Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)

KETIKA kera atau macan turun ke wilayah permukiman, bukan berarti satwa itu yang menyerbu manusia. Justru kita yang naik ke atas ke wilayah mereka.

Demikian ditegaskan antara lain oleh Kepala Dinas Kehutanan Jawa Barat, Dodit Ardian Pancapana, dalam acara Penegakan Hukum untuk Keselamatan dan Kelestarian Kawasan Hutan di Alam Santosa Ekowisata dan Budaya, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Kamis (17/9/2026), kemarin, sebagaimana dilaporkan sejumlah media.

Menurut Dodit, upaya menjaga hutan dan memulihkan lahan kritis, tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau instansi.

Tekanan ruang

Saat ini, Jawa Barat memang sedang menghadapi tekanan ruang yang tidak ringan. Penduduknya sudah lebih dari 51 juta jiwa, sementara wilayah provinsi memiliki luas sekitar 3,5 juta hektare. 

Data Pemprov Jawa Barat untuk 2024 mencatat ada sekitar 51,316 juta penduduk, dan sekitar 81,85 persen berada di wilayah Jawa Barat Utara. 

Artinya, tekanan terhadap ruang tidak tersebar merata. Sebagian besar manusia berkumpul di kawasan yang juga menjadi pusat permukiman, industri, jalan, pertanian dan aktivitas ekonomi.

Di sisi lain, Jawa Barat masih mempunyai bentang alam pegunungan yang menjadi habitat berbagai satwa. Dalam hal ini, hutan bukan hanya hamparan hijau yang terlihat dari kejauhan. Ia adalah ruang hidup. Ada makanan, tempat berlindung, wilayah jelajah, lokasi berkembang biak dan hubungan ekologis antarpopulasi.

Ketika ruang itu menyusut atau terpotong oleh jalan, kebun, permukiman dan berbagai aktivitas manusia, habitat tidak selalu langsung hilang. Tetapi, kualitas dan keterhubungannya dapat berubah.

Dalam ekologi, fragmentasi habitat sama pentingnya dengan kehilangan habitat itu sendiri. Bayangkan sebuah hutan sebagai satu kamar besar. Lalu, kamar itu dipotong jalan, kebun, bangunan dan lahan terbuka menjadi beberapa ruangan kecil. Luas totalnya mungkin masih terlihat besar di atas peta. 

Tetapi, bagi satwa yang membutuhkan wilayah jelajah luas, ruang yang terpotong-potong itu menjadi berbeda sama sekali. Pergerakan menjadi lebih sulit, sumber makanan dapat terpisah, dan pertemuan dengan manusia menjadi lebih mungkin dan lebih sulit dihindari.

Jawa Barat memiliki contoh konkret. Gunung Sawal di Kabupaten Ciamis merupakan salah satu habitat penting macan tutul Jawa. Kajian BRIN mencatat bahwa habitat macan tutul ini menyusut, terfragmentasi dan terdegradasi, sementara konflik dengan manusia telah terjadi di 26 kabupaten di Jawa. 

Di sekitar Gunung Sawal, konflik macan tutul-manusia tercatat berlangsung berulang sejak 2001. Bahkan investigasi pada 2017 menemukan penggarapan kawasan hutan seluas lebih dari 2.000 hektare yang berdampak pada daya dukung habitat dan ketersediaan pakan satwa.

Karena itu, ketika seekor macan tutul muncul di dekat permukiman, respons yang paling mudah adalah menyebutnya sebagai macan “turun gunung”. 

Tetapi, istilah itu dapat menyederhanakan persoalan. Pasalnya, sang macan itu turun ke mana? Dari habitat yang seperti apa? Apakah macan sedang mencari makanan, berpindah wilayah, kalah bersaing, mengikuti koridor jelajah, atau terdorong oleh perubahan kondisi habitat? 

Tidak semua kejadian memiliki sebab yang sama. Tetapi, ada satu hal penting, yaitu konflik satwa-manusia hampir selalu berlangsung di sebuah lanskap yang telah mengalami perubahan.

Kera mungkin bisa memberikan gambaran yang berbeda. Satwa yang hidup dekat manusia ini dapat menemukan sumber makanan yang jauh lebih mudah daripada di hutan. Sampah, tanaman budidaya, makanan yang sengaja diberikan manusia dan aktivitas permukiman dapat mengubah perilaku satwa. 

Penelitian terbaru mengenai kera ekor panjang di Riau, misalnya, menunjukkan bahwa konflik meningkat di lokasi yang dekat dengan manusia dan aktivitas pemberian makanan. Ini bukan penelitian di Jawa Barat, sehingga tidak bisa langsung dipakai untuk menjelaskan semua kasus di Jawa Barat. Tetapi, prinsip ekologinya penting bahwa perilaku satwa juga dipengaruhi oleh bagaimana manusia mengubah lingkungannya.

Karena itu, persoalan satwa liar sebenarnya tidak berhenti pada persoalan apakah satwa yang datang ke kawasan permukiman harus ditangkap atau dikembalikan ke hutan. Persoalan yang lebih sulit adalah bagaimana memastikan hutan tetap menjadi habitat yang berfungsi.

Lahan kritis

Portal resmi kehutanan Jawa Barat mencatat luas kawasan hutan di provinsi ini sekitar 794.622 hektare dan lahan kritis sekitar 829.556 hektare. Angka lahan kritis tersebut bahkan sedikit lebih besar daripada luas kawasan hutan yang tercatat dalam portal yang sama. 

Tentu, kedua angka itu tidak boleh diperlakukan sebagai dua kategori yang identik atau langsung dibandingkan satu banding satu. Tetapi, perbedaan skala tersebut cukup untuk menunjukkan bahwa persoalan rehabilitasi lanskap Jawa Barat jauh lebih besar daripada sekadar menanam pohon di sejumlah lokasi.

Lebih menarik lagi, dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Jawa Barat mencatat luas lahan kritis yang direhabilitasi pada 2024 sekitar 12.590,87 hektare. Pada tahun yang sama, pemerintah provinsi juga melaporkan program Gerakan Tanam dan Pelihara Pohon telah mencapai lebih dari 100 juta pohon secara kumulatif di 27 kabupaten/kota. 

Kedua angka tersebut menunjukkan besarnya aktivitas rehabilitasi. Tetapi, justru di sinilah ukuran keberhasilan perlu diperhalus, yakni bukan hanya berapa bibit yang ditanam, melainkan berapa yang hidup, tumbuh, membentuk tutupan, memperbaiki fungsi tanah dan akhirnya menjadi bagian dari ekosistem.

Sebab menanam pohon bukan seperti sim salabim dalam permainan sulap. Menanam pohon hari ini tidak otomatis membuat hutan pulih besok. Sebuah bibit membutuhkan air, tanah yang sesuai, perlindungan dari gangguan, waktu tumbuh dan pemeliharaan.  Dalam rehabilitasi ekologis, kematian bibit bukan sekadar angka administratif. Ia adalah informasi tentang apakah jenis tanaman, lokasi, metode penanaman dan pemeliharaan memang cocok.

Dalam konteks bentang alam, keberadaan hutan di kawasan hulu tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan sungai, lahan pertanian, desa, kota dan wilayah hilir. Penelitian penginderaan jauh di hulu daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung, misalnya, menunjukkan bahwa perubahan tutupan lahan dari hutan ke bentuk tutupan lain dapat mengubah kemampuan lanskap menahan air. 

Penelitian lain mengenai DAS juga menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan dapat meningkatkan aliran permukaan dan debit puncak. Jadi, ketika kita berbicara tentang hutan di pegunungan Jawa Barat, yang dipertaruhkan bukan hanya nasib sang macan dan sang kera, tetapi juga air dan keselamatan manusia di bawahnya.

Maka dari itu, konflik satwa liar dengan manusia sebenarnya menjadi semacam alarm ekologis. Ia memberi sinyal bahwa batas antara ruang manusia dan ruang satwa semakin kabur. 

Namun demikian, munculnya macan di permukiman tidak otomatis membuktikan bahwa habitatnya rusak. Munculnya kera juga tidak otomatis berarti hutan telah kehilangan seluruh sumber makanan. Setiap kasus perlu dilihat berdasarkan lokasi, jenis satwa, kondisi habitat, pola pergerakan dan perubahan penggunaan lahannya. 

Salah alamat

Jawa Barat akan terus menghadapi tekanan terkait ruang. Orang akan membutuhkan rumah. Kota membutuhkan jalan. Industri membutuhkan lahan. Petani membutuhkan tanah garapan. Pariwisata membutuhkan ruang.

Semua kebutuhan itu nyata dan tidak bisa diselesaikan dengan kalimat sederhana “Stop, jangan membangun di hutan”. Persoalannya adalah bagaimana pembangunan diarahkan agar tidak terus memakan ruang ekologis yang pada akhirnya juga dibutuhkan manusia sendiri.

Menanami kembali kawasan yang rusak memang perlu. Tetapi, jika pada saat yang sama kawasan dengan fungsi ekologis penting terus mengalami tekanan baru, kita seperti mengisi ember yang bocor. Satu tangan menanam pohon, tangan lain mungkin membuka ruang baru di tempat yang berbeda. 

Padahal, rehabilitasi dan perlindungan harus berjalan bersamaan. Memulihkan yang sudah rusak penting, mencegah yang masih baik agar tidak rusak juga sama pentingnya.

Ketika setiap bukit dilihat hanya sebagai calon rumah, vila, kebun atau objek wisata, pada suatu titik kita akan kehilangan sesuatu yang tidak mudah diganti: ruang hidup itu sendiri.

Macan tutul yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”. Mereka bisa menjadi potongan kecil dari kisah yang jauh lebih besar tentang perubahan paras Jawa Barat. 

Perubahan lanskap sering kali tidak terlihat karena berlangsung sedikit demi sedikit. Hutan dipotong untuk keperluan satu jalan. Lereng berubah satu petak untuk vila. Kebun bertambah satu blok. Permukiman bergerak beberapa ratus meter. Bertahun-tahun kemudian, batas antara hutan dan manusia sudah tidak lagi seperti sebelumnya.

Dan ketika sejumlah satwa mulai menyambangi rumah kita, mungkin bukan satwa yang sedang salah mencari alamat. Bisa jadi, kitalah yang selama bertahun-tahun perlahan telah mengubah alamat mereka. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)