Pesepeda Tewas di Jalan Soekarno-Hatta: Apakah Kita Terlalu Cepat Menyalahkan Korban?

6 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan Kamis 18 Jun 2026, 06:24 WIB
Polisi melakukan olah TKP. (Sumber: Dok. Unit Gakkum Satlantas Polrestabes Bandung)

Polisi melakukan olah TKP. (Sumber: Dok. Unit Gakkum Satlantas Polrestabes Bandung)

Kecelakaan lalu lintas yang menewaskan seorang pesepeda berusia 14 tahun di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, pada Selasa (16/6/2026) kembali memunculkan perdebatan di ruang publik. Sebagian masyarakat langsung menyimpulkan bahwa korban lalai karena berpindah dari lajur lambat ke lajur cepat dan diduga hendak melakukan putar balik. Tidak sedikit pula komentar yang menyatakan bahwa pesepeda seharusnya tidak berada di jalan tersebut.

Namun, sebelum menyimpulkan siapa yang salah, ada baiknya kita melihat peristiwa ini dari sudut pandang yang lebih luas: apakah sistem jalan yang ada sudah cukup aman bagi semua pengguna jalan, termasuk pesepeda?

Kesalahan Manusia Selalu Mungkin Terjadi

Dalam setiap kecelakaan lalu lintas, kesalahan manusia hampir selalu menjadi salah satu faktor yang terlibat. Pesepeda, pengendara sepeda motor, pengemudi mobil, maupun sopir truk sama-sama dapat melakukan kekeliruan dalam mengambil keputusan.

Jika benar korban berpindah lajur tanpa mengamati kondisi lalu lintas secara memadai, maka hal tersebut tentu menjadi pelajaran penting mengenai perlunya edukasi keselamatan bersepeda, terutama bagi pelajar. Namun, pendekatan keselamatan jalan modern tidak berhenti pada identifikasi kesalahan individu.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah sebuah kesalahan manusia harus berakhir dengan kehilangan nyawa?

Safe System Approach yang diterapkan di berbagai negara berangkat dari asumsi bahwa manusia tidak sempurna dan dapat melakukan kesalahan. Karena itu, jaringan jalan harus dirancang sedemikian rupa agar kesalahan yang mungkin terjadi tidak langsung berujung pada kematian atau cedera berat (konsep forgiving roads).

Pesepeda adalah Pengguna Jalan Rentan

Dalam hierarki pengguna jalan, pesepeda termasuk kelompok pengguna jalan rentan bersama pejalan kaki dan penyandang disabilitas. Ketika terjadi tabrakan antara pesepeda dan kendaraan berat, hampir dapat dipastikan pesepeda yang menanggung risiko cedera paling parah.

Karena itulah sistem transportasi modern memberikan perlindungan lebih besar kepada kelompok rentan. Prinsip ini bukan berarti pesepeda memiliki hak untuk mengabaikan aturan lalu lintas, melainkan bahwa infrastruktur jalan harus dirancang dengan mempertimbangkan keterbatasan fisik mereka.

Ketika seorang pesepeda harus berbagi ruang dengan truk bertonase besar pada jalan berkecepatan tinggi, tingkat risikonya jauh lebih besar dibandingkan ketika sesama kendaraan bermotor berinteraksi. Oleh sebab itu, perlindungan terhadap pesepeda tidak cukup hanya melalui edukasi dan penegakan aturan, tetapi juga melalui penyediaan infrastruktur yang aman.

Urutan hierarki pengguna jalan dari yang paling rentan hingga yang paling berpotensi membahayakan. (Sumber: The UK Highway Code, 2022)
Urutan hierarki pengguna jalan dari yang paling rentan hingga yang paling berpotensi membahayakan. (Sumber: The UK Highway Code, 2022)

Apakah Jalan Soekarno-Hatta Sudah Ramah bagi Pesepeda?

Jalan Soekarno-Hatta merupakan jalan nasional dengan fungsi utama sebagai jalan arteri primer. Jalan ini dirancang untuk melayani perjalanan jarak jauh dengan kecepatan rata-rata yang relatif tinggi dan kapasitas volume kendaraan yang besar, sekaligus menghubungkan berbagai pusat kegiatan penting dalam jaringan transportasi nasional. Membentang sepanjang sekitar 18,4 kilometer, Jalan Soekarno-Hatta menjadi salah satu koridor arteri terpanjang dan terpadat di Kota Bandung. Selain melayani mobilitas perkotaan, jalan ini juga menjadi jalur penting bagi kendaraan logistik, bus, dan kendaraan berat yang bergerak antarkawasan.

Karakteristik tersebut menunjukkan bahwa Jalan Soekarno-Hatta dirancang untuk mengakomodasi arus kendaraan bermotor dalam jumlah besar. Namun, koridor ini juga digunakan oleh pesepeda untuk berbagai aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut menuntut adanya desain jalan yang mampu mengakomodasi seluruh pengguna jalan secara aman, termasuk kelompok pengguna jalan rentan.

Keberadaan pesepeda di Jalan Soekarno-Hatta bukanlah sesuatu yang dapat diabaikan. Koridor ini melintasi kawasan permukiman, sekolah, pusat perdagangan, kawasan industri, dan berbagai pusat aktivitas masyarakat. Selama masih ada warga yang menggunakan sepeda untuk bersekolah, bekerja, berolahraga, maupun melakukan perjalanan sehari-hari, maka kebutuhan akan fasilitas bersepeda yang aman menjadi bagian dari tanggung jawab penyelenggara jalan.

Pada banyak ruas jalan arteri, kecepatan kendaraan sering kali berada di atas 60 km/jam ketika kondisi lalu lintas memungkinkan. Dalam kondisi seperti ini, pesepeda termasuk kelompok pengguna jalan yang paling rentan karena tidak memiliki perlindungan fisik sebagaimana pengendara mobil atau truk. Oleh karena itu, banyak kota di dunia menyediakan jalur sepeda terproteksi yang dipisahkan secara fisik dari lalu lintas kendaraan bermotor. Kehadiran fasilitas tersebut bukan sekadar memberikan kenyamanan, melainkan mengurangi risiko tabrakan akibat perbedaan kecepatan dan massa kendaraan yang sangat besar.

Pemilihan tipe jalur sepeda berdasarkan volume dan kecepatan kendaraan bermotor. (Sumber: Pedoman Perancangan Fasilitas Pesepeda Nomor 05/P/BM/2021)
Pemilihan tipe jalur sepeda berdasarkan volume dan kecepatan kendaraan bermotor. (Sumber: Pedoman Perancangan Fasilitas Pesepeda Nomor 05/P/BM/2021)

Selain jalur sepeda terproteksi, koridor arteri seperti Jalan Soekarno-Hatta juga perlu dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung keselamatan pesepeda. Fasilitas tersebut antara lain marka jalur sepeda yang jelas dan mudah terlihat, rambu lalu lintas yang menginformasikan keberadaan pesepeda kepada pengguna jalan lain, marka penyeberangan pesepeda pada titik-titik konflik, penerangan jalan yang memadai, fasilitas putar balik yang aman, serta pulau perlindungan (refuge island) pada lokasi tertentu. Kehadiran fasilitas-fasilitas tersebut memiliki fungsi penting sebagai panduan perilaku berlalu lintas sekaligus meningkatkan kewaspadaan pengemudi kendaraan bermotor terhadap keberadaan pengguna jalan rentan.

Dari perspektif rekayasa transportasi, marka dan rambu bukan sekadar pelengkap infrastruktur, melainkan bagian dari sistem keselamatan jalan. Ketika keberadaan pesepeda tidak terakomodasi secara jelas dalam desain jalan, potensi konflik dengan kendaraan bermotor menjadi lebih tinggi. Sebaliknya, fasilitas pesepeda yang dirancang secara konsisten dapat meningkatkan keterbacaan jalan (self-explaining roads), sehingga setiap pengguna jalan memahami ruang geraknya masing-masing dan risiko kecelakaan dapat ditekan.

Pertanyaannya, apakah fasilitas-fasilitas tersebut sudah tersedia secara memadai di sepanjang koridor Soekarno-Hatta? Jika belum, maka kejadian ini semestinya menjadi momentum untuk mengevaluasi sejauh mana jalan nasional di kawasan perkotaan telah mengakomodasi kebutuhan pengguna jalan rentan.

Ketika Putar Balik Menjadi Manuver Berbahaya

Berdasarkan informasi yang beredar, korban diduga hendak melakukan putar balik sehingga harus berpindah dari lajur lambat menuju lajur yang lebih dekat dengan median jalan.

Dari perspektif rekayasa lalu lintas, kondisi ini menunjukkan adanya potensi konflik yang perlu mendapat perhatian. Seorang pesepeda yang ingin berpindah arah terpaksa berinteraksi dengan kendaraan yang melaju jauh lebih cepat dan berukuran jauh lebih besar.

Idealnya, koridor arteri primer menyediakan fasilitas penyeberangan atau putar balik yang aman bagi pesepeda, seperti bike crossing, pulau perlindungan (refuge island), atau desain bukaan median yang mempertimbangkan kebutuhan pengguna jalan non-motor. Dengan demikian, pesepeda tidak perlu melakukan manuver berisiko di tengah arus lalu lintas yang padat.

Saatnya Melihat Sistem, Bukan Sekadar Menyalahkan Korban

Kecelakaan yang merenggut nyawa seorang pelajar ini tentu harus menjadi bahan evaluasi bagi semua pihak. Pesepeda perlu meningkatkan kewaspadaan dan pemahaman terhadap risiko lalu lintas. Pengemudi kendaraan bermotor juga harus lebih berhati-hati terhadap keberadaan pengguna jalan rentan.

Namun, evaluasi tidak boleh berhenti pada perilaku individu. Jalan yang aman adalah jalan yang mampu mengantisipasi kesalahan manusia.

Peristiwa yang menimpa pesepeda pelajar di Jalan Soekarno-Hatta seharusnya tidak hanya memunculkan pertanyaan tentang perilaku korban saat berpindah lajur, tetapi juga mendorong evaluasi mengenai apakah koridor jalan nasional tersebut telah menyediakan fasilitas yang memadai bagi pesepeda. Jika setiap kali terjadi kecelakaan masyarakat hanya bertanya "siapa yang salah", maka kita akan kehilangan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yang lebih penting: "apa yang harus diperbaiki agar kejadian serupa tidak terulang?"

Sebab tujuan utama keselamatan jalan bukanlah mencari pihak yang dapat disalahkan, melainkan memastikan semua pengguna jalan dapat pulang ke rumah dengan selamat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 18 Jun 2026, 09:10

Harapan dari Genangan Waduk, Desa Cisurat Bangkit dari ‘Mengkhawatirkan’ Jadi BRILian

Desa Cisurat tidak lagi maratapi dampak waduk, mereka sudah belajar hidup bersamanya dengan cara yang makin cerdas dan terencana.

Nelayan di Waduk Jatigede, Desa Cisurat, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung,id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 07:46

Tapa Sebelum Melobangi Gunung

"Gubernur kedah tapa di Gunung Gede-Pangrango."

Sebuah spanduk di depan kantor ESDM Provinsi Jawa Barat (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 06:40

Merawat Cahaya di Tengah Rimba Digital

Hijrah digital mengajarkan tentang perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Sudah saatnya memastikan jemari kita menjadi jalan hadirnya kebaikan bagi sesama, kemaslahatan umat.

Ilustrasi muslimah sedang membaca alquran digital. (Sumber: Pexels | Foto: Thirdman)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 06:24

Pesepeda Tewas di Jalan Soekarno-Hatta: Apakah Kita Terlalu Cepat Menyalahkan Korban?

Kecelakaan pesepeda di Jalan Soekarno-Hatta mengingatkan bahwa keselamatan jalan bukan hanya soal perilaku pengguna, tetapi juga kualitas infrastruktur yang tersedia.

Polisi melakukan olah TKP. (Sumber: Dok. Unit Gakkum Satlantas Polrestabes Bandung)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 20:29

Di Balik Publikasi Digital Program Operasi Katarak Gratis

Analisis publikasi digital program operasi katarak gratis Summarecon Agung dalam melihat konsistensi pesan, strategi komunikasi, dan pengelolaan citra perusahaan melalui berbagai media

Penulis sedang menganalisis teknik penulisan Summarecon Agung Tbk dari tiga platform.
Wisata & Kuliner 17 Jun 2026, 20:09

Tamasya ke Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih, Oase Hijau di Tengah Kota Surabaya

Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih Surabaya merupakan bekas TPA yang disulap menjadi ruang terbuka hijau dengan taman tematik dan fasilitas rekreasi.

Taman Harmoni & Hutan Bambu Keputih jadi tempat wisata favorit di Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Linimasa 17 Jun 2026, 19:12

Hikayat Taman Alun-alun Regol, Dari Bantaran Sungai Tempat Pembuangan Sampah Menjadi Tumpuan UMKM Hingga Tak Terawat

Kisah Alun-alun Regol Bandung yang berubah dari bantaran sungai penuh sampah menjadi ruang publik lalu mulai meredup.

Alun-alun Regol, Kota Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 19:09

Toponimi Lembang (Bagian 2)

Dengan mempelajari ilmu Toponimi kita jadi lebih tahu akar sejarah sebuah kawasan, termasuk sejarah Lembang.

Kartu pos yang memperlihatkan suasana Lembang tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 18:01

Mampukah Mahasiswa Menjaga Konsentrasi Belajar dari Distraksi Media Sosial?

Media sosial bisa jadi teman belajar atau justru pengganggu konsentrasi. Tulisan ini membahas cara mahasiswa tetap fokus dan produktif tanpa harus meninggalkan dunia digital.

Ilustrasi gangguan media sosial. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 17:30

Rupiah Melemah, BBM Naik: Ibulah yang Paling Dulu Merasakan Dampaknya

Rupiah melemah, BBM naik, dan biaya hidup kian mencekik. Ibulah yang paling dulu merasakan dampaknya. Lalu, apa akar persoalan sebenarnya?

Ilustrasi pasar kaget. (Sumber: Pexels | Foto: AHMAD GHANI)
Wisata & Kuliner 17 Jun 2026, 17:05

Itinerary 1–2 Hari Surabaya: Telusur Sejarah, Kuliner Legendaris, dan Wajah Baru Kota Pahlawan

Rekomendasi itinerary Surabaya untuk 1–2 hari, mulai Tugu Pahlawan, Ampel, hingga kuliner legendaris.

Balai Kota Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 16:58

Seni sebagai Perlawanan: Dari Raden Saleh ke Era Digital

Peran seni sebagai perlawanan, baik pada masa Raden Saleh maupun era digital saat ini.

Ilustrasi lukisan karya Raden Saleh dan seni modern. (Sumber: istimewa)
Bandung 17 Jun 2026, 16:44

Menghidupkan Ekosistem F&B Lewat Industry Night 2026, Saat Komunitas dan Kolaborasi Menjadi Kunci Bertahan

Dinamika industri F&B kini tidak lagi sekadar bicara soal persaingan menu viral atau estetika visual semata, melainkan bergeser ke arah kekuatan kolektif yang digerakkan oleh komunitas.

Di Industry Night, batas-batas kompetisi dilebur menjadi energi positif yang mendorong lahirnya koneksi, inspirasi baru, serta pertumbuhan usaha yang berkelanjutan secara bersama-sama. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 16:33

Hubungan Dagang Banten dan Lampung dalam Perniagaan Lada Abad ke-17

Menengok kembali sejarah perdagangan lada abad ke-17 di Banten dan Lampung.

Ilustrasi gambar lada. (Sumber: disbun.kaltimprov.go.id)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 15:47

Topeng Banjet : Warisan Budaya yang Mulai Tergerus Waktu

Kesenian Topeng Banjet yang ada sejak awal abad ke-20 merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Karawang.

Topeng Banjet merupakan kesenian tradisional khas Karawang, Jawa Barat. (Sumber: Wonderful Indonesia)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 15:27

Geliat Industri vs Infrastruktur Sukabumi Utara: Jalan Pakuwon Mendesak untuk Dibenahi

Kami memahami bahwa perbaikan total membutuhkan waktu, namun kami tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian dan ancaman bahaya.

Ilustrasi peta Kabupaten Sukabumi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 13:48

Membangun Stigma Positif Kesadaran Kolektif dalam Pajak

Narasi tentang pajak, sering kali menjadi stigma negatif dalam kehidupan sosial. Apa karena masyarakat masih berpikir stereotip, atau tata kelola pajak yang dianggap kurang adil.

Ilustrasi mengurus pajak. (Sumber: Pexels/Mikhail Nilov)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 13:27

Sebelum Selebgram Ada Japanisasi: Propaganda Kecantikan dari 1943

Ketika iklan makeup dijadikan daya tarik propaganda pada masa Pendudukan Jepang 1942-1945.

Iklan Bedak Virgin dalam majalah Djawa Baroe edisi 15 Juli 1945 (Sumber: Website : universiteitleiden.nl)
Beranda 17 Jun 2026, 08:59

Cerita Pekerja Informal yang Ngalong di Tengah Cuaca Dingin Kota Bandung yang Kian Menggigit

Cerita para pekerja informal di Bandung yang terpaksa "ngalong" demi mencari nafkah di tengah cuaca Kota Bandung yang kian menggigit.

Di tengah udara dingin yang menggigit, Raja tetap setia berjualan cilok kuah hingga menjelang subuh di kawasan Dago Cikapayang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 08:01

Maradona, Malvinas, Juni dan Bandung

Sebuah memori siaran pertandingan Piala Dunia 1986 yang memunculkan legenda sepak bola dunia Maradona serta serunya masyarakat Bandung menonton saat itu

Ilustrasi Maradona. (Sumber: Flickr | Foto: Diego3336)