Di Cibadak, Warga Beda Agama Sudah Terbiasa Hidup Berdampingan Jauh Sebelum Ada Kampung Toleransi

6 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Asoey, pengurus Vihara Dharma Ramsi, merasakan kehidupan lintas agama di Astana Anyar berjalan alami lewat kebiasaan warga yang saling menghormati. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Asoey, pengurus Vihara Dharma Ramsi, merasakan kehidupan lintas agama di Astana Anyar berjalan alami lewat kebiasaan warga yang saling menghormati. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Astana Anyar menjadi salah satu wilayah dengan keberagaman agama paling menonjol di Kota Bandung. Berdasarkan data Profil Perkembangan Penduduk Kota Bandung 2025, sekitar 18,78 persen penduduk di kecamatan ini merupakan pemeluk agama non-Islam. Di Kelurahan Cibadak, keberagaman itu tampak nyata dalam kehidupan sehari-hari warga.

Di kawasan yang dikenal sebagai pecinan lama Kota Bandung itu, masjid, gereja, dan vihara berdiri berdekatan. Namun bagi warga setempat, kedekatan itu bukan sekadar soal jarak bangunan ibadah, melainkan hubungan sosial yang sudah terjalin lama.

“Kalau di Cibadak memang dari dulu sudah begini,” kata Lurah Cibadak, Dadan Suhendra, saat ditemui di kantornya, Sabtu 9 Mei 2026.

Menurut Dadan, budaya hidup berdampingan di wilayah tersebut sudah berlangsung jauh sebelum istilah “Kampung Toleransi” diresmikan Pemerintah Kota Bandung. Ia mengatakan, masyarakat di Cibadak terbiasa merayakan hari besar agama masing-masing dengan saling membantu.

“Kalau misalnya sekarang Imlek, warga muslim ikut membantu. Pas Idulfitri juga sama, mereka ikut menjaga supaya ibadah berjalan lancar. Jadi dari dulu memang sudah hidup berdampingan,” ujarnya.

Kelurahan Cibadak sendiri baru diresmikan sebagai Kampung Toleransi pada 2025. Namun bagi warga, peresmian itu hanya pengakuan formal terhadap kebiasaan yang sudah lama hidup.

Dadan menilai, salah satu faktor yang membuat toleransi di wilayah tersebut tetap terjaga adalah kedekatan antarwarga. Ia mengatakan masyarakat masih memiliki budaya saling mengenal dan saling menjaga, termasuk ketika ada warga yang mengalami kesulitan.

“Waktu Covid misalnya, dari gereja dan vihara ikut membantu membagikan sembako. Tapi bantuannya enggak melihat agama. Dibagikan ke semua warga yang membutuhkan,” katanya.

Ia mengatakan, salah satu tantangan terbesar menjaga kerukunan saat ini justru datang dari luar lingkungan warga sendiri, terutama isu-isu provokatif yang menyebar melalui media sosial.

“Kalau masyarakat sudah terpengaruh isu yang enggak benar, takutnya gampang pecah belah. Jadi yang paling penting itu jangan gampang terprovokasi,” ujarnya.

Bagi Lurah Cibadak Dadan Suhendra, keberagaman di wilayahnya bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bagi Lurah Cibadak Dadan Suhendra, keberagaman di wilayahnya bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Suasana Kampung Toleransi di Kelurahan Cibadak memperlihatkan kehidupan warga lintas agama yang hidup selaras berdampingan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Suasana Kampung Toleransi di Kelurahan Cibadak memperlihatkan kehidupan warga lintas agama yang hidup selaras berdampingan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)

Meski hidup di kawasan perkotaan, Dadan menilai budaya saling mengenal di lingkungan warga masih cukup kuat. Anak-anak muda di kawasan tersebut juga masih tumbuh dengan suasana keberagaman yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Saat perayaan Imlek misalnya, kawasan Cibadak selalu ramai dengan pertunjukan barongsai yang ditunggu warga.

“Anak-anak kecil di sini selalu nanya, ‘Ada barongsai enggak?’ Mereka senang karena sudah terbiasa melihat itu dari kecil,” katanya sambil tertawa.

Di kawasan Gang Ibu Aisah, praktik hidup berdampingan itu juga dirasakan langsung oleh Asoey, seorang umat Buddha yang sudah puluhan tahun aktif di Vihara Dharma Ramsi.

Sudah lebih dari 20 tahun ia membantu aktivitas di vihara tersebut. Hampir setiap hari ia datang untuk membersihkan area vihara, membantu persiapan sembahyang, atau sekadar berbincang dengan warga dan umat yang datang beribadah.

Bagi Asoey, kehidupan berdampingan di Astana Anyar bukan sesuatu yang dibuat-buat. Ia tumbuh dan hidup di lingkungan yang sejak lama dihuni masyarakat dengan latar belakang berbeda.

“Kalau di sini mah sudah biasa. Ada masjid, gereja, vihara berdekatan. Enggak pernah ada masalah,” katanya.

Pria berusia 71 tahun itu bercerita bahwa kehidupan lintas agama di wilayah Astana Anyar bukan sesuatu yang dibuat-buat. Baginya, hubungan antarumat beragama tumbuh secara alami karena warga terbiasa saling hadir dalam kehidupan sosial satu sama lain.

“Kalau ada yang meninggal, nonmuslim juga datang melayat. Kalau Lebaran, kita silaturahmi. Nanti kalau Waisak atau Imlek, warga lain juga datang lihat-lihat, ngobrol, bantu menjaga suasana,” katanya.

Ia mencontohkan bagaimana warga sekitar ikut menjaga keamanan dan ketertiban ketika vihara sedang mengadakan ritual besar. Sebaliknya, umat Buddha di kawasan itu juga menghormati kegiatan ibadah agama lain.

“Kalau ada khotbah di masjid masa kita ketawa-ketawa? Enggak sopan. Sama kalau di vihara lagi doa atau meditasi juga harus tenang. Jadi intinya saling menghormati saja,” ujarnya.

Bagi Asoey, toleransi bukan sekadar slogan, melainkan kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Ia mengingat bagaimana warga saling menjenguk ketika sakit, membantu menyelesaikan persoalan antartetangga, hingga saling mengingatkan agar konflik tidak melebar menjadi isu agama.

“Kalau ada orang ribut, jangan dibawa ke agama. Diselesaikan baik-baik. Karena kalau emosi, semua rugi. Kita ini tiap hari ketemu, ngobrol, nyapa,” katanya.

Di sela perbincangan, ia beberapa kali menekankan pentingnya menghormati sesama manusia sebelum berbicara soal agama.

“Kalau kita enggak baik sama tetangga, nanti orang juga enggak baik sama kita,” katanya.

Fam Kiun Fat menilai toleransi di Cibadak tumbuh dari kebiasaan warga yang saling hadir dan menjaga satu sama lain sejak lama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Fam Kiun Fat menilai toleransi di Cibadak tumbuh dari kebiasaan warga yang saling hadir dan menjaga satu sama lain sejak lama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Tak jauh dari vihara, suasana serupa juga dirasakan oleh Akiun atau Fam Kiun Fat, seorang tokoh Konghucu yang aktif dalam kegiatan lintas agama di Bandung.

Bagi pria berusia 60 tahun itu, kehidupan toleran di kawasan Cibadak memiliki akar sejarah panjang. Ia menyebut wilayah tersebut sejak lama menjadi kawasan pecinan yang dihuni masyarakat dengan latar belakang berbeda.

“Di sini dari dulu memang sudah campur. Vihara ada, gereja ada, masjid ada. Dan enggak pernah ada bentrokan karena agama,” katanya.

Namun perjalanan hidupnya membuat ia memahami bahwa situasi toleransi di Indonesia tidak selalu berjalan mudah. Akiun mengingat bagaimana masyarakat Tionghoa pernah mengalami pembatasan pada masa Orde Baru.

“Dulu Konghucu enggak boleh ditampilkan. Di KTP agama di-strip. Simbol Tionghoa juga enggak boleh muncul. Jadi kami pernah merasakan bagaimana rasialisme itu ada,” ujarnya.

Ia mengingat bagaimana masyarakat Tionghoa saat itu sering dipandang berbeda dan sulit mendapat ruang yang setara di masyarakat.

“Dulu orang Tionghoa enggak bisa jadi TNI, enggak bisa jadi Polri, enggak bisa bebas juga,” katanya.

Karena pengalaman itulah, ia merasa penting menjaga ruang hidup bersama di tengah keberagaman.

“Sekarang jangan lagi mikirin siapa paling asli atau siapa paling beda. Kita ini Indonesia. Latar belakang tetap penting sebagai identitas, tapi jangan jadi alasan untuk saling menjauh,” katanya.

Menurutnya, toleransi harus dijaga bukan hanya lewat simbol, tetapi juga melalui interaksi sosial yang nyata.

Ia mencontohkan bagaimana komunitas Tionghoa di kawasan tersebut rutin mengadakan kegiatan sosial seperti pembagian sembako murah, donor darah, hingga pembagian takjil saat Ramadan.

“Yang bagi takjil justru dari kami. Kita beli makanannya dari warga sekitar juga,” ujarnya.

Saat malam Imlek tiba, kawasan Gang Luna biasanya dipenuhi warga dari berbagai latar belakang yang datang melihat suasana perayaan.

“Banyak anak muda lintas agama datang ke sini malam Imlek. Mereka lihat-lihat, ngobrol, belajar soal budaya dan agama lain,” katanya.

Menurutnya, salah satu tantangan terbesar menjaga kerukunan hari ini justru datang dari luar lingkungan sosial warga sendiri, terutama media sosial dan provokasi identitas.

“Tokoh agama sebenarnya enggak ada masalah. Yang bahaya itu kalau masyarakat mudah terprovokasi. Makanya kekompakan warga penting dijaga,” ujarnya.

Ia berharap generasi muda tidak lagi sibuk mempersoalkan perbedaan identitas.

“Kita ini Indonesia. Latar belakang penting sebagai identitas, tapi jangan jadi alasan untuk saling menjauh,” katanya.

Pandangan serupa juga dirasakan Katarina Maudi, warga Katolik berusia 23 tahun yang tinggal di Astana Anyar sejak 2021. Sebagai anak muda yang hidup di lingkungan heterogen, ia merasa kehidupan sosial di wilayah tersebut berjalan cukup hangat.

“Kalau ada kegiatan kampung atau kerja bakti, semua ikut tanpa melihat agama. Jadi memang sudah biasa hidup berdampingan,” katanya.

Bagi Katarina, bentuk toleransi yang paling terasa justru muncul dalam hal-hal sederhana. Ia mengingat bagaimana warga saling membantu ketika ada tetangga sakit atau berduka.

“Kalau ada yang sakit dijenguk, kalau ada yang berduka juga saling bantu dan mendoakan. Jadi saya lebih sering merasa diterima,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui tantangan menjaga keberagaman tetap ada, terutama di era media sosial ketika orang mudah terpancing isu sensitif.

“Tantangannya sekarang mungkin karena banyak orang gampang terpengaruh pandangan negatif di media sosial,” katanya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 09:27

Kala Kemarahan Pejabat Jadi Konten Pemerintahan

Sebuah teguran langsung pejabat kepada bawahannya dan viral dapat membuat masyarakat merasa pemerintah hadir. Itu bukan sesuatu yang harus diremehkan.

Ilustrasi pejabat memarahi bawahan (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 19:39

Dari Uang Tunai ke Sekali Klik dalam Perubahan Perilaku Keuangan Mahasiswa

Peralihan ke dompet digital mempermudah transaksi mahasiswa, namun berisiko memicu perilaku konsumtif.

Kemudahan transaksi dompet digital melalui pemindaian kode QR semakin efisien dan dekat dengan aktivitas harian mahasiswa. (Sumber: Pexels/Pavel Danilyuk)
Linimasa 09 Agu 2026, 18:31

Hikayat Baju Pendakian Indonesia yang Biasa Digunakan Para Pecinta Alam

Flanel, celana PDL, jaket bulu angsa, dan sepatu tentara pernah menjadi ciri khas pendaki Indonesia sebelum era pakaian modern.

Ilustrasi pendaki gunung. (Sumber: Pixnio)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 15:43

Kibar Sang Merah Putih pun Tak Merdeka

Bendera memang sudah merdeka dari penjajahan. Tetapi apakah manusia yang mengibarkannya sudah benar-benar merasakan kemerdekaan?

Bendera merah putih di sekeliling Lapangan Lio Genteng, RW 05, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu 12 Agustus 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 12:05

Tanah, Makanan, dan Tempat

Timbal-balik antara alam dengan manusia, dan sebaliknya, khususnya tentang nama-nama batuan atau tanah yang dijadikan toponimi.

Camilan kue ladu, sangat populer di Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. (Sumber: T Bactiar)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 09:17

Hari Hutan Nasional: Menjadikan Hutan sebagai Rumah dan Harapan

Masih relevan kah peringatan Hari Hutan Nasional sekarang dengan kondisi ekologi hutan kita yang semakin gundul. Apakah pembangunan tidak menggunakan konsep lingkungan hidup yang sehat?

Siswa SD Darul Hikam Bandung memperingati Hari Bumi dengan aksi nyata menanam pohon di kawasan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 25 April 2024.  (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Wisata & Kuliner 09 Agu 2026, 09:03

Tamasya di Dadaha Tasikmalaya: Tempat Jogging, Wisata Kuliner, dan Rekreasi Keluarga

Dadaha menjadi destinasi favorit warga Tasikmalaya dengan lintasan jogging, taman bermain anak, kolam renang, dan Pasar Kojengkang yang selalu ramai.

Suasana di Kawasan Dadaha Tasikmalaya (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)