Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

8 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

SETIAP kali timnas sepak bola Indonesia meraih hasil bagus di level Asia, optimisme langsung membuncah. Publik mulai sibuk berbicara tentang peluang lolos ke Piala Dunia, menembus peringkat seratus besar FIFA, bahkan bersaing dengan Jepang, Korea Selatan, atau Australia.

Optimisme itu penting. Sepak bola memang hidup dari harapan. Tapi, harapan juga membutuhkan fondasi agar tidak berubah menjadi sekadar euforia sesaat.

Lalu, pertanyaanya adalah: bisakah sebuah negara menjadi kekuatan sepak bola Asia, bahkan mondial, jika klab-klab terbaiknya sendiri belum benar-benar bertaraf Asia, belum bertaraf mondial?

Pertanyaan itu mungkin terasa kurang nyaman. Jujur saja, perhatian kita selama ini lebih banyak tertuju kepada timnas. Ketika timnas bermain baik, kita merasa sepak bola Indonesia sedang maju. Ketika hasil menurun, kita menyimpulkan ada yang salah. 

Padahal, timnas hanyalah etalase. Karena itu, perjalanan menuju level Asia tidak dimulai ketika lagu kebangsaan diperdengarkan sebelum pertandingan internasional. Perjalanan itu dimulai jauh lebih awal. 

Ia dimulai ketika seorang pemain datang ke pusat latihan klab pada pagi hari, menjalani latihan dengan standar tinggi, mendapat pelatih yang kompeten, menggunakan fasilitas yang memadai, lalu pulang dengan membawa pengalaman yang membuatnya sedikit lebih baik daripada kemarin.

Jalan yang sama

Negara-negara yang kini menjadi kekuatan sepak bola Asia hampir semuanya menempuh jalan yang sama. Jepang tidak ujug-ujug menjadi langganan Piala Dunia. Korea Selatan juga tidak mendadak memiliki pemain yang tersebar di liga-liga Eropa. Arab Saudi tidak begitu saja mampu langsung memukau perhatian dunia. Di balik semua itu terdapat investasi panjang pada kompetisi domestik dan penguatan klab-klab profesional.

Selama ini kita sering bertanya, "Apa yang harus dilakukan timnas Indonesia agar mampu bersaing di Asia?" Mungkin pertanyaan yang lebih tepat sekarang ini justru, "Apa yang harus dilakukan klab-klab Indonesia agar mampu bersaing dulu dengan klub-klub terbaik Asia?" 

Nah, jawaban atas pertanyaan kedua kemungkinan besar akan menjawab pertanyaan pertama.

Dalam konteks Indonesia, Persib punya posisi istimewa. Hal ini bukan semata-mata karena prestasinya, melainkan karena pengaruhnya. Sedikit klab yang memiliki basis pendukung sebesar Persib, identitas sekuat Persib, dan daya tarik sebesar Persib. Ketika Persib bergerak maju, perhatian publik ikut bergerak. Ketika Persib menetapkan standar baru, klab-klab lain biasanya ikut memperhatikan.

Itulah sebabnya pembicaraan tentang Persib sesungguhnya tidak pernah berhenti pada Bandung. Dampaknya selalu meluas. Cara Persib mengelola pemain muda, membangun akademi sepak bola, memilih pelatih, hingga mengembangkan organisasi sering menjadi rujukan, disadari ataupun tidak. Klab besar memang memiliki beban yang lebih berat. Mereka tidak hanya dituntut menang. Mereka juga dituntut memimpin perubahan.

Namun, memimpin perubahan bukan berarti harus selalu menjadi juara. Ada kalanya perubahan justru dimulai dari keputusan-keputusan yang tidak terlalu terlihat. Contohnya, memperbaiki kualitas latihan, meningkatkan pendidikan pelatih, membangun pusat latihan yang lebih baik, menata ulang pembinaan usia muda. Keputusan-keputusan seperti ini jarang menjadi tajuk berita utama, tetapi justru menentukan kualitas klab dalam jangka panjang.

Rantai panjang

Beckham lahir di Bandung, 29 Oktober 2001. Ia dikenal sebagai talenta muda Persib Bandung dan Tim Nasional Indonesia U-23. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Arif Rahman)
Beckham lahir di Bandung, 29 Oktober 2001. Ia dikenal sebagai talenta muda Persib Bandung dan Tim Nasional Indonesia U-23. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Arif Rahman)

Sepak bola modern kian memperlihatkan bahwa kemenangan hanyalah ujung dari sebuah rantai yang sangat panjang. Di ujung itu, memang ada pemain yang mencetak gol. Tetapi, di belakangnya, ada pelatih fisik yang menjaga kebugaran, analis yang mempelajari lawan, tim medis yang mempercepat pemulihan, pencari bakat yang menemukan pemain bertahun-tahun sebelumnya, hingga manajemen yang mampu menyediakan lingkungan kerja profesional.

Karena itu, membandingkan Persib dengan klab-klab elite Asia tidak cukup hanya melihat hasil pertandingan. Yang lebih penting adalah membandingkan cara mereka bekerja. Apakah ritme latihan sudah setara? Apakah pengembangan pemain dilakukan secara sistematis? Apakah keputusan klab didasarkan pada rencana jangka panjang atau lebih banyak dipengaruhi kebutuhan jangka pendek? 

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang sebenarnya menentukan arah perkembangan sebuah klab.

Selama ini, terdapat kecenderungan kita melihat sepak bola hanya melalui papan skor akhir. Padahal, skor hanyalah akibat. Sebab-sebabnya jauh lebih banyak dan jauh lebih rumit. Klab yang kalah belum tentu memiliki proses yang buruk. Sebaliknya, klab yang menang belum tentu sedang membangun fondasi yang kuat. Dalam olahraga, hasil memang penting. Tetapi, hasil tanpa proses sering kali sulit dipertahankan.

Mungkin karena itu, mimpi Indonesia menjadi kekuatan Asia sebaiknya tidak dimulai dari target yang terlalu jauh dan muluk. Mimpi itu dapat dimulai dari sesuatu yang lebih dekat dan lebih nyata, yakni menjadikan klab-klab besar Indonesia benar-benar bertaraf Asia. Ketika level klab berkembang, pemain berkembang. Ketika pemain berkembang, timnas ikut berkembang. Hubungan itu tampak sederhana, tetapi justru di situlah letak kekuatannya.

Lokomotif perubahan

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air. Ini bukan karena Persib harus memikul seluruh harapan sepak bola Indonesia, melainkan karena setiap negara yang berhasil membangun sepak bola kuat hampir selalu memiliki beberapa klab yang lebih dulu berani menaikkan standar. 

Jika Indonesia ingin suatu hari berdiri sejajar dengan kekuatan-kekuatan sepak bola Asia, perjalanan itu mungkin tidak dimulai dari pertandingan internasional. Sangat mungkin ia dimulai dari keputusan-keputusan yang diambil hari ini di ruang rapat sebuah klab, di lapangan latihan, dan di akademinya. Dan Bandung dengan Persib-nya dapat menjadi salah satu titik awal perjalanan panjang tersebut.

Jika harus memilih satu pelajaran paling penting dari kebangkitan sepak bola Asia dalam tiga dekade terakhir, pelajarannya mungkin bukan soal taktik atau formasi. Pelajarannya adalah standar. Negara-negara yang kini rutin bersaing di level Asia terlebih dahulu menaikkan standar klab-klabnya. Mereka tidak menunggu tim nasional menjadi hebat. Mereka membangun lingkungan yang membuat pemain setiap hari dipaksa menjadi lebih baik.

Lantas, apa saja standar yang perlu dinaikkan levelnya?

Standar pertama adalah kualitas kompetisi. Liga bukan sekadar jadwal pertandingan dari Agustus hingga Mei. Liga adalah ruang belajar. Semakin tinggi kualitas persaingan, semakin cepat pemain berkembang. Mereka dipaksa mengambil keputusan lebih cepat, berpikir lebih cerdas, dan menjaga konsistensi lebih lama.

Karena itu, kualitas sebuah liga tidak hanya diukur dari siapa yang menjadi juara saban musim. Liga yang sehat adalah liga yang membuat setiap pertandingan melawan tim papan bawah tetap sulit dimenangi. Ketika jarak kualitas antarklab semakin sempit, seluruh peserta dipaksa meningkatkan standar. Persaingan seperti itulah yang akhirnya melahirkan pemain dengan mental kompetitif.

Persib tentu saja selalu butuh pemain hebat. Tetapi, pemain hebat juga butuh lawan yang hebat. Jika setiap pekan mereka menghadapi pertandingan dengan intensitas tinggi, kemampuan mereka akan meningkat secara alami. Sebaliknya, jika kompetisi berjalan dengan kualitas yang naik turun, perkembangan pemain ikut melambat.

Standar kedua adalah lisensi klab. Bagi sebagian orang, lisensi terdengar seperti urusan administrasi. Padahal, sesungguhnya ia adalah cermin profesionalisme. Di dalamnya terdapat persyaratan mengenai tata kelola, keuangan, pembinaan usia muda, fasilitas latihan, aspek hukum, hingga organisasi klab.

Dengan kata lain, lisensi bukan sekadar selembar dokumen untuk memenuhi syarat mengikuti kompetisi Asia. Lisensi adalah cara memastikan sebuah klab tidak hanya kuat di lapangan, tetapi juga sehat sebagai organisasi. Klab yang dikelola secara profesional biasanya lebih stabil menghadapi pergantian pelatih, perubahan pemain, maupun dinamika kompetisi.

Standar ketiga adalah akademi. Di sinilah masa depan sebuah klab sesungguhnya ditentukan. Akademi bukan pabrik pemain murah. Akademi adalah tempat sebuah filosofi sepak bola diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pemain yang tumbuh di lingkungan klab biasanya lebih memahami identitas tim dibanding mereka yang cuma datang melalui bursa transfer.

Akademi yang baik tidak selalu menghasilkan pemain bintang setiap tahun. Namun, hampir setiap tahun ia mampu menghasilkan pemain yang siap bersaing di level profesional. Konsistensi seperti inilah yang membedakan pembinaan dengan keberuntungan. Klab tidak lagi bergantung pada munculnya satu talenta luar biasa. Klab memiliki sistem yang terus melahirkan talenta.

Standar keempat adalah infrastruktur latihan. Publik lebih mengenal stadion karena di sanalah pertandingan berlangsung. Padahal, pemain menghabiskan jauh lebih banyak waktu di pusat latihan daripada di stadion. Di sanalah kebiasaan dibentuk. Di sanalah kualitas diasah. Di sanalah detail kecil yang membedakan pemain biasa dengan pemain elite dikerjakan setiap hari.

Lapangan latihan yang baik memang tidak otomatis melahirkan pemain hebat. Tetapi, lapangan yang buruk hampir pasti menghambat perkembangan pemain. Hal yang sama berlaku untuk ruang kebugaran, fasilitas pemulihan cedera, ruang analisis video, hingga lingkungan latihan yang mendukung konsentrasi. Semua itu mungkin tidak terlihat dari tribun, tetapi pengaruhnya akan terasa nanti di atas lapangan.

Karena itu, ketika sebuah klab memutuskan membangun pusat latihan yang modern, sesungguhnya ia sedang berinvestasi pada ribuan jam latihan di masa depan. Nilainya tidak bisa dihitung dari satu musim kompetisi. Manfaatnya baru terasa setelah bertahun-tahun, ketika pemain-pemain yang tumbuh di lingkungan tersebut mulai memasuki tim utama.

Standar kelima adalah profesionalisme. Kata ini sering dan mudah diucapkan, tetapi maknanya kerap dipersempit menjadi soal disiplin. Padahal, profesionalisme jauh lebih luas. Ia mencakup cara klab menyusun rencana, menghargai waktu, menggunakan data dalam pengambilan keputusan, menjaga kesehatan pemain, hingga membangun komunikasi yang sehat antara manajemen, pelatih, dan pemain.

Profesionalisme juga berarti keberanian berpikir melampaui hasil pertandingan berikutnya. Klab tetap menyiapkan regenerasi ketika sedang berada di puncak. Klab tetap memperkuat akademi ketika tim utama sedang berprestasi. Klab tetap mengevaluasi diri ketika baru saja menang. Budaya seperti ini tidak selalu menghasilkan berita besar, tetapi justru membuat organisasi terus bertumbuh.

Jika kelima standar itu dirangkai menjadi satu kesatuan, terlihat bahwa semuanya saling berkaitan. Kompetisi yang berkualitas membutuhkan klab yang profesional. Klab yang profesional lebih mudah memenuhi standar lisensi. Klab yang sehat mampu berinvestasi pada akademi dan infrastruktur latihan. Dari akademi lahir pemain berkualitas yang kemudian meningkatkan mutu kompetisi. Siklus itu terus berputar dan saling menguatkan.

Menjadi klab bertaraf Asia bukan semata-mata berarti mampu mengalahkan klab Asia dalam satu pertandingan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah cara kerja sehari-harinya sudah mengikuti standar Asia. Jika prosesnya sudah setara, hasil biasanya akan mengikuti. Tetapi, jika prosesnya masih tertinggal, kemenangan sesekali sering hanya menjadi pengecualian, bukan kebiasaan. Dan bagi klab sebesar Persib, kebiasaan membangun standar jauh lebih berharga daripada sesekali menciptakan kejutan.

Karena itu, tantangan terbesar Persib sesungguhnya bukan mempertahankan popularitas. Popularitas sudah dimiliki. Tantangannya adalah mengubah popularitas menjadi kepemimpinan. Dalam dunia usaha, perusahaan terbesar sering menjadi penentu arah industri. Dalam sepak bola, klab besar memiliki peran yang hampir sama. Mereka ikut menentukan standar.

Standar itu tidak selalu lahir dari kemenangan. Kadang justru lahir dari keberanian melakukan sesuatu lebih dulu. Misalnya, berani membangun akademi dengan kualitas yang lebih baik, berani mengembangkan pusat latihan yang modern, berani memberi ruang kepada pelatih muda untuk berkembang, berani menggunakan teknologi dalam pembinaan pemain, serta berani mengevaluasi diri meski selalu berada di puncak klasemen. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 12:56

Bagaimana Teknologi Pengenal Plat Nomor Mengubah Wajah Transportasi Modern?

Teknologi License Plate Recognition (LPR) memungkinkan kamera dan AI mengenali plat nomor kendaraan secara otomatis untuk mendukung transportasi yang lebih aman, efisien, dan cerdas.

LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. (Sumber: ilmiteknik.co.id)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 11:48

Panduan Berkunjung ke Pulau Komodo: Cara ke Labuan Bajo, Pink Beach, dan Pulau Padar

Panduan lengkap Taman Nasional Komodo mulai dari harga tiket, aplikasi SiOra, Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point, hingga pilihan tour terbaik.

Pulau Komodo. (Sumber: Flickr)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 11:09

Bobotoh Layak Menuntut Persib Lebih daripada Sekadar Juara

Klab besar di dunia hampir tidak pernah mendefinisikan dirinya hanya melalui jumlah piala yang mereka koleksi.

Bobotoh Persib sedang berkonvoi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Lukman Hidayat/Magang)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 08:00

Ci Manuk, Sungai Suci Penuh Do’a untuk Kekuatan Jiwa

Ci Manuk itu bukan berasal dari kata "manuk" yang berarti burung, tapi berasal dari kata "manu", dari bahasa Sanskerta.

Bandar Dermayu, tertulis dalam peta abad ke-16. Peta ini merupakan potongan dari Nova tabula insularum Javae, Sumatrae, Borneonis et aliarum Malaccam usque, 1598. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 07:42

Republik Tanpa Akuntabilitas

Kekuasaan yang menolak pertanggungjawaban sesungguhnya sedang mengingkari hakikatnya sebagai amanah rakyat.

Sebuah aksi penolakan Jokowi di Jawa Barat. Bandung 14 Juli 2026 di Depan DPRD Jawa Barat (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 18:45

Sisi Lain Kota Bandung: Kebiasaan Lama yang Berulang Kembali

Bahkan peringatan "Kesurupan" pun tetap tidak menghentikan oknum pembuang sampah sembarangan di kawasan Cibaduyut.

Peringatan Hantu dan CCTV pun tidak mengurungkan niat seseorang untuk membuang sampah sembarangan (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 18:03

MPLS Tanpa Bully

Sekolah yang ramah bukanlah tempat menimba ilmu yang sekadar bebas dari perundungan. Rumah kedua itu harus menjadi ruang bersama yang membuat setiap anak pulang dengan senyum yang lebih lebar

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 17:22

Dampak Program Makan Bergizi Gratis terhadap Pedagang Kantin dan UMKM Sekolah

Saya tertarik membahas topik ini karena menunjukkan dampak Program Makan Bergizi Gratis bagi siswa, pedagang kantin, dan UMKM sekolah.

FAGI Jabar ingatkan bahwa tugas utama guru adalah mengajar, bukan mengurusi MBG. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)