari Teguh, Erwin (42) berdiri dengan kondisi kulit yang lebih jelas menunjukkan dampaknya. Di beberapa bagian tangan dan lehernya tampak bintik-bintik kemerahan.

Melumuri badannya dengan cat sablon perak, Erwin sehari-hari mangjal di kawasan Jalan Pelajar Pejuang,  Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Melumuri badannya dengan cat sablon perak, Erwin sehari-hari mangjal di kawasan Jalan Pelajar Pejuang, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Berbeda dengan Teguh, Erwin baru menjadi manusia silver sejak Ramadan. Sebelumnya, ia bekerja di salon mobil. Namun sejak pandemi Covid-19, sistem gaji berubah menjadi persentase dan penghasilannya menurun drastis.

“Dulu saya kerja di salon mobil. Waktu Covid, sistemnya jadi persentase. Kalau enggak ada pelanggan ya enggak dapat apa-apa. Kadang sehari nol. Akhirnya saya turun ke jalan,” tuturnya.

Bahan yang ia gunakan berbeda. Ia memakai tinta sablon plastik berbahan kimia yang dicampur minyak goreng.

“Satu ons Rp20.000. Saya biasanya beli satu ons saja, enggak sanggup lebih. Dicampur minyak goreng sampai pas, jangan terlalu encer,” katanya.

Efeknya terasa langsung di kulit.

“Panas itu sudah pasti. Gatal-gatal sampai berdarah ini. Mata juga sering merah karena kemasukan. Tapi mau gimana lagi. Yang penting bisa bawa uang buat anak istri,” ucapnya tanpa banyak ekspresi.

Untuk membersihkan tubuhnya, Erwin menggunakan sabun cuci piring.

“Pakai sabun cuci piring, prosesnya lama. Kalau soal iritasi ya enggak tahu cara ngobatinnya. Dibiarkan saja. Yang penting sekarang bisa cari duit,” katanya.

Menjadi manusia silver bukan sekadar berdiri di lampu merah dengan tubuh dicat perak. Ada risiko yang sudah mereka pahami sejak awal—risiko fisik, sosial, hingga penertiban aparat. Razia Satpol PP dan penjangkauan Dinas Sosial bukan cerita asing bagi mereka.

Erwin mengingat betul pengalaman yang paling membekas. Ia tidak hanya diminta turun dari jalan, tetapi sempat dibawa dan tinggal sementara di tempat pembinaan.

“Pernah sampai nginep dua minggu di dinas sosial. Waktu itu lagi jalan dari siang, baru juga mulai dapat, tiba-tiba kena razia. Duit yang sudah dikumpulin kadang dibawa. Kita enggak bisa ngapa-ngapain. Mau protes juga percuma. Di sana ya ikut aturan saja,” tuturnya.

Dua minggu bukan waktu yang singkat. Di rumah, kebutuhan tetap berjalan.

“Kalau kita enggak turun, anak istri gimana? Mereka tetap butuh makan. Kontrakan tetap harus bayar. Jadi sebenarnya bukan takut atau kapok, tapi kalau enggak turun, kebutuhan enggak berhenti,” lanjutnya pelan.

Teguh pun memahami betul posisinya. Ia sadar tubuhnya masih sehat dan kuat untuk pekerjaan lain. Namun realitas tidak selalu menyediakan pilihan.

“Saya tahu ini sebenarnya enggak diperbolehkan. Saya juga sadar badan saya masih normal, masih bisa kerja keras. Kalau ada proyek atau kerja tetap, saya pasti pilih itu. Tapi sekarang enggak ada. Sedangkan anak istri harus makan tiap hari, kontrakan tiap bulan harus ada. Mau enggak mau ya turun,” ujarnya.

Ia mengaku pekerjaan ini bukan sesuatu yang dibanggakan, melainkan langkah sementara sambil menunggu kesempatan lain.

“Kalau ada kerjaan, saya enggak akan turun lagi ke jalan. Ini jalan terakhir saja. Selagi belum ada kerjaan, ya kita bertahan dengan yang ada,” katanya.

Di tengah lampu merah yang berganti warna, kilau perak di tubuh mereka tetap berkilau. Dari jauh, mereka tampak seperti hiburan singkat di sela kemacetan. Namun dari dekat, terlihat kulit yang memerah, mata yang berair dan merah, serta tangan yang sesekali menggaruk pelan karena gatal.

Silver itu memang mengilap di mata pengendara. Namun di balik kilaunya, ada panas yang ditahan berjam-jam di bawah matahari, ada iritasi yang dibiarkan tanpa obat, dan ada kecemasan setiap kali mobil patroli melintas.

Di antara risiko dan kebutuhan, pilihan mereka kerap bukan soal ingin atau tidak ingin, melainkan soal bertahan atau tidak bertahan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)