Sesat Logika, Tantangan dalam Berbahasa

5 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Ilustrasi rak buku. (Sumber: Pexels | Foto: Yazid N)
Ilustrasi rak buku. (Sumber: Pexels | Foto: Yazid N)

Benarkah penggunaan bahasa di ruang publik semakin kehilangan estetikanya? Yang membuat kita menjadi lebih prihatin, karena banyak pejabat publik sekadar berbicara dengan narasi yang sering menimbulkan penafsiran yang sangat ambivalen, dan terkesan hanya demi sebuah popularitas atau identifikasi sosial belaka. Stigma yang dibangun sering kali rentan dengan membuat kegaduhan bagi para netizen.

Dampaknya? Secara simultan akan tumbuh kerusakan-kerusakan struktural dalam berbahasa. Akan menjadi sesat logika, yang jika ditelisik lebih dalam, narasi-narasi tersebut hanya berisi kebohongan yang terbungkus rapat. Kondisi ini sangat didukung oleh ruang digital yang tumbuh seperti jamur, dan bisa dijangkau oleh siapa saja. Sementara masyarakat Indonesia masih rendah kemampuan analisis dalam berliterasi.

Manusia adalah makhluk yang mampu berpikir, tetapi tidak selalu manusia bisa berpikir dengan benar. Di antara kata dan keyakinan, di antara sebab dan akibat, terdapat ruang gelap tempat logika dapat kehilangan arah. Di sanalah sesat logika berdiam—bukan sebagai kesalahan yang mencolok, melainkan sebagai jalan abstrak yang tampak lurus, namun membawa kepada kesalahan sangat fatal dalam fungsi logika.

Sesat logika tidak lahir dari kebodohan semata. Ia sering tumbuh justru dari kepercayaan diri intelektual yang berlebihan. Ketika manusia merasa telah sampai pada kebenaran, ia berhenti mempertanyakan cara ia sampai ke sana. Dalam keheningan itulah logika berubah dari alat pencari kebenaran menjadi alat pembenaran.

Secara filosofis, logika adalah disiplin yang menjanjikan keteraturan pikiran. Ia memberi struktur pada kekacauan pengalaman, menyusun dunia dalam premis dan kesimpulan. Namun justru berdampak pada rapuhnya daya nalar sehat. Logika bukan jaminan kebenaran, melainkan hanya tata cara menuju kebenaran. Ketika tata cara itu dilanggar—baik sengaja maupun tidak—maka lahirlah sesat logika: kebenaran palsu yang berdiri di atas bentuk yang tampak sah, meski sangat skeptis.

Aristoteles (filsuf) telah lama memperingatkan bahwa kesesatan paling berbahaya bukan yang jelas salah, melainkan yang tampak benar. Sesat logika bekerja seperti bayangan: ia meniru bentuk tubuh, tetapi tidak memiliki substansi. Ia berbicara dalam bahasa rasional, tetapi tujuannya bukan pemahaman, melainkan kemenangan. Dalam wacana publik, ia menjelma menjadi retorika yang memikat; dalam ruang batin, ia berubah menjadi pembela ego.

Jika kita bandingkan dengan fenomena umum yang terjadi kini, konsep rasionalitas tidak lagi dipandang sebagai pilihan kebenaran. Dampak dunia maya terlalu dahsyat dalam sendi kehidupan sosial. Terbentuknya ruang pengakuan bagi identifikasi sosial berproses sangat instan. Objektivitas dari rasionalitas telah bergeser ke arah kemenangan dalam menguber popularitas. Acapkali keilmuan menjadi rivalitas dari sebuah kepentingan, yang dalam konteks sosial menjadi pembenaran, bukan sebagai pembanding.

Lebih jauh, sesat logika bukan sekadar persoalan struktur argumen, melainkan persoalan etika berpikir. Ia muncul ketika akal tunduk pada hasrat untuk menang; untuk benar; untuk diakui. Dalam kondisi ini, premis tidak lagi dipilih karena kebenarannya, tetapi karena kegunaannya. Kesimpulan tidak lagi dicapai, melainkan ditentukan sejak awal.

Pikiran kita dipenuhi bias, jalan pintas mental, dan kecenderungan untuk menyederhanakan dunia yang kompleks. Maka sesat logika bukan anomali, melainkan gejala. Ia adalah bukti bahwa rasio manusia selalu hidup berdampingan dengan ketakutan, ingatan, dan kepentingan.

Di sini bahasa memainkan peran ganda. Bahasa adalah medium logika, tetapi juga medan penyimpangannya. Kata-kata seperti “jelas”, “pasti”, dan “semua orang tahu” sering menjadi pintu masuk sesat logika. Bahasa memberi ilusi kepastian, padahal logika sejati justru tumbuh dari keraguan yang terpelihara. Ketika bahasa berhenti bertanya, logika mulai tersesat.

Dalam pendidikan, sesat logika sering direduksi menjadi daftar kesalahan yang harus dihafal: ad hominem, generalisasi, dilema palsu. Padahal, yang lebih penting bukanlah mengenali nama kesesatan, melainkan memahami dorongan batin yang melahirkannya. Mengajarkan logika tanpa mengajarkan kerendahan hati intelektual hanyalah melatih teknik, bukan kebijaksanaan.

Pada akhirnya, sesat logika adalah cermin. Ia memantulkan cara kita berpikir tentang dunia dan tentang diri kita sendiri. Ia mengingatkan bahwa kebenaran bukan hanya soal kesimpulan yang tepat, tetapi juga tentang kesetiaan pada proses. Logika yang tidak diawasi oleh kesadaran etis akan selalu mencari jalan pintas—dan di setiap jalan pintas, ada kemungkinan tersesat.

Maka, berpikir secara filosofis bukanlah upaya untuk selalu benar, melainkan keberanian untuk selalu memeriksa: dari mana premis ini datang, untuk siapa kesimpulan ini bekerja, dan apa yang disembunyikan oleh kepastian yang terasa nyaman. Di sanalah logika kembali menemukan jalannya—bukan sebagai alat dominasi, tetapi sebagai laku kejujuran terhadap pikiran sendiri.

Dari narasi di atas, ada keterhubungan kekuatan logika dan aspek psikologis seseorang. Mental seseorang juga sangat berpengaruh terhadap dominasi pikirannya. Dalam kondisi psikis yang tertekan, pada umumnya orang berpikir untuk mencari jalan pintas, tanpa pertimbangan logika. Meski kondisi ini tidak bersifat mutlak (absolut), karena sekecil apa pun masih ada alam bawah sadar yang berfungsi untuk keseimbangan berpikir dan dalam pengucapan bahasa yang benar.

Bahasa tidak hanya sekadar alat untuk berinteraksi dan berkomunikasi, tetapi dapat memengaruhi juga perubahan sosial. (Sumber: Unsplash/Fahmi Ramadhan)
Bahasa tidak hanya sekadar alat untuk berinteraksi dan berkomunikasi, tetapi dapat memengaruhi juga perubahan sosial. (Sumber: Unsplash/Fahmi Ramadhan)

Berdasarkan pengertian umum, “sesat logika” adalah frasa dalam bahasa Indonesia yang merujuk pada kesalahan dalam proses penalaran, baik karena premis yang keliru, hubungan sebab-akibat yang tidak sah, maupun manipulasi argumen yang tampak masuk akal tetapi secara struktural cacat.

Lantas, bagaimana dalam perspektif kontemporer? Ahli kognitif modern Daniel Kahneman melihat sesat logika sebagai: hasil benturan antara intuisi cepat dan penalaran lambat. Artinya, sesat logika bukan sekadar kebodohan, melainkan bias kognitif yang manusiawi.

Dilihat dari analisis linguistik, struktur sintaksis “sesat logika” adalah frasa nominal endosentris. Di mana “sesat” sebagai inti, dan “logika” sebagai penjelas. Makna frasa bergantung pada relasi atributif, bukan predikatif. Ia berbeda dari kalimat “logikanya sesat”.

Secara semantik, frasa ini bersifat: abstrak, evaluatif, dan meta-kognitif yakni menilai cara berpikir, bukan pada isi pikiran. Sering digunakan sebagai label kritik, bukan deskripsi netral.

Secara prosodik, frasa ini sering diucapkan dengan: tekanan naik di “sesat” dan penurunan di “logika” dapat menciptakan efek penegasan dan vonis. Frasa “Sesat Logika” dalam bahasa Indonesia konteks lingua franca, frasa ini acapkali digunakan lintas disiplin: politik, agama, media sosial, akademik. Memiliki padanan longgar seperti logika keliru; penalaran cacat; argumen menyesatkan. Namun, “sesat logika” lebih bersifat: normatif; retoris; berdaya emosional.

Memahami frasa ini secara mendalam berarti belajar meragukan cara kita meyakini sesuatu, bukan hanya apa yang kita yakini. Perlunya dibangun kesadaran kolektif untuk menjaga nilai-nilai logika murni dalam berpikir kritis, terutama di era digital yang tumbuh pesat dan sulit terkendali.

Gunakan dan menjaga ruang siber kita secara bijak, agar sumber-sumber informasi menjadi ruang yang nyaman dan sehat untuk berpikir. Mewaspadai adanya manipulasi persepsi yang sering ditemukan, terutama lewat layar digital. Waspada dengan kesadaran kolektif untuk menjaga bahasa kita agar tidak terjadi sesat logika.

Kehilangan bahasa berarti kita akan kehilangan budaya. (*)

*) Penulis adalah sastrawan dan peminat bahasa.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)