DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Kamis 16 Apr 2026, 16:23 WIB
Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di tengah arus musik digital yang kian mendominasi seperti Spotify hingga YouTube Music, rilisan fisik seperti kaset, CD, dan vinyl sudah lama tersisih dari kebiasaan mendengar generasi sekarang. Namun di Bandung, kota yang sejak lama dikenal sebagai barometer musik Indonesia, jejak kejayaan skena musik dan budaya koleksi fisik belum sepenuhnya hilang.

Sejak tahun 1990-an, Bandung menjadi kota yang kaya akan lahirnya skena musik. Dari rock dan metal hingga britpop yang sempat menyentuh puncaknya di era tersebut.

Band yang lahir dari Bandung dan kini mulai akrab di telinga publik seperti Alkateri, yang namanya diambil dari nama jalan di Bandung.

Band lainnya seperti Themilo, Noah, The Sigit, Pure Saturday, Kale, Burgerkill, dan Jeruji turut mewarnai perhelatan musik di Kota Kembang dengan pendengar setianya yang bertahan hingga saat ini.

Lingkungan kampus juga turut menyumbangkan musisi lokal terbaiknya, seperti band The Panas Dalam dan Dongker dari ITB, Mocca dari Itenas, Project Pop dari Unpar. Sedikit melipir ke sisi Bandung, ada The Panturas dan The Changcuters dari Unpad.

Keberadaan komunitas perguruan tinggi seperti ITB dan Unpad turut membantu penyebaran musik alternatif, termasuk melalui kios-kios kaset yang menjadi media utama sebelum era internet hadir.

Irham Vickry menjaga denyut musik analog tetap hidup di tengah arus streaming. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Irham Vickry menjaga denyut musik analog tetap hidup di tengah arus streaming. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Irham Vickry, mahasiswa Sastra Rusia Unpad ’89, menjadi salah satu penikmatnya. Berawal dari hobi mendengar dan mengoleksi musik analog, ia bersama kawannya dari ITB membuka safari lapaknya dari Dewi Sartika, BIP, hingga Alun-Alun Bandung.

Hingga lahirlah DU 68 Musik sejak tahun 2000 dan bertahan hingga sekarang. DU 68 Musik hadir bukan hanya sebagai toko, tetapi juga sebagai bagian dari denyut nadi musik di kota ini.

Di pinggir Jalan Dipatiukur yang kecil dan selalu ramai, hadir DU 68 Musik mengisi salah satu sudutnya. Orang yang pertama kali datang pasti akan sempat bingung mencarinya. Memang berada di pinggir jalan raya, namun perlu menaiki anak tangga yang hanya cukup satu orang untuk sampai ke salah satu toko musik analog tertua di Bandung ini.

Dalam ruangan kecil dengan rak kayu yang menjulang tinggi, ribuan rilisan fisik tersusun rapi. Mulai dari kaset jadul hingga vinyl langka. Di balik meja kecil, Vickry duduk santai, mencatat transaksi dengan cara manual, seolah menolak mengikuti perkembangan zaman yang serba digital.

Dari Kios Jalanan ke Ruang Nostalgia

Kisah DU 68 Musik dimulai dari sebuah kios sederhana di jalanan Bandung pada awal 1990-an, saat Vickry masih mahasiswa yang gemar mencari kaset bekas. Ia dan temannya menjual koleksi pribadi, berkeliling dari alun-alun hingga ke kampus, sebelum menetap di lokasi sekarang sejak tahun 2000. Dari aktivitas kecil tersebut, muncul keyakinan bahwa musik dapat menjelma menjadi pilihan hidup.

“Awalnya kita jualan dari lapak jalanan, dari zaman saya masih kuliah. Kita kolektor juga, senang cari barang di pasar-pasar bekas karena murah dan banyak yang nggak ada di toko,” kata Vickry saat ditemui di tokonya.

“Kita kaget, kok bisa ya? Bawa kaset nggak sampai seratus, tapi habis dirubung orang. Dari situ kita mikir, ini bisa jadi lahan cari uang,” ucapnya sontak tertawa.

Ia mengaku tidak pernah mengambil jalur kerja formal setelah lulus, memilih untuk sepenuhnya hidup dari dunia musik. Baginya, DU 68 bukan hanya untuk mencari uang, tetapi juga tempat di mana hobi dan perbedaan latar belakang orang menyatu dalam obrolan musik yang menjadi alasan ia bertahan, yaitu karena ia bahagia di sana.

“Kalau nggak punya passion di musik, nggak akan bertahan lama. Saya bahagia di sini, makanya saya nggak pernah cari kerja formal,” kata Vickry.

“Biaya operasional kadang sudah nggak masuk akal, tapi kita bertahan. Balik lagi ke passion,” ujarnya.

Meski perubahan zaman tak dapat dihindari, Vickry melihat adanya pola yang terulang dalam preferensi musik. Tren muncul dan menghilang, tetapi selalu kembali dalam siklus tertentu, menunjukkan bahwa selera musik manusia tidak sepenuhnya hilang, melainkan bertransformasi.

“Tren musik itu muter. Yang dulu nggak laku, sepuluh tahun kemudian dicari lagi,” kata Vickry.

“Saya lihat siklusnya sekitar 10–15 tahun, selalu berulang,” lanjutnya.

Rak-rak kayu penuh kaset dan vinyl menyimpan jejak musik lintas generasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Rak-rak kayu penuh kaset dan vinyl menyimpan jejak musik lintas generasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Musik Universal yang Menyatukan

Lebih daripada sekadar toko, DU 68 Musik telah berkembang menjadi ruang sosial yang dinamis dan terbuka. Di tempat ini, berbagai latar belakang sosial, agama, hingga pilihan politik menyatu dalam satu tema: musik.

Diskusi yang di luar bisa memicu argumen, namun di sini bertransformasi menjadi tawa dan kenangan.

“Musik itu universal. Dia mempersatukan,” ujar Vickry dengan nada serius, lalu tak lama diledek oleh rekannya sesama penikmat musik dari Makassar sambil tertawa melihat nada bicaranya yang serius.

“Di sini tidak ada masalah agama, politik, atau status. Semuanya menyatu di sini,” katanya.

Ia menceritakan bagaimana beragam orang datang ke tempat ini, mulai dari mahasiswa, anak-anak, hingga kolektor lama dan generasi baru yang penasaran.

“Sekarang justru banyak anak muda, mahasiswa, bahkan anak SMA sampai SD yang datang,” kata Vickry.

“Mereka datang karena penasaran, cari apa yang mereka dengar dari orang tua atau dari internet,” tambahnya.

Vickry merasa bahwa DU 68 bukan sekadar tempat untuk jual beli musik analog, melainkan juga tempat berkumpul. Banyak pengunjung yang datang tidak untuk membeli, melainkan sekadar mengobrol atau menyeduh kopi.

“Kadang mereka ke sini nggak beli, cuma nongkrong. Ngopi, ngobrol. Sudah jadi kayak sahabat,” kata Vickry sambil menunjuk salah satu konsumennya di sudut toko.

Ia juga mengingat berbagai momen yang selalu membekas selama puluhan tahun menjalankan toko ini. Salah satunya adalah saat seorang perempuan menemukan kembali rekaman lamanya yang sempat hilang.

“Pernah ada ibu-ibu yang datang, mencari kaset lama. Ketika menemukannya, dia langsung melompat kegirangan. Ternyata itu rekaman dirinya sewaktu muda,” ucap Vickry.

“Ada ibu-ibu datang, nyari kaset lama. Pas ketemu, dia loncat-loncat. Ternyata itu rekaman dia sendiri waktu muda,” ujarnya dengan sorot mata berbinar.

“Dia bilang, ‘Saya cerita ke anak saya kalau dulu saya penyanyi, tapi nggak ada yang percaya.’ Nah, kaset itu jadi bukti,” ucapnya tertawa lepas.

Rak-rak ini dipenuhi kaset, vinyl, dan compact disc yang tersusun rapi dan siap diputar kembali. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Rak-rak ini dipenuhi kaset, vinyl, dan compact disc yang tersusun rapi dan siap diputar kembali. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Bertahan di Tengah Arus Digital

Di zaman ketika musik dapat dijangkau dalam sekejap, keberadaan rilisan fisik mungkin terlihat tidak relevan. Namun bagi sebagian orang, mendengarkan musik lebih dari sekadar suara, melainkan menyangkut rasa, benda, dan ikatan emosional. Hal ini adalah sesuatu yang Vickry yakini tidak bisa tergantikan oleh teknologi.

“Kalau kata mereka (konsumen), musik streaming itu nggak ada ‘nyawa’-nya. Kayak dengerin mesin, bukan manusia,” kata Vickry.

“Kalau dari kaset atau vinyl, itu kayak penyanyinya ada di depan kita,” lanjutnya.

Selain aspek emosional, rilisan fisik juga memiliki nilai ekonomi dan sejarah. Kaset atau vinyl bisa diwariskan, lalu dijual kembali, bahkan menjadi artefak budaya yang mencatat jejak zaman.

“Barang fisik itu punya nilai. Bisa dijual lagi, bisa jadi langka, bisa diwariskan,” ucap Vickry.

Ia mengungkapkan bahwa yang membuat DU 68 tetap eksis bukan hanya karena produk yang dijual, tetapi juga karena kepercayaan dan hubungan dengan pelanggan yang telah terjalin selama bertahun-tahun.

Secara tidak langsung, ia melihat DU 68 berperan dalam melestarikan dan merawat memori musik di Bandung. Di tengah menghilangnya banyak toko musik fisik, tempat ini menjadi semacam arsip hidup.

“Secara langsung mungkin nggak ada. Tapi ini jadi oase ketika tempat lain sudah nggak ada,” kata Vickry.

“Ini sudah kayak museum. Dari musik tahun 60-an sampai sekarang ada di sini,” ucapnya.

Meski demikian, Vickry sangat realistis mengenai masa depan. Ia menyadari bahwa rilisan fisik tidak akan kembali menjadi hal utama, dan keberlanjutan DU 68 juga belum tentu akan diteruskan oleh generasi berikutnya.

“Kita kemakan teknologi, itu harus diakui. Fisik masih ada, tapi nggak sebesar dulu,” kata Vickry.

“Kalau nanti nggak ada yang meneruskan, mungkin berhenti di saya saja,” ucapnya pelan.

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)