Modern untuk Kota, Melelahkan untuk Manusia

Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan Senin 11 Mei 2026, 09:27 WIB
Bandung sibuk membangun kota, tetapi belum tentu membangun kenyamanan warganya. (Sumber: Designed by macrovector /Freepik)

Bandung sibuk membangun kota, tetapi belum tentu membangun kenyamanan warganya. (Sumber: Designed by macrovector /Freepik)

Bandung Hari ini selalu terlihat hidup bagi siapa pun yang datang. Kafe baru terus bermunculan, jalan diperlebar, dan sudut-sudut kota dipoles agar tetap menarik di mata banyak orang. Namun di balik wajah modern itu, Bandung justru semakin dekat dengan isu kemacetan, trotoar yang sering terabaikan, serta transportasi yang belum sepenuhnya terfasilitasi bagi warganya. Kota ini terus berkembang secara visual, tetapi keseharian orang-orang yang menjalaninya tidak selalu ikut menjadi lebih mudah.

Kota ini seperti sibuk berlari mengejar modernitas, tetapi lupa bertanya apakah warganya benar-benar ikut sampai. Di tengah kemacetan yang semakin akrab dan transportasi yang belum sepenuhnya ramah, Bandung perlahan berubah bukan menjadi kota yang nyaman untuk ditinggali, melainkan kota yang hanya enak dipandang dari kejauhan.

Modern untuk Siapa?

Transportasi umum di Bandung hingga hari ini masih terasa seperti fasilitas pelengkap, bukan kebutuhan utama yang diprioritaskan. Di sudut kota Bandung, terutama yang jauh dari pusat kota, akses transportasi publik masih terbatas dan sulit dijangkau. Tidak heran jika banyak masyarakat—terutama anak muda, lebih memilih kendaraan pribadi karena dianggap lebih fleksibel dan efisien untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Masalahnya, keadaan ini justru terus melahirkan lingkaran persoalan yang sama: kendaraan pribadi bertambah, jalan semakin padat, dan kualitas udara perlahan memburuk. Namun alih-alih membenahi transportasi publik secara serius, pembangunan kota justru lebih sering diarahkan pada pelebaran jalan atau proyek infrastruktur yang hanya berfokus pada kendaraan. Bandung seperti sibuk mengatur arus mobilitas, tetapi belum benar-benar memikirkan manusia yang bergerak di dalamnya.

Padahal, kota yang modern seharusnya tidak hanya diukur dari banyaknya pembangunan atau ramainya pusat hiburan baru. Kota yang maju adalah kota yang mampu memberi ruang aman dan nyaman bagi warganya untuk bergerak, termasuk bagi pejalan kaki dan pengguna transportasi umum. Sayangnya, ruang-ruang tersebut justru perlahan semakin terabaikan di tengah pembangunan kota yang terus berjalan.

Di tengah kota yang terus bergerak, manusia sering kali hanya diberi sisa ruang. (Sumber: Designed by macrovector /Freepik)
Di tengah kota yang terus bergerak, manusia sering kali hanya diberi sisa ruang. (Sumber: Designed by macrovector /Freepik)

Kota yang Kehilangan Ruang untuk Manusianya

Persoalan itu juga terlihat dari kondisi trotoar di beberapa ruang publik Kota Bandung yang masih jauh dari kata layak, contohnya di Taman Superhero, kerusakan trotoar terlihat di sejumlah titik dengan paving dan marmer yang pecah hingga mengelupas. Padahal taman tersebut masih ramai digunakan masyarakat untuk bersantai maupun membawa anak bermain. Ironisnya, di tengah upaya mempercantik wajah kota, fasilitas dasar bagi pejalan kaki justru kerap terabaikan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kota sering kali lebih berfokus pada tampilan visual dibanding kenyamanan ruang publik itu sendiri. Kota ini dipoles agar terlihat menarik bagi siapa pun yang datang, tetapi persoalan sederhana seperti trotoar rusak masih terus ditemukan bahkan di kawasan yang menjadi ruang publik masyarakat. Akibatnya, berjalan kaki di Bandung terasa bukan sebagai aktivitas yang nyaman, melainkan sesuatu yang harus dihadapi dengan ekstra hati-hati.

Situasi ini juga memperlihatkan bagaimana persoalan fasilitas publik sering kali berlarut tanpa penanganan yang benar-benar dirasakan perubahannya oleh masyarakat. Ketika trotoar rusak terus dibiarkan dan perbaikannya berjalan lambat, warga akhirnya dipaksa terbiasa dengan ruang kota yang tidak sepenuhnya aman maupun nyaman untuk digunakan sehari-hari.

Karena itu, modernitas kota seharusnya tidak hanya diukur dari ramainya pusat hiburan, banyaknya pembangunan baru, atau tampilan kota yang semakin estetik. Selama kebutuhan dasar warganya masih terabaikan, Bandung akan terus terlihat modern dari luar, tetapi belum sepenuhnya menjadi kota yang nyaman untuk dijalani. (*)

REFERENSI

  • Rohmatunnisya, S. N. (2024). Masalah Transportasi Umum di Bandung yang Tak Kunjung Usai. JURNALPOS.COM.

  • Pratomo, M. W. (2026). Trotoar di Taman Superhero Kota Bandung Rusak Parah. RRI.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿

Berita Terkait

News Update

Beranda 11 Mei 2026, 16:25

Di Cibadak, Warga Beda Agama Sudah Terbiasa Hidup Berdampingan Jauh Sebelum Ada Kampung Toleransi

Warga Cibadak di Astana Anyar telah lama hidup berdampingan lintas agama lewat kebiasaan saling membantu, menjaga lingkungan, dan menghormati perbedaan.

Asoey, pengurus Vihara Dharma Ramsi, merasakan kehidupan lintas agama di Astana Anyar berjalan alami lewat kebiasaan warga yang saling menghormati. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 11 Mei 2026, 14:31

Canting dan Ekosistem yang Belum Sempurna, Sebuah Harapan dari Kampung Kreatif Batik Difabel

Ekosistem yang sempurna mungkin belum ada. Tapi ekosistem yang terus berusaha, itu yang sedang terjadi di Kampung Kreatif Batik Difabel.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 13:53

Gelar Akademik Apakah Jaminan Kesuksesan?

Polarisasi pendapat antara melanjutkan kuliah dan langsung membuka usaha. Melanjutkan kuliah lebih berpeluang diserap dunia kerja dan langsung membuka usaha bisa mempercepat peluang sukses.

Ilustrasi wisuda. (Sumber: Pexels | Foto: Sun)
Wisata & Kuliner 11 Mei 2026, 13:48

Jelajah Palabuhanratu Sukabumi, Kota Pelabuhan Internasional yang Berubah jadi Tujuan Wisata Penuh Legenda

Palabuhanratu menyimpan sejarah pelabuhan kolonial, pantai sepanjang 105 km, serta mitos Nyi Roro Kidul yang masih dipercaya.

Pantai Karang Sari, Palabuhanratu Sukabumi. (Sumber: Flickr)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 11:05

Freddie Mercury, AIDS, dan Luka Stigma yang Belum Usai

Malam Renungan AIDS Nusantara bukan sekadar seremoni mengenang korban HIV/AIDS.

Halaman muka surat kabar terbitan Inggris yang memberitakan kepergian Freddie Mercury. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 11 Mei 2026, 10:17

Toleransi di Cibadak Tidak Ramai Dibicarakan, Tapi Dijalani Setiap Hari

Warga Kampung Toleransi Cibadak di Astana Anyar hidup berdampingan di tengah perbedaan agama dan etnis lewat kebiasaan saling membantu dan menjaga kebersamaan.

Simbol berbagai agama berdiri berdampingan di Kelurahan Cibadak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 09:27

Modern untuk Kota, Melelahkan untuk Manusia

Selama kebutuhan dasar warganya masih terabaikan, Bandung akan terus terlihat modern dari luar, tetapi belum sepenuhnya menjadi kota yang nyaman untuk dijalani.

Bandung sibuk membangun kota, tetapi belum tentu membangun kenyamanan warganya. (Sumber: Designed by macrovector /Freepik)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 08:54

Kafe untuk Perantau yang Tak Mau Pulang

Cerita pendek tentang kafe di kota besar yang dikhususnya bagi perantau yang tidak mau pulang.

Ribuan koleksi buku tersusun padat di rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Mei 2026, 18:08

Kereta Cepat dan Tantangan First Mile–Last Mile

Tantangan first mile dan last mile memengaruhi total waktu perjalanan pengguna Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh), sehingga integrasi transportasi menjadi penting.

Layar di dalam kabin Whoosh yang menampilkan informasi kecepatan kereta saat itu. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 10 Mei 2026, 13:15

Menghapus Sekat Pendidikan dari Pinggiran Nusantara

Negara hadir di daerah 3T lewat revitalisasi sekolah Rp1,38T & digitalisasi 100%. Prestasi Kemendikdasmen ini kunci mutu pendidikan & martabat guru menuju Indonesia Emas 2045!

Ilustrasi visual berbasis kecerdasan buatan (AI) (Foto: Artificial Intelligence (AI))
Wisata & Kuliner 10 Mei 2026, 09:42

Panduan Wisata Sentul Paradise Park, Curug dan Kolam Rekreasi di Pinggiran Bogor

Panduan lengkap Sentul Paradise Park, dari tiket, akses, fasilitas, hingga tips berkunjung ke wisata air dengan Curug Bidadari di kawasan Sentul.

Sentul Paradise Park.
Ayo Netizen 10 Mei 2026, 09:41

Bandung Tak Lagi Sama, Jalanannya Mengajarkan Orang-Orang Bertahan Hidup

Perjalanan Cimahi-Bandung bukan sekadar rutinitas, tapi perjuangan menghadapi macet, hujan, dan lelah yang datang setiap hari.

Suasana Kota. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Sifa Nurfauziah)
Beranda 09 Mei 2026, 19:04

Anton Solihin, Pengumpul ‘Runtah’ Budaya yang Menjaga Batu Api Selama 27 Tahun

Perpustakaan Batu Api di Jatinangor bertahan selama puluhan tahun lewat ribuan koleksi buku, arsip, dan dedikasi Anton Solihin menjaga ruang literasi alternatif.

Pendiri Perpustakaan Batu Api, Anton Solihin, duduk di tengah tumpukan buku koleksi pribadinya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Biz 09 Mei 2026, 17:10

Menjaga Mimpi di Tengah Efisiensi: Peran Rumah BUMN di Masa Anggaran Ketat

Di sinilah cerita tentang ekosistem pemberdayaan UMKM yang belum sempurna bermula.

A. Radinal Pramudha Sirat CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Biz 09 Mei 2026, 12:46

Inklusi di Atas Kain: Batik Difabel Cimahi dan Kriya yang Istimewa

Di sinilah, di Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat.

Nurdin (di kursi roda), penyandang polio, pertama kali datang ke GHD pada 2020. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 22:35

Ketika Persija, Persib, dan Persis Bantu Korban Tragedi Trowek

Tiga tim sepak bola beda kota menggelar laga segitiga yang seru di Lapangan Ikada. Hasil keuntungan pertandingan disumbangkan untuk korban kecelakaan KA yang mengenaskan di Trowek, Jawa Barat.

Pemandangan mengenaskan kecelakaan kereta api di Trowek, Tasikmalaya, Jawa Barat pada 28 Mei 1959. (Sumber: Harian Umum)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 21:06

Desa Kasturi, Tempat Tumbuh Mangga Kasturi 

Di Jawa Barat, sedikitnya ada dua nama geografis Kasturi.

Buah kasturi (Mangifera casturi) sudah tidak dikenali lagi di Jawa Barat, tapi abadi dalam toponim Desa Kasturi yang terdapat di Kabupaten Majalengka dan di Kabupaten Kuningan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 19:32

Sepatu Berlubang untuk Mengukir Masa Depan

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi--yang ada proses bertahan yang selalu harus terus diperjuangkan untuk terus bertahan sebagai manusia dan juga menjadi masyarakat Kota Bandung yang lebih baik.

Pendidikan adalah senjata utama untuk keluar dari kemiskinan struktural. (Sumber: Pexels | Foto: Partiu Kenai)
Linimasa 08 Mei 2026, 17:40

Tanaman Pemangsa Serangga Ini Dibudidayakan di Rumah Pemuda Bandung

Seorang pemuda di Dayeuhkolot sukses membudidayakan tanaman karnivora hingga meraup omzet belasan juta rupiah.

Tanaman pemangsa hewan Venus flytrap yang dibudiayakan Khoerul Anwar di Dayeuhkolot. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 17:20

Bandung dan Mereka yang Pulang dalam Lelah

Di balik gemerlap dan ramainya Bandung, ada banyak orang yang tetap kembali bangun esok pagi meski lelah terus menjadi bagian dari hidup mereka—agar kota dan kehidupan mereka tetap berjalan.

ekanan hidup di kota membuat banyak masyarakat terus berjalan, meski lelah perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. (Sumber: Freepik)