Provinsi Jawa Tengah tepatnya di Kabupaten Cilacap bagian barat adalah salah satu wilayah yang masyarakatnya merupakan percampuran antara suku Jawa dan Sunda. Dilihat juga dari latar belakang sejarah dan budaya kedua suku tersebut, tentunya suku Jawa dan Sunda mempunyai struktur sosial yang berbeda.
Namun dalam hal budaya itu mereka membentuk keragaman budaya yang memiliki ciri khas dan dapat berkembang lalu dilestarikan secara turun-temurun, walaupun secara administratif wilayahnya terpisah. Bentuk dari silang budaya tersebut berwujud tradisi nyawen masyarakat Bingkeng yang memiliki ciri khas tersendiri, di mana budaya sunda lebih dominan di dalamnya.
Desa Bingkeng memiliki salah satu tradisi yang masih dilestarikan yaitu nyawen, kegiatan ini sudah ada sejak zaman dahulu dan dilaksanakan secara turun-temurun. Diperkirakan tradisi ini berasal dari zaman Wali Songo sekitar abad ke-16, tetapi jika dilihat dari perlengkapan yang digunakan dan proses ritual itu diduga berasal dari zaman Hindu Budha.
Tradisi nyawen merupakan adat kebiasaan untuk memasang sawen sebagai pelindung dan penanda kepemilikan. Sawen merupakan benda atau tanda yang memiliki jenis lalu diletakkan pada suatu tempat guna menunjukkan pesan tertentu, jenis ini terbuat dari dedaunan atau tumbuh-tumbuhan seperti janur, daun kawung dan hanjuang. Sawen juga adalah simbol penolak bala dan penanda untuk suatu tempat atau wilayah guna menunjukkan kepemilikan.
Dilakukannya Tradisi nyawen bertujuan untuk menjaga keselamatan atau tolak bala bagi masyarakat Desa Bingkeng. Sebelum Tradisi Nyawen dilakukan, kegiatan ini dimulai dengan menyiapkan segala perlengkapan untuk membuat sawen, karena inti utama dari tradisi ini adalah adanya sawen itu sendiri.
Sawen merupakan penanda atau ciri yang dipercaya dapat menangkal marabahaya, bentuk sawen itu berupa gulungan berisi tumbuhan tertentu. Tidak ada alasan khusus mengapa hanya tumbuhan tertentu saja yang dijadikan syarat untuk menyusun sawen, karena adat bahwa tumbuh-tumbuhan yang digunakan untuk sawen itu memang sudah dipakai turun-temurun.
Pelaksanaan Tradisi Nyawen
Tradisi nyawen dilaksanakan untuk menyambut datangnya bulan Muharram, bulan ini dianggap suci dan sakral oleh umat Islam sehingga menjadikannya sebagai bulan yang baik untuk melakukan evaluasi diri, dan mengutarakan rasa syukur kepada Allah SWT. Pada dasarnya, pelaksanaan nyawen itu bersifat rutin dan insidental.
Maksud dari rutinitas dalam nyawen itu adalah dilakukannya nyawen secara teratur dan terus-menerus, dilaksanakan setiap menjelang 1 Muharram tiap tahun. Sedangkan nyawen insidental atau kondisional itu merupakan nyawen yang dilakukan saat terjadi suatu bencana atau wabah (pageblug) dan ketika ada rumah yang baru selesai dibangun.
Sebelum melaksanakan ritual nyawen, biasanya sesepuh adat akan menentukan kapan dilaksanakannya acara tersebut, yakni dengan memperhatikan hari jatuhnya 1 Muharram karena ada hari tertentu yang kurang baik (naas) untuk melakukan ritual. Apabila 1 Muharram jatuh bertepatan hari selasa atau sabtu, maka pelaksanaan nyawen harus dilakukan sebelum hari tersebut.
Setelah menentukan waktu pelaksanaannya, masyarakat mulai mengumpulkan perlengkapan yang dibutuhkan. Adapun tumbuhan yang digunakan untuk membuat sawen yaitu daun darangdan, sulangkar, kitetel, haur kuning, hanjuang, pungpulutan, sadagori, jukut rane, palias, daun kawung dan ijuk.
Rangkaian pelaksanaan nyawen dimulai setelah sholat duhur, sekitar jam 13.00 hingga selesai. Pertama sawen dibuat terlebih dahulu, lalu masyarakat membawanya ke tempat yang sudah disepakati untuk dikumpulkan ke balai dusun atau masjid oleh sesepuh. Jika sudah terkumpul, sesepuh adat akan memulai ritual pembacaan mantra dan doa-doa sambil membakar kemenyan terlebih dahulu.
Sawen yang sudah selesai didoakan, selanjutnya dapat dibagikan kembali pada orang-orang yang membuatnya. Lalu disimpan atau dipasangkan di atas pintu dan bisa ditaruh di kandang Hewan peliharaan. Tiap selesai melakukan tradisi nyawen, masyarakat pasti menyiapkan sesajen. Adanya sesajen itu sangat penting sebagai bagian dari pelaksanaan ritual.

Kegiatan nyawen selesai sekitar jam 18.00 menjelang magrib, masyarakat akan mengadakan syukuran (hamin) sebagai bentuk ungkapan rasa syukur dan harapan dalam menyambut tahun baru yang sebelumnya telah membuat sawen. Syukuran ini diisi dengan doa bersama yang dihadiri masyarakat, sesepuh adat dan tokoh masyarakat.
Lalu diakhiri pula dengan masyarakat dengan saling bertukar makanan, yang bisa dinikmati bersama. Makanan yang dibawa masyarakat yaitu berupa nasi, lauk pauk, cemilan seperti kue dan air putih. Dengan adanya syukuran ini, diharapkan agar selama satu tahun ke depan masyarakat dan lingkungannya diberi keselamatan dan keberkahan.
Makna Filosofis
Setiap tradisi pasti mengandung makna yang mendalam pada setiap rangkaian proses pelaksanaannya. Makna ini sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat dan menjadi pedoman sikap serta perilaku manusia yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat dengan orientasi budayanya yang khas.
Jika masyarakat tidak mengetahui makna dan tujuan suatu tradisi, dikhawatirkan tradisi tersebut akan hilang seiring berjalannya waktu, karena setiap simbol pelaksanaan suatu tradisi itu mengandung makna filosofis. Makna ini muncul berdasarkan pengalaman hidup seseorang atau sekelompok orang yang memiliki pengalaman yang sama, dan juga muncul atas kesepakatan bersama.
Tradisi nyawen merupakan adat istiadat warisan leluhur yang masih terus dilestarikan masyarakat Bingkeng secara turun-temurun. Tradisi ini dilakukan bertepatan dengan tahun baru Islam, yakni pada penanggalan awal bulan Muharram. Tujuannya adalah untuk menjaga keselamatan warga masyarakat dan lingkungannya selama satu tahun penuh dari marabahaya (tolak bala).

Bentuk tradisi nyawen di Desa Bingkeng merupakan hasil akulturasi dari kepercayaan tradisional masyarakat disana dengan tradisi Islam, yang di mana pelaksanaannya dilakukan untuk menyambut tahun baru Islam. Proses awalnya itu mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan untuk membuat sawen, lalu dikumpulkan ke tempat yang telah disepakati untuk dibacakan doa-doa oleh sesepuh adat lalu sawen dibagikan kembali. (*)
