Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

4 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan Kamis 16 Apr 2026, 17:52 WIB
Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Di tengah meningkatnya kemacetan dan tekanan krisis energi, sepeda kembali dilirik sebagai moda transportasi alternatif di Bandung. Pemerintah kota pun mulai melakukan pengecatan ulang marka jalur sepeda di sejumlah ruas jalan. Secara sekilas, ini menunjukkan arah kebijakan menuju mobilitas berkelanjutan.

Namun, persoalan jalur sepeda di Bandung sering kali dilihat sebagai isu infrastruktur semata. Padahal, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: sejauh mana jalur sepeda tersebut benar-benar berfungsi sebagai solusi transportasi?

Secara konseptual, jalur sepeda merupakan bagian dari sistem transportasi berkelanjutan yang mendorong peralihan dari kendaraan bermotor ke moda yang lebih ramah lingkungan.

Meski demikian, di Bandung, banyak jalur sepeda yang masih bersifat parsial dan belum terhubung sebagai jaringan utuh. Di sejumlah titik, jalur ini juga mengalami konflik fungsi—baik dengan kendaraan bermotor maupun aktivitas parkir.

Kondisi ini membuat jalur sepeda belum dapat diandalkan untuk perjalanan harian, dan lebih sering digunakan secara terbatas, misalnya untuk rekreasi.

Secara regulatif, Indonesia telah memiliki dasar hukum yang memadai. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 menjamin hak keselamatan bagi seluruh pengguna jalan, termasuk pesepeda. Sementara Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 59 Tahun 2020 mengatur persyaratan teknis sepeda dan tata cara bersepeda demi keselamatan pesepeda di jalan.

Di tingkat kota, kebijakan yang diterapkan juga telah mendukung transportasi berkelanjutan, sebagaimana tercermin dalam Peraturan Wali Kota Bandung Nomor 47 Tahun 2022 yang mengatur tentang keselamatan serta penyediaan fasilitas pendukung bagi pesepeda.

Namun, tantangan utama terletak pada implementasi di lapangan. Jalur sepeda yang seharusnya terlindungi masih kerap digunakan oleh kendaraan bermotor atau menjadi area parkir, menunjukkan bahwa penegakan aturan belum berjalan konsisten.

Pengalaman di Lapangan: Ruang yang Diperebutkan

Pengalaman pesepeda di beberapa jalur sepeda memperlihatkan kondisi tersebut secara nyata.

Di Jalan Ir. H. Juanda (Dago), jalur sepeda berada di kawasan dengan aktivitas yang sangat tinggi—mulai dari pendidikan, wisata, hingga komersial. Namun dalam praktiknya, jalur ini tidak selalu berfungsi sebagaimana mestinya.

Alih fungsi jalur sepeda menjadi area parkir kendaraan travel di Jalan Dago, Kota Bandung, menunjukkan tantangan implementasi kebijakan di lapangan. (Foto: Google Street View)
Alih fungsi jalur sepeda menjadi area parkir kendaraan travel di Jalan Dago, Kota Bandung, menunjukkan tantangan implementasi kebijakan di lapangan. (Foto: Google Street View)

Di beberapa titik, jalur sepeda mengalami gangguan berupa parkir liar, konflik dengan kendaraan bermotor, hingga kondisi perkerasan yang kurang mendukung. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian Sufanir dan Santosa (2022) yang menunjukkan bahwa tingkat pelayanan jalur sepeda masih rendah akibat tingginya volume kendaraan bermotor dan minimnya perlindungan ruang bagi pesepeda.

Kondisi tersebut membuat jalur sepeda di Dago belum memberikan rasa aman yang konsisten. Ruang yang seharusnya menjadi fasilitas khusus justru menjadi bagian dari ruang lalu lintas yang diperebutkan.

Fenomena serupa juga terlihat di Jalan L.L. R.E. Martadinata (Jalan Riau), kawasan komersial dengan intensitas aktivitas tinggi. Di sini, jalur sepeda dan trotoar kerap terokupasi oleh kendaraan parkir, sehingga pesepeda harus keluar dari jalur yang seharusnya melindungi mereka.

Bagi pesepeda, melintasi jalur-jalur ini bukan sekadar perjalanan, melainkan serangkaian kompromi. Jalur yang dirancang sebagai ruang aman berubah menjadi ruang negosiasi—antara kendaraan bermotor, aktivitas parkir, dan keterbatasan ruang jalan.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa jalur sepeda tidak berdiri di ruang yang steril, melainkan dalam sistem kota yang kompleks, di mana berbagai kepentingan saling bertabrakan dalam ruang yang sama.

Kendaraan parkir menutup jalur sepeda di Jalan Riau, Kota Bandung, membuat pesepeda harus keluar dari jalur yang seharusnya melindungi mereka. (Foto: Google Street View)
Kendaraan parkir menutup jalur sepeda di Jalan Riau, Kota Bandung, membuat pesepeda harus keluar dari jalur yang seharusnya melindungi mereka. (Foto: Google Street View)

Masalah Sistem, Bukan Sekadar Desain

Dalam kajian transportasi, kualitas jalur sepeda umumnya ditentukan oleh lima aspek: keselamatan, kenyamanan, daya tarik, keterhubungan, dan aksesibilitas.

Sejumlah studi internasional menunjukkan bahwa pesepeda cenderung memilih rute dengan tingkat stres lalu lintas yang rendah—yakni jalur yang terhubung dengan baik dan memiliki perlindungan memadai dari kendaraan bermotor. Selain itu, kota dengan tingkat penggunaan sepeda tinggi umumnya tidak hanya mengandalkan infrastruktur, tetapi juga didukung oleh angkutan umum yang memadai, pembatasan kendaraan bermotor, pengelolaan parkir yang ketat, serta penegakan aturan yang konsisten.

Jika dilihat dari perspektif ini, tantangan di Bandung tidak hanya terkait desain fisik, tetapi juga pada belum terbentuknya sistem yang mendukung penggunaan sepeda secara berkelanjutan.

Pembangunan jalur sepeda dapat dipahami sebagai langkah awal menuju transportasi berkelanjutan. Namun, tanpa dukungan kebijakan yang lebih luas, infrastruktur ini berisiko berhenti pada level simbolik.

Sejumlah langkah dapat dipertimbangkan, seperti memperkuat penegakan aturan di jalur sepeda, meningkatkan keterhubungan antarsegmen, serta mengintegrasikan sepeda dengan moda transportasi lain. Selain itu, pengelolaan parkir dan pengaturan ruang jalan menjadi faktor penting yang tidak terpisahkan dari keberhasilan kebijakan ini.

Jalur sepeda di Kota Bandung menunjukkan bahwa penyediaan infrastruktur saja belum cukup untuk mengubah pola mobilitas perkotaan.

Pengalaman di berbagai jalur sepeda memperlihatkan bahwa tanpa perlindungan ruang yang memadai, keterhubungan jaringan, serta penegakan aturan yang konsisten, jalur sepeda sulit berfungsi sebagaimana direncanakan. Dalam kondisi seperti ini, sepeda tetap berada pada posisi yang kurang kompetitif dibandingkan kendaraan bermotor.

Sejumlah kota di dunia menunjukkan bahwa keberhasilan transportasi bersepeda tidak hanya bergantung pada keberadaan jalur, tetapi pada bagaimana ruang jalan dikelola secara menyeluruh—mulai dari pembatasan kendaraan bermotor hingga pengendalian parkir.

Bagi Kota Bandung, tantangannya bukan lagi sekadar membangun jalur sepeda, melainkan memastikan bahwa infrastruktur tersebut menjadi bagian dari sistem yang utuh dan dapat diandalkan.

Tanpa perubahan pada cara ruang jalan diatur, jalur sepeda berisiko tetap menjadi fasilitas yang tersedia, tetapi belum sepenuhnya digunakan sebagai solusi mobilitas sehari-hari. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 01 Jun 2026, 18:48

Potret Federico Barba: Pemain Persib yang Pure Profesional Tanpa Ikatan Emosional

Dalam kultur sepakbola Bandung, ada sebuah prinsip tak tertulis "Pemain yang bermain tanpa sepenuh hati, lebih baik pergi".

Foto Federico Barba ACL 2. (Sumber: Ileague)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 17:23

Komunikasi Perubahan Pasca Haji dan Umrah

Secara spiritual pun orang yang sudah berhaji dan umrah adalah orang yang sudah memiliki level tinggi dalam ibadah.

Puncak Arafah di Makkah, Arab Saudi. (Sumber: Unsplash | Foto: ekrem osmanoglu)
Wisata & Kuliner 01 Jun 2026, 16:35

Kuliner Pindang Gunung, Sup Ikan Khas Pangandaran dengan Wangi Honje yang Kuat

Kuah kuning segar, aroma honje, dan ikan laut segar menjadikan pindang gunung sebagai salah satu kuliner tradisional paling khas di Pangandaran.

Kuliner Pindnang Gunung khas Pangandaran. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 15:28

Koperasi Merah Putih: Pemborosan Atau Strategi Tingkatkan Nilai Tawar Ekonomi Rakyat

Koperasi Merah Putih memunculkan banyak pro-kontra bagi masyarakat.

Koperasi Merah Putih Bentangan Klaten. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: BiographyWriter45)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 12:55

Adventure Tourism Berbasis Kendaraan: Antara Daya Tarik dan Risiko Kecelakaan

Adventure tourism berbasis kendaraan menawarkan pengalaman perjalanan yang unik. Di balik daya tariknya, keselamatan kendaraan, pengemudi, dan wisatawan perlu menjadi prioritas bersama.

Lava Tour Merapi, wisata jeep Jogja paling populer. (Sumber: labirutour.com)
Ikon 01 Jun 2026, 11:24

Pasar Malam, Hiburan Rakyat yang Membuat Waktu Seolah Berputar Mundur

Pasar malam tetap menjadi pilihan masyarakat karena murah, meriah, dan mampu membangkitkan memori masa lalu.

Pasar Malam di Desa Cigintung, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 10:53

Psikologi di Balik Viralnya “Mas Bahlil Ganteng”

Tapi kita sebagai individu yang melek media, tampaknya harus waspada saat hiburan menggantikan, bukan melengkapi diskusi substansial.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Sumber: BMPI Sekretariat Presiden)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 10:05

Eksistensi Koran dan Bapak Loper di Penghujung Era Digital

Koran dan bapak loper sama-sama berjuang di dunia yang semakin dinamis. Yang satu untuk literasi dan satunya bertahan hidup.

Koran sepertinya menolak hilang di telan sejarah. Bersama dengan mereka yang menyebarkan literasi lewat penjual koran. Begitu juga mereka bertahan hidup di Kota Metropolitan (Sumber: Generated AI dari foto asli | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 18:21

Kehidupan yang Terburu-buru Tidak Layak Dinikmati: Pesan Waisak untuk Bandung

Waisak mengingatkan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari tergesa-gesa.

Hari Raya Waisak mengajarkan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari kehidupan yang serba cepat, melainkan dari kesabaran dalam menjalani setiap proses kehidupan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 15:42

Empat Single D'Renced Menjadi Napas Pergerakan

Mereka tidak menjanjikan apapun, meraka hanya memastikan suara-suara ini tak pernah mati.

Band lokal D'Renced. (Foto: Sinan)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 12:28

Apoteker Bertahan Melawan Penyalahgunaan Obat di Bandung tapi Tidak dengan Regulasinya

Terlalu banyak lahan basah yang bisa disalahgunakan dalam dunia kesehatan.

Dari dulu eksistensi apoteker di masyarakat belum setenar dokter ataupun perawat dan profesi tenaga kesehatan lainnya. (Sumber: Pexels/Kaboompics.com)
Wisata & Kuliner 31 Mei 2026, 10:27

5 Pilihan Restoran dan Kafe Bandung Favorit Wisatawan Luar Daerah

Bandung punya banyak kafe baru, tapi lima tempat ini tetap jadi favorit wisatawan karena suasana nyaman, makanan enak, dan lokasi strategis.

Lebak Caring, Dago. Salah satu restoran favorit di Bandung.
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 09:54

Identifikasi Toponimi ‘Wangi’ di Zona Sesar Lembang

Literasi toponimi sangat dibutuhkan oleh masyarakat, salah satunya adalah toponimi dengan nama spesifik "wangi" di sepanjang zona Sesar Lembang.

Warga melintas di dekat rambu zona Sesar Lembang di kawasan Gunung Batu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 22 Agustus 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ikon 30 Mei 2026, 15:27

Bunga Rawa Rancaupas, Tanaman Langka Penjaga Ekosistem Rawa Dataran Tinggi

Bunga rawa di Rancaupas dikenal sebagai bunga abadi yang tidak mudah layu dan hanya ditemukan di lokasi tertentu di Indonesia.

Bunga rawa di Rancaupas. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 30 Mei 2026, 10:48

Kekerasan terhadap Perempuan Tak Selalu Berdarah, Kadang Hadir dalam Bentuk yang Dianggap Biasa

Pameran NeoFemisida di Bandung mengajak publik melihat kekerasan terhadap perempuan yang tak selalu berupa luka fisik, tetapi juga pembungkaman, stigma, dan penghi

Ima Suswanto menjelaskan makna di balik salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran NeoFemisida kepada pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 30 Mei 2026, 10:06

Menelusuri Sejarah, Filosofi, dan Kehidupan Baru Karinding di Tangan Generasi Muda

Buku “Sejarah Karinding Priangan” dan “Dangiang Karinding” terpampang di antara jajaran karinding tersebut.

Buku Sejarah Karinding Priangan memuat hasil penelitian Kimung mengenai jejak sejarah dan perkembangan karinding di Tatar Sunda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 18:02

Terima Kasih untuk yang Berkurban

Adanya orang-orang yang bekurban adalah bukti masih ada yang mau memberi dan membuat bahagia masyarakat yang tidak mampu berkurban

Panitia bersiap melakukan penyembelihan hewan kurban berupa sapi dan domba di halaman Masjid Lautze 2, Jalan Tamblong, Kota Bandung pada Rabu, 27 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 29 Mei 2026, 17:57

Kafe ACD Taraju, Tempat Healing dengan Rumah Pohon di Tengah Kebun Teh

Kafe ACD di Taraju Tasikmalaya menawarkan suasana ngopi di tengah perkebunan teh dan rumah pohon estetik.

Kafe ACD Taraju. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 16:30

Tentang Makna Do'a Pernikahan

Pernikahan memang menjadi momen bahagia dan bersejarah bagi setiap orang.

Ilustrasi pernikahan. (Sumber: Pexels | Foto: fadhil wy_)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 15:34

KLCBS, Gelombang Jazz dari Bandung yang Tak Pernah Padam

Salah satu siaran yang tetap hidup dalam ingatan itu adalah Radio KLCBS Bandung.

Ruang siaran dan studio KLCBS yang asri dan nyaman. (Sumber: KLCBS Official | Foto: Yanti Rangkuti)