Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

8 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

SETIAP kali timnas sepak bola Indonesia meraih hasil bagus di level Asia, optimisme langsung membuncah. Publik mulai sibuk berbicara tentang peluang lolos ke Piala Dunia, menembus peringkat seratus besar FIFA, bahkan bersaing dengan Jepang, Korea Selatan, atau Australia.

Optimisme itu penting. Sepak bola memang hidup dari harapan. Tapi, harapan juga membutuhkan fondasi agar tidak berubah menjadi sekadar euforia sesaat.

Lalu, pertanyaanya adalah: bisakah sebuah negara menjadi kekuatan sepak bola Asia, bahkan mondial, jika klab-klab terbaiknya sendiri belum benar-benar bertaraf Asia, belum bertaraf mondial?

Pertanyaan itu mungkin terasa kurang nyaman. Jujur saja, perhatian kita selama ini lebih banyak tertuju kepada timnas. Ketika timnas bermain baik, kita merasa sepak bola Indonesia sedang maju. Ketika hasil menurun, kita menyimpulkan ada yang salah. 

Padahal, timnas hanyalah etalase. Karena itu, perjalanan menuju level Asia tidak dimulai ketika lagu kebangsaan diperdengarkan sebelum pertandingan internasional. Perjalanan itu dimulai jauh lebih awal. 

Ia dimulai ketika seorang pemain datang ke pusat latihan klab pada pagi hari, menjalani latihan dengan standar tinggi, mendapat pelatih yang kompeten, menggunakan fasilitas yang memadai, lalu pulang dengan membawa pengalaman yang membuatnya sedikit lebih baik daripada kemarin.

Jalan yang sama

Negara-negara yang kini menjadi kekuatan sepak bola Asia hampir semuanya menempuh jalan yang sama. Jepang tidak ujug-ujug menjadi langganan Piala Dunia. Korea Selatan juga tidak mendadak memiliki pemain yang tersebar di liga-liga Eropa. Arab Saudi tidak begitu saja mampu langsung memukau perhatian dunia. Di balik semua itu terdapat investasi panjang pada kompetisi domestik dan penguatan klab-klab profesional.

Selama ini kita sering bertanya, "Apa yang harus dilakukan timnas Indonesia agar mampu bersaing di Asia?" Mungkin pertanyaan yang lebih tepat sekarang ini justru, "Apa yang harus dilakukan klab-klab Indonesia agar mampu bersaing dulu dengan klub-klub terbaik Asia?" 

Nah, jawaban atas pertanyaan kedua kemungkinan besar akan menjawab pertanyaan pertama.

Dalam konteks Indonesia, Persib punya posisi istimewa. Hal ini bukan semata-mata karena prestasinya, melainkan karena pengaruhnya. Sedikit klab yang memiliki basis pendukung sebesar Persib, identitas sekuat Persib, dan daya tarik sebesar Persib. Ketika Persib bergerak maju, perhatian publik ikut bergerak. Ketika Persib menetapkan standar baru, klab-klab lain biasanya ikut memperhatikan.

Itulah sebabnya pembicaraan tentang Persib sesungguhnya tidak pernah berhenti pada Bandung. Dampaknya selalu meluas. Cara Persib mengelola pemain muda, membangun akademi sepak bola, memilih pelatih, hingga mengembangkan organisasi sering menjadi rujukan, disadari ataupun tidak. Klab besar memang memiliki beban yang lebih berat. Mereka tidak hanya dituntut menang. Mereka juga dituntut memimpin perubahan.

Namun, memimpin perubahan bukan berarti harus selalu menjadi juara. Ada kalanya perubahan justru dimulai dari keputusan-keputusan yang tidak terlalu terlihat. Contohnya, memperbaiki kualitas latihan, meningkatkan pendidikan pelatih, membangun pusat latihan yang lebih baik, menata ulang pembinaan usia muda. Keputusan-keputusan seperti ini jarang menjadi tajuk berita utama, tetapi justru menentukan kualitas klab dalam jangka panjang.

Rantai panjang

Beckham lahir di Bandung, 29 Oktober 2001. Ia dikenal sebagai talenta muda Persib Bandung dan Tim Nasional Indonesia U-23. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Arif Rahman)
Beckham lahir di Bandung, 29 Oktober 2001. Ia dikenal sebagai talenta muda Persib Bandung dan Tim Nasional Indonesia U-23. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Arif Rahman)

Sepak bola modern kian memperlihatkan bahwa kemenangan hanyalah ujung dari sebuah rantai yang sangat panjang. Di ujung itu, memang ada pemain yang mencetak gol. Tetapi, di belakangnya, ada pelatih fisik yang menjaga kebugaran, analis yang mempelajari lawan, tim medis yang mempercepat pemulihan, pencari bakat yang menemukan pemain bertahun-tahun sebelumnya, hingga manajemen yang mampu menyediakan lingkungan kerja profesional.

Karena itu, membandingkan Persib dengan klab-klab elite Asia tidak cukup hanya melihat hasil pertandingan. Yang lebih penting adalah membandingkan cara mereka bekerja. Apakah ritme latihan sudah setara? Apakah pengembangan pemain dilakukan secara sistematis? Apakah keputusan klab didasarkan pada rencana jangka panjang atau lebih banyak dipengaruhi kebutuhan jangka pendek? 

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang sebenarnya menentukan arah perkembangan sebuah klab.

Selama ini, terdapat kecenderungan kita melihat sepak bola hanya melalui papan skor akhir. Padahal, skor hanyalah akibat. Sebab-sebabnya jauh lebih banyak dan jauh lebih rumit. Klab yang kalah belum tentu memiliki proses yang buruk. Sebaliknya, klab yang menang belum tentu sedang membangun fondasi yang kuat. Dalam olahraga, hasil memang penting. Tetapi, hasil tanpa proses sering kali sulit dipertahankan.

Mungkin karena itu, mimpi Indonesia menjadi kekuatan Asia sebaiknya tidak dimulai dari target yang terlalu jauh dan muluk. Mimpi itu dapat dimulai dari sesuatu yang lebih dekat dan lebih nyata, yakni menjadikan klab-klab besar Indonesia benar-benar bertaraf Asia. Ketika level klab berkembang, pemain berkembang. Ketika pemain berkembang, timnas ikut berkembang. Hubungan itu tampak sederhana, tetapi justru di situlah letak kekuatannya.

Lokomotif perubahan

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air. Ini bukan karena Persib harus memikul seluruh harapan sepak bola Indonesia, melainkan karena setiap negara yang berhasil membangun sepak bola kuat hampir selalu memiliki beberapa klab yang lebih dulu berani menaikkan standar. 

Jika Indonesia ingin suatu hari berdiri sejajar dengan kekuatan-kekuatan sepak bola Asia, perjalanan itu mungkin tidak dimulai dari pertandingan internasional. Sangat mungkin ia dimulai dari keputusan-keputusan yang diambil hari ini di ruang rapat sebuah klab, di lapangan latihan, dan di akademinya. Dan Bandung dengan Persib-nya dapat menjadi salah satu titik awal perjalanan panjang tersebut.

Jika harus memilih satu pelajaran paling penting dari kebangkitan sepak bola Asia dalam tiga dekade terakhir, pelajarannya mungkin bukan soal taktik atau formasi. Pelajarannya adalah standar. Negara-negara yang kini rutin bersaing di level Asia terlebih dahulu menaikkan standar klab-klabnya. Mereka tidak menunggu tim nasional menjadi hebat. Mereka membangun lingkungan yang membuat pemain setiap hari dipaksa menjadi lebih baik.

Lantas, apa saja standar yang perlu dinaikkan levelnya?

Standar pertama adalah kualitas kompetisi. Liga bukan sekadar jadwal pertandingan dari Agustus hingga Mei. Liga adalah ruang belajar. Semakin tinggi kualitas persaingan, semakin cepat pemain berkembang. Mereka dipaksa mengambil keputusan lebih cepat, berpikir lebih cerdas, dan menjaga konsistensi lebih lama.

Karena itu, kualitas sebuah liga tidak hanya diukur dari siapa yang menjadi juara saban musim. Liga yang sehat adalah liga yang membuat setiap pertandingan melawan tim papan bawah tetap sulit dimenangi. Ketika jarak kualitas antarklab semakin sempit, seluruh peserta dipaksa meningkatkan standar. Persaingan seperti itulah yang akhirnya melahirkan pemain dengan mental kompetitif.

Persib tentu saja selalu butuh pemain hebat. Tetapi, pemain hebat juga butuh lawan yang hebat. Jika setiap pekan mereka menghadapi pertandingan dengan intensitas tinggi, kemampuan mereka akan meningkat secara alami. Sebaliknya, jika kompetisi berjalan dengan kualitas yang naik turun, perkembangan pemain ikut melambat.

Standar kedua adalah lisensi klab. Bagi sebagian orang, lisensi terdengar seperti urusan administrasi. Padahal, sesungguhnya ia adalah cermin profesionalisme. Di dalamnya terdapat persyaratan mengenai tata kelola, keuangan, pembinaan usia muda, fasilitas latihan, aspek hukum, hingga organisasi klab.

Dengan kata lain, lisensi bukan sekadar selembar dokumen untuk memenuhi syarat mengikuti kompetisi Asia. Lisensi adalah cara memastikan sebuah klab tidak hanya kuat di lapangan, tetapi juga sehat sebagai organisasi. Klab yang dikelola secara profesional biasanya lebih stabil menghadapi pergantian pelatih, perubahan pemain, maupun dinamika kompetisi.

Standar ketiga adalah akademi. Di sinilah masa depan sebuah klab sesungguhnya ditentukan. Akademi bukan pabrik pemain murah. Akademi adalah tempat sebuah filosofi sepak bola diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pemain yang tumbuh di lingkungan klab biasanya lebih memahami identitas tim dibanding mereka yang cuma datang melalui bursa transfer.

Akademi yang baik tidak selalu menghasilkan pemain bintang setiap tahun. Namun, hampir setiap tahun ia mampu menghasilkan pemain yang siap bersaing di level profesional. Konsistensi seperti inilah yang membedakan pembinaan dengan keberuntungan. Klab tidak lagi bergantung pada munculnya satu talenta luar biasa. Klab memiliki sistem yang terus melahirkan talenta.

Standar keempat adalah infrastruktur latihan. Publik lebih mengenal stadion karena di sanalah pertandingan berlangsung. Padahal, pemain menghabiskan jauh lebih banyak waktu di pusat latihan daripada di stadion. Di sanalah kebiasaan dibentuk. Di sanalah kualitas diasah. Di sanalah detail kecil yang membedakan pemain biasa dengan pemain elite dikerjakan setiap hari.

Lapangan latihan yang baik memang tidak otomatis melahirkan pemain hebat. Tetapi, lapangan yang buruk hampir pasti menghambat perkembangan pemain. Hal yang sama berlaku untuk ruang kebugaran, fasilitas pemulihan cedera, ruang analisis video, hingga lingkungan latihan yang mendukung konsentrasi. Semua itu mungkin tidak terlihat dari tribun, tetapi pengaruhnya akan terasa nanti di atas lapangan.

Karena itu, ketika sebuah klab memutuskan membangun pusat latihan yang modern, sesungguhnya ia sedang berinvestasi pada ribuan jam latihan di masa depan. Nilainya tidak bisa dihitung dari satu musim kompetisi. Manfaatnya baru terasa setelah bertahun-tahun, ketika pemain-pemain yang tumbuh di lingkungan tersebut mulai memasuki tim utama.

Standar kelima adalah profesionalisme. Kata ini sering dan mudah diucapkan, tetapi maknanya kerap dipersempit menjadi soal disiplin. Padahal, profesionalisme jauh lebih luas. Ia mencakup cara klab menyusun rencana, menghargai waktu, menggunakan data dalam pengambilan keputusan, menjaga kesehatan pemain, hingga membangun komunikasi yang sehat antara manajemen, pelatih, dan pemain.

Profesionalisme juga berarti keberanian berpikir melampaui hasil pertandingan berikutnya. Klab tetap menyiapkan regenerasi ketika sedang berada di puncak. Klab tetap memperkuat akademi ketika tim utama sedang berprestasi. Klab tetap mengevaluasi diri ketika baru saja menang. Budaya seperti ini tidak selalu menghasilkan berita besar, tetapi justru membuat organisasi terus bertumbuh.

Jika kelima standar itu dirangkai menjadi satu kesatuan, terlihat bahwa semuanya saling berkaitan. Kompetisi yang berkualitas membutuhkan klab yang profesional. Klab yang profesional lebih mudah memenuhi standar lisensi. Klab yang sehat mampu berinvestasi pada akademi dan infrastruktur latihan. Dari akademi lahir pemain berkualitas yang kemudian meningkatkan mutu kompetisi. Siklus itu terus berputar dan saling menguatkan.

Menjadi klab bertaraf Asia bukan semata-mata berarti mampu mengalahkan klab Asia dalam satu pertandingan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah cara kerja sehari-harinya sudah mengikuti standar Asia. Jika prosesnya sudah setara, hasil biasanya akan mengikuti. Tetapi, jika prosesnya masih tertinggal, kemenangan sesekali sering hanya menjadi pengecualian, bukan kebiasaan. Dan bagi klab sebesar Persib, kebiasaan membangun standar jauh lebih berharga daripada sesekali menciptakan kejutan.

Karena itu, tantangan terbesar Persib sesungguhnya bukan mempertahankan popularitas. Popularitas sudah dimiliki. Tantangannya adalah mengubah popularitas menjadi kepemimpinan. Dalam dunia usaha, perusahaan terbesar sering menjadi penentu arah industri. Dalam sepak bola, klab besar memiliki peran yang hampir sama. Mereka ikut menentukan standar.

Standar itu tidak selalu lahir dari kemenangan. Kadang justru lahir dari keberanian melakukan sesuatu lebih dulu. Misalnya, berani membangun akademi dengan kualitas yang lebih baik, berani mengembangkan pusat latihan yang modern, berani memberi ruang kepada pelatih muda untuk berkembang, berani menggunakan teknologi dalam pembinaan pemain, serta berani mengevaluasi diri meski selalu berada di puncak klasemen. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 17:03

Dari Layar ke Media Sosial: Cara Film Animasi Membangun Percakapan

Disney dan Pixar menerapkan strategi komunikasi pemasaran terpadu melalui berbagai platform digital untuk memaksimalkan publikasi global dari film animasi Inside Out 2.

Film animasi "Inside Out 2". (Sumber: Walt Disney Studios Motion Pictures)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 16:00

Mengulas Strategi Komunikasi Digital Pembentukan Opini Publik pada Publikasi Produk Fashion

Strategi komunikasi digital menyesuaikan karakter setiap platform, tetapi tetap menjaga konsistensi pesan untuk membentuk identitas produk dan pemahaman publik.

Ilustrasi produk fashion.
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 15:20

Menyusuri Jejak Peristiwa Era 80-an dalam Lembaran Majalah Zaman

Majalah Zaman edisi 1984 bukan sekadar bacaan lama, melainkan rekaman suasana, budaya, dan cara pandang masyarakat Indonesia pada sebuah masa yang kini telah berlalu.

Majalah Zaman edisi September 1984, terbit sekitar 42 tahun silam. Sampul mukanya menampilkan lukisan bergaya airbrush penyanyi asal Cimahi, Ria Angelina, yang menjadi salah satu wajah hiburan populer pada era 1980-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 13:11

R. Ipik Gandamana Sumawinata Layak sebagai Pahlawan Nasional dari Jawa Barat asal Purwakarta

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional.

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 10:29

Spiderman, Perdamaian, dan Pahlawan

Segala penghargaan bisa disimpan di lemari. Piala bisa berdebu. Piagam bisa menguning. Justru nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya bisa hidup jauh lebih lama. Selamat Kang!

Spider-Man: No Way Home menjadi tonggak baru penayangan film di era pandemi Covid-19 dengan memecahkan rekor penjualan di pekan debutnya. (Sumber: Columbia Pictures/Marvel Studios/Matt Kennedy)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 07:46

KDM Ada di Mana-mana, Jawa Barat Ada di Mana?

Sebesar apa pun panggung nasional yang dimasukinya, mandat KDM tetap berada di Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 20:55

Adakah Solusi Masalah Kualitas Udara di Lingkungan Sekolah?

Sebagian besar sekolah negeri di Bandung masih mengandalkan ventilasi alami,

Ilustrasi masalah kualitas udara di ruang kelas di kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 17:41

200 Ikon Bandung #1 Mahanagari

Mahanagari pernah menjadi salah satu cara kreatif mengenalkan identitas dan kebanggaan terhadap Bandung melalui desain, komunitas, dan kearifan lokal.

Sebuah buku yang berjudul 200 ikon Bandung. (Sumber: Malia Nur Alifa)