Jejak Bahasa, Dakwah, dan Tradisi Lebaran di Jawa dalam Kata ‘Ketupat

5 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Warga menganyam daun kelapa menjadi cangkang ketupat di kawasan Blok Ketupat, Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Warga menganyam daun kelapa menjadi cangkang ketupat di kawasan Blok Ketupat, Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Setiap Lebaran, ketupat hadir bukan hanya di meja makan, tetapi juga di depan rumah dan tergantung dalam anyaman janur yang khas. Ia tampak sederhana: beras yang dimasak dalam bungkus daun kelapa muda. Namun di balik bentuknya yang padat, ketupat menyimpan lapisan makna yang jauh lebih kompleks.

Pertanyaannya, sejak kapan ketupat menjadi simbol Idul Fitri? Dan benarkah kata “kupat” berasal dari “ngaku lepat”alias mengakui kesalahan?

Jawabannya tidak tunggal. Ia berada di persimpangan antara bahasa, budaya, dan sejarah panjang islamisasi di Jawa.

Ketupat bukan bagian dari ajaran normatif Islam. Ia tidak ditemukan dalam praktik keagamaan di Timur Tengah. Sebaliknya, ketupat tumbuh sebagai tradisi lokal di Nusantara, terutama di Jawa.

Dalam perspektif antropologi, fenomena ini menunjukkan bahwa agama selalu hadir melalui medium budaya. Clifford Geertz dalam The Religion of Java menjelaskan bahwa praktik keagamaan di Jawa merupakan hasil percampuran antara ajaran Islam dengan tradisi lokal. Islam, dalam konteks ini, tidak hadir sebagai sistem yang sepenuhnya menggantikan budaya lama, melainkan bernegosiasi dengannya.

Ketupat menjadi salah satu wujud konkret dari proses tersebut. Sebuah tradisi lokal yang kemudian dilekatkan pada momen religius Idul Fitri.

Dakwah Kultural Sunan Kalijaga

Sejarah ketupat kerap dikaitkan dengan peran Sunan Kalijaga, tokoh Wali Songo yang dikenal menggunakan pendekatan budaya dalam menyebarkan Islam di Jawa.

Alih-alih menolak tradisi yang sudah ada, ia justru mengadaptasinya. Dalam kajian tentang dakwah kultural, pendekatan ini dipahami sebagai strategi untuk menjembatani nilai-nilai Islam dengan praktik sosial masyarakat. Abbas et al. (2023), misalnya, menunjukkan bahwa dakwah Sunan Kalijaga banyak menggunakan simbol budaya sebagai medium komunikasi.

Ketupat, dalam konteks ini, berfungsi sebagai simbol atau cara menyampaikan ajaran tanpa konfrontasi. Ia menjadi bahasa kultural yang mudah dipahami masyarakat.

Penjelasan populer menyebut bahwa “kupat” berasal dari frasa “ngaku lepat”, yang berarti mengakui kesalahan. Makna ini selaras dengan praktik Lebaran di Indonesia, di mana saling memaafkan menjadi ritual utama.

Namun, dari sudut pandang linguistik, hubungan ini tidak bisa diterima begitu saja sebagai asal-usul kata yang historis. Ketupan lebih tepat dipahami sebagai folk etymology atau penafsiran masyarakat yang menghubungkan bunyi kata dengan makna tertentu untuk memperkuat pesan budaya.

Dalam kajian antropologi linguistik, seperti ditunjukkan oleh Maghfiroh dan Nurhayati (2023), makna simbolik dalam tradisi ketupat memang tidak selalu berasal dari struktur bahasa yang objektif, melainkan dari kesepakatan sosial yang hidup di masyarakat.

Dengan kata lain, “kupat” menjadi bermakna “ngaku lepat” bukan karena sejarah bahasanya, tetapi karena fungsi simboliknya dalam konteks Lebaran.

Warga menganyam daun kelapa menjadi cangkang ketupat di kawasan Blok Ketupat, Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Warga menganyam daun kelapa menjadi cangkang ketupat di kawasan Blok Ketupat, Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ketupat bukan sekadar satu simbol, melainkan bagian dari sistem makna yang lebih luas.

Dalam perspektif semiotika budaya, seperti dijelaskan oleh Sofianti (2024), tradisi ketupat dapat dibaca sebagai rangkaian tanda yang saling berkaitan. Anyaman janur yang rumit sering dimaknai sebagai representasi dari kesalahan manusia yang kompleks. Sementara bagian dalamnya—beras putih yang telah matang—melambangkan kesucian setelah proses pembersihan.

Penafsiran ini sejalan dengan pandangan Koentjaraningrat yang melihat budaya sebagai sistem makna yang diwujudkan dalam simbol-simbol. Dalam konteks Jawa, sebagaimana dijelaskan oleh Benedictus Herusatoto, simbol sering kali hadir dalam bentuk benda sehari-hari, termasuk makanan.

Ketupat, dengan demikian, bukan hanya makanan, melainkan teks budaya yang bisa “dibaca”.

Dari Simbol ke Ritual Sosial

Makna ketupat tidak berhenti pada level simbolik. Ia juga hadir dalam praktik sosial, seperti tradisi Lebaran Ketupat atau Bakda Kupat yang dirayakan sekitar sepekan setelah Idul Fitri.

Dalam kerangka sosial-ekonomi, praktik ini memiliki fungsi penting. Ketupat tidak hanya dikonsumsi, tetapi juga dibagikan kepada tetangga dan kerabat. Ini menciptakan mekanisme distribusi makanan yang memperkuat solidaritas sosial.

M. C. Ricklefs dalam kajiannya tentang islamisasi Jawa menekankan bahwa praktik keagamaan sering kali berkembang melalui institusi sosial semacam ini—bukan hanya melalui doktrin, tetapi melalui kebiasaan kolektif.

Ada indikasi bahwa ketupat telah dikenal sebelum kedatangan Islam di Jawa. Jika demikian, maka yang terjadi bukanlah penciptaan tradisi baru, melainkan reinterpretasi.

Fenomena ini sesuai dengan pola yang dijelaskan dalam berbagai studi tentang islamisasi Jawa: tradisi lama tidak dihapus, tetapi diberi makna baru agar selaras dengan nilai Islam.

Dengan cara ini, agama tidak datang sebagai kekuatan yang memutus masa lalu, tetapi sebagai proses yang merangkul dan menafsirkan ulang budaya yang sudah ada.

Baca Juga: Lebaran Ketupat: Melacak Akar Historis dari Era Jawa Kuno hingga Syiar Sunan Kalijaga

Pada akhirnya, ketupat adalah lebih dari sekadar hidangan Lebaran. Ia adalah hasil dari proses panjang—pertemuan antara bahasa, budaya, dan agama.

“Kupat” mungkin bukan berasal dari “ngaku lepat” dalam arti linguistik yang ketat. Namun, hubungan itu tetap bertahan karena bermakna secara sosial. Ia membantu masyarakat memahami Lebaran sebagai momen pengakuan, pengampunan, dan pembaruan diri.

Di balik anyaman janur, tersimpan cara masyarakat merundingkan agama melalui budaya. Ketupat menjadi bukti bahwa makna tidak selalu diwariskan secara langsung, tetapi dibangun, disepakati, dan terus dihidupkan dari generasi ke generasi. (*)

Daftar Pustaka

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Agu 2026, 19:39

Dari Uang Tunai ke Sekali Klik dalam Perubahan Perilaku Keuangan Mahasiswa

Peralihan ke dompet digital mempermudah transaksi mahasiswa, namun berisiko memicu perilaku konsumtif.

Kemudahan transaksi dompet digital melalui pemindaian kode QR semakin efisien dan dekat dengan aktivitas harian mahasiswa. (Sumber: Pexels/Pavel Danilyuk)
Linimasa 09 Agu 2026, 18:31

Hikayat Baju Pendakian Indonesia yang Biasa Digunakan Para Pecinta Alam

Flanel, celana PDL, jaket bulu angsa, dan sepatu tentara pernah menjadi ciri khas pendaki Indonesia sebelum era pakaian modern.

Ilustrasi pendaki gunung. (Sumber: Pixnio)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 15:43

Kibar Sang Merah Putih pun Tak Merdeka

Bendera memang sudah merdeka dari penjajahan. Tetapi apakah manusia yang mengibarkannya sudah benar-benar merasakan kemerdekaan?

Bendera merah putih di sekeliling Lapangan Lio Genteng, RW 05, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu 12 Agustus 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 12:05

Tanah, Makanan, dan Tempat

Timbal-balik antara alam dengan manusia, dan sebaliknya, khususnya tentang nama-nama batuan atau tanah yang dijadikan toponimi.

Camilan kue ladu, sangat populer di Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. (Sumber: T Bactiar)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 09:17

Hari Hutan Nasional: Menjadikan Hutan sebagai Rumah dan Harapan

Masih relevan kah peringatan Hari Hutan Nasional sekarang dengan kondisi ekologi hutan kita yang semakin gundul. Apakah pembangunan tidak menggunakan konsep lingkungan hidup yang sehat?

Siswa SD Darul Hikam Bandung memperingati Hari Bumi dengan aksi nyata menanam pohon di kawasan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 25 April 2024.  (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Wisata & Kuliner 09 Agu 2026, 09:03

Tamasya di Dadaha Tasikmalaya: Tempat Jogging, Wisata Kuliner, dan Rekreasi Keluarga

Dadaha menjadi destinasi favorit warga Tasikmalaya dengan lintasan jogging, taman bermain anak, kolam renang, dan Pasar Kojengkang yang selalu ramai.

Suasana di Kawasan Dadaha Tasikmalaya (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 07 Agu 2026, 15:20

Jelajah Sungai Cigerendong, Surga Tersembunyi di Dusun Cukanggaleuh Pangandaran

Jelajahi Sungai Cigerendong di Desa Parakanmanggu dengan air jernih berwarna toska, pepohonan rindang, dan suasana yang masih alami.

Sungai Cigerendong Pangandaran. (Sumber: TikTok @cigerendongpangandaran)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 13:53

Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan

Apakah masyarakat kita memang masih menonton film di bioskop dengan cara yang sama seperti sebelumnya?

Ilustrasi Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan. (Sumber: Mochamad Arbani)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 11:58

Cipatat dan Krisis Kesehatan yang Tak Terlihat

Negara wajib memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dibangun di atas kesehatan dan penderitaan masyarakat. 

Beberapa truk bayawak pengangkut batu kapur terparkir di wilayah Cipatat Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ananda)
Ikon 07 Agu 2026, 11:15

Alun-alun Kota Cimahi, Pusat Pertemuan antara Warga dengan Ojol

Alun-alun Kota Cimahi menjadi pusat aktivitas warga, tempat bersantai, berolahraga, hingga titik berkumpul para driver ojol.

Rindang, strategis, dan nyaman, Alun-alun Kota Cimahi menjadi ruang publik sekaligus titik berkumpul para driver ojol setiap hari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 08:40

Saat Pohon Tumbang dan Rasa Aman Dipertaruhkan

Bandung sedang menghadapi ujian besar. Ujian yang menuntut respons yang tegas, kolaboratif, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) melakukan pemangkasan sejumlah pohon di ruas jalan Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 20:09

Menyambut Hari Kemerdekaan 2026, Deretan Ide Tulisan dari Semangat Kemerdekaan hingga Dinamika Kota Bandung

Tema tulisan tetap tidak dibatasi. Selama relevan dengan isu yang berkembang, setiap penulis bebas menentukan sudut pandang yang ingin diangkat.

Warga Kampung Pengkolan Pasang Bendera Merah Putih Sepanjang 540 Meter pada tahun 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 18:33

Rahasia Komunikasi Digital yang Bikin Sebuah Merek Kecantikan Mudah Diingat

Menganalisis komunikasi iklan melalui website resmi dan media sosial Instagram yang menunjukkan adanya upaya perusahaan dalam membangun komunikasi yang saling terhubung.

Ilustrasi komunikasi digital merek kecantikan.
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 18:07

Jelajah Gunung Salak Bogor: Pendakian, Kawah Ratu, Harga Tiket, dan Cara Booking Online

Panduan lengkap Gunung Salak mulai jalur pendakian, Kawah Ratu, harga tiket, booking online, hingga cara menuju kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Gunung Salak Bogor. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 16:17

Berita Yudha: Potret Sejarah dari Lembaran Surat Kabar Lawas

Kini, setelah 56 tahun berlalu, Berita Yudha tetap memiliki daya tarik yang kuat sebagai sumber sejarah.

Surat kabar Berita Yudha, salah satu harian berpengaruh pada era Orde Baru yang diterbitkan oleh TNI Angkatan Darat. (Sumber: Koleksi: Kin Sanubary)