Bandung Hari ini selalu terlihat hidup bagi siapa pun yang datang. Kafe baru terus bermunculan, jalan diperlebar, dan sudut-sudut kota dipoles agar tetap menarik di mata banyak orang. Namun di balik wajah modern itu, Bandung justru semakin dekat dengan isu kemacetan, trotoar yang sering terabaikan, serta transportasi yang belum sepenuhnya terfasilitasi bagi warganya. Kota ini terus berkembang secara visual, tetapi keseharian orang-orang yang menjalaninya tidak selalu ikut menjadi lebih mudah.
Kota ini seperti sibuk berlari mengejar modernitas, tetapi lupa bertanya apakah warganya benar-benar ikut sampai. Di tengah kemacetan yang semakin akrab dan transportasi yang belum sepenuhnya ramah, Bandung perlahan berubah bukan menjadi kota yang nyaman untuk ditinggali, melainkan kota yang hanya enak dipandang dari kejauhan.
Modern untuk Siapa?
Transportasi umum di Bandung hingga hari ini masih terasa seperti fasilitas pelengkap, bukan kebutuhan utama yang diprioritaskan. Di sudut kota Bandung, terutama yang jauh dari pusat kota, akses transportasi publik masih terbatas dan sulit dijangkau. Tidak heran jika banyak masyarakat—terutama anak muda, lebih memilih kendaraan pribadi karena dianggap lebih fleksibel dan efisien untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Masalahnya, keadaan ini justru terus melahirkan lingkaran persoalan yang sama: kendaraan pribadi bertambah, jalan semakin padat, dan kualitas udara perlahan memburuk. Namun alih-alih membenahi transportasi publik secara serius, pembangunan kota justru lebih sering diarahkan pada pelebaran jalan atau proyek infrastruktur yang hanya berfokus pada kendaraan. Bandung seperti sibuk mengatur arus mobilitas, tetapi belum benar-benar memikirkan manusia yang bergerak di dalamnya.
Padahal, kota yang modern seharusnya tidak hanya diukur dari banyaknya pembangunan atau ramainya pusat hiburan baru. Kota yang maju adalah kota yang mampu memberi ruang aman dan nyaman bagi warganya untuk bergerak, termasuk bagi pejalan kaki dan pengguna transportasi umum. Sayangnya, ruang-ruang tersebut justru perlahan semakin terabaikan di tengah pembangunan kota yang terus berjalan.

Kota yang Kehilangan Ruang untuk Manusianya
Persoalan itu juga terlihat dari kondisi trotoar di beberapa ruang publik Kota Bandung yang masih jauh dari kata layak, contohnya di Taman Superhero, kerusakan trotoar terlihat di sejumlah titik dengan paving dan marmer yang pecah hingga mengelupas. Padahal taman tersebut masih ramai digunakan masyarakat untuk bersantai maupun membawa anak bermain. Ironisnya, di tengah upaya mempercantik wajah kota, fasilitas dasar bagi pejalan kaki justru kerap terabaikan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kota sering kali lebih berfokus pada tampilan visual dibanding kenyamanan ruang publik itu sendiri. Kota ini dipoles agar terlihat menarik bagi siapa pun yang datang, tetapi persoalan sederhana seperti trotoar rusak masih terus ditemukan bahkan di kawasan yang menjadi ruang publik masyarakat. Akibatnya, berjalan kaki di Bandung terasa bukan sebagai aktivitas yang nyaman, melainkan sesuatu yang harus dihadapi dengan ekstra hati-hati.
Situasi ini juga memperlihatkan bagaimana persoalan fasilitas publik sering kali berlarut tanpa penanganan yang benar-benar dirasakan perubahannya oleh masyarakat. Ketika trotoar rusak terus dibiarkan dan perbaikannya berjalan lambat, warga akhirnya dipaksa terbiasa dengan ruang kota yang tidak sepenuhnya aman maupun nyaman untuk digunakan sehari-hari.
Karena itu, modernitas kota seharusnya tidak hanya diukur dari ramainya pusat hiburan, banyaknya pembangunan baru, atau tampilan kota yang semakin estetik. Selama kebutuhan dasar warganya masih terabaikan, Bandung akan terus terlihat modern dari luar, tetapi belum sepenuhnya menjadi kota yang nyaman untuk dijalani. (*)
REFERENSI
Rohmatunnisya, S. N. (2024). Masalah Transportasi Umum di Bandung yang Tak Kunjung Usai. JURNALPOS.COM.
Pratomo, M. W. (2026). Trotoar di Taman Superhero Kota Bandung Rusak Parah. RRI.
