Pandemi Senyap Kapitalisme dalam Industri Gula dan Obat-obatan

7 menit baca
edy syah putra
Ditulis oleh edy syah putra diterbitkan
Pabrik gula. (Sumber: Pexels | Foto: Deepak Sharma)
Pabrik gula. (Sumber: Pexels | Foto: Deepak Sharma)

Industri gula adalah salah satu mesin penghasil keuntungan yang besar dan stabil bagi para pemilik modal. Mengapa? Industri ini legal, dibutuhkan masyarakat berbagai kelas, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah. Bisnis ini juga jarang dibicarakan dan dikritisi orang, sebab gula tampaknya sudah menjadi kebutuhan pokok yang melekat pada masyarakat.

Sejenak mari kita bertanya, siapa yang paling banyak mengkonsumsi gula? Mari melihat sekitar lingkungan terdekat kita, jajanan sekolah-sekolah SD, SMP dan SMA di desa maupun di kota adalah salah satu tempat yang banyak menjual makanan minuman mengandung gula dengan berbagai varian. Minuman sachet, permen, makanan berbasis tepung, makanan ultra prosesing dalam bentuk ciki-cikian, minuman teh botolan dan berbagai macam jenis lainnya yang banyak mengandung gula tinggi. Selain anak-anak dan generasi muda, konsumen terbesar gula yang terkandung dalam varian makanan minuman adalah kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, misalnya buruh pabrik, pekerja bangunan, pengemudi ojek online, supir dan buruh harian lepas.

Mengapa demikian? Bagi kelompok elitis kapitalistik, industri gula adalah jalan subur menumbuhkan nilai tambah atau keuntungan. Pasarnya jelas, yaitu masyarakat kelas bawah berpenghasilan rendah yang membutuhkan makanan dan minuman yang cepat mendapatkan energi langsung untuk bekerja. Bagi pekerja bangunan yang banyak menghabiskan energi ekstra untuk mengaduk semen, mengangkat batu, mengayak pasir, atau pengemudi ojek online yang bekerja di bawah terik matahari, air putih tidaklah cukup guna menambah energi cepat untuk melanjutkan kerja berat. Mereka membutuhkan gula sebagai penyuplai energi langsung yang cepat dan murah agar dapat bertahan dalam bekerja. Ditambah lagi dengan pendapatan yang sering kali pas-pasan, solusi utama untuk memperoleh tenaga kembali dengan cepat adalah mengkonsumsi minuman atau makanan murah meski dengan kadar gula tinggi untuk mendapatkan lonjakan dopamin sesegera mungkin.

Mari lihat sekitar tongkrongan pekerja ojek online, pekerja bangunan atau sekitar-sekitar lingkungan kita, akan selalu ada warung penjual minuman ultra proses atau supra proses seperti kopi yang komposisinya 70% adalah gula, minuman sachet yang banyak mengandung gula, berbagai varian tepung yang digoreng dan bentuk-bentuk makanan dan minuman mengandung gula lainnya. Tak terbantahkan bahwa konsumen utama produk-produk tersebut adalah masyarakat berpenghasilan rendah. 

Masyarakat berpenghasilan rendah jarang memikirkan atau mengkritisi apa komposisi makanan dan minuman yang dikonsumsi. Keputusan mereka sering kali tidak didorong oleh pertimbangan nilai gizi atau nutrisi untuk kesehatan tubuh dalam jangka panjang, melainkan pada pertimbangan apakah itu murah, cepat dan mudah didapat. Mari bayangkan sejenak, sebagian besar masyarakat kita tumbuh dan bertahan hidup dengan cara konsumsi gula dalam makanan dan minuman ultra proses seperti itu.

Bagaimana situasi kesehatan masyarakat kita di tengah serbuan produk makanan minuman yang mengandung tinggi gula ini? Para elit dan pemain industri gula bukan tidak menyadari dampak panjang dari konsumsi terhadap gula tersebut, namun kesadaran mereka lebih peka untuk terarah meraup keuntungan dari situasi terjepit masyarakat berpenghasilan rendah. Itu sebabnya, banyak varian makanan dan minuman mengandung gula tinggi berada di barisan paling depan warung-warung jalanan dan mini market. Peluang itu juga dilihat oleh elit kapitalis dari karakter gula yang mudah memberi efek kecanduan sebab mereka yang mengkonsumsi mendapat energi instan dan cepat. 

Saat ini tidak sedikit masyarakat berpenghasilan rendah terjebak dalam kecanduan tersebut. Mereka mengalami ketergantungan atas makanan minuman mengandung gula untuk mendapat energi tambahan dengan cepat. Mereka seolah tidak dapat keluar dari lingkaran itu, sebab dituntut untuk mendapat energi sebanyak dan secepat mungkin agar dapat bertahan dalam kerja meski perlahan-lahan mengalami kebangkrutan fisik. Fenomena ini mencemaskan, mirip seperti pandemi senyap yang bahkan tidak tahu kapan berakhir dan apa obatnya, bahkan bisa jadi lebih mematikan daripada jenis pandemi virus lainnya.

Berbagai data menunjukkan, gula lebih banyak membunuh manusia daripada virus bahkan perang. Di Indonesia pengidap penyakit diabetes meningkat tajam tiap tahunnya bahkan menjadi salah satu negara dengan penderita jumlah diabetes terbanyak di dunia. Lebih menyeramkan lagi, penyakit ini tidak hanya menjadi langganan penyakit orang tua. Kasus penyakit diabetes pada anak di Indonesia juga terus mengalami lonjakan. Banyak anak-anak usia muda sudah harus cuci darah akibat konsumsi gula yang tidak terkontrol.

Bagaimana tidak? Hampir semua varian makanan minuman mengandung gula menjadi menu konsumsi jajanan harian anak-anak muda yang dipasarkan menyerbu pankreas dan ginjal mereka. Ragam jenis susu formula yang sebenarnya mengandung tinggi gula tambahan kini banyak dikonsumsi harian oleh generasi muda, sereal-sereal coklat berbasis gula bahkan tidak jarang diklaim sebagai makanan sehat, minuman boba, minuman teh botolan, berbagai jenis sirup, semua itu adalah jenis konsumsi harian yang telah dianggap sebagai gaya hidup normal saat ini. Selama bertahun-tahun gaya hidup itu dijalani sebagai sesuatu yang normal. Dengan gaya hidup seperti itu, pankreas akan mengalami kelelahan memproduksi insulin, sel-sel tubuh akan resisten, maka gula yang tidak lagi dapat diproses oleh tubuh akan berubah menjadi jaringan perusak tubuh dari dalam dan merobek pembuluh darah, menghancurkan saraf, membutakan mata dan membunuh ginjal. 

Inilah ironi kapitalisme dalam industri gula. Tidak sedikit korbannya adalah masyarakat berpenghasilan rendah dan anak-anak muda. Sementara para elitis kapitalisme dalam industri gula meraup keuntungan hingga triliunan rupiah dengan menjual produk berisi gula tiap tahunnya. Namun ketika masyarakat menderita sakit diabetes hingga meninggal, tidak ada korporasi besar di balik industri tersebut bertanggung jawab. Beban hidup dan pemulihan kesehatan diserahkan kepada layanan kesehatan publik yang harus mengantri untuk berobat dengan sistem BPJS. Skema ini sungguh adalah kejahatan tersembunyi yang seolah dianggap lazim. Kejamnya lagi, kapitalisme di balik bisnis industri gula mengambil keuntungan sebanyak mungkin namun meletakan beban kerugian kesehatan kepada negara yang didapat dari pajak masyarakat. 

Kengerian belum selesai di situ, dibalik kejahatan senyap ini ternyata juga muncul serigala berbulu domba dalam bentuk industri obat-obatan. Ia hadir bak pahlawan, dengan berusaha memberi jawaban, menjanjikan kesembuhan, padahal dalam prinsip tersembunyi industri obat-obatan, pasien yang sembuh adalah berarti kehilangan pelanggan. Industri bidang obat ini seolah hadir bak penyelamat untuk menyembuhkan, namun cara kerja mereka tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah dari akar dengan reformasi sistem pangan, atau edukasi masyarakat tentang konsumsi pangan nutrisi dan bergizi baik.

Model bisnis obat ini berpusat pada sistem langganan atau keterikatan agar terus dapat melakukan produksi obat. Dengan itu, mereka tidak punya waktu untuk berpikir menyelesaikan masalah penyakit dari akar. Berbagai jenis obat penyembuh berusaha dimunculkan, mulai dari obat penurun gula darah yang tidak jarang memiliki sifat ketergantungan, atau jika pankreas sudah tidak berdaya lagi, maka disediakan suntikan rutin insulin. Itu semua belum termasuk obat-obat tambahan lainnya. 

Mahakarya industri kematian dalam pandemi senyap simbiosis kapitalisme industri gula dan obat sungguh nyata ada dalam pengalaman harian masyarakat kita. Industri pangan mengandung tinggi gula menciptakan pasien dan industri obat masuk dengan jubah putih. Ia datang tidak untuk menyelamatkan pasien namun memastikan pasien tersebut bisa bertahan lama dan memastikan mereka membeli obat setiap waktu. Dalam situasi ini, masyarakat berpenghasilan rendah terjebak di lingkaran permainan senyap elit kapitalistik dalam industri gula. Masyarakat berpenghasilan rendah seolah tidak memiliki tubuhnya sendiri lagi, sebab tubuh mereka adalah pabrik uang yang dieksploitasi oleh kapitalisme dalam industri gula dan obat-obatan setiap waktu. Ia dimulai dari gigitan nikmat nan candu di masa kecil dan suntikan insulin terakhir dan kamar kematian. 

Sementara itu di sisi lain, kaum elit tentu dapat memilih makanan yang baik dan layak untuk mereka konsumsi. Mereka memiliki uang cukup bahkan lebih untuk membayar mahal makanan bernutrisi, berlangganan makanan organik yang sehat senilai jutaan rupiah, bahkan dapat membayar pelayanan kesehatan dengan mudah untuk menjaga kondisi tubuh. Kelompok elit tidak akan membeli kopi yang isinya 70% gula atau minuman sachet yang dijual dipinggiran jalan. Mereka tahu betul apa nutrisi dan gizi yang diperlukan tubuh agar tetap sehat, bugar dan dengan itu memiliki kejernihan dalam berpikir untuk menyusun strategi-strategi jitu–bisa jadi untuk melihat peluang-peluang eksploitatif masyarakat kelas bawah. Bagi pemain elitis industri gula, makanan bukan sekadar kebutuhan pokok, alih-alih demi kesehatan masyarakat, ia adalah komoditas yang terus menerus memberi keuntungan.

Sudah sejak lama  Karl Marx menyindir agenda dan sabda utama kapitalisme adalah “akumulasi! akumulasi! sabda Musa dan para nabi”. Mereka tidak peduli makanan minuman itu dibuat untuk kebutuhan hakiki seperti apa, prinsip logika mereka adalah menjadikan komoditas dengan sifat dasar ketergantungan dan mendapat sebanyak mungkin keuntungan. Akhirnya, Fenomena lingkaran setan ini nampak tak berujung dan hanya menciptakan dua gerbong yaitu, masyarakat yang terjebak dalam kesulitan mengakses makanan minuman dengan nutrisi baik dan masyarakat elit yang dapat mengakses gizi dan nutrisi baik. Gerbong yang terakhir tadi nantinya akan berpeluang besar menentukan masa depan demokrasi Indonesia. 

Apa yang harus dilakukan dalam situasi ini? Karl Marx pernah menyerukan, semua kelompok tertindas harus bersatu. Memang tidak mudah, apalagi penindasan dimainkan dengan sunyi dan seolah normal, sehingga masyarakat berpenghasilan rendah seolah tidak tahu bahwa mereka dijebak dan ditindas melalui permainan industri gula dan obat-obatan. Namun, saat ini banyak jalan yang bisa dicari untuk menyebarkan banyak informasi baik demi membangun kesadaran baru tentang hidup sehat bagi masyarakat luas. Bersatu dan bergerak bukan melulu berarti anarkis dan turun ke lapangan, namun bisa juga melakukan gerakan bersama mengajari generasi muda kita, keluarga kita, anak-anak kita untuk mengurangi atau bahkan berhenti mengkonsumsi gula tinggi dalam varian makanan minuman komoditas kapitalistik. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

edy syah putra
Tentang edy syah putra
Lahir di Sumatra, dan pembelajar filsafat.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)