Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

7 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)

Alih fungsi sebagian jalur sepeda di Jalan Lembong, Kota Bandung, menjadi fasilitas parkir sepeda motor di badan jalan memunculkan pertanyaan penting mengenai arah kebijakan transportasi perkotaan. Meski pemerintah belum menyampaikan alasan resmi di balik perubahan tersebut, dampaknya sudah terlihat jelas: jalur sepeda yang sebelumnya tersedia kini terputus dan kehilangan fungsinya sebagai koridor mobilitas yang berkesinambungan.

Perubahan ini patut dicermati karena Jalan Lembong merupakan salah satu ruas yang ditetapkan sebagai bagian dari jaringan jalur sepeda Kota Bandung dalam Peraturan Wali Kota Bandung Nomor 47 Tahun 2022 tentang Keselamatan dan Fasilitas Pendukung Pesepeda. Dengan demikian, alih fungsi yang terjadi tidak hanya menyangkut pemanfaatan ruang jalan, tetapi juga pelaksanaan kebijakan transportasi yang telah ditetapkan pemerintah daerah.

Dari perspektif transportasi perkotaan, persoalan ini melampaui isu teknis penataan jalan. Yang dipertaruhkan adalah arah pengelolaan ruang publik dan prioritas mobilitas yang ingin dibangun kota. Selama ini Pemerintah Kota Bandung berupaya mendorong penggunaan sepeda melalui penyediaan infrastruktur dan berbagai program transportasi rendah emisi. Karena itu, perubahan fungsi jalur sepeda menjadi area parkir motor menghadirkan pertanyaan mengenai keselarasan antara tujuan kebijakan dan implementasinya di lapangan.

Ruang Jalan Adalah Ruang Publik yang Diperebutkan

Dalam ilmu transportasi, ruang jalan dipandang sebagai sumber daya publik yang terbatas. Setiap meter ruang yang diberikan kepada satu fungsi berarti mengurangi ruang bagi fungsi lainnya.

Pakar desain perkotaan asal Denmark, Jan Gehl, pernah menyatakan bahwa perencanaan kota seharusnya dimulai dari kehidupan manusia dan aktivitas publik, bukan dari kebutuhan kendaraan. Menurut Gehl, “First life, then spaces, then buildings – the other way around never works.” Pandangan ini menjadi dasar berbagai kota dunia dalam menata ulang ruang jalan agar lebih ramah bagi pejalan kaki, pesepeda, dan pengguna transportasi umum.

Perspektif tersebut penting karena selama puluhan tahun banyak kota berkembang cenderung memprioritaskan kendaraan bermotor dalam pengalokasian ruang jalan. Akibatnya, ruang publik semakin didominasi kendaraan, sementara moda transportasi yang lebih efisien dan ramah lingkungan memperoleh ruang yang terbatas.

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menunjukkan bagaimana tarik-menarik kepentingan tersebut masih berlangsung. Ketika ruang yang sebelumnya diperuntukkan bagi pesepeda dialihkan menjadi area parkir kendaraan bermotor, pemerintah pada dasarnya sedang menentukan kelompok pengguna jalan mana yang memperoleh prioritas.

Cara sebuah kota membagi ruang jalannya mencerminkan prioritas pembangunannya.

Masalahnya Bukan Hanya Hilangnya Jalur Sepeda

Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa hilangnya satu segmen jalur sepeda bukan persoalan besar. Namun dalam perencanaan transportasi, efektivitas jalur sepeda tidak hanya ditentukan oleh keberadaan fisiknya, melainkan juga oleh keterhubungan jaringan.

Jaringan yang terputus membuat pesepeda harus keluar dari jalur khusus dan bercampur dengan lalu lintas kendaraan bermotor. Kondisi ini menurunkan rasa aman, meningkatkan potensi konflik lalu lintas, dan pada akhirnya mengurangi minat masyarakat untuk bersepeda.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa persepsi keselamatan merupakan faktor utama yang menentukan apakah seseorang bersedia menggunakan sepeda untuk perjalanan sehari-hari. Infrastruktur yang tidak berkesinambungan cenderung mengurangi daya tarik bersepeda, terutama bagi pengguna pemula, perempuan, anak-anak, dan kelompok usia lanjut. Dengan kata lain, dampak alih fungsi jalur sepeda tidak hanya terjadi pada lokasi tertentu, tetapi dapat memengaruhi keseluruhan jaringan dan persepsi publik terhadap keamanan bersepeda.

Dalam konteks Jalan Lembong, persoalannya bukan sekadar hilangnya ruang fisik beberapa meter. Yang hilang adalah fungsi konektivitas yang menjadi syarat utama keberhasilan sebuah jaringan jalur sepeda.

Seminar Membangun Budaya Gerakan Bersepeda #3 yang pernah diselenggarakan oleh Dishub Kota Bandung bekerjasama dengan Forkom Pesepeda se-Bandung Raya pada tahun 2022. (Sumber: Instagram/@forkombandungraya)
Seminar Membangun Budaya Gerakan Bersepeda #3 yang pernah diselenggarakan oleh Dishub Kota Bandung bekerjasama dengan Forkom Pesepeda se-Bandung Raya pada tahun 2022. (Sumber: Instagram/@forkombandungraya)

Pelajaran dari Kopenhagen, Amsterdam, dan Paris

Pengalaman berbagai kota menunjukkan bahwa keberhasilan meningkatkan penggunaan sepeda tidak pernah dicapai melalui pembangunan infrastruktur semata. Faktor yang paling menentukan adalah konsistensi dalam mempertahankan ruang yang telah dialokasikan bagi pesepeda.

Kopenhagen di Denmark mengembangkan jaringan jalur sepeda yang aman dan terhubung selama beberapa dekade. Saat ini sepeda menjadi salah satu moda utama perjalanan harian warga kota. Keberhasilan tersebut lahir bukan karena kampanye sesaat, melainkan karena kebijakan yang konsisten dalam memberikan prioritas kepada pesepeda.

Amsterdam di Belanda juga mengalami proses yang serupa. Setelah menghadapi dampak negatif dominasi kendaraan bermotor pada dekade 1960-an dan 1970-an, pemerintah kota secara bertahap membatasi ruang bagi kendaraan dan memperluas infrastruktur sepeda. Kini kota tersebut menjadi salah satu rujukan utama dalam pengembangan mobilitas berkelanjutan.

Paris bahkan mengambil langkah yang lebih progresif. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah kota mengurangi ribuan ruang parkir kendaraan bermotor dan mengalihkannya menjadi jalur sepeda, ruang hijau, serta ruang publik. Kebijakan tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa ruang kota harus menghasilkan manfaat sosial yang lebih besar daripada sekadar menjadi tempat penyimpanan kendaraan.

Pelajaran penting dari berbagai kota tersebut adalah bahwa peningkatan penggunaan sepeda hampir selalu didahului oleh keberanian pemerintah mempertahankan ruang bagi pesepeda. Tidak ada kota yang berhasil membangun budaya bersepeda dengan cara mengurangi atau memutus jaringan jalur sepedanya.

Parkir Bukan Selalu Solusi Mobilitas

Kebutuhan parkir memang merupakan tantangan nyata di kawasan perkotaan. Namun literatur transportasi menunjukkan bahwa penyediaan ruang parkir tambahan sering kali tidak menyelesaikan akar persoalan mobilitas.

Donald Shoup, profesor perencanaan kota dari University of California, Los Angeles (UCLA), menjelaskan bahwa kebijakan parkir memiliki dampak luas terhadap pola perjalanan, penggunaan lahan, hingga kualitas lingkungan perkotaan. Menurut Shoup, “Parking policies affect cities, the economy, and the environment.”

Dalam literatur transportasi, terdapat konsep induced demand, yaitu kondisi ketika penyediaan fasilitas baru untuk kendaraan justru mendorong peningkatan penggunaan kendaraan tersebut. Akibatnya, kebutuhan ruang kembali meningkat dan persoalan yang sama muncul kembali dalam jangka panjang.

Dengan kata lain, semakin banyak ruang yang dialokasikan untuk kendaraan bermotor, semakin besar pula kecenderungan masyarakat untuk tetap bergantung pada kendaraan tersebut. Karena itu, penyelesaian masalah mobilitas tidak selalu identik dengan penyediaan ruang parkir tambahan.

Dalam sejumlah dokumen perencanaan transportasi Kota Bandung, kawasan pusat kota termasuk koridor yang menghadapi tantangan pengelolaan parkir dan pemanfaatan ruang jalan. Persoalan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan utama bukan semata-mata menambah ruang parkir, melainkan meningkatkan efektivitas pengelolaan ruang jalan secara keseluruhan.

Kegiatan kampanye keselamatan berlalu lintas yang pernah rutin dilaksanakan oleh Dishub bersama Forkom Pesepeda se-Bandung Raya setiap Minggu pagi di Simpang Dago-Cikapayang, Kota Bandung. (Sumber: Instagram/@forkombandungraya)
Kegiatan kampanye keselamatan berlalu lintas yang pernah rutin dilaksanakan oleh Dishub bersama Forkom Pesepeda se-Bandung Raya setiap Minggu pagi di Simpang Dago-Cikapayang, Kota Bandung. (Sumber: Instagram/@forkombandungraya)

Jalur Sepeda dan Prinsip Complete Streets

Banyak kota saat ini mengadopsi pendekatan Complete Streets, yaitu prinsip bahwa jalan harus dirancang untuk melayani seluruh pengguna secara aman dan setara.

Pendekatan ini lahir dari kesadaran bahwa kelompok pengguna jalan yang paling rentan—seperti pejalan kaki, pesepeda, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas—sering kali terpinggirkan oleh dominasi kendaraan bermotor. Karena itu, penyediaan ruang khusus bagi mereka dipandang sebagai bagian dari upaya menciptakan sistem transportasi yang lebih inklusif.

Dalam kerangka tersebut, jalur sepeda bukan sekadar fasilitas tambahan yang dapat dipindahkan sewaktu-waktu. Jalur sepeda merupakan instrumen kebijakan yang menunjukkan komitmen pemerintah terhadap transportasi aktif dan rendah emisi.

Ketika jalur tersebut dialihfungsikan menjadi area parkir kendaraan bermotor, pesan yang diterima publik menjadi ambigu. Pemerintah mendorong masyarakat untuk bersepeda, tetapi pada saat yang sama mengurangi ruang yang diperlukan agar aktivitas tersebut dapat dilakukan secara aman.

Transportasi berkelanjutan tidak dibangun melalui kampanye semata, melainkan melalui konsistensi dalam melindungi ruang bagi moda yang ingin dikembangkan.

Kota Bandung Sedang Menentukan Arah Pembangunan Transportasinya

Kota Bandung memiliki modal yang cukup untuk mengembangkan mobilitas berkelanjutan. Komunitas pesepeda tumbuh di berbagai kawasan, kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan meningkat, dan kebutuhan akan transportasi yang lebih sehat semakin mendapat perhatian.

Namun pengalaman berbagai kota menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi transportasi tidak ditentukan oleh jumlah jalur sepeda yang dibangun semata. Yang lebih penting adalah konsistensi pemerintah dalam mempertahankan fungsi infrastruktur tersebut ketika berhadapan dengan tekanan kebutuhan jangka pendek.

Mantan Wali Kota Bogotá, Enrique Peñalosa, pernah menyatakan bahwa kota yang maju bukanlah kota tempat masyarakat miskin memiliki mobil, melainkan kota tempat masyarakat kaya memilih menggunakan transportasi publik, berjalan kaki, atau bersepeda. Pernyataan tersebut mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan transportasi perkotaan bukanlah banyaknya kendaraan yang dapat ditampung, melainkan banyaknya pilihan mobilitas yang aman dan nyaman bagi seluruh warga.

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong pada akhirnya bukan hanya persoalan teknis lalu lintas. Peristiwa ini merupakan ujian terhadap konsistensi kebijakan transportasi Kota Bandung. Di tengah berbagai komitmen terhadap pembangunan rendah emisi dan transportasi ramah lingkungan, keputusan mengenai penggunaan ruang jalan akan menunjukkan prioritas yang sesungguhnya.

Apakah Kota Bandung akan mengikuti jejak kota-kota yang secara bertahap mengurangi dominasi kendaraan bermotor demi mobilitas yang lebih berkelanjutan, atau justru terus menambah ruang bagi kendaraan dengan mengorbankan moda transportasi yang ingin dikembangkan?

Jawaban atas pertanyaan tersebut tidak ditentukan oleh dokumen perencanaan atau slogan kebijakan, melainkan oleh keputusan konkret mengenai bagaimana ruang jalan digunakan setiap harinya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)