Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

8 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Filosofi Orang Kampung mengajak pembaca melihat kembali kisah Si Doel Anak Sekolahan sebagai cermin kehidupan masyarakat kecil dan budaya Betawi.

  • Buku Harry Tjahjono merekam nilai kebersamaan, kejujuran, kasih sayang, dan kearifan lokal yang menghadapi tantangan modernisasi Jakarta.

  • Diluncurkan pada 11 September 2026, buku ini juga menjadi bentuk kepedulian terhadap pelestarian kehidupan kampung dan identitas budaya Jakarta.

Membaca buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, kita seperti diajak kembali ke suasana keluarga sederhana dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Bagi banyak pemirsa televisi, kisah Doel dan keluarganya bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari kenangan yang pernah menemani kehidupan sehari-hari.

Lebih dari tiga dekade setelah pertama kali hadir di layar kaca, Si Doel Anak Sekolahan tetap memiliki tempat tersendiri dalam ingatan masyarakat. Melalui tokoh Doel, Babe, Nyak, Mandra, Atun, Karyo, hingga Pak Bendot, penonton diajak menyaksikan berbagai persoalan yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari: keluarga, pendidikan, pekerjaan, cinta, kejujuran, dan harga diri.

Semua itu hadir dalam suasana kampung Betawi yang akrab, lengkap dengan kelucuan, pertengkaran, kesedihan, dan harapan. Keluarga Doel bukan keluarga yang hidup serba berkecukupan. Mereka harus menghadapi keterbatasan ekonomi, persoalan pendidikan, serta perbedaan pandangan di antara anggota keluarga. Namun, di tengah berbagai kesulitan, kebersamaan dan kasih sayang tetap menjadi pegangan.

Kedekatan cerita tersebut terletak pada kesederhanaannya. Percakapan sehari-hari, bahasa Betawi, kebiasaan warga, dan suasana perkampungan membuat tokoh-tokohnya terasa seperti orang-orang yang kita kenal. Ada tawa yang menghibur, tetapi ada pula kenyataan pahit yang diam-diam mengajak penonton berpikir.

Dari pengalaman itulah Si Doel Anak Sekolahan tidak berhenti sebagai hiburan. Ia menjadi cermin kehidupan masyarakat kecil, sekaligus rekaman tentang nilai-nilai yang tumbuh di tengah keluarga dan lingkungan perkampungan.

Melalui buku Filosofi Orang Kampung, Harry Tjahjono mengajak pembaca melihat kembali kisah-kisah tersebut dari sudut pandang yang lebih luas. Cerita tentang Doel dan keluarganya tidak hanya berbicara tentang tokoh-tokoh dalam sebuah sinetron, tetapi juga tentang manusia biasa yang berusaha menjalani kehidupan di tengah perubahan zaman.

Buku Filosofi Orang Kampung merekam nilai-nilai kehidupan, kebudayaan, dan kearifan lokal masyarakat Betawi serta warga perkampungan di tengah derasnya modernisasi Jakarta.

Buku ini lahir dari kegelisahan Harry terhadap perubahan wajah ibu kota. Jakarta terus berkembang, menghadirkan gedung-gedung tinggi, jalan-jalan yang semakin lebar, serta berbagai kemajuan dan peluang baru. Namun, di balik perkembangan tersebut, kehidupan kampung dan nilai-nilai yang menyertainya perlahan menghadapi tantangan.

Interaksi antartetangga, suasana lingkungan, bahasa sehari-hari, dialek lokal, dan kebiasaan masyarakat merupakan bagian dari kekayaan budaya yang tidak selalu tercatat dalam buku-buku sejarah. Padahal, hal-hal sederhana itulah yang membuat sebuah kampung memiliki identitas dan kehidupan.

Menurut Harry, lahirnya buku ini bukan semata-mata karena dirinya pernah menjadi penulis skenario Si Doel Anak Sekolahan. Buku tersebut merupakan hasil perenungan panjang setelah puluhan tahun berkecimpung di dunia sastra, musik, film, dan televisi.

Dalam perjalanan kreatifnya, Harry bertemu dengan banyak orang, mengunjungi berbagai tempat, dan menyaksikan Jakarta berubah dengan begitu cepat. Di tengah perubahan itu, ia justru semakin menyadari bahwa hal-hal paling berharga dalam kehidupan bukanlah gedung-gedung yang menjulang tinggi atau jalan-jalan yang semakin lebar, melainkan manusia-manusia sederhana yang dengan ketulusan dan cara mereka sendiri menjaga kehidupan tetap hangat.

Karena itu, Filosofi Orang Kampung tidak menempatkan masyarakat kampung sebagai kelompok yang tertinggal oleh zaman. Sebaliknya, buku ini melihat kampung sebagai ruang tempat nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan kearifan tumbuh serta diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Persoalan yang dihadapi keluarga Doel pun masih mudah ditemukan hingga sekarang. Biaya pendidikan, harga kebutuhan pokok, sulitnya mencari pekerjaan, dan mahalnya tempat tinggal menjadi beban bagi banyak keluarga. Penghasilan yang terbatas harus dibagi untuk memenuhi berbagai kebutuhan, termasuk membesarkan anak-anak.

Zaman boleh berubah, Jakarta boleh berkembang menjadi kota besar, tetapi persoalan hidup masyarakat kecil masih menyimpan banyak kesamaan. Di situlah kisah Si Doel tetap terasa dekat dan relevan.

Namun, Harry tidak hanya menghadirkan cerita tentang kesulitan. Ia juga memperlihatkan bagaimana manusia bertahan, mencari jalan keluar, dan tetap menjalani hidup meskipun keadaan tidak selalu berpihak. Dari sana, kita belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada banyaknya harta. Kebersamaan, kejujuran, kasih sayang, dan kesediaan untuk saling membantu memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar kemewahan.

Buku Filosofi Orang Kampung resmi diluncurkan pada Jumat, 11 September 2026, di Lantai 4 Balai Sastra H.B. Jassin, Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra H.B. Jassin, Jalan Cikini, Jakarta Pusat.

Acara tersebut menghadirkan sejumlah pembicara, yakni Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, Yahya Andi Saputra, Kurniawan Junaedhie, dan Fanny Jonathans Poyk.

Dalam kesempatan itu, Rano Karno, yang dikenal luas melalui perannya sebagai Doel, menyampaikan bahwa kehadiran Filosofi Orang Kampung penting untuk mendokumentasikan nilai-nilai kehidupan masyarakat yang semakin jarang ditemukan di tengah perubahan Jakarta.

Menurut Rano, kehidupan kampung memiliki kekayaan yang tidak boleh dilupakan. Interaksi antartetangga, suasana lingkungan, bahasa sehari-hari, serta kebiasaan masyarakat merupakan bagian dari budaya yang perlu dikenalkan kepada generasi berikutnya.

Serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan yang lekat dengan kehidupan dan budaya masyarakat Betawi. (Sumber: Istimewa)
Serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan yang lekat dengan kehidupan dan budaya masyarakat Betawi. (Sumber: Istimewa)

Ia juga menyoroti tayangan televisi masa kini yang terkadang menampilkan kehidupan kampung secara kurang sesuai dengan kenyataan. Padahal, kehidupan masyarakat yang bersahaja memiliki keunikan dan nilai yang layak diangkat secara lebih jujur.

Karena itu, Rano mendorong Harry untuk terus berkarya, termasuk menyusun buku-buku lanjutan dan ensiklopedia yang dapat merekam nilai-nilai luhur kehidupan perkampungan.

“Kehadiran buku karya sahabat saya ini sangat penting karena mempertemukan kembali gagasan awal cerita Si Doel yang dirintis almarhumah Ibu Ida Farida, serta memantik kembali penghargaan sejarah terhadap karya sastrawan besar Aman Datuk Madjoindo,” ujar Rano.

Ia juga mengapresiasi kemampuan Harry dalam memperluas dunia cerita melalui tokoh-tokoh ikonis seperti Mandra, Atun, Karyo, dan Pak Bendot. Kehadiran mereka membuat suasana perkampungan dalam kisah Si Doel terasa semakin nyata dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Rano menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendukung kegiatan literasi dan pelestarian budaya yang dilakukan para seniman serta masyarakat. Dokumentasi tentang sejarah dan kehidupan kampung dinilai penting untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai perjalanan budaya Jakarta, sekaligus menjaga identitas kota.

Bagi Harry Tjahjono, Filosofi Orang Kampung bukan sekadar buku tentang sinetron yang pernah berjaya. Buku ini merupakan bentuk kepedulian terhadap kehidupan masyarakat Betawi dan nilai-nilai yang menyertainya.

Harry Tjahjono lahir di Madiun, 5 Februari 1954. Ia dikenal sebagai penulis, pengamat budaya, dan pekerja seni yang telah lama berkecimpung di dunia sastra, musik, film, serta televisi.

Sejumlah novelnya telah diangkat ke layar lebar, antara lain Selamat Tinggal Duka, Langitku Rumahku, Kinanti, dan Mawar Cinta Berduri Duka. Ia juga menulis skenario berbagai tayangan televisi, termasuk serial Si Doel Anak Sekolahan.

Bersama Arswendo Atmowiloto, Harry turut menggarap serial Keluarga Cemara dan menciptakan lagu Harta Berharga, yang hingga kini lekat dengan ingatan banyak keluarga Indonesia. Di dunia musik, ia juga menulis lagu untuk sejumlah seniman, antara lain Emha Ainun Nadjib, Novia Kolopaking, Rano Karno, dan Yon Koeswoyo.

Sebagai jurnalis, Harry meniti karier dari reporter hingga dipercaya menduduki posisi pemimpin redaksi. Dalam perjalanan kreatifnya, ia banyak menulis tentang kehidupan orang-orang biasa: keluarga, persahabatan, kampung halaman, dan nilai-nilai kemanusiaan yang kerap tumbuh diam-diam dalam keseharian.

Ia tertarik pada cerita-cerita sederhana yang sering luput dari perhatian, tetapi menyimpan makna yang dalam. Apa yang membuat orang tertawa, bagaimana mereka bertahan menghadapi kesulitan, dan mengapa harapan tetap menyala meski hidup tidak selalu mudah, menjadi bagian dari perhatian kreatifnya.

Perhatian Harry terhadap nilai-nilai kehidupan juga tercermin dalam kiprahnya di luar dunia penulisan. Ia dikenal sebagai penggagas Monumen Gembok Kejujuran di Madiun, sebuah simbol budaya yang mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk menumbuhkan kejujuran sebagai fondasi kehidupan bersama.

Dalam beberapa tahun terakhir, setelah mengalami stroke yang membatasi gerak tubuhnya, Harry tetap menulis dengan tekun dari rumah. Keterbatasan fisik tidak memadamkan semangat kreatifnya. Melalui esai-esai reflektif, ia terus berbagi pandangan tentang kehidupan, kemanusiaan, dan harapan sederhana yang masih layak dirawat.

Sejumlah buku yang terbit setelah ia mengalami stroke antara lain Smaragama, Memoar Si Doel Anak Sekolahan, Sidik Jari Crossboy Madiun, Bhagawad Gawat, dan Piring Masa Depan.

Di tengah keterbatasan tersebut, Harry tetap berusaha produktif. Ia menuntaskan dua buku baru dan merencanakan pembaruan aransemen 30 karya musik tempo dulu. Kecintaannya terhadap budaya Betawi juga terus ia tuangkan melalui novel, puisi, novelet, dan puluhan lagu bertema Betawi. Karya-karya musik tersebut rencananya akan diproduksi ulang pada Januari mendatang.

Semangat Harry menunjukkan bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi alasan untuk berhenti berkarya. Selama masih ada gagasan dan keinginan untuk berbagi, selalu ada jalan untuk melahirkan sesuatu yang bermanfaat.

Pada akhirnya, Filosofi Orang Kampung bukan hanya mengajak kita mengenang kisah Si Doel Anak Sekolahan. Buku ini mengajak kita memahami bahwa di balik kehidupan yang tampak sederhana, tersimpan pelajaran besar tentang cara manusia menghadapi dunia.

Ada kegagalan, kehilangan, dan kekecewaan. Namun, selalu ada pilihan untuk menyerah pada keadaan atau berusaha bangkit dan menemukan arti dari setiap pengalaman. Di tengah kesulitan, masih ada tawa. Di tengah kekurangan, masih ada harapan. Dan di tengah perubahan zaman, masih ada nilai-nilai kehidupan yang patut dipertahankan.

Melalui buku ini, Harry Tjahjono mengingatkan kita agar tidak melupakan akar kehidupan. Sebab, kampung bukan sekadar tempat tinggal. Kampung adalah ruang tempat manusia belajar mengenal keluarga, merawat kebersamaan, memahami kejujuran, dan menemukan arti pulang.

Jakarta boleh terus bergerak menuju masa depan. Gedung-gedung boleh semakin tinggi, teknologi boleh semakin canggih, dan kehidupan boleh berubah dengan cepat. Namun, selama masih ada manusia yang mau saling menyapa, membantu tetangga, menjaga kejujuran, dan berbagi harapan, kehidupan tidak akan kehilangan arah.

Barangkali, itulah filosofi paling penting yang ingin disampaikan Harry: kemajuan tidak seharusnya membuat kita lupa dari mana kita berasal. Sebab, sebelum menjadi warga kota yang sibuk mengejar masa depan, kita semua pernah belajar menjadi manusia dari lingkungan yang paling sederhana dari rumah, keluarga, dan kampung yang mengajarkan arti kehidupan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 12:36

Romantisme Membaca Majalah Vista September 1983: Ketika Radio, Kaset, Bioskop dan Idola Menghidupkan Kenangan

Membaca Vista hari ini seperti memutar kembali sebuah kaset lama.

Majalah Vista, salah satu majalah hiburan populer pada era 1980–1990-an. Majalah ini menyajikan beragam informasi seputar musik, film, dan perkembangan dunia hiburan. (Sumber: Koleksi Majalah Vista milik Kin Sanubary)