Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

3 menit baca
Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan
Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Setiap tanggal 24 April, Indonesia memperingati Hari Angkutan Nasional sebagai pengingat bahwa transportasi umum bukan sekadar sarana mobilitas, tetapi bagian dari perjalanan panjang sejarah bangsa. Peringatan ini lahir dari kesadaran bahwa angkutan umum memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas masyarakat, sekaligus menjadi bagian dari perkembangan kehidupan sosial dan ekonomi di Indonesia.

Sejarah angkutan nasional tidak dapat dilepaskan dari berdirinya Djawatan Angkutan Motor Republik Indonesia (DAMRI) yang berakar pada masa sekitar tahun 1943. Pada masa itu, sudah dikenal angkutan sederhana untuk mengangkut barang maupun penumpang. Seiring berjalannya waktu, terutama setelah Indonesia merdeka, layanan tersebut terus berkembang hingga menjadi bagian dari sistem transportasi yang lebih terorganisir di bawah DAMRI.

Oleh karena itu, 24 April tidak hanya dimaknai sebagai peringatan formal, tetapi juga sebagai refleksi tentang bagaimana transportasi membentuk cara masyarakat bergerak dan berinteraksi. Di balik setiap perjalanan, terdapat proses panjang yang terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman yang selalu berubah.

Angkot sebagai Cara untuk Mengenal Bandung

Angkot di Kota Bandung masih dibutuhkan meski bukan menjadi pilihan utama sejak ada transportasi berbasis daring. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Angkot di Kota Bandung masih dibutuhkan meski bukan menjadi pilihan utama sejak ada transportasi berbasis daring. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Bandung dikenal sebagai kota yang indah, dengan lanskap yang tertata, udara yang relatif sejuk, serta jejak sejarah yang masih terlihat di berbagai sudut kotanya. Mulai dari bangunan peninggalan kolonial, kawasan bersejarah, hingga ruang publik yang terus berkembang, Bandung sering dipandang sebagai kota yang memiliki daya tarik visual sekaligus nilai historis yang kuat.

Namun di balik itu semua, wajah Bandung yang lain justru tampak dari bagaimana kota ini bergerak setiap harinya, terutama melalui angkutan umum seperti angkot. Kehadirannya yang tersebar di berbagai jalur membuat kota ini terasa selalu hidup dan tidak pernah benar-benar sepi. Dari pagi hingga sore, angkot menjadi bagian dari ritme keseharian warga yang terus berpindah dari satu titik ke titik lain.

Bagi banyak orang, terutama pelajar, angkot adalah bagian dari keseharian yang tidak terpisahkan. Pada jam berangkat dan pulang sekolah, angkot dipenuhi anak-anak yang duduk berdampingan, berbicara, atau bercanda sepanjang perjalanan. Dari situ terlihat bahwa transportasi umum bukan hanya soal perpindahan, tetapi juga ruang kecil tempat kehidupan sosial berlangsung secara alami.

Di dalam angkot, interaksi sering muncul tanpa direncanakan. Orang yang sebelumnya tidak saling mengenal bisa berbagi ruang, saling memahami situasi perjalanan, atau terlibat percakapan ringan tentang pekerjaan, sekolah, hingga urusan sehari-hari. Dari momen sederhana itu, angkot memperlihatkan dirinya sebagai ruang sosial yang terbuka, tempat Bandung dapat dikenali bukan hanya dari bentuk kotanya, tetapi dari kehidupan yang terjadi di dalamnya.

Selain itu, Bandung juga dapat dipahami dari orang-orang yang menjalankan angkot setiap hari. Sejak subuh ketika kota masih lengang, kendaraan sudah mulai bergerak. Para pengemudi menyiapkan perjalanan lebih awal agar alur mobilitas kota tetap berjalan. Aktivitas ini menunjukkan bahwa kehidupan Bandung sebenarnya sudah dimulai bahkan sebelum kota terlihat ramai.

Ketekunan mereka menjadi bagian penting yang sering tidak disadari. Dari subuh hingga malam, mereka menghadapi jalan, penumpang, dan ritme kota yang terus berubah. Namun di balik rutinitas itu, ada peran besar dalam menjaga agar pergerakan kota tetap berlangsung.

Selain angkot, Bandung juga memiliki angkutan umum berbasis bus yang menjadi ciri perkembangan kota modern, seperti Trans Metro Pasundan (TMP/Teman Bus), Trans Metro Bandung (TMB), dan Metro Jabar Trans (MJT), serta transportasi yang unik yaitu Bandung Tour on Bus (BANDROS). Kehadiran layanan ini menunjukkan bahwa Bandung tidak hanya bertumpu pada sistem transportasi lama, tetapi juga terus berkembang menuju transportasi publik yang lebih modern, teratur, dan terintegrasi.

Hari Angkutan Nasional pada 24 April menjadi hari bersejarah dan pengingat bahwa transportasi umum bukan hanya bagian dari infrastruktur, tetapi juga ruang hidup yang membentuk cara masyarakat memahami kotanya. Bandung tidak hanya dilihat dari keindahan atau keteraturannya, tetapi juga dari keseharian yang terjadi di dalamnya, dari perjalanan singkat, percakapan kecil, hingga kerja keras yang menjaga kota tetap bergerak. Di balik roda angkot yang terus berputar, Bandung hadir sebagai kota yang hidup bukan karena kesempurnaan, tetapi karena pergerakan manusia di dalamnya.

REFERENSI

  • Ningsih, W. L. (2025). “Sejarah Hari Angkutan Nasional 24 April”. Kompas.com.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)