Pesepeda Tewas di Jalan Soekarno-Hatta: Apakah Kita Terlalu Cepat Menyalahkan Korban?

6 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Polisi melakukan olah TKP. (Sumber: Dok. Unit Gakkum Satlantas Polrestabes Bandung)
Polisi melakukan olah TKP. (Sumber: Dok. Unit Gakkum Satlantas Polrestabes Bandung)

Kecelakaan lalu lintas yang menewaskan seorang pesepeda berusia 14 tahun di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, pada Selasa (16/6/2026) kembali memunculkan perdebatan di ruang publik. Sebagian masyarakat langsung menyimpulkan bahwa korban lalai karena berpindah dari lajur lambat ke lajur cepat dan diduga hendak melakukan putar balik. Tidak sedikit pula komentar yang menyatakan bahwa pesepeda seharusnya tidak berada di jalan tersebut.

Namun, sebelum menyimpulkan siapa yang salah, ada baiknya kita melihat peristiwa ini dari sudut pandang yang lebih luas: apakah sistem jalan yang ada sudah cukup aman bagi semua pengguna jalan, termasuk pesepeda?

Kesalahan Manusia Selalu Mungkin Terjadi

Dalam setiap kecelakaan lalu lintas, kesalahan manusia hampir selalu menjadi salah satu faktor yang terlibat. Pesepeda, pengendara sepeda motor, pengemudi mobil, maupun sopir truk sama-sama dapat melakukan kekeliruan dalam mengambil keputusan.

Jika benar korban berpindah lajur tanpa mengamati kondisi lalu lintas secara memadai, maka hal tersebut tentu menjadi pelajaran penting mengenai perlunya edukasi keselamatan bersepeda, terutama bagi pelajar. Namun, pendekatan keselamatan jalan modern tidak berhenti pada identifikasi kesalahan individu.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah sebuah kesalahan manusia harus berakhir dengan kehilangan nyawa?

Safe System Approach yang diterapkan di berbagai negara berangkat dari asumsi bahwa manusia tidak sempurna dan dapat melakukan kesalahan. Karena itu, jaringan jalan harus dirancang sedemikian rupa agar kesalahan yang mungkin terjadi tidak langsung berujung pada kematian atau cedera berat (konsep forgiving roads).

Pesepeda adalah Pengguna Jalan Rentan

Dalam hierarki pengguna jalan, pesepeda termasuk kelompok pengguna jalan rentan bersama pejalan kaki dan penyandang disabilitas. Ketika terjadi tabrakan antara pesepeda dan kendaraan berat, hampir dapat dipastikan pesepeda yang menanggung risiko cedera paling parah.

Karena itulah sistem transportasi modern memberikan perlindungan lebih besar kepada kelompok rentan. Prinsip ini bukan berarti pesepeda memiliki hak untuk mengabaikan aturan lalu lintas, melainkan bahwa infrastruktur jalan harus dirancang dengan mempertimbangkan keterbatasan fisik mereka.

Ketika seorang pesepeda harus berbagi ruang dengan truk bertonase besar pada jalan berkecepatan tinggi, tingkat risikonya jauh lebih besar dibandingkan ketika sesama kendaraan bermotor berinteraksi. Oleh sebab itu, perlindungan terhadap pesepeda tidak cukup hanya melalui edukasi dan penegakan aturan, tetapi juga melalui penyediaan infrastruktur yang aman.

Urutan hierarki pengguna jalan dari yang paling rentan hingga yang paling berpotensi membahayakan. (Sumber: The UK Highway Code, 2022)
Urutan hierarki pengguna jalan dari yang paling rentan hingga yang paling berpotensi membahayakan. (Sumber: The UK Highway Code, 2022)

Apakah Jalan Soekarno-Hatta Sudah Ramah bagi Pesepeda?

Jalan Soekarno-Hatta merupakan jalan nasional dengan fungsi utama sebagai jalan arteri primer. Jalan ini dirancang untuk melayani perjalanan jarak jauh dengan kecepatan rata-rata yang relatif tinggi dan kapasitas volume kendaraan yang besar, sekaligus menghubungkan berbagai pusat kegiatan penting dalam jaringan transportasi nasional. Membentang sepanjang sekitar 18,4 kilometer, Jalan Soekarno-Hatta menjadi salah satu koridor arteri terpanjang dan terpadat di Kota Bandung. Selain melayani mobilitas perkotaan, jalan ini juga menjadi jalur penting bagi kendaraan logistik, bus, dan kendaraan berat yang bergerak antarkawasan.

Karakteristik tersebut menunjukkan bahwa Jalan Soekarno-Hatta dirancang untuk mengakomodasi arus kendaraan bermotor dalam jumlah besar. Namun, koridor ini juga digunakan oleh pesepeda untuk berbagai aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut menuntut adanya desain jalan yang mampu mengakomodasi seluruh pengguna jalan secara aman, termasuk kelompok pengguna jalan rentan.

Keberadaan pesepeda di Jalan Soekarno-Hatta bukanlah sesuatu yang dapat diabaikan. Koridor ini melintasi kawasan permukiman, sekolah, pusat perdagangan, kawasan industri, dan berbagai pusat aktivitas masyarakat. Selama masih ada warga yang menggunakan sepeda untuk bersekolah, bekerja, berolahraga, maupun melakukan perjalanan sehari-hari, maka kebutuhan akan fasilitas bersepeda yang aman menjadi bagian dari tanggung jawab penyelenggara jalan.

Pada banyak ruas jalan arteri, kecepatan kendaraan sering kali berada di atas 60 km/jam ketika kondisi lalu lintas memungkinkan. Dalam kondisi seperti ini, pesepeda termasuk kelompok pengguna jalan yang paling rentan karena tidak memiliki perlindungan fisik sebagaimana pengendara mobil atau truk. Oleh karena itu, banyak kota di dunia menyediakan jalur sepeda terproteksi yang dipisahkan secara fisik dari lalu lintas kendaraan bermotor. Kehadiran fasilitas tersebut bukan sekadar memberikan kenyamanan, melainkan mengurangi risiko tabrakan akibat perbedaan kecepatan dan massa kendaraan yang sangat besar.

Pemilihan tipe jalur sepeda berdasarkan volume dan kecepatan kendaraan bermotor. (Sumber: Pedoman Perancangan Fasilitas Pesepeda Nomor 05/P/BM/2021)
Pemilihan tipe jalur sepeda berdasarkan volume dan kecepatan kendaraan bermotor. (Sumber: Pedoman Perancangan Fasilitas Pesepeda Nomor 05/P/BM/2021)

Selain jalur sepeda terproteksi, koridor arteri seperti Jalan Soekarno-Hatta juga perlu dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung keselamatan pesepeda. Fasilitas tersebut antara lain marka jalur sepeda yang jelas dan mudah terlihat, rambu lalu lintas yang menginformasikan keberadaan pesepeda kepada pengguna jalan lain, marka penyeberangan pesepeda pada titik-titik konflik, penerangan jalan yang memadai, fasilitas putar balik yang aman, serta pulau perlindungan (refuge island) pada lokasi tertentu. Kehadiran fasilitas-fasilitas tersebut memiliki fungsi penting sebagai panduan perilaku berlalu lintas sekaligus meningkatkan kewaspadaan pengemudi kendaraan bermotor terhadap keberadaan pengguna jalan rentan.

Dari perspektif rekayasa transportasi, marka dan rambu bukan sekadar pelengkap infrastruktur, melainkan bagian dari sistem keselamatan jalan. Ketika keberadaan pesepeda tidak terakomodasi secara jelas dalam desain jalan, potensi konflik dengan kendaraan bermotor menjadi lebih tinggi. Sebaliknya, fasilitas pesepeda yang dirancang secara konsisten dapat meningkatkan keterbacaan jalan (self-explaining roads), sehingga setiap pengguna jalan memahami ruang geraknya masing-masing dan risiko kecelakaan dapat ditekan.

Pertanyaannya, apakah fasilitas-fasilitas tersebut sudah tersedia secara memadai di sepanjang koridor Soekarno-Hatta? Jika belum, maka kejadian ini semestinya menjadi momentum untuk mengevaluasi sejauh mana jalan nasional di kawasan perkotaan telah mengakomodasi kebutuhan pengguna jalan rentan.

Ketika Putar Balik Menjadi Manuver Berbahaya

Berdasarkan informasi yang beredar, korban diduga hendak melakukan putar balik sehingga harus berpindah dari lajur lambat menuju lajur yang lebih dekat dengan median jalan.

Dari perspektif rekayasa lalu lintas, kondisi ini menunjukkan adanya potensi konflik yang perlu mendapat perhatian. Seorang pesepeda yang ingin berpindah arah terpaksa berinteraksi dengan kendaraan yang melaju jauh lebih cepat dan berukuran jauh lebih besar.

Idealnya, koridor arteri primer menyediakan fasilitas penyeberangan atau putar balik yang aman bagi pesepeda, seperti bike crossing, pulau perlindungan (refuge island), atau desain bukaan median yang mempertimbangkan kebutuhan pengguna jalan non-motor. Dengan demikian, pesepeda tidak perlu melakukan manuver berisiko di tengah arus lalu lintas yang padat.

Saatnya Melihat Sistem, Bukan Sekadar Menyalahkan Korban

Kecelakaan yang merenggut nyawa seorang pelajar ini tentu harus menjadi bahan evaluasi bagi semua pihak. Pesepeda perlu meningkatkan kewaspadaan dan pemahaman terhadap risiko lalu lintas. Pengemudi kendaraan bermotor juga harus lebih berhati-hati terhadap keberadaan pengguna jalan rentan.

Namun, evaluasi tidak boleh berhenti pada perilaku individu. Jalan yang aman adalah jalan yang mampu mengantisipasi kesalahan manusia.

Peristiwa yang menimpa pesepeda pelajar di Jalan Soekarno-Hatta seharusnya tidak hanya memunculkan pertanyaan tentang perilaku korban saat berpindah lajur, tetapi juga mendorong evaluasi mengenai apakah koridor jalan nasional tersebut telah menyediakan fasilitas yang memadai bagi pesepeda. Jika setiap kali terjadi kecelakaan masyarakat hanya bertanya "siapa yang salah", maka kita akan kehilangan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yang lebih penting: "apa yang harus diperbaiki agar kejadian serupa tidak terulang?"

Sebab tujuan utama keselamatan jalan bukanlah mencari pihak yang dapat disalahkan, melainkan memastikan semua pengguna jalan dapat pulang ke rumah dengan selamat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 18:09

Pandemi Senyap Kapitalisme dalam Industri Gula dan Obat-obatan

Membongkar masalah ketimpangan yang serius di balik industri gula dan obat-obatan. Keduanya berkolaborasi dalam industri kematian yang mengancam masyarakat berpenghasilan rendah.

Pabrik gula. (Sumber: Pexels | Foto: Deepak Sharma)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 17:07

Mengapa Kampanye Mi Nyemek Jogja Mudah Diingat?

Menganalisis bagaimana Mi Nyemek Ala Jogja Rasa Rendang dipublikasikan dengan pesan yang konsisten, sehingga informasi produk dapat diterima publik secara luas dan jelas.

Ilustrasi mie nyemek Jogja. (Sumber: Youtube | Foto: DewiRistiyaniKitchen)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 16:00

Dari Kasus Penebangan Pohon hingga Persib-Persija, Isu Menarik Pekan Ini untuk Ayo Netizen

Bagi penulis Ayo Netizen yang masih mencari ide segar, berikut beberapa isu yang layak diangkat dalam beberapa hari ke depan.

Lokasi pohon-pohon yang diduga ditebang tanpa izin pemerintah. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 15:02

Mengapa Kampanye Jumbo Mudah Diingat? Jawabannya Ada pada Konsistensi Pesan

Kolaborasi antara Fore Coffe dan film animasi Jumbo menjadi salah satu strategi pemasaran yang menarik untuk di teliti karena menghadirkan pengalaman yang baru bagi konsumen.

Ilustrasi kampanye film Jumbo yang masih tetap konsisten sampai saat ini. (Istimewa)
Sejarah 03 Agu 2026, 13:10

Sejarah Peuyeum Ketan Kuningan, Tradisi Fermentasi yang jadi Identitas Daerah

Peuyeum ketan Kuningan lahir dari tradisi kampung, berkembang menjadi oleh-oleh populer, dan tetap mempertahankan proses fermentasi tradisional.

Peuyeum atau tape ketan Kuningan.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 12:38

Momentum Agustus 2026: Saatnya Menggali Cerita dari Kemerdekaan hingga Budaya Bandung

Bulan Agustus selalu menghadirkan banyak momentum yang layak dijadikan bahan tulisan.

Sejumlah ibu rumah tangga mengikuti berbagai lomba 17 Agustus di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 10:05

Mengenang Acara Radio Favorit GANESHA IWAN FALS (GIF)

Lagu-lagu Iwan Fals menyebar dari kaset, panggung konser, hingga gelombang radio.

Sosok musisi legendaris Iwan Fals menghiasi berbagai halaman depan tabloid dan majalah musik populer sepanjang era 1990-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 08:48

Penebangan Pohon Malam Hari: Kejahatan Lingkungan atau Sekadar Pelanggaran Administratif?

Ketika penebangan pohon dilakukan tanpa izin, maka secara administratif, jelas itu pelanggaran lantaran ada prosedur yang dilanggar.

Aktivita penebangan pohon di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)