Rupiah Melemah, BBM Naik: Ibulah yang Paling Dulu Merasakan Dampaknya

4 menit baca
nonny irayanti
Ditulis oleh nonny irayanti diterbitkan Rabu 17 Jun 2026, 17:30 WIB
Ilustrasi pasar kaget. (Sumber: Pexels | Foto: AHMAD GHANI)

Ilustrasi pasar kaget. (Sumber: Pexels | Foto: AHMAD GHANI)

Kekhawatiran masyarakat akibat pelemahan rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar AS belum juga reda. Kini, masyarakat kembali harus menghadapi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Mulai 10 Juni 2026, harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Kenaikan sekitar 32 persen ini tentu makin menambah beban hidup banyak keluarga.

Bagi sebagian orang, kabar ini mungkin terdengar seperti bagian dari naik-turunnya kondisi ekonomi. Namun bagi para ibu rumah tangga, dua peristiwa ini bisa menjadi tanda bahwa pengeluaran keluarga akan semakin berat.

Ibulah yang setiap hari berhadapan langsung dengan kebutuhan rumah tangga. Mereka yang mengatur uang belanja, menyusun daftar kebutuhan dapur, membayar biaya sekolah anak, hingga memastikan seluruh anggota keluarga tetap bisa makan dan hidup dengan layak. Karena itu, saat harga-harga mulai naik, ibulah yang biasanya paling cepat merasakan dampaknya.

Kenaikan BBM hampir selalu menimbulkan efek berantai. Biaya transportasi naik, ongkos distribusi barang menjadi lebih mahal, dan pelaku usaha harus menghadapi kenaikan biaya operasional. Pada akhirnya, berbagai kebutuhan masyarakat ikut mengalami kenaikan harga. Ketika pendapatan keluarga tidak bertambah secepat biaya hidup, daya beli masyarakat pun ikut menurun.

Keadaan ini menjadi semakin berat ketika terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah. Nilai tukar yang melemah membuat biaya impor bahan baku, mesin produksi, dan berbagai kebutuhan industri menjadi lebih mahal. Akibatnya, harga barang dan jasa berpotensi terus naik. Dalam kondisi seperti ini, keluarga dengan penghasilan tetap dan kelompok menengah biasanya menjadi pihak yang paling rentan terdampak.

Lalu, mengapa kondisi seperti ini terus berulang?

Selama ini, perekonomian Indonesia masih cukup bergantung pada impor, modal asing, dan pembiayaan utang. Saat terjadi gejolak global, ekonomi nasional ikut terkena dampaknya. Ketika investor asing menarik modalnya, rupiah tertekan. Saat harga energi dunia naik, biaya produksi dalam negeri juga ikut melonjak. Ketergantungan inilah yang membuat ekonomi nasional cukup rentan terhadap tekanan dari luar.

Ironisnya, negara yang kaya sumber daya alam ini belum sepenuhnya mampu berdiri mandiri. Berbagai kebutuhan strategis masih bergantung pada pihak luar. Di sisi lain, utang negara terus bertambah dan menjadi beban dari tahun ke tahun. Akibatnya, ruang gerak ekonomi semakin terbatas dan rakyatlah yang akhirnya merasakan dampaknya.

Dalam perspektif Islam, persoalan ini tidak hanya dipandang sebagai masalah teknis ekonomi semata. Krisis yang terus berulang, melemahnya daya beli masyarakat, dan berkurangnya keberkahan hidup menunjukkan adanya persoalan yang lebih mendasar, yaitu penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang menjadikan keuntungan dan kepentingan pasar sebagai fokus utama.

Allah SWT berfirman:

"Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi." (QS Al-A'raf: 96).

Ayat ini mengingatkan bahwa keberkahan tidak hanya ditentukan oleh melimpahnya sumber daya alam atau tingginya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh sejauh mana manusia tunduk kepada aturan Allah SWT.

Islam juga mengharamkan riba dengan tegas. Namun kenyataannya saat ini, utang berbunga dan sistem keuangan ribawi justru menjadi bagian penting dalam pengelolaan ekonomi modern. Padahal Allah SWT telah berfirman:

"Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba." (QS Al-Baqarah: 275).

Karena itu, solusi yang ditawarkan Islam tidak berhenti pada kebijakan jangka pendek atau langkah-langkah sementara. Islam menawarkan perubahan yang menyentuh akar persoalan. Negara wajib melepaskan ketergantungan pada utang ribawi, mengelola sumber daya alam sebagai milik rakyat, membangun kemandirian industri dan produksi dalam negeri, serta menyelenggarakan sistem keuangan yang mandiri dan adil.

Sumber daya alam yang melimpah tidak boleh diserahkan kepada kepentingan korporasi atau pihak asing. Hasil pengelolaannya harus dikembalikan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan rakyat. Dengan begitu, negara memiliki sumber pemasukan yang kuat tanpa harus terus bergantung pada utang maupun pajak yang membebani masyarakat.

Bagi para ibu, persoalan ekonomi lebih dari sekadar angka-angka yang muncul dalam laporan lembaga keuangan. Ibu mendapatinya dalam bentuk harga beras yang naik, biaya sekolah yang makin mahal, ongkos transportasi yang bertambah, dan uang belanja yang terasa semakin sulit mencukupi kebutuhan keluarga.

Karena itu, pelemahan rupiah dan kenaikan BBM seharusnya menjadi momen untuk mengevaluasi sistem yang selama ini diterapkan. Selama akar persoalannya belum diselesaikan, berbagai kesulitan ekonomi akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda.

Umat Islam membutuhkan solusi yang tidak hanya mampu meredakan gejolak sesaat, tetapi juga menghadirkan kedaulatan ekonomi, keadilan distribusi kekayaan, dan keberkahan hidup. Semua itu diyakini dapat diwujudkan dengan kembali menjadikan syariah Islam sebagai landasan dalam mengatur kehidupan, termasuk dalam bidang ekonomi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

nonny irayanti
Pemerhati pendidikan dan sosial kemasyarakatan.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Jun 2026, 20:29

Di Balik Publikasi Digital Program Operasi Katarak Gratis

Analisis publikasi digital program operasi katarak gratis Summarecon Agung dalam melihat konsistensi pesan, strategi komunikasi, dan pengelolaan citra perusahaan melalui berbagai media

Penulis sedang menganalisis teknik penulisan Summarecon Agung Tbk dari tiga platform.
Wisata & Kuliner 17 Jun 2026, 20:09

Tamasya ke Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih, Oase Hijau di Tengah Kota Surabaya

Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih Surabaya merupakan bekas TPA yang disulap menjadi ruang terbuka hijau dengan taman tematik dan fasilitas rekreasi.

Taman Harmoni & Hutan Bambu Keputih jadi tempat wisata favorit di Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Linimasa 17 Jun 2026, 19:12

Hikayat Taman Alun-alun Regol, Dari Bantaran Sungai Tempat Pembuangan Sampah Menjadi Tumpuan UMKM Hingga Tak Terawat

Kisah Alun-alun Regol Bandung yang berubah dari bantaran sungai penuh sampah menjadi ruang publik lalu mulai meredup.

Alun-alun Regol, Kota Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 19:09

Toponimi Lembang (Bagian 2)

Dengan mempelajari ilmu Toponimi kita jadi lebih tahu akar sejarah sebuah kawasan, termasuk sejarah Lembang.

Kartu pos yang memperlihatkan suasana Lembang tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 18:01

Mampukah Mahasiswa Menjaga Konsentrasi Belajar dari Distraksi Media Sosial?

Media sosial bisa jadi teman belajar atau justru pengganggu konsentrasi. Tulisan ini membahas cara mahasiswa tetap fokus dan produktif tanpa harus meninggalkan dunia digital.

Ilustrasi gangguan media sosial. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 17:30

Rupiah Melemah, BBM Naik: Ibulah yang Paling Dulu Merasakan Dampaknya

Rupiah melemah, BBM naik, dan biaya hidup kian mencekik. Ibulah yang paling dulu merasakan dampaknya. Lalu, apa akar persoalan sebenarnya?

Ilustrasi pasar kaget. (Sumber: Pexels | Foto: AHMAD GHANI)
Wisata & Kuliner 17 Jun 2026, 17:05

Itinerary 1–2 Hari Surabaya: Telusur Sejarah, Kuliner Legendaris, dan Wajah Baru Kota Pahlawan

Rekomendasi itinerary Surabaya untuk 1–2 hari, mulai Tugu Pahlawan, Ampel, hingga kuliner legendaris.

Balai Kota Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 16:58

Seni sebagai Perlawanan: Dari Raden Saleh ke Era Digital

Peran seni sebagai perlawanan, baik pada masa Raden Saleh maupun era digital saat ini.

Ilustrasi lukisan karya Raden Saleh dan seni modern. (Sumber: istimewa)
Bandung 17 Jun 2026, 16:44

Menghidupkan Ekosistem F&B Lewat Industry Night 2026, Saat Komunitas dan Kolaborasi Menjadi Kunci Bertahan

Dinamika industri F&B kini tidak lagi sekadar bicara soal persaingan menu viral atau estetika visual semata, melainkan bergeser ke arah kekuatan kolektif yang digerakkan oleh komunitas.

Di Industry Night, batas-batas kompetisi dilebur menjadi energi positif yang mendorong lahirnya koneksi, inspirasi baru, serta pertumbuhan usaha yang berkelanjutan secara bersama-sama. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 16:33

Hubungan Dagang Banten dan Lampung dalam Perniagaan Lada Abad ke-17

Menengok kembali sejarah perdagangan lada abad ke-17 di Banten dan Lampung.

Ilustrasi gambar lada. (Sumber: disbun.kaltimprov.go.id)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 15:47

Topeng Banjet : Warisan Budaya yang Mulai Tergerus Waktu

Kesenian Topeng Banjet yang ada sejak awal abad ke-20 merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Karawang.

Topeng Banjet merupakan kesenian tradisional khas Karawang, Jawa Barat. (Sumber: Wonderful Indonesia)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 15:27

Geliat Industri vs Infrastruktur Sukabumi Utara: Jalan Pakuwon Mendesak untuk Dibenahi

Kami memahami bahwa perbaikan total membutuhkan waktu, namun kami tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian dan ancaman bahaya.

Ilustrasi peta Kabupaten Sukabumi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 13:48

Membangun Stigma Positif Kesadaran Kolektif dalam Pajak

Narasi tentang pajak, sering kali menjadi stigma negatif dalam kehidupan sosial. Apa karena masyarakat masih berpikir stereotip, atau tata kelola pajak yang dianggap kurang adil.

Ilustrasi mengurus pajak. (Sumber: Pexels/Mikhail Nilov)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 13:27

Sebelum Selebgram Ada Japanisasi: Propaganda Kecantikan dari 1943

Ketika iklan makeup dijadikan daya tarik propaganda pada masa Pendudukan Jepang 1942-1945.

Iklan Bedak Virgin dalam majalah Djawa Baroe edisi 15 Juli 1945 (Sumber: Website : universiteitleiden.nl)
Beranda 17 Jun 2026, 08:59

Cerita Pekerja Informal yang Ngalong di Tengah Cuaca Dingin Kota Bandung yang Kian Menggigit

Cerita para pekerja informal di Bandung yang terpaksa "ngalong" demi mencari nafkah di tengah cuaca Kota Bandung yang kian menggigit.

Di tengah udara dingin yang menggigit, Raja tetap setia berjualan cilok kuah hingga menjelang subuh di kawasan Dago Cikapayang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 08:01

Maradona, Malvinas, Juni dan Bandung

Sebuah memori siaran pertandingan Piala Dunia 1986 yang memunculkan legenda sepak bola dunia Maradona serta serunya masyarakat Bandung menonton saat itu

Ilustrasi Maradona. (Sumber: Flickr | Foto: Diego3336)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 07:12

Ambisi di Balik Coretax

Sistem Coretax dirilis untuk menyatukan 19 proses bisnis pajak lama.

Ilustrasi web coretax DJP. (Sumber: Pexels | Foto: Cottonbro Studio)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 06:34

Nama Geografis yang Bersumber dari Alat dan Cara Memasak

Toponimi telah mengabadikan kata yang produktif digunakan di suatu daerah, pada saat nama geografis itu diberikan.

Gentong untuk menampung air bersih masih terus dibuat oleh para pembuat gerabah. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 06:05

Maraknya Juru Parkir Liar di Minimarket: Cermin Lemahnya Manajemen Parkir di Perkotaan

Maraknya juru parkir liar di minimarket bukan sekadar soal uang parkir, tetapi cerminan lemahnya manajemen parkir, kepastian hukum, dan pelayanan publik di perkotaan.

Ilustrasi Juru Parkir. (Sumber: Pemkot Bandung)
Ayo Biz 16 Jun 2026, 18:21

Kausalitas Daring yang Menggerakkan Dapur KebabFactory.id

Dinamika digitalisasi perbankan yang menjaga dapur UMKM tetap ngebul.

Pegawai sedang menyiapkan pesanan konsumen kedai KebabFactory.id di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)