AYOBANDUNG.ID - Di tengah arus musik digital yang kian mendominasi seperti Spotify hingga YouTube Music, rilisan fisik seperti kaset, CD, dan vinyl sudah lama tersisih dari kebiasaan mendengar generasi sekarang. Namun di Bandung, kota yang sejak lama dikenal sebagai barometer musik Indonesia, jejak kejayaan skena musik dan budaya koleksi fisik belum sepenuhnya hilang.
Sejak tahun 1990-an, Bandung menjadi kota yang kaya akan lahirnya skena musik. Dari rock dan metal hingga britpop yang sempat menyentuh puncaknya di era tersebut.
Band yang lahir dari Bandung dan kini mulai akrab di telinga publik seperti Alkateri, yang namanya diambil dari nama jalan di Bandung.
Band lainnya seperti Themilo, Noah, The Sigit, Pure Saturday, Kale, Burgerkill, dan Jeruji turut mewarnai perhelatan musik di Kota Kembang dengan pendengar setianya yang bertahan hingga saat ini.

Lingkungan kampus juga turut menyumbangkan musisi lokal terbaiknya, seperti band The Panas Dalam dan Dongker dari ITB, Mocca dari Itenas, Project Pop dari Unpar. Sedikit melipir ke sisi Bandung, ada The Panturas dan The Changcuters dari Unpad.
Keberadaan komunitas perguruan tinggi seperti ITB dan Unpad turut membantu penyebaran musik alternatif, termasuk melalui kios-kios kaset yang menjadi media utama sebelum era internet hadir.

Irham Vickry, mahasiswa Sastra Rusia Unpad ’89, menjadi salah satu penikmatnya. Berawal dari hobi mendengar dan mengoleksi musik analog, ia bersama kawannya dari ITB membuka safari lapaknya dari Dewi Sartika, BIP, hingga Alun-Alun Bandung.
Hingga lahirlah DU 68 Musik sejak tahun 2000 dan bertahan hingga sekarang. DU 68 Musik hadir bukan hanya sebagai toko, tetapi juga sebagai bagian dari denyut nadi musik di kota ini.
Di pinggir Jalan Dipatiukur yang kecil dan selalu ramai, hadir DU 68 Musik mengisi salah satu sudutnya. Orang yang pertama kali datang pasti akan sempat bingung mencarinya. Memang berada di pinggir jalan raya, namun perlu menaiki anak tangga yang hanya cukup satu orang untuk sampai ke salah satu toko musik analog tertua di Bandung ini.
Dalam ruangan kecil dengan rak kayu yang menjulang tinggi, ribuan rilisan fisik tersusun rapi. Mulai dari kaset jadul hingga vinyl langka. Di balik meja kecil, Vickry duduk santai, mencatat transaksi dengan cara manual, seolah menolak mengikuti perkembangan zaman yang serba digital.
Dari Kios Jalanan ke Ruang Nostalgia
Kisah DU 68 Musik dimulai dari sebuah kios sederhana di jalanan Bandung pada awal 1990-an, saat Vickry masih mahasiswa yang gemar mencari kaset bekas. Ia dan temannya menjual koleksi pribadi, berkeliling dari alun-alun hingga ke kampus, sebelum menetap di lokasi sekarang sejak tahun 2000. Dari aktivitas kecil tersebut, muncul keyakinan bahwa musik dapat menjelma menjadi pilihan hidup.
“Awalnya kita jualan dari lapak jalanan, dari zaman saya masih kuliah. Kita kolektor juga, senang cari barang di pasar-pasar bekas karena murah dan banyak yang nggak ada di toko,” kata Vickry saat ditemui di tokonya.
“Kita kaget, kok bisa ya? Bawa kaset nggak sampai seratus, tapi habis dirubung orang. Dari situ kita mikir, ini bisa jadi lahan cari uang,” ucapnya sontak tertawa.

Ia mengaku tidak pernah mengambil jalur kerja formal setelah lulus, memilih untuk sepenuhnya hidup dari dunia musik. Baginya, DU 68 bukan hanya untuk mencari uang, tetapi juga tempat di mana hobi dan perbedaan latar belakang orang menyatu dalam obrolan musik yang menjadi alasan ia bertahan, yaitu karena ia bahagia di sana.
“Kalau nggak punya passion di musik, nggak akan bertahan lama. Saya bahagia di sini, makanya saya nggak pernah cari kerja formal,” kata Vickry.
“Biaya operasional kadang sudah nggak masuk akal, tapi kita bertahan. Balik lagi ke passion,” ujarnya.
Meski perubahan zaman tak dapat dihindari, Vickry melihat adanya pola yang terulang dalam preferensi musik. Tren muncul dan menghilang, tetapi selalu kembali dalam siklus tertentu, menunjukkan bahwa selera musik manusia tidak sepenuhnya hilang, melainkan bertransformasi.
“Tren musik itu muter. Yang dulu nggak laku, sepuluh tahun kemudian dicari lagi,” kata Vickry.
“Saya lihat siklusnya sekitar 10–15 tahun, selalu berulang,” lanjutnya.

Musik Universal yang Menyatukan
Lebih daripada sekadar toko, DU 68 Musik telah berkembang menjadi ruang sosial yang dinamis dan terbuka. Di tempat ini, berbagai latar belakang sosial, agama, hingga pilihan politik menyatu dalam satu tema: musik.
Diskusi yang di luar bisa memicu argumen, namun di sini bertransformasi menjadi tawa dan kenangan.
“Musik itu universal. Dia mempersatukan,” ujar Vickry dengan nada serius, lalu tak lama diledek oleh rekannya sesama penikmat musik dari Makassar sambil tertawa melihat nada bicaranya yang serius.
“Di sini tidak ada masalah agama, politik, atau status. Semuanya menyatu di sini,” katanya.
Ia menceritakan bagaimana beragam orang datang ke tempat ini, mulai dari mahasiswa, anak-anak, hingga kolektor lama dan generasi baru yang penasaran.
“Sekarang justru banyak anak muda, mahasiswa, bahkan anak SMA sampai SD yang datang,” kata Vickry.
“Mereka datang karena penasaran, cari apa yang mereka dengar dari orang tua atau dari internet,” tambahnya.

Vickry merasa bahwa DU 68 bukan sekadar tempat untuk jual beli musik analog, melainkan juga tempat berkumpul. Banyak pengunjung yang datang tidak untuk membeli, melainkan sekadar mengobrol atau menyeduh kopi.
“Kadang mereka ke sini nggak beli, cuma nongkrong. Ngopi, ngobrol. Sudah jadi kayak sahabat,” kata Vickry sambil menunjuk salah satu konsumennya di sudut toko.
Ia juga mengingat berbagai momen yang selalu membekas selama puluhan tahun menjalankan toko ini. Salah satunya adalah saat seorang perempuan menemukan kembali rekaman lamanya yang sempat hilang.
“Pernah ada ibu-ibu yang datang, mencari kaset lama. Ketika menemukannya, dia langsung melompat kegirangan. Ternyata itu rekaman dirinya sewaktu muda,” ucap Vickry.
“Ada ibu-ibu datang, nyari kaset lama. Pas ketemu, dia loncat-loncat. Ternyata itu rekaman dia sendiri waktu muda,” ujarnya dengan sorot mata berbinar.
“Dia bilang, ‘Saya cerita ke anak saya kalau dulu saya penyanyi, tapi nggak ada yang percaya.’ Nah, kaset itu jadi bukti,” ucapnya tertawa lepas.

Bertahan di Tengah Arus Digital
Di zaman ketika musik dapat dijangkau dalam sekejap, keberadaan rilisan fisik mungkin terlihat tidak relevan. Namun bagi sebagian orang, mendengarkan musik lebih dari sekadar suara, melainkan menyangkut rasa, benda, dan ikatan emosional. Hal ini adalah sesuatu yang Vickry yakini tidak bisa tergantikan oleh teknologi.
“Kalau kata mereka (konsumen), musik streaming itu nggak ada ‘nyawa’-nya. Kayak dengerin mesin, bukan manusia,” kata Vickry.
“Kalau dari kaset atau vinyl, itu kayak penyanyinya ada di depan kita,” lanjutnya.
Selain aspek emosional, rilisan fisik juga memiliki nilai ekonomi dan sejarah. Kaset atau vinyl bisa diwariskan, lalu dijual kembali, bahkan menjadi artefak budaya yang mencatat jejak zaman.
“Barang fisik itu punya nilai. Bisa dijual lagi, bisa jadi langka, bisa diwariskan,” ucap Vickry.

Ia mengungkapkan bahwa yang membuat DU 68 tetap eksis bukan hanya karena produk yang dijual, tetapi juga karena kepercayaan dan hubungan dengan pelanggan yang telah terjalin selama bertahun-tahun.
Secara tidak langsung, ia melihat DU 68 berperan dalam melestarikan dan merawat memori musik di Bandung. Di tengah menghilangnya banyak toko musik fisik, tempat ini menjadi semacam arsip hidup.
“Secara langsung mungkin nggak ada. Tapi ini jadi oase ketika tempat lain sudah nggak ada,” kata Vickry.
“Ini sudah kayak museum. Dari musik tahun 60-an sampai sekarang ada di sini,” ucapnya.
Meski demikian, Vickry sangat realistis mengenai masa depan. Ia menyadari bahwa rilisan fisik tidak akan kembali menjadi hal utama, dan keberlanjutan DU 68 juga belum tentu akan diteruskan oleh generasi berikutnya.
“Kita kemakan teknologi, itu harus diakui. Fisik masih ada, tapi nggak sebesar dulu,” kata Vickry.
“Kalau nanti nggak ada yang meneruskan, mungkin berhenti di saya saja,” ucapnya pelan.
