Membaca buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, kita seperti diajak kembali ke suasana keluarga sederhana dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Bagi banyak pemirsa televisi, kisah Doel dan keluarganya bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari kenangan yang pernah menemani kehidupan sehari-hari.
Lebih dari tiga dekade setelah pertama kali hadir di layar kaca, Si Doel Anak Sekolahan tetap memiliki tempat tersendiri dalam ingatan masyarakat. Melalui tokoh Doel, Babe, Nyak, Mandra, Atun, Karyo, hingga Pak Bendot, penonton diajak menyaksikan berbagai persoalan yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari: keluarga, pendidikan, pekerjaan, cinta, kejujuran, dan harga diri.
Semua itu hadir dalam suasana kampung Betawi yang akrab, lengkap dengan kelucuan, pertengkaran, kesedihan, dan harapan. Keluarga Doel bukan keluarga yang hidup serba berkecukupan. Mereka harus menghadapi keterbatasan ekonomi, persoalan pendidikan, serta perbedaan pandangan di antara anggota keluarga. Namun, di tengah berbagai kesulitan, kebersamaan dan kasih sayang tetap menjadi pegangan.
Kedekatan cerita tersebut terletak pada kesederhanaannya. Percakapan sehari-hari, bahasa Betawi, kebiasaan warga, dan suasana perkampungan membuat tokoh-tokohnya terasa seperti orang-orang yang kita kenal. Ada tawa yang menghibur, tetapi ada pula kenyataan pahit yang diam-diam mengajak penonton berpikir.
Dari pengalaman itulah Si Doel Anak Sekolahan tidak berhenti sebagai hiburan. Ia menjadi cermin kehidupan masyarakat kecil, sekaligus rekaman tentang nilai-nilai yang tumbuh di tengah keluarga dan lingkungan perkampungan.
Melalui buku Filosofi Orang Kampung, Harry Tjahjono mengajak pembaca melihat kembali kisah-kisah tersebut dari sudut pandang yang lebih luas. Cerita tentang Doel dan keluarganya tidak hanya berbicara tentang tokoh-tokoh dalam sebuah sinetron, tetapi juga tentang manusia biasa yang berusaha menjalani kehidupan di tengah perubahan zaman.
Buku Filosofi Orang Kampung merekam nilai-nilai kehidupan, kebudayaan, dan kearifan lokal masyarakat Betawi serta warga perkampungan di tengah derasnya modernisasi Jakarta.
Buku ini lahir dari kegelisahan Harry terhadap perubahan wajah ibu kota. Jakarta terus berkembang, menghadirkan gedung-gedung tinggi, jalan-jalan yang semakin lebar, serta berbagai kemajuan dan peluang baru. Namun, di balik perkembangan tersebut, kehidupan kampung dan nilai-nilai yang menyertainya perlahan menghadapi tantangan.
Interaksi antartetangga, suasana lingkungan, bahasa sehari-hari, dialek lokal, dan kebiasaan masyarakat merupakan bagian dari kekayaan budaya yang tidak selalu tercatat dalam buku-buku sejarah. Padahal, hal-hal sederhana itulah yang membuat sebuah kampung memiliki identitas dan kehidupan.
Menurut Harry, lahirnya buku ini bukan semata-mata karena dirinya pernah menjadi penulis skenario Si Doel Anak Sekolahan. Buku tersebut merupakan hasil perenungan panjang setelah puluhan tahun berkecimpung di dunia sastra, musik, film, dan televisi.
Dalam perjalanan kreatifnya, Harry bertemu dengan banyak orang, mengunjungi berbagai tempat, dan menyaksikan Jakarta berubah dengan begitu cepat. Di tengah perubahan itu, ia justru semakin menyadari bahwa hal-hal paling berharga dalam kehidupan bukanlah gedung-gedung yang menjulang tinggi atau jalan-jalan yang semakin lebar, melainkan manusia-manusia sederhana yang dengan ketulusan dan cara mereka sendiri menjaga kehidupan tetap hangat.
Karena itu, Filosofi Orang Kampung tidak menempatkan masyarakat kampung sebagai kelompok yang tertinggal oleh zaman. Sebaliknya, buku ini melihat kampung sebagai ruang tempat nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan kearifan tumbuh serta diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Persoalan yang dihadapi keluarga Doel pun masih mudah ditemukan hingga sekarang. Biaya pendidikan, harga kebutuhan pokok, sulitnya mencari pekerjaan, dan mahalnya tempat tinggal menjadi beban bagi banyak keluarga. Penghasilan yang terbatas harus dibagi untuk memenuhi berbagai kebutuhan, termasuk membesarkan anak-anak.
Zaman boleh berubah, Jakarta boleh berkembang menjadi kota besar, tetapi persoalan hidup masyarakat kecil masih menyimpan banyak kesamaan. Di situlah kisah Si Doel tetap terasa dekat dan relevan.
Namun, Harry tidak hanya menghadirkan cerita tentang kesulitan. Ia juga memperlihatkan bagaimana manusia bertahan, mencari jalan keluar, dan tetap menjalani hidup meskipun keadaan tidak selalu berpihak. Dari sana, kita belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada banyaknya harta. Kebersamaan, kejujuran, kasih sayang, dan kesediaan untuk saling membantu memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar kemewahan.
Buku Filosofi Orang Kampung resmi diluncurkan pada Jumat, 11 September 2026, di Lantai 4 Balai Sastra H.B. Jassin, Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra H.B. Jassin, Jalan Cikini, Jakarta Pusat.
Acara tersebut menghadirkan sejumlah pembicara, yakni Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, Yahya Andi Saputra, Kurniawan Junaedhie, dan Fanny Jonathans Poyk.
Dalam kesempatan itu, Rano Karno, yang dikenal luas melalui perannya sebagai Doel, menyampaikan bahwa kehadiran Filosofi Orang Kampung penting untuk mendokumentasikan nilai-nilai kehidupan masyarakat yang semakin jarang ditemukan di tengah perubahan Jakarta.
Menurut Rano, kehidupan kampung memiliki kekayaan yang tidak boleh dilupakan. Interaksi antartetangga, suasana lingkungan, bahasa sehari-hari, serta kebiasaan masyarakat merupakan bagian dari budaya yang perlu dikenalkan kepada generasi berikutnya.

Ia juga menyoroti tayangan televisi masa kini yang terkadang menampilkan kehidupan kampung secara kurang sesuai dengan kenyataan. Padahal, kehidupan masyarakat yang bersahaja memiliki keunikan dan nilai yang layak diangkat secara lebih jujur.
Karena itu, Rano mendorong Harry untuk terus berkarya, termasuk menyusun buku-buku lanjutan dan ensiklopedia yang dapat merekam nilai-nilai luhur kehidupan perkampungan.
“Kehadiran buku karya sahabat saya ini sangat penting karena mempertemukan kembali gagasan awal cerita Si Doel yang dirintis almarhumah Ibu Ida Farida, serta memantik kembali penghargaan sejarah terhadap karya sastrawan besar Aman Datuk Madjoindo,” ujar Rano.
Ia juga mengapresiasi kemampuan Harry dalam memperluas dunia cerita melalui tokoh-tokoh ikonis seperti Mandra, Atun, Karyo, dan Pak Bendot. Kehadiran mereka membuat suasana perkampungan dalam kisah Si Doel terasa semakin nyata dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Rano menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendukung kegiatan literasi dan pelestarian budaya yang dilakukan para seniman serta masyarakat. Dokumentasi tentang sejarah dan kehidupan kampung dinilai penting untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai perjalanan budaya Jakarta, sekaligus menjaga identitas kota.
Bagi Harry Tjahjono, Filosofi Orang Kampung bukan sekadar buku tentang sinetron yang pernah berjaya. Buku ini merupakan bentuk kepedulian terhadap kehidupan masyarakat Betawi dan nilai-nilai yang menyertainya.
Harry Tjahjono lahir di Madiun, 5 Februari 1954. Ia dikenal sebagai penulis, pengamat budaya, dan pekerja seni yang telah lama berkecimpung di dunia sastra, musik, film, serta televisi.
Sejumlah novelnya telah diangkat ke layar lebar, antara lain Selamat Tinggal Duka, Langitku Rumahku, Kinanti, dan Mawar Cinta Berduri Duka. Ia juga menulis skenario berbagai tayangan televisi, termasuk serial Si Doel Anak Sekolahan.
Bersama Arswendo Atmowiloto, Harry turut menggarap serial Keluarga Cemara dan menciptakan lagu Harta Berharga, yang hingga kini lekat dengan ingatan banyak keluarga Indonesia. Di dunia musik, ia juga menulis lagu untuk sejumlah seniman, antara lain Emha Ainun Nadjib, Novia Kolopaking, Rano Karno, dan Yon Koeswoyo.
Sebagai jurnalis, Harry meniti karier dari reporter hingga dipercaya menduduki posisi pemimpin redaksi. Dalam perjalanan kreatifnya, ia banyak menulis tentang kehidupan orang-orang biasa: keluarga, persahabatan, kampung halaman, dan nilai-nilai kemanusiaan yang kerap tumbuh diam-diam dalam keseharian.
Ia tertarik pada cerita-cerita sederhana yang sering luput dari perhatian, tetapi menyimpan makna yang dalam. Apa yang membuat orang tertawa, bagaimana mereka bertahan menghadapi kesulitan, dan mengapa harapan tetap menyala meski hidup tidak selalu mudah, menjadi bagian dari perhatian kreatifnya.
Perhatian Harry terhadap nilai-nilai kehidupan juga tercermin dalam kiprahnya di luar dunia penulisan. Ia dikenal sebagai penggagas Monumen Gembok Kejujuran di Madiun, sebuah simbol budaya yang mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk menumbuhkan kejujuran sebagai fondasi kehidupan bersama.
Dalam beberapa tahun terakhir, setelah mengalami stroke yang membatasi gerak tubuhnya, Harry tetap menulis dengan tekun dari rumah. Keterbatasan fisik tidak memadamkan semangat kreatifnya. Melalui esai-esai reflektif, ia terus berbagi pandangan tentang kehidupan, kemanusiaan, dan harapan sederhana yang masih layak dirawat.
Sejumlah buku yang terbit setelah ia mengalami stroke antara lain Smaragama, Memoar Si Doel Anak Sekolahan, Sidik Jari Crossboy Madiun, Bhagawad Gawat, dan Piring Masa Depan.
Di tengah keterbatasan tersebut, Harry tetap berusaha produktif. Ia menuntaskan dua buku baru dan merencanakan pembaruan aransemen 30 karya musik tempo dulu. Kecintaannya terhadap budaya Betawi juga terus ia tuangkan melalui novel, puisi, novelet, dan puluhan lagu bertema Betawi. Karya-karya musik tersebut rencananya akan diproduksi ulang pada Januari mendatang.
Semangat Harry menunjukkan bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi alasan untuk berhenti berkarya. Selama masih ada gagasan dan keinginan untuk berbagi, selalu ada jalan untuk melahirkan sesuatu yang bermanfaat.
Pada akhirnya, Filosofi Orang Kampung bukan hanya mengajak kita mengenang kisah Si Doel Anak Sekolahan. Buku ini mengajak kita memahami bahwa di balik kehidupan yang tampak sederhana, tersimpan pelajaran besar tentang cara manusia menghadapi dunia.
Ada kegagalan, kehilangan, dan kekecewaan. Namun, selalu ada pilihan untuk menyerah pada keadaan atau berusaha bangkit dan menemukan arti dari setiap pengalaman. Di tengah kesulitan, masih ada tawa. Di tengah kekurangan, masih ada harapan. Dan di tengah perubahan zaman, masih ada nilai-nilai kehidupan yang patut dipertahankan.

Melalui buku ini, Harry Tjahjono mengingatkan kita agar tidak melupakan akar kehidupan. Sebab, kampung bukan sekadar tempat tinggal. Kampung adalah ruang tempat manusia belajar mengenal keluarga, merawat kebersamaan, memahami kejujuran, dan menemukan arti pulang.
Jakarta boleh terus bergerak menuju masa depan. Gedung-gedung boleh semakin tinggi, teknologi boleh semakin canggih, dan kehidupan boleh berubah dengan cepat. Namun, selama masih ada manusia yang mau saling menyapa, membantu tetangga, menjaga kejujuran, dan berbagi harapan, kehidupan tidak akan kehilangan arah.
Barangkali, itulah filosofi paling penting yang ingin disampaikan Harry: kemajuan tidak seharusnya membuat kita lupa dari mana kita berasal. Sebab, sebelum menjadi warga kota yang sibuk mengejar masa depan, kita semua pernah belajar menjadi manusia dari lingkungan yang paling sederhana dari rumah, keluarga, dan kampung yang mengajarkan arti kehidupan. (*)