Rupiah Melemah, BBM Naik: Ibulah yang Paling Dulu Merasakan Dampaknya

4 menit baca
nonny irayanti
Ditulis oleh nonny irayanti diterbitkan
Ilustrasi pasar kaget. (Sumber: Pexels | Foto: AHMAD GHANI)
Ilustrasi pasar kaget. (Sumber: Pexels | Foto: AHMAD GHANI)

Kekhawatiran masyarakat akibat pelemahan rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar AS belum juga reda. Kini, masyarakat kembali harus menghadapi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Mulai 10 Juni 2026, harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Kenaikan sekitar 32 persen ini tentu makin menambah beban hidup banyak keluarga.

Bagi sebagian orang, kabar ini mungkin terdengar seperti bagian dari naik-turunnya kondisi ekonomi. Namun bagi para ibu rumah tangga, dua peristiwa ini bisa menjadi tanda bahwa pengeluaran keluarga akan semakin berat.

Ibulah yang setiap hari berhadapan langsung dengan kebutuhan rumah tangga. Mereka yang mengatur uang belanja, menyusun daftar kebutuhan dapur, membayar biaya sekolah anak, hingga memastikan seluruh anggota keluarga tetap bisa makan dan hidup dengan layak. Karena itu, saat harga-harga mulai naik, ibulah yang biasanya paling cepat merasakan dampaknya.

Kenaikan BBM hampir selalu menimbulkan efek berantai. Biaya transportasi naik, ongkos distribusi barang menjadi lebih mahal, dan pelaku usaha harus menghadapi kenaikan biaya operasional. Pada akhirnya, berbagai kebutuhan masyarakat ikut mengalami kenaikan harga. Ketika pendapatan keluarga tidak bertambah secepat biaya hidup, daya beli masyarakat pun ikut menurun.

Keadaan ini menjadi semakin berat ketika terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah. Nilai tukar yang melemah membuat biaya impor bahan baku, mesin produksi, dan berbagai kebutuhan industri menjadi lebih mahal. Akibatnya, harga barang dan jasa berpotensi terus naik. Dalam kondisi seperti ini, keluarga dengan penghasilan tetap dan kelompok menengah biasanya menjadi pihak yang paling rentan terdampak.

Lalu, mengapa kondisi seperti ini terus berulang?

Selama ini, perekonomian Indonesia masih cukup bergantung pada impor, modal asing, dan pembiayaan utang. Saat terjadi gejolak global, ekonomi nasional ikut terkena dampaknya. Ketika investor asing menarik modalnya, rupiah tertekan. Saat harga energi dunia naik, biaya produksi dalam negeri juga ikut melonjak. Ketergantungan inilah yang membuat ekonomi nasional cukup rentan terhadap tekanan dari luar.

Ironisnya, negara yang kaya sumber daya alam ini belum sepenuhnya mampu berdiri mandiri. Berbagai kebutuhan strategis masih bergantung pada pihak luar. Di sisi lain, utang negara terus bertambah dan menjadi beban dari tahun ke tahun. Akibatnya, ruang gerak ekonomi semakin terbatas dan rakyatlah yang akhirnya merasakan dampaknya.

Dalam perspektif Islam, persoalan ini tidak hanya dipandang sebagai masalah teknis ekonomi semata. Krisis yang terus berulang, melemahnya daya beli masyarakat, dan berkurangnya keberkahan hidup menunjukkan adanya persoalan yang lebih mendasar, yaitu penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang menjadikan keuntungan dan kepentingan pasar sebagai fokus utama.

Allah SWT berfirman:

"Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi." (QS Al-A'raf: 96).

Ayat ini mengingatkan bahwa keberkahan tidak hanya ditentukan oleh melimpahnya sumber daya alam atau tingginya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh sejauh mana manusia tunduk kepada aturan Allah SWT.

Islam juga mengharamkan riba dengan tegas. Namun kenyataannya saat ini, utang berbunga dan sistem keuangan ribawi justru menjadi bagian penting dalam pengelolaan ekonomi modern. Padahal Allah SWT telah berfirman:

"Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba." (QS Al-Baqarah: 275).

Karena itu, solusi yang ditawarkan Islam tidak berhenti pada kebijakan jangka pendek atau langkah-langkah sementara. Islam menawarkan perubahan yang menyentuh akar persoalan. Negara wajib melepaskan ketergantungan pada utang ribawi, mengelola sumber daya alam sebagai milik rakyat, membangun kemandirian industri dan produksi dalam negeri, serta menyelenggarakan sistem keuangan yang mandiri dan adil.

Sumber daya alam yang melimpah tidak boleh diserahkan kepada kepentingan korporasi atau pihak asing. Hasil pengelolaannya harus dikembalikan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan rakyat. Dengan begitu, negara memiliki sumber pemasukan yang kuat tanpa harus terus bergantung pada utang maupun pajak yang membebani masyarakat.

Bagi para ibu, persoalan ekonomi lebih dari sekadar angka-angka yang muncul dalam laporan lembaga keuangan. Ibu mendapatinya dalam bentuk harga beras yang naik, biaya sekolah yang makin mahal, ongkos transportasi yang bertambah, dan uang belanja yang terasa semakin sulit mencukupi kebutuhan keluarga.

Karena itu, pelemahan rupiah dan kenaikan BBM seharusnya menjadi momen untuk mengevaluasi sistem yang selama ini diterapkan. Selama akar persoalannya belum diselesaikan, berbagai kesulitan ekonomi akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda.

Umat Islam membutuhkan solusi yang tidak hanya mampu meredakan gejolak sesaat, tetapi juga menghadirkan kedaulatan ekonomi, keadilan distribusi kekayaan, dan keberkahan hidup. Semua itu diyakini dapat diwujudkan dengan kembali menjadikan syariah Islam sebagai landasan dalam mengatur kehidupan, termasuk dalam bidang ekonomi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)