DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

7 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di tengah arus musik digital yang kian mendominasi seperti Spotify hingga YouTube Music, rilisan fisik seperti kaset, CD, dan vinyl sudah lama tersisih dari kebiasaan mendengar generasi sekarang. Namun di Bandung, kota yang sejak lama dikenal sebagai barometer musik Indonesia, jejak kejayaan skena musik dan budaya koleksi fisik belum sepenuhnya hilang.

Sejak tahun 1990-an, Bandung menjadi kota yang kaya akan lahirnya skena musik. Dari rock dan metal hingga britpop yang sempat menyentuh puncaknya di era tersebut.

Band yang lahir dari Bandung dan kini mulai akrab di telinga publik seperti Alkateri, yang namanya diambil dari nama jalan di Bandung.

Band lainnya seperti Themilo, Noah, The Sigit, Pure Saturday, Kale, Burgerkill, dan Jeruji turut mewarnai perhelatan musik di Kota Kembang dengan pendengar setianya yang bertahan hingga saat ini.

Lingkungan kampus juga turut menyumbangkan musisi lokal terbaiknya, seperti band The Panas Dalam dan Dongker dari ITB, Mocca dari Itenas, Project Pop dari Unpar. Sedikit melipir ke sisi Bandung, ada The Panturas dan The Changcuters dari Unpad.

Keberadaan komunitas perguruan tinggi seperti ITB dan Unpad turut membantu penyebaran musik alternatif, termasuk melalui kios-kios kaset yang menjadi media utama sebelum era internet hadir.

Irham Vickry menjaga denyut musik analog tetap hidup di tengah arus streaming. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Irham Vickry menjaga denyut musik analog tetap hidup di tengah arus streaming. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Irham Vickry, mahasiswa Sastra Rusia Unpad ’89, menjadi salah satu penikmatnya. Berawal dari hobi mendengar dan mengoleksi musik analog, ia bersama kawannya dari ITB membuka safari lapaknya dari Dewi Sartika, BIP, hingga Alun-Alun Bandung.

Hingga lahirlah DU 68 Musik sejak tahun 2000 dan bertahan hingga sekarang. DU 68 Musik hadir bukan hanya sebagai toko, tetapi juga sebagai bagian dari denyut nadi musik di kota ini.

Di pinggir Jalan Dipatiukur yang kecil dan selalu ramai, hadir DU 68 Musik mengisi salah satu sudutnya. Orang yang pertama kali datang pasti akan sempat bingung mencarinya. Memang berada di pinggir jalan raya, namun perlu menaiki anak tangga yang hanya cukup satu orang untuk sampai ke salah satu toko musik analog tertua di Bandung ini.

Dalam ruangan kecil dengan rak kayu yang menjulang tinggi, ribuan rilisan fisik tersusun rapi. Mulai dari kaset jadul hingga vinyl langka. Di balik meja kecil, Vickry duduk santai, mencatat transaksi dengan cara manual, seolah menolak mengikuti perkembangan zaman yang serba digital.

Dari Kios Jalanan ke Ruang Nostalgia

Kisah DU 68 Musik dimulai dari sebuah kios sederhana di jalanan Bandung pada awal 1990-an, saat Vickry masih mahasiswa yang gemar mencari kaset bekas. Ia dan temannya menjual koleksi pribadi, berkeliling dari alun-alun hingga ke kampus, sebelum menetap di lokasi sekarang sejak tahun 2000. Dari aktivitas kecil tersebut, muncul keyakinan bahwa musik dapat menjelma menjadi pilihan hidup.

“Awalnya kita jualan dari lapak jalanan, dari zaman saya masih kuliah. Kita kolektor juga, senang cari barang di pasar-pasar bekas karena murah dan banyak yang nggak ada di toko,” kata Vickry saat ditemui di tokonya.

“Kita kaget, kok bisa ya? Bawa kaset nggak sampai seratus, tapi habis dirubung orang. Dari situ kita mikir, ini bisa jadi lahan cari uang,” ucapnya sontak tertawa.

Ia mengaku tidak pernah mengambil jalur kerja formal setelah lulus, memilih untuk sepenuhnya hidup dari dunia musik. Baginya, DU 68 bukan hanya untuk mencari uang, tetapi juga tempat di mana hobi dan perbedaan latar belakang orang menyatu dalam obrolan musik yang menjadi alasan ia bertahan, yaitu karena ia bahagia di sana.

“Kalau nggak punya passion di musik, nggak akan bertahan lama. Saya bahagia di sini, makanya saya nggak pernah cari kerja formal,” kata Vickry.

“Biaya operasional kadang sudah nggak masuk akal, tapi kita bertahan. Balik lagi ke passion,” ujarnya.

Meski perubahan zaman tak dapat dihindari, Vickry melihat adanya pola yang terulang dalam preferensi musik. Tren muncul dan menghilang, tetapi selalu kembali dalam siklus tertentu, menunjukkan bahwa selera musik manusia tidak sepenuhnya hilang, melainkan bertransformasi.

“Tren musik itu muter. Yang dulu nggak laku, sepuluh tahun kemudian dicari lagi,” kata Vickry.

“Saya lihat siklusnya sekitar 10–15 tahun, selalu berulang,” lanjutnya.

Rak-rak kayu penuh kaset dan vinyl menyimpan jejak musik lintas generasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Rak-rak kayu penuh kaset dan vinyl menyimpan jejak musik lintas generasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Musik Universal yang Menyatukan

Lebih daripada sekadar toko, DU 68 Musik telah berkembang menjadi ruang sosial yang dinamis dan terbuka. Di tempat ini, berbagai latar belakang sosial, agama, hingga pilihan politik menyatu dalam satu tema: musik.

Diskusi yang di luar bisa memicu argumen, namun di sini bertransformasi menjadi tawa dan kenangan.

“Musik itu universal. Dia mempersatukan,” ujar Vickry dengan nada serius, lalu tak lama diledek oleh rekannya sesama penikmat musik dari Makassar sambil tertawa melihat nada bicaranya yang serius.

“Di sini tidak ada masalah agama, politik, atau status. Semuanya menyatu di sini,” katanya.

Ia menceritakan bagaimana beragam orang datang ke tempat ini, mulai dari mahasiswa, anak-anak, hingga kolektor lama dan generasi baru yang penasaran.

“Sekarang justru banyak anak muda, mahasiswa, bahkan anak SMA sampai SD yang datang,” kata Vickry.

“Mereka datang karena penasaran, cari apa yang mereka dengar dari orang tua atau dari internet,” tambahnya.

Vickry merasa bahwa DU 68 bukan sekadar tempat untuk jual beli musik analog, melainkan juga tempat berkumpul. Banyak pengunjung yang datang tidak untuk membeli, melainkan sekadar mengobrol atau menyeduh kopi.

“Kadang mereka ke sini nggak beli, cuma nongkrong. Ngopi, ngobrol. Sudah jadi kayak sahabat,” kata Vickry sambil menunjuk salah satu konsumennya di sudut toko.

Ia juga mengingat berbagai momen yang selalu membekas selama puluhan tahun menjalankan toko ini. Salah satunya adalah saat seorang perempuan menemukan kembali rekaman lamanya yang sempat hilang.

“Pernah ada ibu-ibu yang datang, mencari kaset lama. Ketika menemukannya, dia langsung melompat kegirangan. Ternyata itu rekaman dirinya sewaktu muda,” ucap Vickry.

“Ada ibu-ibu datang, nyari kaset lama. Pas ketemu, dia loncat-loncat. Ternyata itu rekaman dia sendiri waktu muda,” ujarnya dengan sorot mata berbinar.

“Dia bilang, ‘Saya cerita ke anak saya kalau dulu saya penyanyi, tapi nggak ada yang percaya.’ Nah, kaset itu jadi bukti,” ucapnya tertawa lepas.

Rak-rak ini dipenuhi kaset, vinyl, dan compact disc yang tersusun rapi dan siap diputar kembali. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Rak-rak ini dipenuhi kaset, vinyl, dan compact disc yang tersusun rapi dan siap diputar kembali. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Bertahan di Tengah Arus Digital

Di zaman ketika musik dapat dijangkau dalam sekejap, keberadaan rilisan fisik mungkin terlihat tidak relevan. Namun bagi sebagian orang, mendengarkan musik lebih dari sekadar suara, melainkan menyangkut rasa, benda, dan ikatan emosional. Hal ini adalah sesuatu yang Vickry yakini tidak bisa tergantikan oleh teknologi.

“Kalau kata mereka (konsumen), musik streaming itu nggak ada ‘nyawa’-nya. Kayak dengerin mesin, bukan manusia,” kata Vickry.

“Kalau dari kaset atau vinyl, itu kayak penyanyinya ada di depan kita,” lanjutnya.

Selain aspek emosional, rilisan fisik juga memiliki nilai ekonomi dan sejarah. Kaset atau vinyl bisa diwariskan, lalu dijual kembali, bahkan menjadi artefak budaya yang mencatat jejak zaman.

“Barang fisik itu punya nilai. Bisa dijual lagi, bisa jadi langka, bisa diwariskan,” ucap Vickry.

Ia mengungkapkan bahwa yang membuat DU 68 tetap eksis bukan hanya karena produk yang dijual, tetapi juga karena kepercayaan dan hubungan dengan pelanggan yang telah terjalin selama bertahun-tahun.

Secara tidak langsung, ia melihat DU 68 berperan dalam melestarikan dan merawat memori musik di Bandung. Di tengah menghilangnya banyak toko musik fisik, tempat ini menjadi semacam arsip hidup.

“Secara langsung mungkin nggak ada. Tapi ini jadi oase ketika tempat lain sudah nggak ada,” kata Vickry.

“Ini sudah kayak museum. Dari musik tahun 60-an sampai sekarang ada di sini,” ucapnya.

Meski demikian, Vickry sangat realistis mengenai masa depan. Ia menyadari bahwa rilisan fisik tidak akan kembali menjadi hal utama, dan keberlanjutan DU 68 juga belum tentu akan diteruskan oleh generasi berikutnya.

“Kita kemakan teknologi, itu harus diakui. Fisik masih ada, tapi nggak sebesar dulu,” kata Vickry.

“Kalau nanti nggak ada yang meneruskan, mungkin berhenti di saya saja,” ucapnya pelan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)