Jejak Bahasa, Dakwah, dan Tradisi Lebaran di Jawa dalam Kata ‘Ketupat

Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Jumat 27 Mar 2026, 22:02 WIB
Warga menganyam daun kelapa menjadi cangkang ketupat di kawasan Blok Ketupat, Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Warga menganyam daun kelapa menjadi cangkang ketupat di kawasan Blok Ketupat, Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Setiap Lebaran, ketupat hadir bukan hanya di meja makan, tetapi juga di depan rumah dan tergantung dalam anyaman janur yang khas. Ia tampak sederhana: beras yang dimasak dalam bungkus daun kelapa muda. Namun di balik bentuknya yang padat, ketupat menyimpan lapisan makna yang jauh lebih kompleks.

Pertanyaannya, sejak kapan ketupat menjadi simbol Idul Fitri? Dan benarkah kata “kupat” berasal dari “ngaku lepat”alias mengakui kesalahan?

Jawabannya tidak tunggal. Ia berada di persimpangan antara bahasa, budaya, dan sejarah panjang islamisasi di Jawa.

Ketupat bukan bagian dari ajaran normatif Islam. Ia tidak ditemukan dalam praktik keagamaan di Timur Tengah. Sebaliknya, ketupat tumbuh sebagai tradisi lokal di Nusantara, terutama di Jawa.

Dalam perspektif antropologi, fenomena ini menunjukkan bahwa agama selalu hadir melalui medium budaya. Clifford Geertz dalam The Religion of Java menjelaskan bahwa praktik keagamaan di Jawa merupakan hasil percampuran antara ajaran Islam dengan tradisi lokal. Islam, dalam konteks ini, tidak hadir sebagai sistem yang sepenuhnya menggantikan budaya lama, melainkan bernegosiasi dengannya.

Ketupat menjadi salah satu wujud konkret dari proses tersebut. Sebuah tradisi lokal yang kemudian dilekatkan pada momen religius Idul Fitri.

Dakwah Kultural Sunan Kalijaga

Sejarah ketupat kerap dikaitkan dengan peran Sunan Kalijaga, tokoh Wali Songo yang dikenal menggunakan pendekatan budaya dalam menyebarkan Islam di Jawa.

Alih-alih menolak tradisi yang sudah ada, ia justru mengadaptasinya. Dalam kajian tentang dakwah kultural, pendekatan ini dipahami sebagai strategi untuk menjembatani nilai-nilai Islam dengan praktik sosial masyarakat. Abbas et al. (2023), misalnya, menunjukkan bahwa dakwah Sunan Kalijaga banyak menggunakan simbol budaya sebagai medium komunikasi.

Ketupat, dalam konteks ini, berfungsi sebagai simbol atau cara menyampaikan ajaran tanpa konfrontasi. Ia menjadi bahasa kultural yang mudah dipahami masyarakat.

Penjelasan populer menyebut bahwa “kupat” berasal dari frasa “ngaku lepat”, yang berarti mengakui kesalahan. Makna ini selaras dengan praktik Lebaran di Indonesia, di mana saling memaafkan menjadi ritual utama.

Namun, dari sudut pandang linguistik, hubungan ini tidak bisa diterima begitu saja sebagai asal-usul kata yang historis. Ketupan lebih tepat dipahami sebagai folk etymology atau penafsiran masyarakat yang menghubungkan bunyi kata dengan makna tertentu untuk memperkuat pesan budaya.

Dalam kajian antropologi linguistik, seperti ditunjukkan oleh Maghfiroh dan Nurhayati (2023), makna simbolik dalam tradisi ketupat memang tidak selalu berasal dari struktur bahasa yang objektif, melainkan dari kesepakatan sosial yang hidup di masyarakat.

Dengan kata lain, “kupat” menjadi bermakna “ngaku lepat” bukan karena sejarah bahasanya, tetapi karena fungsi simboliknya dalam konteks Lebaran.

Warga menganyam daun kelapa menjadi cangkang ketupat di kawasan Blok Ketupat, Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Warga menganyam daun kelapa menjadi cangkang ketupat di kawasan Blok Ketupat, Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ketupat bukan sekadar satu simbol, melainkan bagian dari sistem makna yang lebih luas.

Dalam perspektif semiotika budaya, seperti dijelaskan oleh Sofianti (2024), tradisi ketupat dapat dibaca sebagai rangkaian tanda yang saling berkaitan. Anyaman janur yang rumit sering dimaknai sebagai representasi dari kesalahan manusia yang kompleks. Sementara bagian dalamnya—beras putih yang telah matang—melambangkan kesucian setelah proses pembersihan.

Penafsiran ini sejalan dengan pandangan Koentjaraningrat yang melihat budaya sebagai sistem makna yang diwujudkan dalam simbol-simbol. Dalam konteks Jawa, sebagaimana dijelaskan oleh Benedictus Herusatoto, simbol sering kali hadir dalam bentuk benda sehari-hari, termasuk makanan.

Ketupat, dengan demikian, bukan hanya makanan, melainkan teks budaya yang bisa “dibaca”.

Dari Simbol ke Ritual Sosial

Makna ketupat tidak berhenti pada level simbolik. Ia juga hadir dalam praktik sosial, seperti tradisi Lebaran Ketupat atau Bakda Kupat yang dirayakan sekitar sepekan setelah Idul Fitri.

Dalam kerangka sosial-ekonomi, praktik ini memiliki fungsi penting. Ketupat tidak hanya dikonsumsi, tetapi juga dibagikan kepada tetangga dan kerabat. Ini menciptakan mekanisme distribusi makanan yang memperkuat solidaritas sosial.

M. C. Ricklefs dalam kajiannya tentang islamisasi Jawa menekankan bahwa praktik keagamaan sering kali berkembang melalui institusi sosial semacam ini—bukan hanya melalui doktrin, tetapi melalui kebiasaan kolektif.

Ada indikasi bahwa ketupat telah dikenal sebelum kedatangan Islam di Jawa. Jika demikian, maka yang terjadi bukanlah penciptaan tradisi baru, melainkan reinterpretasi.

Fenomena ini sesuai dengan pola yang dijelaskan dalam berbagai studi tentang islamisasi Jawa: tradisi lama tidak dihapus, tetapi diberi makna baru agar selaras dengan nilai Islam.

Dengan cara ini, agama tidak datang sebagai kekuatan yang memutus masa lalu, tetapi sebagai proses yang merangkul dan menafsirkan ulang budaya yang sudah ada.

Baca Juga: Lebaran Ketupat: Melacak Akar Historis dari Era Jawa Kuno hingga Syiar Sunan Kalijaga

Pada akhirnya, ketupat adalah lebih dari sekadar hidangan Lebaran. Ia adalah hasil dari proses panjang—pertemuan antara bahasa, budaya, dan agama.

“Kupat” mungkin bukan berasal dari “ngaku lepat” dalam arti linguistik yang ketat. Namun, hubungan itu tetap bertahan karena bermakna secara sosial. Ia membantu masyarakat memahami Lebaran sebagai momen pengakuan, pengampunan, dan pembaruan diri.

Di balik anyaman janur, tersimpan cara masyarakat merundingkan agama melalui budaya. Ketupat menjadi bukti bahwa makna tidak selalu diwariskan secara langsung, tetapi dibangun, disepakati, dan terus dihidupkan dari generasi ke generasi. (*)

Daftar Pustaka

Berita Terkait

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)