Mengetahui Pelaksanaan Tradisi Nyawen dan Makna Filosofisnya

4 menit baca
ANGELICA SUCI AL ISLAMI BAHTIAR
Ditulis oleh ANGELICA SUCI AL ISLAMI BAHTIAR diterbitkan
Mengetahui pelaksanaan Tradisi Nyawen. (Sumber: images.pexels.com | Foto: Kevin Yung)
Mengetahui pelaksanaan Tradisi Nyawen. (Sumber: images.pexels.com | Foto: Kevin Yung)

Provinsi Jawa Tengah tepatnya di Kabupaten Cilacap bagian barat adalah salah satu wilayah yang masyarakatnya merupakan percampuran antara suku Jawa dan Sunda. Dilihat juga dari latar belakang sejarah dan budaya kedua suku tersebut, tentunya suku Jawa dan Sunda mempunyai struktur sosial yang berbeda.

Namun dalam hal budaya itu mereka membentuk keragaman budaya yang memiliki ciri khas dan dapat berkembang lalu dilestarikan secara turun-temurun, walaupun secara administratif wilayahnya terpisah. Bentuk dari silang budaya tersebut berwujud tradisi nyawen masyarakat Bingkeng yang memiliki ciri khas tersendiri, di mana budaya sunda lebih dominan di dalamnya.

Desa Bingkeng memiliki salah satu tradisi yang masih dilestarikan yaitu nyawen, kegiatan ini sudah ada sejak zaman dahulu dan dilaksanakan secara turun-temurun. Diperkirakan tradisi ini berasal dari zaman Wali Songo sekitar abad ke-16, tetapi jika dilihat dari perlengkapan yang digunakan dan proses ritual itu diduga berasal dari zaman Hindu Budha.

Tradisi nyawen merupakan adat kebiasaan untuk memasang sawen sebagai pelindung dan penanda kepemilikan. Sawen merupakan benda atau tanda yang memiliki jenis lalu diletakkan pada suatu tempat guna menunjukkan pesan tertentu, jenis ini terbuat dari dedaunan atau tumbuh-tumbuhan seperti janur, daun kawung dan hanjuang. Sawen juga adalah simbol penolak bala dan penanda untuk suatu tempat atau wilayah guna menunjukkan kepemilikan.

Dilakukannya Tradisi nyawen bertujuan untuk menjaga keselamatan atau tolak bala bagi masyarakat Desa Bingkeng. Sebelum Tradisi Nyawen dilakukan, kegiatan ini dimulai dengan menyiapkan segala perlengkapan untuk membuat sawen, karena inti utama dari tradisi ini adalah adanya sawen itu sendiri.

Sawen merupakan penanda atau ciri yang dipercaya dapat menangkal marabahaya, bentuk sawen itu berupa gulungan berisi tumbuhan tertentu. Tidak ada alasan khusus mengapa hanya tumbuhan tertentu saja yang dijadikan syarat untuk menyusun sawen, karena adat bahwa tumbuh-tumbuhan yang digunakan untuk sawen itu memang sudah dipakai turun-temurun.

Pelaksanaan Tradisi Nyawen

Tradisi nyawen dilaksanakan untuk menyambut datangnya bulan Muharram, bulan ini dianggap suci dan sakral oleh umat Islam sehingga menjadikannya sebagai bulan yang baik untuk melakukan evaluasi diri, dan mengutarakan rasa syukur kepada Allah SWT. Pada dasarnya, pelaksanaan nyawen itu bersifat rutin dan insidental.

Maksud dari rutinitas dalam nyawen itu adalah dilakukannya nyawen secara teratur dan terus-menerus, dilaksanakan setiap menjelang 1 Muharram tiap tahun. Sedangkan nyawen insidental atau kondisional itu merupakan nyawen yang dilakukan saat terjadi suatu bencana atau wabah (pageblug) dan ketika ada rumah yang baru selesai dibangun.

Sebelum melaksanakan ritual nyawen, biasanya sesepuh adat akan menentukan kapan dilaksanakannya acara tersebut, yakni dengan memperhatikan hari jatuhnya 1 Muharram karena ada hari tertentu yang kurang baik (naas) untuk melakukan ritual. Apabila 1 Muharram jatuh bertepatan hari selasa atau sabtu, maka pelaksanaan nyawen harus dilakukan sebelum hari tersebut.

Setelah menentukan waktu pelaksanaannya, masyarakat mulai mengumpulkan perlengkapan yang dibutuhkan. Adapun tumbuhan yang digunakan untuk membuat sawen yaitu daun darangdan, sulangkar, kitetel, haur kuning, hanjuang, pungpulutan, sadagori, jukut rane, palias, daun kawung dan ijuk.

Rangkaian pelaksanaan nyawen dimulai setelah sholat duhur, sekitar jam 13.00 hingga selesai. Pertama sawen dibuat terlebih dahulu, lalu masyarakat membawanya ke tempat yang sudah disepakati untuk dikumpulkan ke balai dusun atau masjid oleh sesepuh. Jika sudah terkumpul, sesepuh adat akan memulai ritual pembacaan mantra dan doa-doa sambil membakar kemenyan terlebih dahulu.

Sawen yang sudah selesai didoakan, selanjutnya dapat dibagikan kembali pada orang-orang yang membuatnya. Lalu disimpan atau dipasangkan di atas pintu dan bisa ditaruh di kandang Hewan peliharaan. Tiap selesai melakukan tradisi nyawen, masyarakat pasti menyiapkan sesajen. Adanya sesajen itu sangat penting sebagai bagian dari pelaksanaan ritual.

Pelaksanaan makan bersama saat Tradisi Nyawen. (Sumber: images.pexels.com | Foto: Ruyat Supriazi)
Pelaksanaan makan bersama saat Tradisi Nyawen. (Sumber: images.pexels.com | Foto: Ruyat Supriazi)

Kegiatan nyawen selesai sekitar jam 18.00 menjelang magrib, masyarakat akan mengadakan syukuran (hamin) sebagai bentuk ungkapan rasa syukur dan harapan dalam menyambut tahun baru yang sebelumnya telah membuat sawen. Syukuran ini diisi dengan doa bersama yang dihadiri masyarakat, sesepuh adat dan tokoh masyarakat.

Lalu diakhiri pula dengan masyarakat dengan saling bertukar makanan, yang bisa dinikmati bersama. Makanan yang dibawa masyarakat yaitu berupa nasi, lauk pauk, cemilan seperti kue dan air putih. Dengan adanya syukuran ini, diharapkan agar selama satu tahun ke depan masyarakat dan lingkungannya diberi keselamatan dan keberkahan.

Makna Filosofis

Setiap tradisi pasti mengandung makna yang mendalam pada setiap rangkaian proses pelaksanaannya. Makna ini sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat dan menjadi pedoman sikap serta perilaku manusia yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat dengan orientasi budayanya yang khas.

Jika masyarakat tidak mengetahui makna dan tujuan suatu tradisi, dikhawatirkan tradisi tersebut akan hilang seiring berjalannya waktu, karena setiap simbol pelaksanaan suatu tradisi itu mengandung makna filosofis. Makna ini muncul berdasarkan pengalaman hidup seseorang atau sekelompok orang yang memiliki pengalaman yang sama, dan juga muncul atas kesepakatan bersama.

Tradisi nyawen merupakan adat istiadat warisan leluhur yang masih terus dilestarikan masyarakat Bingkeng secara turun-temurun. Tradisi ini dilakukan bertepatan dengan tahun baru Islam, yakni pada penanggalan awal bulan Muharram. Tujuannya adalah untuk menjaga keselamatan warga masyarakat dan lingkungannya selama satu tahun penuh dari marabahaya (tolak bala).

Bentuk tradisi nyawen di Desa Bingkeng merupakan hasil akulturasi dari kepercayaan tradisional masyarakat disana dengan tradisi Islam, yang di mana pelaksanaannya dilakukan untuk menyambut tahun baru Islam. Proses awalnya itu mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan untuk membuat sawen, lalu dikumpulkan ke tempat yang telah disepakati untuk dibacakan doa-doa oleh sesepuh adat lalu sawen dibagikan kembali. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

ANGELICA SUCI AL ISLAMI BAHTIAR
Saya Angelica Suci Al Islami Bahtiar seorang mahasiswi S1 Universitas Padjadjaran Fakultas Ilmu Budaya Program Studi Ilmu Sejarah.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Jul 2026, 18:04

Cara Ampuh Menerangi Jalan Kota Bandung

Menindak tegas begal bukan sekadar menjadi program tapi melanjutkan keluhan masyarakat yang diprioritaskan

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 15:30

Mafia Olahraga, Sebuah Stigma Menakutkan

Olahraga yang seharusnya menjadi ruang sportivitas kini dihantui oleh mafia yang terhubung dengan jaringan global.

Uang rupiah. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Wisata & Kuliner 19 Jul 2026, 14:01

Keripik Paru Klaten, Oleh-oleh Gurih Legendaris dari Kampung Tegal Kepatihan

Dari Kampung Tegal Kepatihan hingga dikenal luas, Keripik Paru Klaten menjadi ikon kuliner khas. Ketahui sejarah, proses, dan tempat membelinya.

Keripik Paru Klaten.
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 11:33

Marak Begal, Gangster, dan Matel Menelan Korban, Warga Bandung Pertanyakan Aksi Walikota dan Aparat

Bandung darurat 'Red Zone' akibat maraknya begal, gangster, dan matel yang menelan banyak korban.

Senjata Tajam. (Sumber: Pixabay/KhanaBadosh | Foto: Pixabay/KhanaBadosh)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 08:00

Ketika Deru Knalpot dan Distorsi Musik Menyatukan Ribuan Pecinta Otomotif Bandung

Seri pembuka Kejurnas Slalom MLDSPOT Autokhana 2026 sukses mengguncang GOR Arcamanik Bandung.

Gate masuk event MLDSPOT Autokhana, pada 11 Juli 2026 (Sumber: Athhar Jundi Pratama Attaqa | Foto: Athhar Jundi Pratama Attaqa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 07:50

Mengembalikan Fungsi Bandara Husein Bukan Romantisme Masa Lalu

Keberhasilan reaktivasi Bandara Husein pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh hari pertama operasional, melainkan oleh apa yang terjadi berbulan-bulan setelahnya.

Petugas Avsec melakukan patroli di pintu keberangkatan domestik Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 21:21

Panduan Wisata ke Kawah Ijen Banyuwangi: Blue Fire, Tiket, dan Tips Lengkap

Panduan lengkap wisata Kawah Ijen Banyuwangi, mulai harga tiket 2025, fenomena Blue Fire, rute pendakian, jam terbaik, hingga tips agar perjalanan lebih aman.

Kawah Ijen Banyuwangi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 20:15

Luka, Algoritma, dan Dogma

Luka hanya dapat disembuhkan oleh kepedulian, algoritma dapat diimbangi dengan literasi, dan rapuhnya interaksi sosial hanya dapat dipulihkan saat kita meluangkan waktu untuk benar-benar hadir bersama

Kita tidak akan sepenuhnya paham bagaimana rasanya di-bully, sebelum kita merasakan sendiri dampaknya. (Sumber: Unsplash/Carolina)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 15:18

Revolusi Perancis dan Bandung Nol Kilometer

Revolusi Prancis berawal dari penjara Bastille tahun 1789 telah membuat perubahan besar hak asasi manusia juga mempengaruhi perkembangan Bandung.

Monumen titik nol kilometer Kota Bandung diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada 18 Mei 2004 dan didedikasikan untuk masyarakat Priangan korban kerja paksa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Anya Dellanita)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)