Di Cibadak, Warga Beda Agama Sudah Terbiasa Hidup Berdampingan Jauh Sebelum Ada Kampung Toleransi

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Senin 11 Mei 2026, 16:25 WIB
Asoey, pengurus Vihara Dharma Ramsi, merasakan kehidupan lintas agama di Astana Anyar berjalan alami lewat kebiasaan warga yang saling menghormati. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Asoey, pengurus Vihara Dharma Ramsi, merasakan kehidupan lintas agama di Astana Anyar berjalan alami lewat kebiasaan warga yang saling menghormati. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Astana Anyar menjadi salah satu wilayah dengan keberagaman agama paling menonjol di Kota Bandung. Berdasarkan data Profil Perkembangan Penduduk Kota Bandung 2025, sekitar 18,78 persen penduduk di kecamatan ini merupakan pemeluk agama non-Islam. Di Kelurahan Cibadak, keberagaman itu tampak nyata dalam kehidupan sehari-hari warga.

Di kawasan yang dikenal sebagai pecinan lama Kota Bandung itu, masjid, gereja, dan vihara berdiri berdekatan. Namun bagi warga setempat, kedekatan itu bukan sekadar soal jarak bangunan ibadah, melainkan hubungan sosial yang sudah terjalin lama.

“Kalau di Cibadak memang dari dulu sudah begini,” kata Lurah Cibadak, Dadan Suhendra, saat ditemui di kantornya, Sabtu 9 Mei 2026.

Menurut Dadan, budaya hidup berdampingan di wilayah tersebut sudah berlangsung jauh sebelum istilah “Kampung Toleransi” diresmikan Pemerintah Kota Bandung. Ia mengatakan, masyarakat di Cibadak terbiasa merayakan hari besar agama masing-masing dengan saling membantu.

“Kalau misalnya sekarang Imlek, warga muslim ikut membantu. Pas Idulfitri juga sama, mereka ikut menjaga supaya ibadah berjalan lancar. Jadi dari dulu memang sudah hidup berdampingan,” ujarnya.

Kelurahan Cibadak sendiri baru diresmikan sebagai Kampung Toleransi pada 2025. Namun bagi warga, peresmian itu hanya pengakuan formal terhadap kebiasaan yang sudah lama hidup.

Dadan menilai, salah satu faktor yang membuat toleransi di wilayah tersebut tetap terjaga adalah kedekatan antarwarga. Ia mengatakan masyarakat masih memiliki budaya saling mengenal dan saling menjaga, termasuk ketika ada warga yang mengalami kesulitan.

“Waktu Covid misalnya, dari gereja dan vihara ikut membantu membagikan sembako. Tapi bantuannya enggak melihat agama. Dibagikan ke semua warga yang membutuhkan,” katanya.

Ia mengatakan, salah satu tantangan terbesar menjaga kerukunan saat ini justru datang dari luar lingkungan warga sendiri, terutama isu-isu provokatif yang menyebar melalui media sosial.

“Kalau masyarakat sudah terpengaruh isu yang enggak benar, takutnya gampang pecah belah. Jadi yang paling penting itu jangan gampang terprovokasi,” ujarnya.

Bagi Lurah Cibadak Dadan Suhendra, keberagaman di wilayahnya bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bagi Lurah Cibadak Dadan Suhendra, keberagaman di wilayahnya bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Suasana Kampung Toleransi di Kelurahan Cibadak memperlihatkan kehidupan warga lintas agama yang hidup selaras berdampingan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Suasana Kampung Toleransi di Kelurahan Cibadak memperlihatkan kehidupan warga lintas agama yang hidup selaras berdampingan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)

Meski hidup di kawasan perkotaan, Dadan menilai budaya saling mengenal di lingkungan warga masih cukup kuat. Anak-anak muda di kawasan tersebut juga masih tumbuh dengan suasana keberagaman yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Saat perayaan Imlek misalnya, kawasan Cibadak selalu ramai dengan pertunjukan barongsai yang ditunggu warga.

“Anak-anak kecil di sini selalu nanya, ‘Ada barongsai enggak?’ Mereka senang karena sudah terbiasa melihat itu dari kecil,” katanya sambil tertawa.

Di kawasan Gang Ibu Aisah, praktik hidup berdampingan itu juga dirasakan langsung oleh Asoey, seorang umat Buddha yang sudah puluhan tahun aktif di Vihara Dharma Ramsi.

Sudah lebih dari 20 tahun ia membantu aktivitas di vihara tersebut. Hampir setiap hari ia datang untuk membersihkan area vihara, membantu persiapan sembahyang, atau sekadar berbincang dengan warga dan umat yang datang beribadah.

Bagi Asoey, kehidupan berdampingan di Astana Anyar bukan sesuatu yang dibuat-buat. Ia tumbuh dan hidup di lingkungan yang sejak lama dihuni masyarakat dengan latar belakang berbeda.

“Kalau di sini mah sudah biasa. Ada masjid, gereja, vihara berdekatan. Enggak pernah ada masalah,” katanya.

Pria berusia 71 tahun itu bercerita bahwa kehidupan lintas agama di wilayah Astana Anyar bukan sesuatu yang dibuat-buat. Baginya, hubungan antarumat beragama tumbuh secara alami karena warga terbiasa saling hadir dalam kehidupan sosial satu sama lain.

“Kalau ada yang meninggal, nonmuslim juga datang melayat. Kalau Lebaran, kita silaturahmi. Nanti kalau Waisak atau Imlek, warga lain juga datang lihat-lihat, ngobrol, bantu menjaga suasana,” katanya.

Ia mencontohkan bagaimana warga sekitar ikut menjaga keamanan dan ketertiban ketika vihara sedang mengadakan ritual besar. Sebaliknya, umat Buddha di kawasan itu juga menghormati kegiatan ibadah agama lain.

“Kalau ada khotbah di masjid masa kita ketawa-ketawa? Enggak sopan. Sama kalau di vihara lagi doa atau meditasi juga harus tenang. Jadi intinya saling menghormati saja,” ujarnya.

Bagi Asoey, toleransi bukan sekadar slogan, melainkan kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Ia mengingat bagaimana warga saling menjenguk ketika sakit, membantu menyelesaikan persoalan antartetangga, hingga saling mengingatkan agar konflik tidak melebar menjadi isu agama.

“Kalau ada orang ribut, jangan dibawa ke agama. Diselesaikan baik-baik. Karena kalau emosi, semua rugi. Kita ini tiap hari ketemu, ngobrol, nyapa,” katanya.

Di sela perbincangan, ia beberapa kali menekankan pentingnya menghormati sesama manusia sebelum berbicara soal agama.

“Kalau kita enggak baik sama tetangga, nanti orang juga enggak baik sama kita,” katanya.

Fam Kiun Fat menilai toleransi di Cibadak tumbuh dari kebiasaan warga yang saling hadir dan menjaga satu sama lain sejak lama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Fam Kiun Fat menilai toleransi di Cibadak tumbuh dari kebiasaan warga yang saling hadir dan menjaga satu sama lain sejak lama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Tak jauh dari vihara, suasana serupa juga dirasakan oleh Akiun atau Fam Kiun Fat, seorang tokoh Konghucu yang aktif dalam kegiatan lintas agama di Bandung.

Bagi pria berusia 60 tahun itu, kehidupan toleran di kawasan Cibadak memiliki akar sejarah panjang. Ia menyebut wilayah tersebut sejak lama menjadi kawasan pecinan yang dihuni masyarakat dengan latar belakang berbeda.

“Di sini dari dulu memang sudah campur. Vihara ada, gereja ada, masjid ada. Dan enggak pernah ada bentrokan karena agama,” katanya.

Namun perjalanan hidupnya membuat ia memahami bahwa situasi toleransi di Indonesia tidak selalu berjalan mudah. Akiun mengingat bagaimana masyarakat Tionghoa pernah mengalami pembatasan pada masa Orde Baru.

“Dulu Konghucu enggak boleh ditampilkan. Di KTP agama di-strip. Simbol Tionghoa juga enggak boleh muncul. Jadi kami pernah merasakan bagaimana rasialisme itu ada,” ujarnya.

Ia mengingat bagaimana masyarakat Tionghoa saat itu sering dipandang berbeda dan sulit mendapat ruang yang setara di masyarakat.

“Dulu orang Tionghoa enggak bisa jadi TNI, enggak bisa jadi Polri, enggak bisa bebas juga,” katanya.

Karena pengalaman itulah, ia merasa penting menjaga ruang hidup bersama di tengah keberagaman.

“Sekarang jangan lagi mikirin siapa paling asli atau siapa paling beda. Kita ini Indonesia. Latar belakang tetap penting sebagai identitas, tapi jangan jadi alasan untuk saling menjauh,” katanya.

Menurutnya, toleransi harus dijaga bukan hanya lewat simbol, tetapi juga melalui interaksi sosial yang nyata.

Ia mencontohkan bagaimana komunitas Tionghoa di kawasan tersebut rutin mengadakan kegiatan sosial seperti pembagian sembako murah, donor darah, hingga pembagian takjil saat Ramadan.

“Yang bagi takjil justru dari kami. Kita beli makanannya dari warga sekitar juga,” ujarnya.

Saat malam Imlek tiba, kawasan Gang Luna biasanya dipenuhi warga dari berbagai latar belakang yang datang melihat suasana perayaan.

“Banyak anak muda lintas agama datang ke sini malam Imlek. Mereka lihat-lihat, ngobrol, belajar soal budaya dan agama lain,” katanya.

Menurutnya, salah satu tantangan terbesar menjaga kerukunan hari ini justru datang dari luar lingkungan sosial warga sendiri, terutama media sosial dan provokasi identitas.

“Tokoh agama sebenarnya enggak ada masalah. Yang bahaya itu kalau masyarakat mudah terprovokasi. Makanya kekompakan warga penting dijaga,” ujarnya.

Ia berharap generasi muda tidak lagi sibuk mempersoalkan perbedaan identitas.

“Kita ini Indonesia. Latar belakang penting sebagai identitas, tapi jangan jadi alasan untuk saling menjauh,” katanya.

Pandangan serupa juga dirasakan Katarina Maudi, warga Katolik berusia 23 tahun yang tinggal di Astana Anyar sejak 2021. Sebagai anak muda yang hidup di lingkungan heterogen, ia merasa kehidupan sosial di wilayah tersebut berjalan cukup hangat.

“Kalau ada kegiatan kampung atau kerja bakti, semua ikut tanpa melihat agama. Jadi memang sudah biasa hidup berdampingan,” katanya.

Bagi Katarina, bentuk toleransi yang paling terasa justru muncul dalam hal-hal sederhana. Ia mengingat bagaimana warga saling membantu ketika ada tetangga sakit atau berduka.

“Kalau ada yang sakit dijenguk, kalau ada yang berduka juga saling bantu dan mendoakan. Jadi saya lebih sering merasa diterima,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui tantangan menjaga keberagaman tetap ada, terutama di era media sosial ketika orang mudah terpancing isu sensitif.

“Tantangannya sekarang mungkin karena banyak orang gampang terpengaruh pandangan negatif di media sosial,” katanya.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Beranda 11 Mei 2026, 16:25

Di Cibadak, Warga Beda Agama Sudah Terbiasa Hidup Berdampingan Jauh Sebelum Ada Kampung Toleransi

Warga Cibadak di Astana Anyar telah lama hidup berdampingan lintas agama lewat kebiasaan saling membantu, menjaga lingkungan, dan menghormati perbedaan.

Asoey, pengurus Vihara Dharma Ramsi, merasakan kehidupan lintas agama di Astana Anyar berjalan alami lewat kebiasaan warga yang saling menghormati. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 11 Mei 2026, 14:31

Canting dan Ekosistem yang Belum Sempurna, Sebuah Harapan dari Kampung Kreatif Batik Difabel

Ekosistem yang sempurna mungkin belum ada. Tapi ekosistem yang terus berusaha, itu yang sedang terjadi di Kampung Kreatif Batik Difabel.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 13:53

Gelar Akademik Apakah Jaminan Kesuksesan?

Polarisasi pendapat antara melanjutkan kuliah dan langsung membuka usaha. Melanjutkan kuliah lebih berpeluang diserap dunia kerja dan langsung membuka usaha bisa mempercepat peluang sukses.

Ilustrasi wisuda. (Sumber: Pexels | Foto: Sun)
Wisata & Kuliner 11 Mei 2026, 13:48

Jelajah Palabuhanratu Sukabumi, Kota Pelabuhan Internasional yang Berubah jadi Tujuan Wisata Penuh Legenda

Palabuhanratu menyimpan sejarah pelabuhan kolonial, pantai sepanjang 105 km, serta mitos Nyi Roro Kidul yang masih dipercaya.

Pantai Karang Sari, Palabuhanratu Sukabumi. (Sumber: Flickr)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 11:05

Freddie Mercury, AIDS, dan Luka Stigma yang Belum Usai

Malam Renungan AIDS Nusantara bukan sekadar seremoni mengenang korban HIV/AIDS.

Halaman muka surat kabar terbitan Inggris yang memberitakan kepergian Freddie Mercury. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 11 Mei 2026, 10:17

Toleransi di Cibadak Tidak Ramai Dibicarakan, Tapi Dijalani Setiap Hari

Warga Kampung Toleransi Cibadak di Astana Anyar hidup berdampingan di tengah perbedaan agama dan etnis lewat kebiasaan saling membantu dan menjaga kebersamaan.

Simbol berbagai agama berdiri berdampingan di Kelurahan Cibadak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 09:27

Modern untuk Kota, Melelahkan untuk Manusia

Selama kebutuhan dasar warganya masih terabaikan, Bandung akan terus terlihat modern dari luar, tetapi belum sepenuhnya menjadi kota yang nyaman untuk dijalani.

Bandung sibuk membangun kota, tetapi belum tentu membangun kenyamanan warganya. (Sumber: Designed by macrovector /Freepik)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 08:54

Kafe untuk Perantau yang Tak Mau Pulang

Cerita pendek tentang kafe di kota besar yang dikhususnya bagi perantau yang tidak mau pulang.

Ribuan koleksi buku tersusun padat di rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Mei 2026, 18:08

Kereta Cepat dan Tantangan First Mile–Last Mile

Tantangan first mile dan last mile memengaruhi total waktu perjalanan pengguna Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh), sehingga integrasi transportasi menjadi penting.

Layar di dalam kabin Whoosh yang menampilkan informasi kecepatan kereta saat itu. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 10 Mei 2026, 13:15

Menghapus Sekat Pendidikan dari Pinggiran Nusantara

Negara hadir di daerah 3T lewat revitalisasi sekolah Rp1,38T & digitalisasi 100%. Prestasi Kemendikdasmen ini kunci mutu pendidikan & martabat guru menuju Indonesia Emas 2045!

Ilustrasi visual berbasis kecerdasan buatan (AI) (Foto: Artificial Intelligence (AI))
Wisata & Kuliner 10 Mei 2026, 09:42

Panduan Wisata Sentul Paradise Park, Curug dan Kolam Rekreasi di Pinggiran Bogor

Panduan lengkap Sentul Paradise Park, dari tiket, akses, fasilitas, hingga tips berkunjung ke wisata air dengan Curug Bidadari di kawasan Sentul.

Sentul Paradise Park.
Ayo Netizen 10 Mei 2026, 09:41

Bandung Tak Lagi Sama, Jalanannya Mengajarkan Orang-Orang Bertahan Hidup

Perjalanan Cimahi-Bandung bukan sekadar rutinitas, tapi perjuangan menghadapi macet, hujan, dan lelah yang datang setiap hari.

Suasana Kota. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Sifa Nurfauziah)
Beranda 09 Mei 2026, 19:04

Anton Solihin, Pengumpul ‘Runtah’ Budaya yang Menjaga Batu Api Selama 27 Tahun

Perpustakaan Batu Api di Jatinangor bertahan selama puluhan tahun lewat ribuan koleksi buku, arsip, dan dedikasi Anton Solihin menjaga ruang literasi alternatif.

Pendiri Perpustakaan Batu Api, Anton Solihin, duduk di tengah tumpukan buku koleksi pribadinya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Biz 09 Mei 2026, 17:10

Menjaga Mimpi di Tengah Efisiensi: Peran Rumah BUMN di Masa Anggaran Ketat

Di sinilah cerita tentang ekosistem pemberdayaan UMKM yang belum sempurna bermula.

A. Radinal Pramudha Sirat CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Biz 09 Mei 2026, 12:46

Inklusi di Atas Kain: Batik Difabel Cimahi dan Kriya yang Istimewa

Di sinilah, di Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat.

Nurdin (di kursi roda), penyandang polio, pertama kali datang ke GHD pada 2020. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 22:35

Ketika Persija, Persib, dan Persis Bantu Korban Tragedi Trowek

Tiga tim sepak bola beda kota menggelar laga segitiga yang seru di Lapangan Ikada. Hasil keuntungan pertandingan disumbangkan untuk korban kecelakaan KA yang mengenaskan di Trowek, Jawa Barat.

Pemandangan mengenaskan kecelakaan kereta api di Trowek, Tasikmalaya, Jawa Barat pada 28 Mei 1959. (Sumber: Harian Umum)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 21:06

Desa Kasturi, Tempat Tumbuh Mangga Kasturi 

Di Jawa Barat, sedikitnya ada dua nama geografis Kasturi.

Buah kasturi (Mangifera casturi) sudah tidak dikenali lagi di Jawa Barat, tapi abadi dalam toponim Desa Kasturi yang terdapat di Kabupaten Majalengka dan di Kabupaten Kuningan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 19:32

Sepatu Berlubang untuk Mengukir Masa Depan

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi--yang ada proses bertahan yang selalu harus terus diperjuangkan untuk terus bertahan sebagai manusia dan juga menjadi masyarakat Kota Bandung yang lebih baik.

Pendidikan adalah senjata utama untuk keluar dari kemiskinan struktural. (Sumber: Pexels | Foto: Partiu Kenai)
Linimasa 08 Mei 2026, 17:40

Tanaman Pemangsa Serangga Ini Dibudidayakan di Rumah Pemuda Bandung

Seorang pemuda di Dayeuhkolot sukses membudidayakan tanaman karnivora hingga meraup omzet belasan juta rupiah.

Tanaman pemangsa hewan Venus flytrap yang dibudiayakan Khoerul Anwar di Dayeuhkolot. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 17:20

Bandung dan Mereka yang Pulang dalam Lelah

Di balik gemerlap dan ramainya Bandung, ada banyak orang yang tetap kembali bangun esok pagi meski lelah terus menjadi bagian dari hidup mereka—agar kota dan kehidupan mereka tetap berjalan.

ekanan hidup di kota membuat banyak masyarakat terus berjalan, meski lelah perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. (Sumber: Freepik)