Di Balik Kilau Manusia Silver: Lendir Hitam dari Hidung, Kulit Memerah, dan Panas yang Harus Ditahan

5 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Rabu 25 Feb 2026, 13:33 WIB
Erwin melumuri badanya mengggunakan tinta sablon plastik berbahan kimia yang dicampur minyak goreng. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Erwin melumuri badanya mengggunakan tinta sablon plastik berbahan kimia yang dicampur minyak goreng. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Sore menjelang waktu berbuka di kawasan Jalan Pelajar Pejuang, Kota Bandung. Kendaraan menumpuk di lampu merah. Di antara asap knalpot dan klakson yang bersahutan, dua tubuh berwarna perak berdiri nyaris tak bergerak.

Kulit mereka berkilau seperti patung hidup. Namun di balik warna silver itu, ada panas, gatal, dan risiko yang jarang terlihat.

Teguh Ade Anggana (30) mengusap wajahnya pelan sebelum mulai bercerita. Sudah delapan tahun ia menjalani pekerjaan sebagai manusia silver. Baginya, ini bukan hal baru, melainkan jalan yang ia tempuh sejak 2017.

“Dari 2017 saya sudah mulai. Enggak tentu tempatnya, bisa di Pasopati, Paster, Laswi, Malabar, lihat kondisi saja. Kalau lagi ramai di satu titik ya di situ. Kadang pindah-pindah juga. Kita lihat situasi jalan, lihat kendaraan, pokoknya menyesuaikan saja,” ujarnya.

Ia memulai hari sejak pagi. Saat sebagian orang baru berangkat kerja, Teguh sudah meracik catnya.

Teguh menggunakan silver body paint yang dicampur minyak kelapa untuk mengecat sekujur tubuhnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Teguh menggunakan silver body paint yang dicampur minyak kelapa untuk mengecat sekujur tubuhnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

“Kalau lagi niat dari pagi, bisa mulai jam 09.00. Kadang pulang jam 10 malam. Tergantung dapatnya juga. Kalau masih kurang ya lanjut,” katanya.

Sebelum berdiri di lampu merah, ada proses yang harus dilewati. Teguh menggunakan silver body paint yang tidak dipakai begitu saja. Cat itu ia campur dengan minyak kelapa agar tidak terlalu panas di kulit.

“Body paint-nya saya campur sama minyak kelapa. Kalau enggak dicampur, panasnya kerasa banget di muka sama badan. Kadang saya tambahin hand body juga kalau ada, biar enggak terlalu panas dan enggak terlalu kering. Kalau ada parfum, saya kasih sedikit biar enggak terlalu bau cat,” jelasnya.

Harga bahannya relatif terjangkau. Satu ons body paint sekitar Rp20.000 hingga Rp25.000 dan bisa dipakai selama dua hari.

“Kalau sudah diracik, kita oles saja. Bukan disemprot. Yang bikin lama itu bagian belakang, enggak bisa sendiri, harus saling bantu,” ujarnya.

Proses melapisi seluruh tubuh memakan waktu sekitar 15 menit jika dilakukan bersama. Sambil tertawa kecil, Teguh mengakui membersihkan cat justru jauh lebih melelahkan dibanding memakainya.

“Bersihinnya pakai sabun colek dua kali. Pertama buat hilangin minyaknya dulu, kedua baru bersih. Habis itu baru mandi biasa,” katanya.

Awalnya terasa sulit, tetapi lama-kelamaan ia terbiasa.

Teguh mengaku tidak mengalami gangguan pernapasan serius, tetapi ada efek lain yang ia rasakan. Meski sudah terbiasa, dampaknya tetap muncul.

“Kalau kehujanan, kadang dari hidung suka keluar kayak lendir hitam. Soalnya pori-pori ketutup cat. Mata juga sering burem kalau kemasukan. Kadang orang ngira kita mabuk atau apa, padahal penglihatan lagi enggak jelas,” tuturnya.

Jika iritasi muncul, ia memilih berhenti beberapa hari.

“Kalau terasa perih atau merah banget, saya libur dulu. Belum pernah sampai periksa ke dokter,” tambahnya.

Beberapa meter dari Teguh, Erwin (42) berdiri dengan kondisi kulit yang lebih jelas menunjukkan dampaknya. Di beberapa bagian tangan dan lehernya tampak bintik-bintik kemerahan.

Melumuri badannya dengan cat sablon perak, Erwin sehari-hari mangjal di kawasan Jalan Pelajar Pejuang,  Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Melumuri badannya dengan cat sablon perak, Erwin sehari-hari mangjal di kawasan Jalan Pelajar Pejuang, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Berbeda dengan Teguh, Erwin baru menjadi manusia silver sejak Ramadan. Sebelumnya, ia bekerja di salon mobil. Namun sejak pandemi Covid-19, sistem gaji berubah menjadi persentase dan penghasilannya menurun drastis.

“Dulu saya kerja di salon mobil. Waktu Covid, sistemnya jadi persentase. Kalau enggak ada pelanggan ya enggak dapat apa-apa. Kadang sehari nol. Akhirnya saya turun ke jalan,” tuturnya.

Bahan yang ia gunakan berbeda. Ia memakai tinta sablon plastik berbahan kimia yang dicampur minyak goreng.

“Satu ons Rp20.000. Saya biasanya beli satu ons saja, enggak sanggup lebih. Dicampur minyak goreng sampai pas, jangan terlalu encer,” katanya.

Efeknya terasa langsung di kulit.

“Panas itu sudah pasti. Gatal-gatal sampai berdarah ini. Mata juga sering merah karena kemasukan. Tapi mau gimana lagi. Yang penting bisa bawa uang buat anak istri,” ucapnya tanpa banyak ekspresi.

Untuk membersihkan tubuhnya, Erwin menggunakan sabun cuci piring.

“Pakai sabun cuci piring, prosesnya lama. Kalau soal iritasi ya enggak tahu cara ngobatinnya. Dibiarkan saja. Yang penting sekarang bisa cari duit,” katanya.

Menjadi manusia silver bukan sekadar berdiri di lampu merah dengan tubuh dicat perak. Ada risiko yang sudah mereka pahami sejak awal—risiko fisik, sosial, hingga penertiban aparat. Razia Satpol PP dan penjangkauan Dinas Sosial bukan cerita asing bagi mereka.

Erwin mengingat betul pengalaman yang paling membekas. Ia tidak hanya diminta turun dari jalan, tetapi sempat dibawa dan tinggal sementara di tempat pembinaan.

“Pernah sampai nginep dua minggu di dinas sosial. Waktu itu lagi jalan dari siang, baru juga mulai dapat, tiba-tiba kena razia. Duit yang sudah dikumpulin kadang dibawa. Kita enggak bisa ngapa-ngapain. Mau protes juga percuma. Di sana ya ikut aturan saja,” tuturnya.

Dua minggu bukan waktu yang singkat. Di rumah, kebutuhan tetap berjalan.

“Kalau kita enggak turun, anak istri gimana? Mereka tetap butuh makan. Kontrakan tetap harus bayar. Jadi sebenarnya bukan takut atau kapok, tapi kalau enggak turun, kebutuhan enggak berhenti,” lanjutnya pelan.

Teguh pun memahami betul posisinya. Ia sadar tubuhnya masih sehat dan kuat untuk pekerjaan lain. Namun realitas tidak selalu menyediakan pilihan.

“Saya tahu ini sebenarnya enggak diperbolehkan. Saya juga sadar badan saya masih normal, masih bisa kerja keras. Kalau ada proyek atau kerja tetap, saya pasti pilih itu. Tapi sekarang enggak ada. Sedangkan anak istri harus makan tiap hari, kontrakan tiap bulan harus ada. Mau enggak mau ya turun,” ujarnya.

Ia mengaku pekerjaan ini bukan sesuatu yang dibanggakan, melainkan langkah sementara sambil menunggu kesempatan lain.

“Kalau ada kerjaan, saya enggak akan turun lagi ke jalan. Ini jalan terakhir saja. Selagi belum ada kerjaan, ya kita bertahan dengan yang ada,” katanya.

Di tengah lampu merah yang berganti warna, kilau perak di tubuh mereka tetap berkilau. Dari jauh, mereka tampak seperti hiburan singkat di sela kemacetan. Namun dari dekat, terlihat kulit yang memerah, mata yang berair dan merah, serta tangan yang sesekali menggaruk pelan karena gatal.

Silver itu memang mengilap di mata pengendara. Namun di balik kilaunya, ada panas yang ditahan berjam-jam di bawah matahari, ada iritasi yang dibiarkan tanpa obat, dan ada kecemasan setiap kali mobil patroli melintas.

Di antara risiko dan kebutuhan, pilihan mereka kerap bukan soal ingin atau tidak ingin, melainkan soal bertahan atau tidak bertahan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Bandung 08 Jun 2026, 19:34

Menilik Eksistensi Dawa Rempah, Racikan Minuman Herbal Tradisional dengan Sentuhan Modern

Gaya hidup sehat turut menjadi tren kekinian yang santer digandrungi oleh masyarakat di masa kini. Salah satu caranya lewat menjaga kesehatan dan kebugaran.

Dawa Rempah (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:31

Hari Laut Sedunia, Masih Adakah Prospek Galangan Kapal di Jabar?

Masih sedikit industri galangan kapal di Jabar. Padahal provinsi ini memiliki sebelas pelabuhan yang bisa digunakan sebagai prasarana galangan kapal.

Ilustrasi Hari Laut Sedunia 2026, pemandangan Pantai Jayanti di Kecamatan Cidaun. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Muhammad Ikhsan)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:01

Polemik Penggusuran Perumahan Warga di Anyer Dalam akibat Pembangunan oleh KAI

Perumahan Warga di Anyer Dalam digusur untuk pembangunan yang dilakukan oleh oleh KAI merupakan kejadian yang terjadi 5 tahun yang lalu.

Foto Grafiti Bekas 2021 di Tembok Menyusuri di Jalan Serang menyusuri Jalan Anyer Dalam, 17 April 2026. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hikmat Nur Hidayat)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 17:29

Polemik SPPG Sukabumi: Antara Harapan Gizi dan Alarm Nyata bagi Gen Z

Tercatat sudah tiga kali gelombang unjuk rasa terjadi di pertengahan tahun ini.

Dokumentasi demo SPPG Sukabumi
Beranda 08 Jun 2026, 17:04

Bandung Pernah Jadi Kiblat Musik Indie, Kini Para Musisi Berusaha Merebutnya Kembali

Bandung pernah menjadi salah satu pusat musik independen Indonesia. Melalui Bandung Music Indie, para musisi kini berupaya membangun kembali ruang bersama dan semangat kolektif yang mulai memudar.

Atmosfer hangat dan akrab mewarnai gelaran Bandung Music Indie saat musisi lintas generasi dan penikmat musik bertemu dalam satu ruang yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 16:53

Gedung BAT Cirebon, Pusat Industri yang Kini Hidup sebagai Cagar Budaya Kota

Bukan hanya bangunan kosong, Gedung BAT Cirebon merupakan saksi bisu kejayaan industri kolonial di Kota Cirebon.

Potret Gedung BAT Cirebon saat ini (Sumber: siceppot.cirebonkota.go.id)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 15:07

Gor Saparua sebagai Ruang Ekspresi Anak Muda dan Panggung Musik Kota Bandung

Satu tempat yang sekarang banyak dipakai orang untuk mencurahkan keringat selama 1990-an-2000-an.

Gor Saparua Bandung. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Zikri)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 12:00

Perempuan yang Menjerit-Membuncah Keheningan Malam Kota Bandung

Bahkan di keheningan malam pun perempuan selalu ramai dengan isi kepalanya.

Suasana alam di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: KOSONGDANSATU)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 10:41

Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

Hujan mikroplastik di Ibu Kota dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun.

Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:43

Fenomena Geologi Mata Air Asin dalam Memori Kolektif dan Toponimi Desa Ciuyah

Fenomena mata air asin di Desa Ciuyah, Kab. Sumedang, berasal dari air laut purba (connate water).

Kondisi terkini situs mata air asin purba (connate water) di Desa Ciuyah, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, saat didokumentasikan pada 28 Maret 2026 pukul 10.50 WIB. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Fatia Siti Biladi)
Wisata & Kuliner 08 Jun 2026, 09:42

Panduan Wisata Sea World: Dunia Bawah Laut yang Bisa Dijelajahi dalam 3 Jam

Panduan lengkap Sea World Ancol mulai dari harga tiket, Antasena Tunnel, feeding shark, Jellyfish Sphere, hingga tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Sea World Indonesia. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:02

Rompi "Psikolog Klinis" di Puskesmas: Niat Baik yang Menabrak Aturan

Pemasangan rompi bertuliskan "Psikolog Klinis" di puskesmas menuai sorotan. Di balik niat baik meningkatkan layanan, ada aturan profesi yang dipertanyakan.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 08:26

Wujudkan Optimasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan Drone  

Mengelola Pajak Bumi dan Bangunan dengan drone sangat efektif untuk melakukan pemetaan udara, pemutakhiran data blok, dan penilaian properti secara presisi.

Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 19:05

Bangsa Penghafal: Ketika Pancasila Dipisahkan dari Tradisi Berpikir yang Melahirkannya

Pancasila tidak lahir dari hafalan. Ia lahir dari pergulatan pemikiran yang panjang. Ironisnya, bangsa yang mewarisinya justru semakin terbiasa menghafal daripada memahami.

Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)
Bandung 07 Jun 2026, 18:19

Dari K-Pop hingga Kuliner, Mengintip Cara Bandung dan Korea Selatan Ubah Hubungan Kultural Jadi Peluang Bisnis Kreatif

Dari kegemaran menikmati musik hingga tren produk kecantikan, adaptasi kultural ini perlahan tapi pasti membuka ruang-ruang usaha baru yang melibatkan para pelaku industri kreatif lokal.

“Oullim Korea: Rhythm & Recipes” yang memadati 23 Paskal Shopping Center, Bandung, pada 5–7 Juni 2026.
Bandung 07 Jun 2026, 15:04

Dari Tren Jadi Cuan, Kisah Mawaru Matcha Ekspansi Ratusan Gerai Lewat Minuman Kalcer

Gelombang hype yang mengakar dari tren makanan hingga minuman kalcer masa kini seperti dessert, kopi, sampai matcha greentea, kian menarik respons positif masyarakat.

Mawaru Matcha. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)