Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

4 menit baca
Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan Kamis 16 Apr 2026, 18:26 WIB
eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pada April 1955, Konferensi Asia-Afrika berlangsung di Bandung di tengah dunia yang terbelah oleh ketegangan Perang Dingin dan gelombang negara-negara Asia Afrika yang mulai melepaskan diri dari kolonialisme. Negara-negara yang sebagian besar baru merdeka atau masih berjuang untuk merdeka itu berkumpul bukan sekadar untuk berdiplomasi, tetapi untuk menentukan sikap, yaitu berdiri mandiri di luar tarik-menarik kekuatan besar dunia. Dari Bandung lahir gagasan tentang kedaulatan, solidaritas, dan penolakan terhadap dominasi, sebuah sikap yang pada masanya tidak hanya penting tetapi juga berani.

Sebanyak 29 negara dari Asia dan Afrika hadir dalam konferensi ini, termasuk Indonesia, India, Mesir, hingga Tiongkok. Kehadiran negara-negara tersebut bukan sekadar formalitas diplomatik, melainkan mencerminkan tumbuhnya kesadaran kolektif negara-negara Dunia Selatan untuk bersatu menghadapi ketimpangan global. Mereka datang dengan pengalaman yang serupa, yaitu kolonialisme dan ketertinggalan, tetapi juga dengan tekad yang sama untuk tidak lagi berada di bawah bayang-bayang kekuatan besar dunia.

Pembahasan dalam konferensi tidak berhenti pada isu politik semata. Negara-negara yang hadir juga membicarakan upaya menjaga perdamaian dunia, menolak segala bentuk kolonialisme, serta memperkuat kerja sama ekonomi sebagai fondasi kemandirian. Dalam pidato pembukaannya, Soekarno menegaskan pentingnya persatuan negara-negara yang pernah mengalami kolonialisme dan menyerukan agar negara-negara Asia dan Afrika tidak lagi menjadi objek, melainkan subjek dalam percaturan global. Seruan ini memperkuat semangat solidaritas antarnegara berkembang untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan seimbang.

Sejak itu, setiap 18 April diperingati sebagai Hari Konferensi Asia Afrika. Namun, di balik peringatan yang terus diulang setiap tahun, ada pertanyaan yang kerap luput diajukan, apakah Bandung hari ini masih menyimpan semangat yang sama, atau hanya merawat ingatan tentangnya. Kota ini pernah menjadi simbol perlawanan dan persatuan negara-negara berkembang, tetapi ketika sejarah itu terus diperingati tanpa benar-benar dihidupkan, Bandung berisiko berhenti sebagai kota penyelenggara Konferensi Asia-Afrika, tanpa benar-benar melanjutkan semangat yang pernah diperjuangkan di dalamnya.

Monju menjulang dengan gagah, seolah menantang waktu, mengingatkan setiap mata yang memandang bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil dari darah dan air mata rakyat Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Monju menjulang dengan gagah, seolah menantang waktu, mengingatkan setiap mata yang memandang bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil dari darah dan air mata rakyat Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Apa yang Tersisa dari Konferensi Asia Afrika?

Setelah Konferensi Asia-Afrika, lahirlah semangat solidaritas dan perdamaian yang menjadi identitas penting bagi negara-negara Asia dan Afrika. Hari ini, semangat itu paling mudah dikenali melalui jejak fisiknya. Kawasan Asia-Afrika, Gedung Merdeka, hingga berbagai penanda sejarah masih berdiri sebagai pengingat bahwa Bandung pernah menjadi pusat perhatian dunia. Namun, yang tersisa di ruang-ruang kota sering kali berhenti pada simbol. Ia terlihat, tetapi tidak selalu benar-benar dihidupi dalam kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, dalam konteks global saat ini, semangat yang lahir dari konferensi tersebut justru tidak kehilangan relevansinya. Dunia kembali dihadapkan pada berbagai persoalan, mulai dari ketegangan geopolitik baru, perubahan iklim, hingga ketimpangan ekonomi global yang belum terselesaikan. Krisis energi dan pangan menunjukkan bahwa banyak negara berkembang masih berada dalam posisi rentan. Dalam situasi seperti ini, prinsip kerja sama, solidaritas, dan kemandirian yang dulu dirumuskan di Bandung seharusnya kembali menjadi pijakan penting, bukan sekadar warisan sejarah yang diingat sesekali (Unesa, 2026).

Yang tersisa dari Konferensi Asia-Afrika tidak hanya berupa bangunan atau peringatan, tetapi juga makna besar yang pernah lahir darinya. Bandung sejak awal bukan sekadar lokasi konferensi, melainkan simbol perlawanan terhadap kolonialisme, persatuan negara berkembang, dan harapan akan dunia yang lebih adil. Namun, makna itu tidak otomatis hidup hanya karena adanya Konferensi Asia-Afrika. Ia seharusnya terus dijalankan, bukan sekadar dikenang. Gedung Merdeka memang masih berdiri sebagai pengingat, tetapi di luar itu, kota ini bergerak dengan realitasnya sendiri. Di titik inilah jarak mulai terasa, antara Bandung sebagai simbol dan Bandung sebagai kota yang benar-benar dijalani hari ini.

Bandung pernah mencatat sejarah sebagai ruang lahirnya solidaritas dan perlawanan negara-negara yang ingin berdiri setara di tengah dunia yang timpang. Namun, perjalanan waktu menunjukkan bahwa warisan tersebut tidak selalu berjalan beriringan dengan realitas kota hari ini. Dari simbol yang masih berdiri hingga nilai yang perlahan memudar dalam kehidupan sehari-hari, Bandung seolah berada di antara kebanggaan masa lalu dan tantangan masa kini. Semangat yang dulu diperjuangkan masih relevan di tingkat global, tetapi belum sepenuhnya terasa di ruang-ruang kota itu sendiri.

Kini, pertanyaannya sederhana, apakah kota ini masih memiliki suara itu, atau hanya menyisakan gema dari Konferensi Asia-Afrika yang perlahan memudar? (*)

REFERENSI

  • U.S. Department of State. (n.d.). “Bandung Conference (Asian-African Conference), 1955”. Office of the Historian.

  • Universitas Negeri Surabaya. (2026). “Konferensi Asia Afrika 1955: Tonggak Solidaritas Dunia Selatan dan Relevansinya di Era Modern”.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 01 Jun 2026, 18:48

Potret Federico Barba: Pemain Persib yang Pure Profesional Tanpa Ikatan Emosional

Dalam kultur sepakbola Bandung, ada sebuah prinsip tak tertulis "Pemain yang bermain tanpa sepenuh hati, lebih baik pergi".

Foto Federico Barba ACL 2. (Sumber: Ileague)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 17:23

Komunikasi Perubahan Pasca Haji dan Umrah

Secara spiritual pun orang yang sudah berhaji dan umrah adalah orang yang sudah memiliki level tinggi dalam ibadah.

Puncak Arafah di Makkah, Arab Saudi. (Sumber: Unsplash | Foto: ekrem osmanoglu)
Wisata & Kuliner 01 Jun 2026, 16:35

Kuliner Pindang Gunung, Sup Ikan Khas Pangandaran dengan Wangi Honje yang Kuat

Kuah kuning segar, aroma honje, dan ikan laut segar menjadikan pindang gunung sebagai salah satu kuliner tradisional paling khas di Pangandaran.

Kuliner Pindnang Gunung khas Pangandaran. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 15:28

Koperasi Merah Putih: Pemborosan Atau Strategi Tingkatkan Nilai Tawar Ekonomi Rakyat

Koperasi Merah Putih memunculkan banyak pro-kontra bagi masyarakat.

Koperasi Merah Putih Bentangan Klaten. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: BiographyWriter45)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 12:55

Adventure Tourism Berbasis Kendaraan: Antara Daya Tarik dan Risiko Kecelakaan

Adventure tourism berbasis kendaraan menawarkan pengalaman perjalanan yang unik. Di balik daya tariknya, keselamatan kendaraan, pengemudi, dan wisatawan perlu menjadi prioritas bersama.

Lava Tour Merapi, wisata jeep Jogja paling populer. (Sumber: labirutour.com)
Ikon 01 Jun 2026, 11:24

Pasar Malam, Hiburan Rakyat yang Membuat Waktu Seolah Berputar Mundur

Pasar malam tetap menjadi pilihan masyarakat karena murah, meriah, dan mampu membangkitkan memori masa lalu.

Pasar Malam di Desa Cigintung, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 10:53

Psikologi di Balik Viralnya “Mas Bahlil Ganteng”

Tapi kita sebagai individu yang melek media, tampaknya harus waspada saat hiburan menggantikan, bukan melengkapi diskusi substansial.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Sumber: BMPI Sekretariat Presiden)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 10:05

Eksistensi Koran dan Bapak Loper di Penghujung Era Digital

Koran dan bapak loper sama-sama berjuang di dunia yang semakin dinamis. Yang satu untuk literasi dan satunya bertahan hidup.

Koran sepertinya menolak hilang di telan sejarah. Bersama dengan mereka yang menyebarkan literasi lewat penjual koran. Begitu juga mereka bertahan hidup di Kota Metropolitan (Sumber: Generated AI dari foto asli | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 18:21

Kehidupan yang Terburu-buru Tidak Layak Dinikmati: Pesan Waisak untuk Bandung

Waisak mengingatkan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari tergesa-gesa.

Hari Raya Waisak mengajarkan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari kehidupan yang serba cepat, melainkan dari kesabaran dalam menjalani setiap proses kehidupan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 15:42

Empat Single D'Renced Menjadi Napas Pergerakan

Mereka tidak menjanjikan apapun, meraka hanya memastikan suara-suara ini tak pernah mati.

Band lokal D'Renced. (Foto: Sinan)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 12:28

Apoteker Bertahan Melawan Penyalahgunaan Obat di Bandung tapi Tidak dengan Regulasinya

Terlalu banyak lahan basah yang bisa disalahgunakan dalam dunia kesehatan.

Dari dulu eksistensi apoteker di masyarakat belum setenar dokter ataupun perawat dan profesi tenaga kesehatan lainnya. (Sumber: Pexels/Kaboompics.com)
Wisata & Kuliner 31 Mei 2026, 10:27

5 Pilihan Restoran dan Kafe Bandung Favorit Wisatawan Luar Daerah

Bandung punya banyak kafe baru, tapi lima tempat ini tetap jadi favorit wisatawan karena suasana nyaman, makanan enak, dan lokasi strategis.

Lebak Caring, Dago. Salah satu restoran favorit di Bandung.
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 09:54

Identifikasi Toponimi ‘Wangi’ di Zona Sesar Lembang

Literasi toponimi sangat dibutuhkan oleh masyarakat, salah satunya adalah toponimi dengan nama spesifik "wangi" di sepanjang zona Sesar Lembang.

Warga melintas di dekat rambu zona Sesar Lembang di kawasan Gunung Batu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 22 Agustus 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ikon 30 Mei 2026, 15:27

Bunga Rawa Rancaupas, Tanaman Langka Penjaga Ekosistem Rawa Dataran Tinggi

Bunga rawa di Rancaupas dikenal sebagai bunga abadi yang tidak mudah layu dan hanya ditemukan di lokasi tertentu di Indonesia.

Bunga rawa di Rancaupas. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 30 Mei 2026, 10:48

Kekerasan terhadap Perempuan Tak Selalu Berdarah, Kadang Hadir dalam Bentuk yang Dianggap Biasa

Pameran NeoFemisida di Bandung mengajak publik melihat kekerasan terhadap perempuan yang tak selalu berupa luka fisik, tetapi juga pembungkaman, stigma, dan penghi

Ima Suswanto menjelaskan makna di balik salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran NeoFemisida kepada pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 30 Mei 2026, 10:06

Menelusuri Sejarah, Filosofi, dan Kehidupan Baru Karinding di Tangan Generasi Muda

Buku “Sejarah Karinding Priangan” dan “Dangiang Karinding” terpampang di antara jajaran karinding tersebut.

Buku Sejarah Karinding Priangan memuat hasil penelitian Kimung mengenai jejak sejarah dan perkembangan karinding di Tatar Sunda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 18:02

Terima Kasih untuk yang Berkurban

Adanya orang-orang yang bekurban adalah bukti masih ada yang mau memberi dan membuat bahagia masyarakat yang tidak mampu berkurban

Panitia bersiap melakukan penyembelihan hewan kurban berupa sapi dan domba di halaman Masjid Lautze 2, Jalan Tamblong, Kota Bandung pada Rabu, 27 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 29 Mei 2026, 17:57

Kafe ACD Taraju, Tempat Healing dengan Rumah Pohon di Tengah Kebun Teh

Kafe ACD di Taraju Tasikmalaya menawarkan suasana ngopi di tengah perkebunan teh dan rumah pohon estetik.

Kafe ACD Taraju. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 16:30

Tentang Makna Do'a Pernikahan

Pernikahan memang menjadi momen bahagia dan bersejarah bagi setiap orang.

Ilustrasi pernikahan. (Sumber: Pexels | Foto: fadhil wy_)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 15:34

KLCBS, Gelombang Jazz dari Bandung yang Tak Pernah Padam

Salah satu siaran yang tetap hidup dalam ingatan itu adalah Radio KLCBS Bandung.

Ruang siaran dan studio KLCBS yang asri dan nyaman. (Sumber: KLCBS Official | Foto: Yanti Rangkuti)