Mengetahui Pelaksanaan Tradisi Nyawen dan Makna Filosofisnya

4 menit baca
ANGELICA SUCI AL ISLAMI BAHTIAR
Ditulis oleh ANGELICA SUCI AL ISLAMI BAHTIAR diterbitkan Selasa 09 Jun 2026, 08:45 WIB
Mengetahui pelaksanaan Tradisi Nyawen. (Sumber: images.pexels.com | Foto: Kevin Yung)

Mengetahui pelaksanaan Tradisi Nyawen. (Sumber: images.pexels.com | Foto: Kevin Yung)

Provinsi Jawa Tengah tepatnya di Kabupaten Cilacap bagian barat adalah salah satu wilayah yang masyarakatnya merupakan percampuran antara suku Jawa dan Sunda. Dilihat juga dari latar belakang sejarah dan budaya kedua suku tersebut, tentunya suku Jawa dan Sunda mempunyai struktur sosial yang berbeda.

Namun dalam hal budaya itu mereka membentuk keragaman budaya yang memiliki ciri khas dan dapat berkembang lalu dilestarikan secara turun-temurun, walaupun secara administratif wilayahnya terpisah. Bentuk dari silang budaya tersebut berwujud tradisi nyawen masyarakat Bingkeng yang memiliki ciri khas tersendiri, di mana budaya sunda lebih dominan di dalamnya.

Desa Bingkeng memiliki salah satu tradisi yang masih dilestarikan yaitu nyawen, kegiatan ini sudah ada sejak zaman dahulu dan dilaksanakan secara turun-temurun. Diperkirakan tradisi ini berasal dari zaman Wali Songo sekitar abad ke-16, tetapi jika dilihat dari perlengkapan yang digunakan dan proses ritual itu diduga berasal dari zaman Hindu Budha.

Tradisi nyawen merupakan adat kebiasaan untuk memasang sawen sebagai pelindung dan penanda kepemilikan. Sawen merupakan benda atau tanda yang memiliki jenis lalu diletakkan pada suatu tempat guna menunjukkan pesan tertentu, jenis ini terbuat dari dedaunan atau tumbuh-tumbuhan seperti janur, daun kawung dan hanjuang. Sawen juga adalah simbol penolak bala dan penanda untuk suatu tempat atau wilayah guna menunjukkan kepemilikan.

Dilakukannya Tradisi nyawen bertujuan untuk menjaga keselamatan atau tolak bala bagi masyarakat Desa Bingkeng. Sebelum Tradisi Nyawen dilakukan, kegiatan ini dimulai dengan menyiapkan segala perlengkapan untuk membuat sawen, karena inti utama dari tradisi ini adalah adanya sawen itu sendiri.

Sawen merupakan penanda atau ciri yang dipercaya dapat menangkal marabahaya, bentuk sawen itu berupa gulungan berisi tumbuhan tertentu. Tidak ada alasan khusus mengapa hanya tumbuhan tertentu saja yang dijadikan syarat untuk menyusun sawen, karena adat bahwa tumbuh-tumbuhan yang digunakan untuk sawen itu memang sudah dipakai turun-temurun.

Pelaksanaan Tradisi Nyawen

Tradisi nyawen dilaksanakan untuk menyambut datangnya bulan Muharram, bulan ini dianggap suci dan sakral oleh umat Islam sehingga menjadikannya sebagai bulan yang baik untuk melakukan evaluasi diri, dan mengutarakan rasa syukur kepada Allah SWT. Pada dasarnya, pelaksanaan nyawen itu bersifat rutin dan insidental.

Maksud dari rutinitas dalam nyawen itu adalah dilakukannya nyawen secara teratur dan terus-menerus, dilaksanakan setiap menjelang 1 Muharram tiap tahun. Sedangkan nyawen insidental atau kondisional itu merupakan nyawen yang dilakukan saat terjadi suatu bencana atau wabah (pageblug) dan ketika ada rumah yang baru selesai dibangun.

Sebelum melaksanakan ritual nyawen, biasanya sesepuh adat akan menentukan kapan dilaksanakannya acara tersebut, yakni dengan memperhatikan hari jatuhnya 1 Muharram karena ada hari tertentu yang kurang baik (naas) untuk melakukan ritual. Apabila 1 Muharram jatuh bertepatan hari selasa atau sabtu, maka pelaksanaan nyawen harus dilakukan sebelum hari tersebut.

Setelah menentukan waktu pelaksanaannya, masyarakat mulai mengumpulkan perlengkapan yang dibutuhkan. Adapun tumbuhan yang digunakan untuk membuat sawen yaitu daun darangdan, sulangkar, kitetel, haur kuning, hanjuang, pungpulutan, sadagori, jukut rane, palias, daun kawung dan ijuk.

Rangkaian pelaksanaan nyawen dimulai setelah sholat duhur, sekitar jam 13.00 hingga selesai. Pertama sawen dibuat terlebih dahulu, lalu masyarakat membawanya ke tempat yang sudah disepakati untuk dikumpulkan ke balai dusun atau masjid oleh sesepuh. Jika sudah terkumpul, sesepuh adat akan memulai ritual pembacaan mantra dan doa-doa sambil membakar kemenyan terlebih dahulu.

Sawen yang sudah selesai didoakan, selanjutnya dapat dibagikan kembali pada orang-orang yang membuatnya. Lalu disimpan atau dipasangkan di atas pintu dan bisa ditaruh di kandang Hewan peliharaan. Tiap selesai melakukan tradisi nyawen, masyarakat pasti menyiapkan sesajen. Adanya sesajen itu sangat penting sebagai bagian dari pelaksanaan ritual.

Pelaksanaan makan bersama saat Tradisi Nyawen. (Sumber: images.pexels.com | Foto: Ruyat Supriazi)
Pelaksanaan makan bersama saat Tradisi Nyawen. (Sumber: images.pexels.com | Foto: Ruyat Supriazi)

Kegiatan nyawen selesai sekitar jam 18.00 menjelang magrib, masyarakat akan mengadakan syukuran (hamin) sebagai bentuk ungkapan rasa syukur dan harapan dalam menyambut tahun baru yang sebelumnya telah membuat sawen. Syukuran ini diisi dengan doa bersama yang dihadiri masyarakat, sesepuh adat dan tokoh masyarakat.

Lalu diakhiri pula dengan masyarakat dengan saling bertukar makanan, yang bisa dinikmati bersama. Makanan yang dibawa masyarakat yaitu berupa nasi, lauk pauk, cemilan seperti kue dan air putih. Dengan adanya syukuran ini, diharapkan agar selama satu tahun ke depan masyarakat dan lingkungannya diberi keselamatan dan keberkahan.

Makna Filosofis

Setiap tradisi pasti mengandung makna yang mendalam pada setiap rangkaian proses pelaksanaannya. Makna ini sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat dan menjadi pedoman sikap serta perilaku manusia yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat dengan orientasi budayanya yang khas.

Jika masyarakat tidak mengetahui makna dan tujuan suatu tradisi, dikhawatirkan tradisi tersebut akan hilang seiring berjalannya waktu, karena setiap simbol pelaksanaan suatu tradisi itu mengandung makna filosofis. Makna ini muncul berdasarkan pengalaman hidup seseorang atau sekelompok orang yang memiliki pengalaman yang sama, dan juga muncul atas kesepakatan bersama.

Tradisi nyawen merupakan adat istiadat warisan leluhur yang masih terus dilestarikan masyarakat Bingkeng secara turun-temurun. Tradisi ini dilakukan bertepatan dengan tahun baru Islam, yakni pada penanggalan awal bulan Muharram. Tujuannya adalah untuk menjaga keselamatan warga masyarakat dan lingkungannya selama satu tahun penuh dari marabahaya (tolak bala).

Bentuk tradisi nyawen di Desa Bingkeng merupakan hasil akulturasi dari kepercayaan tradisional masyarakat disana dengan tradisi Islam, yang di mana pelaksanaannya dilakukan untuk menyambut tahun baru Islam. Proses awalnya itu mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan untuk membuat sawen, lalu dikumpulkan ke tempat yang telah disepakati untuk dibacakan doa-doa oleh sesepuh adat lalu sawen dibagikan kembali. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

ANGELICA SUCI AL ISLAMI BAHTIAR
Saya Angelica Suci Al Islami Bahtiar seorang mahasiswi S1 Universitas Padjadjaran Fakultas Ilmu Budaya Program Studi Ilmu Sejarah.

Berita Terkait

News Update

Beranda 13 Jun 2026, 09:16

Mengupas Kebiasaan Belanja Baju yang Menjadi Ancaman Lingkungan

Pemutaran film Menolak Punah di Bandung mengungkap dampak tersembunyi industri fast fashion, dari limbah tekstil hingga ancaman mikroplastik bagi manusia.

Diskusi film Menolak Punah di Tjap Sahabat Bandung mengajak peserta melihat kembali hubungan antara isi lemari dan krisis lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 20:23

Kenaikan Harga BBM, Peningkatan Biaya Operasional Kendaraan, dan Peluang Perpindahan Moda Transportasi

Kenaikan harga BBM meningkatkan biaya operasional kendaraan dan membuka peluang perpindahan moda transportasi, asalkan didukung dengan angkutan umum yang berkualitas.

Kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamina jenis Pertamax (RON 92) per 10 Juni 2026. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 19:34

Dari Tjilakiplein ke Taman Lansia Kota Bandung

Perkembangan Taman Lansia dari masa Kolonial Belanda hingga masa kini yang menjadi taman ramah bagi lanjut usia yang inklusif.

Warga saat berada di Taman Lansia, Kota Bandung, Jumat 30 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 18:11

CRISPR-Cas9: Teknologi Penghasil Beras Unggul yang Dikembangkan Peneliti di China

Bisakah padi lokal yang berbulir kecil “diubah” menjadi bulir panjang? Pertanyaan ini mungkin terlihat seperti fiksi ilmiah.

Ilustrasi beras bulir panjang bersih dan minim zat kapur. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 17:17

Urgensi Drone untuk Mitigasi dan Penanggulangan Gempa

Pemerintah pusat dan daerah perlu bekerja sama dengan industri drone yang sudah memiliki sertifikasi atau mendapatkan pengesahan Design Organization Approval (DOA).

Ilustrasi drone untuk menanggulangi bencana gempa bumi. (Sumber: Meta AI | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 12 Jun 2026, 16:46

Itinerary Wisata Bandung 1–2 Hari, Jelajah Kota Kembang dalam Dua Zona yang Berbeda

Panduan itinerary Bandung 1–2 hari dengan rute wisata pusat kota dan Lembang. Cocok untuk liburan singkat tanpa menghabiskan banyak waktu di jalan.

Suasana Bandung dari ketinggian. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 16:16

Banjir Bandung: Bencana Kebijakan, Bukan Bencana Alam

Banjir tahunan di Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang sudah bukan kejutan lagi, banjir datang setiap musim hujan, dan merendam puluhan ribu jiwa.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 15:32

Bojongmalaka, Tanjung yang Ditumbuhi Pohon Malaka

Pohon malaka itu batangnya bengkok-bengkok, tingginya antara 10 m sampai 19m.

Pohon malaka yang sedang berbuah lebat di puncak Gunung Pipisan di Desa Pinggirsari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. (Foto: Ganjar Wigun)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 14:47

Disabilitas Antara Kemanusiaan dan Egaliter

Kaum disabilitas acapkali hanya dijadikan jargon politik, bahwa manusia adalah setara.

Komunitas atlet disabilitas yang tergabung dalam National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) di acara Bandung Communication Run, Minggu, 28 Desember 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 13:21

Mandi Kembang sebagai Cara Perempuan Masa Kini Mengapresiasi Tubuh

Tren amandazahraism sebagai sarana pelestarian budaya, menjadikan mandi bunga yang dulunya dianggap mistis dan kolot sebagai bentuk self-care.

Ilustrasi mandi kembang. (Sumber: "Spa in DVN" by Dennis Wong)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 13:09

Mengenal Dunia Pelayanan Sosial Melalui Magang Berdampak

Mahasiswa Pendidikan Masyarakat UPI melaksanakan Program Magang Mandiri Berdampak di Dinas Sosial Kota Bandung.

Kegiatan Penjemputan Mahasiswa Magang oleh Pihak Kampus & Pihak Mitra.
Ikon 12 Jun 2026, 10:50

Ubertos Mall di Timur Kota Bandung yang Mengalami Pasang Surut

Perjalanan Ubertos dari era BTP, sempat bangkit usai rebranding lalu kembali menghadapi penurunan.

Ubertos Mall. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 10:19

Ketika Makan Sehat Menjadi Kemewahan

Meski “Isi Piringku” menjadi pedoman gizi seimbang, penerapannya masih terhambat oleh keterbatasan ekonomi, rendahnya literasi gizi, dan akses pangan sehat yang belum merata.

 (Sumber: Ayo Sehat - Kemenkes)
Beranda 12 Jun 2026, 09:55

Potret Gejolak Ekonomi, Nestapa Ojol hingga Perajin Tahu Tempe di Bandung

Potret gejolak ekonomi di Bandung, dari ojol yang terbebani kenaikan harga BBM hingga perajin tahu tempe yang terjepit mahalnya kedelai impor akibat pelemahan rupiah.

Kenaikan harga kedelai impor membuat keuntungan perajin tahu dan tempe terus menyusut. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 09:42

Sejarah SS1 Sebagai Senapan Utama Tni dan Simbol Nation Building

Melihat sejarah adopsi senapan utama TNI yang digunakan hingga sekarang.

SS1-V2 (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 09:00

Kecemasan Mahasiswa Perantau, Kenaikan BBM Memicu Efek Domino

Kenaikan harga BBM di Cirebon memicu kecemasan di kalangan mahasiswa,terutama yang merantau.

Illustrasi. (Sumber AI)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 08:37

Mengulik Sejarah Benteng Vastenburg dan Perkembangannya Menjadi Tempat Rekreasi

Benteng Vastenburg dahulu hampir menjadi benteng yang terbengkalai.

 (Sumber: sinar.big.go.id)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 20:52

Moro Langlayangan

Layangan yang tersangkut di atap jemuran rumah sore itu. Bila bagi seorang anak, hanyalah galabag yang berhasil didapatkan.

Anak-anak bermain layangan di atas rel kereta api Jalan Laswi (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 11 Jun 2026, 20:34

Edukasi Tata Kelola Kopi, Bekali Kopi Dampingi Petani di Lembang Tanpa Beli Lahan

Bekali Kopi hadir mendampingi petani kopi di Pasir Angling, Lembang, melalui edukasi tata kelola dan pengolahan hasil panen tanpa harus membeli lahan mereka.

Bekali Kopi hadir mendampingi petani kopi di Pasir Angling, Lembang, melalui edukasi tata kelola dan pengolahan hasil panen tanpa harus membeli lahan mereka. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 19:47

Dari Jalan Pos, Pecinan, dan Wisata Kuliner: Lapisan Waktu di Surya Kencana

Surya Kencana berawal dari jalur pos kolonial, kampung dagang Tionghoa, hingga destinasi kuliner yang tak pernah tidur.

Potret Suryakencana pada malam hari. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)