Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

4 menit baca
Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan
eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pada April 1955, Konferensi Asia-Afrika berlangsung di Bandung di tengah dunia yang terbelah oleh ketegangan Perang Dingin dan gelombang negara-negara Asia Afrika yang mulai melepaskan diri dari kolonialisme. Negara-negara yang sebagian besar baru merdeka atau masih berjuang untuk merdeka itu berkumpul bukan sekadar untuk berdiplomasi, tetapi untuk menentukan sikap, yaitu berdiri mandiri di luar tarik-menarik kekuatan besar dunia. Dari Bandung lahir gagasan tentang kedaulatan, solidaritas, dan penolakan terhadap dominasi, sebuah sikap yang pada masanya tidak hanya penting tetapi juga berani.

Sebanyak 29 negara dari Asia dan Afrika hadir dalam konferensi ini, termasuk Indonesia, India, Mesir, hingga Tiongkok. Kehadiran negara-negara tersebut bukan sekadar formalitas diplomatik, melainkan mencerminkan tumbuhnya kesadaran kolektif negara-negara Dunia Selatan untuk bersatu menghadapi ketimpangan global. Mereka datang dengan pengalaman yang serupa, yaitu kolonialisme dan ketertinggalan, tetapi juga dengan tekad yang sama untuk tidak lagi berada di bawah bayang-bayang kekuatan besar dunia.

Pembahasan dalam konferensi tidak berhenti pada isu politik semata. Negara-negara yang hadir juga membicarakan upaya menjaga perdamaian dunia, menolak segala bentuk kolonialisme, serta memperkuat kerja sama ekonomi sebagai fondasi kemandirian. Dalam pidato pembukaannya, Soekarno menegaskan pentingnya persatuan negara-negara yang pernah mengalami kolonialisme dan menyerukan agar negara-negara Asia dan Afrika tidak lagi menjadi objek, melainkan subjek dalam percaturan global. Seruan ini memperkuat semangat solidaritas antarnegara berkembang untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan seimbang.

Sejak itu, setiap 18 April diperingati sebagai Hari Konferensi Asia Afrika. Namun, di balik peringatan yang terus diulang setiap tahun, ada pertanyaan yang kerap luput diajukan, apakah Bandung hari ini masih menyimpan semangat yang sama, atau hanya merawat ingatan tentangnya. Kota ini pernah menjadi simbol perlawanan dan persatuan negara-negara berkembang, tetapi ketika sejarah itu terus diperingati tanpa benar-benar dihidupkan, Bandung berisiko berhenti sebagai kota penyelenggara Konferensi Asia-Afrika, tanpa benar-benar melanjutkan semangat yang pernah diperjuangkan di dalamnya.

Monju menjulang dengan gagah, seolah menantang waktu, mengingatkan setiap mata yang memandang bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil dari darah dan air mata rakyat Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Monju menjulang dengan gagah, seolah menantang waktu, mengingatkan setiap mata yang memandang bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil dari darah dan air mata rakyat Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Apa yang Tersisa dari Konferensi Asia Afrika?

Setelah Konferensi Asia-Afrika, lahirlah semangat solidaritas dan perdamaian yang menjadi identitas penting bagi negara-negara Asia dan Afrika. Hari ini, semangat itu paling mudah dikenali melalui jejak fisiknya. Kawasan Asia-Afrika, Gedung Merdeka, hingga berbagai penanda sejarah masih berdiri sebagai pengingat bahwa Bandung pernah menjadi pusat perhatian dunia. Namun, yang tersisa di ruang-ruang kota sering kali berhenti pada simbol. Ia terlihat, tetapi tidak selalu benar-benar dihidupi dalam kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, dalam konteks global saat ini, semangat yang lahir dari konferensi tersebut justru tidak kehilangan relevansinya. Dunia kembali dihadapkan pada berbagai persoalan, mulai dari ketegangan geopolitik baru, perubahan iklim, hingga ketimpangan ekonomi global yang belum terselesaikan. Krisis energi dan pangan menunjukkan bahwa banyak negara berkembang masih berada dalam posisi rentan. Dalam situasi seperti ini, prinsip kerja sama, solidaritas, dan kemandirian yang dulu dirumuskan di Bandung seharusnya kembali menjadi pijakan penting, bukan sekadar warisan sejarah yang diingat sesekali (Unesa, 2026).

Yang tersisa dari Konferensi Asia-Afrika tidak hanya berupa bangunan atau peringatan, tetapi juga makna besar yang pernah lahir darinya. Bandung sejak awal bukan sekadar lokasi konferensi, melainkan simbol perlawanan terhadap kolonialisme, persatuan negara berkembang, dan harapan akan dunia yang lebih adil. Namun, makna itu tidak otomatis hidup hanya karena adanya Konferensi Asia-Afrika. Ia seharusnya terus dijalankan, bukan sekadar dikenang. Gedung Merdeka memang masih berdiri sebagai pengingat, tetapi di luar itu, kota ini bergerak dengan realitasnya sendiri. Di titik inilah jarak mulai terasa, antara Bandung sebagai simbol dan Bandung sebagai kota yang benar-benar dijalani hari ini.

Bandung pernah mencatat sejarah sebagai ruang lahirnya solidaritas dan perlawanan negara-negara yang ingin berdiri setara di tengah dunia yang timpang. Namun, perjalanan waktu menunjukkan bahwa warisan tersebut tidak selalu berjalan beriringan dengan realitas kota hari ini. Dari simbol yang masih berdiri hingga nilai yang perlahan memudar dalam kehidupan sehari-hari, Bandung seolah berada di antara kebanggaan masa lalu dan tantangan masa kini. Semangat yang dulu diperjuangkan masih relevan di tingkat global, tetapi belum sepenuhnya terasa di ruang-ruang kota itu sendiri.

Kini, pertanyaannya sederhana, apakah kota ini masih memiliki suara itu, atau hanya menyisakan gema dari Konferensi Asia-Afrika yang perlahan memudar? (*)

REFERENSI

  • U.S. Department of State. (n.d.). “Bandung Conference (Asian-African Conference), 1955”. Office of the Historian.

  • Universitas Negeri Surabaya. (2026). “Konferensi Asia Afrika 1955: Tonggak Solidaritas Dunia Selatan dan Relevansinya di Era Modern”.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 31 Agu 2026, 19:02

Dua Wajah Paten UMKM Bandung, Dua Jalan Berbeda untuk Naik Kelas di Pasar Digital

Kisah kontras Koku Footwear dan Dimsum Inmons, dua UMKM Bandung yang sama-sama tumbuh lewat Shopee namun dengan tingkat ketergantungan yang jauh berbeda.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin (pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear) dan Ani Andriyani (pemilik Dimsum Inmons). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 17:25

Maut Menjemput Putri Diana, Dunia Berduka

Catatan Nostalgia dan In Memoriam 29 Tahun Kepergian “Lady Di”.

Berita kepergian Putri Diana menjadi perhatian utama berbagai media cetak di Indonesia, mencerminkan besarnya duka dan perhatian masyarakat terhadap sosok Princess of Wales tersebut. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 16:28

Sejarah Nama Bulan (Bagian 2)

Dua belas bulan yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan jejak perubahan zaman, kekuasaan, dan cara manusia menata waktu.

Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Beranda 31 Agu 2026, 16:20

PLN Nusantara Power UP Cirata Overhaul Unit 5 dan 6 Demi Keandalan Pasokan Listrik

PLN Nusantara Power UP Cirata melakukan overhaul Unit 5 dan 6 PLTA Cirata untuk menjaga keandalan pasokan listrik pelanggan.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat keandalan PLTA Cirata melalui overhaul Unit 5 dan Unit 6 demi pelayanan listrik pelanggan.
Beranda 31 Agu 2026, 16:13

Hari Pelanggan Nasional, PLN NP UP Cirata Perkuat Sinergi dengan Masyarakat Desa Ciroyom

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Milangkala Desa Ciroyom ke-171 di Hari Pelanggan Nasional.

PLN Nusantara Power UP Cirata berpartisipasi dalam Milangkala Desa Ciroyom ke-171 sebagai wujud sinergi bersama masyarakat dan lingkungan.
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)