200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)

Verboden Toegang Voor Honden en Inlander

Dulu, tulisan ini terpajang di pintu masuk Pemandian Tjihampelas yang artinya, anjing dan pribumi dilarang masuk!. Tulisan yang bernada merendahkan itu ketika saya menyambanginya di tahun 2005 telah dicabut, namun memang kini pemandiannya pun telah punah, “dipaksa reinkarnasi” menjadi apartemen yang menjulang tinggi.

Tulisan-tulisan saya di bulan September ini saya dedikasikan untuk memperingati HUT Kota Bandung yang akan diselenggarakan pada 25 September 2026 mendatang, dengan kata lain 216 tahun sudah kota ini tumbuh dengan jutaan kisahnya. 200 Ikon Bandung adalah sebuah buku yang diterbitkan oleh harian umum Pikiran Rakyat pada 25 September 2020 untuk memperingati 200 tahun Kota Bandung. Kini, saya akan menuliskan objek-objek pada buku 200 Ikon Bandung tersebut yang telah tiada atau telah lama punah dan almarhum.

Hutan bambu yang biasa menyambut kita hendak ke kolam itu, sudah tiada. Berganti dengan dua buah alat berat yang terparkir di sudut bangunan yang penuh sejarah itu. Kondisi ini saya pantau terus ketika 2009 hingga pembongkaran total di 2010. Tahun yang sangat memilukan bagi saya pecinta bangunan heritage. Dahulu kakek sering mengajak saya ke sana hanya sekadar menerangkan bahwa kolam ini adalah kolam renang pertama negeri ini, lalu kami berjalan kaki melihat patung-patung khas toko Cihampelas hingga ke jajaran palem Pasteur yang khas, dan kami beristirahat di tukang sate langganan kakek di ujung jalan (sekarang terbongkar jalan layang Pasupati), sebuah kenangan Cihampelas yang istimewa bagi saya di 1992 dan 1993.

Pada 2009 lahan-lahan yang tadinya kebun bambu rindang yang menyejukkan dibabad habis agar alat berat dapat masuk ke area pemandian, mengerikan sekali melihat para tukang membabat pohon bambu tua. Saat itu di 2009 patung Neptunus dengan trisula khasnya masih tetap berdiri tegak sebagai tempat keluarnya sumber air pemandian tersebut, namun sisi kanan kirinya mulai melompong, ini pemandangan yang sangat mengerikan.

Maret 2009, pembongkaran pemandian Tjihampelas memang sudah dimulai. Perlahan, pemandian pertama di Indonesia itu pun mulai kehilangan bentuk akibat dipereteli sedikit demi sedikit. Bangunan yang pertama kali dibongkar adalah ruangan untuk ganti pakaian, disusul dengan kantin, hingga akhirnya luluh-lantak tak bersisa lagi.

Tarik-menarik rencana pembongkaran Pemandian Tjihampelas memang telah berlangsung lama yaitu sejak 2007. Telah tersiar kabar bahwa pemandian ini akan dibongkar, namun pada 2007 kabar yang beredar adalah hanya rehabilitasi saja, tidak akan merusak bangunan heritage. Namun, pada 2010 faktanya tidak ada lagi yang tersisa di sana. Untuk para pecinta lingkungan dan bangunan bersejarah ini adalah sebuah duka yang sangat mendalam.

Saat pembongkaran baru sebagian, saya pikir mungkin yang disisakan adalah yang diselamatkan, yang lain seperti ruang ganti dan kantin mungkin akan diperbarui. Namun ternyata sang empunya Kota Bandung saat itu mengatakan kepada publik bahwa tidak dapat berbuat banyak, alasannya adalah peraturan daerah mengenai bangunan cagar budaya belum disahkan sehingga akhirnya Pemkot Bandung pada saat itu tidak dapat “melindungi” ikon kotanya.

Dua sisi kepentingan terasa sekali saling bertarung keras, antara kepentingan untuk mempertahankan atau kepentingan “kebutuhan” pada saat itu yang bergulir bersama dengan modernisasi dan nilai keekonomian.

Setelah bertahan cukup lama, akhirnya pemandian bekas milik nyonya Homann, istri pemilik hotel Homann, tak mampu bertahan. Pemandian Tjihampelas harus menyerah kepada pemilik baru mereka. Rusunami The Jardin @Cihampelas pun dibangun dan menggantikan semua kenangan sejarah yang ada di tempat itu sebelumnya. Kini, empat tower berdiri megah dengan 2.444 unit kamar menggantikan kolam renang tertua di Indonesia.

Pembongkaran besar-besaran dilakukan diam-diam, pada Agustus 2009, walau masyarakat umum banyak yang melayangkan protes, namun hal ini tak mampu meredam pembongkaran hingga pada Agustus 2009 itulah pembongkaran yang paling besar terjadi.

Bagaimanapun perihnya sejarah yang pernah tertoreh di hati masyarakat pribumi pada awal keberadaan pemandian itu, tapi masih terselip sejarah lainnya yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Tapi kita harus ingat bahwa pemandian itu pernah menjadi sumber prestasi. Dari sanalah muncul perenang-perenang andalan Jawa Barat, yang mampu melaju di ajang nasional ataupun internasional.

Salah satu keunikan pemandian ini adalah ia memiliki sumber mata air sendiri, tak tanggung-tanggung ada 4 mata air yang mengalir di sana. Pemandian Tjihampelas dibangun secara sederhana pada tahun 1902 hingga 1904. Renovasi besar-besaran terjadi pada tahun 1930-an, meski pada masa kolonial pemandian ini hanya untuk kalangan Eropa, namun pada masa pendudukan Jepang, pemandian ini mulai terbuka untuk warga pribumi.

Berikut adalah beberapa prestasi yang pernah tertoreh di Pemandian Tjihampelas, tahun 1930 terbentuk klub renang Neptunus yang berisikan hanya warga Eropa, tahun 1936, Pet Stam, seorang Hindia Belanda, berhasil mencatat rekor 0:59.9 untuk 100 meter gaya bebas yang dicatat di Pemandian Tjihampelas, lalu Pet pun akhirnya dikirim sebagai perwakilan untuk Olimpiade Berlin atas nama negeri Belanda, pada 21 Maret 1951 lahirlah Persatuan Berenang Seluruh Indonesia di Pemandian Tjihampelas, pada 14 Februari 1952 terbentuk klub renang Aquarius dan pada tahun 1995 seorang anggota klub Aquarius, Susanti Wangsawiguna, mencatat rekor pada nomor 200 meter gaya dada putri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)