Tentang Makna Do'a Pernikahan

7 menit baca
Muhammad Mufti Sulthanan Nasira
Ditulis oleh Muhammad Mufti Sulthanan Nasira diterbitkan Jumat 29 Mei 2026, 16:30 WIB
Ilustrasi pernikahan. (Sumber: Pexels | Foto: fadhil wy_)

Ilustrasi pernikahan. (Sumber: Pexels | Foto: fadhil wy_)

Seringkali kita mendengar ucapan: “Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah.” Tetapi menariknya, jika kita memperhatikan ayat Al-Qur’an, ternyata tujuan utama pernikahan dalam Islam itu adalah sakinah, ketenteraman hati.

Allah berfirman:

لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ

“Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenis dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.”

Allah menggunakan lafadz litaskunu ilaiha, agar kalian merasa tenteram kepadanya. Allah tidak mengatakan litaskunu li mawaddah wa rahmah. Artinya, tujuan rumah tangga itu adalah ketenteraman hati. Adapun jalannya, caranya, modalnya adalah mawaddah dan rahmah.

Mawaddah itu rasa cinta. Rahmah itu kasih sayang.

Maka cinta dan kasih sayang bukan tujuan akhir, tetapi sarana untuk menghadirkan ketenteraman dalam rumah tangga.

Pernikahan memang menjadi momen bahagia dan bersejarah bagi setiap orang. Namun dalam perjalanannya, rumah tangga tidak selalu mudah. Karena pada hakikatnya, hidup ini sama saja; baik yang menikah maupun yang belum menikah, semuanya akan merasakan dua keadaan: kadang senang, kadang susah. Kadang lapang, kadang sempit.

Dalam bahasa Al-Qur’an, keadaan ini disebut hasanah dan sayyi’ah.

Apa itu hasanah? Yakni maa tasytahi bihin nafsu, sesuatu yang sesuai dengan keinginan diri.

Maka sehat belum tentu menjadi hasanah bagi semua orang. Jika kesehatan itu sesuai dengan keinginannya, maka itu menjadi baik baginya. Tetapi jika kesehatan itu tidak sesuai dengan yang ia inginkan, maka bisa menjadi sesuatu yang buruk menurut dirinya.

Begitu pula sakit. Apakah sakit itu selalu jelek? Belum tentu.

Anak kecil yang tidak mau sekolah kadang pura-pura sakit. Bahkan ada yang berharap sakit supaya tidak masuk sekolah. Kenapa? Karena sakit itu sesuai dengan keinginannya. Maka sakit baginya menjadi hasanah.

Begitu juga harta. Kekayaan belum tentu baik bagi semua orang. Tergantung apakah keadaan itu sesuai dengan keinginannya atau tidak.

Ada orang ingin punya anak tetapi belum diberikan anak. Ada pula orang yang tidak siap punya anak tetapi justru diberikan banyak anak. Maka ternyata masalah hidup bukan sekadar soal diberi atau tidak diberi, tetapi bagaimana cara manusia memandang keadaan tersebut.

Karena itu yang benar bukan “sehat itu pasti baik” atau “sakit itu pasti jelek”, tetapi bagaimana cara kita memandang sehat dan sakit.

Pertanyaannya, apakah hidup akan selalu sesuai dengan keinginan kita? Tidak.

Dan ini harus dicatat oleh setiap pasangan hidup. Karena dalam perjalanan rumah tangga, akan ada saat-saat pasangan kita tidak sesuai harapan kita. Awal menikah mungkin semuanya terasa indah. Masakan yang tidak enak pun dibilang enak. Kopi pahit pun terasa manis.

Kenapa? Karena pasangan baru masih berada dalam fase khayalan rumah tangga.

Tetapi setelah berjalan lama, mulailah terlihat hakikat kehidupan rumah tangga yang sebenarnya. Mulai muncul rasa lelah, kecewa, bahkan penyesalan.

“Tahu begini dulu tidak mau menikah dengannya…”

Nah, Islam melarang sikap seperti ini. Kenapa? Karena dalam Islam hidup ini bukan sepenuhnya pilihan kita, tetapi ketetapan Allah.

Kalau hidup benar-benar pilihan manusia, tentu semua orang akan memilih kaya terus, sehat terus, bahagia terus. Tetapi kenyataannya tidak demikian.

Karena itu Allah berfirman dalam surat Al-Hadid ayat 22:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tidak ada musibah apa pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu melainkan telah tertulis dalam Kitab sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.”

Ayat ini mengajarkan bahwa semua yang terjadi dalam hidup kita berada dalam qadha dan qadar Allah. Maka orang yang memahami takdir tidak akan mudah kecewa terhadap hidupnya.

Dalam kehidupan, kadang logika manusia mampu memahami sebuah kejadian.

Misalnya ada orang membuka usaha restoran. Modal besar, masakan enak, tempat strategis, promosi di mana-mana, lalu sukses besar. Logika kita berkata: “Wajar sukses.”

Ada juga orang usaha asal-asalan, masakan tidak enak, tempat tersembunyi, tidak promosi, lalu gagal. Logika kita juga berkata: “Wajar gagal.”

Tetapi ada kasus ketiga. Ada orang serius usaha, modal besar, tempat strategis, rasa masakan luar biasa, promosi besar-besaran, tetapi tetap gagal dan sepi pengunjung.

Nah, sampai sini logika manusia mulai terbatas.

Dari sinilah muncul kelompok yang terlalu mengandalkan logika dan tenaga manusia, yang dalam sejarah dikenal dengan paham Qadariyyah. Mereka meyakini bahwa hasil hidup sepenuhnya ditentukan manusia.

Ketika gagal, mereka stres. Mereka mulai mencari kambing hitam. Menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan, bahkan sampai mendatangi dukun.

Maka agama hadir untuk meluruskan.

Islam mengajarkan bahwa hidup ini ada campur tangan Allah. Tetapi Islam juga tidak mengajarkan manusia pasrah tanpa usaha.

Karena ada juga orang yang salah memahami takdir. Mereka berkata: “Kalau rezeki sudah diatur Allah, buat apa capek bekerja?”

Akhirnya malas, tidak kreatif, tidak mau berikhtiar.

Karena itu Islam hadir sebagai ummatan wasathan — umat pertengahan.

Allah berfirman:

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kepada Kamilah kamu dikembalikan.”

Ternyata sehat dan sakit sama-sama ujian. Kaya dan miskin sama-sama ujian. Punya anak atau tidak punya anak sama-sama ujian.

Buku nikah. (Sumber: Pexels/Reynaldo Yodia)
Buku nikah. (Sumber: Pexels/Reynaldo Yodia)

Lalu apa yang diuji? Jika seseorang mendapat hasanah, apakah ia mau bersyukur atau kufur?

Jika mendapat sayyi’ah, apakah ia mau sabar atau putus asa?

Karena itu Islam memerintahkan manusia untuk ikhtiyar — usaha dengan cara yang baik. Kata ikhtiyar berasal dari akar kata khair, yaitu kebaikan.

Maka tidak semua usaha disebut ikhtiyar. Menipu, korupsi, mencuri, itu bukan ikhtiyar. Dalam penjelasan bahasa Arab, usaha dengan cara buruk disebut isytiror, berasal dari kata syarr.

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, karena seluruh urusannya menjadi kebaikan.”

Kenapa seluruh urusannya menjadi baik? Karena ketika bahagia dia bersyukur, dan ketika susah dia bersabar.

وَإِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Jika ia mendapatkan kebahagiaan, lalu ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya.”

وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Dan jika ia ditimpa kesusahan, lalu ia bersabar, maka itu pun menjadi kebaikan baginya.”

Maka syukur dan sabar dalam Islam bukan sekadar ucapan atau acara syukuran. Syukur dan sabar adalah ibadah.

Istiqamah dalam ketaatan saat senang maupun susah.

Kemudian jika kita tarik dalam konteks rumah tangga, inilah rahasia doa pernikahan:

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

Ternyata dalam doa ini ada keindahan balaghah luar biasa.

Nabi menggunakan dua huruf jar yang berbeda: laka dan ‘alaika.

Dalam ilmu balaghah terdapat istilah Thibaq Ijab, yaitu pertentangan makna yang menghasilkan keindahan bahasa.

Huruf Lam pada kata laka sering digunakan untuk sesuatu yang ringan, menyenangkan, dan menguntungkan (al-yusr).

Seolah Nabi sedang berkata: “Semoga keberkahan menyertaimu saat kamu berada dalam kebahagiaan.”

Lalu Nabi melanjutkan:

وَبَارَكَ عَلَيْكَ

Huruf ‘ala dalam bahasa Arab sering digunakan untuk sesuatu yang berat dan penuh tanggung jawab (al-‘usr).

Artinya:
“Semoga keberkahan juga menyertaimu saat berada dalam kesusahan.”

Berarti keberkahan rumah tangga bukan hanya saat bahagia, tetapi juga saat diuji.

Dan bagaimana cara menghadirkan keberkahan itu?

Saat bahagia: bersyukur. Saat susah: bersabar.

Maka puncaknya Nabi mengatakan:

وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

“Dan semoga Allah menyatukan kalian berdua dalam kebaikan.”

Artinya, jika suami istri terbiasa menghadirkan keberkahan dalam setiap keadaan, maka rumah tangga mereka akan melahirkan khair dalam kondisi apa pun.

Terakhir, rasa bosan dalam rumah tangga itu wajar. Itu fitrah manusia.

Karena sesuatu yang lahir dari fisik akan terbatas oleh waktu. Kecantikan akan biasa. Ketampanan akan biasa.

Inilah yang disebut mawaddah — cinta yang lahir dari penglihatan mata.

Tetapi ada sesuatu yang lebih tinggi daripada mawaddah, yaitu rahmah.

Rahmah lahir dari hati. Dari akhlak, perhatian, suara yang lembut, manfaat, pengorbanan, dan ketulusan.

Itulah sebabnya Nabi Muhammad ﷺ begitu mencintai Sayyidah Khadijah رضي الله عنها. Karena Nabi merasakan rahmah dari Khadijah; pengorbanannya, kesetiaannya, dukungannya terhadap dakwah Rasulullah ﷺ.

Maka rahmah adalah modal terpenting dalam rumah tangga.

Karena hakikat manusia adalah mencari manfaat.

Jadi jangan takut pasangan berpaling karena kecantikan atau kekayaan orang lain. Tetapi takutlah jika kita tidak lagi mampu memberi manfaat yang menyentuh hati pasangan kita.

Karena yang paling dibutuhkan dalam rumah tangga bukan sekadar cinta, tetapi rahmah. Jaga itu. Wallahu a’lam bishshawab. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Mufti Sulthanan Nasira
Penggiat literasi digital, magister yang minat kajian agama, media dan budaya

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)