Kolam Retensi Ciporeat, Di Antara Harapan dan Keraguan Warga Bandung Timur

4 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Kolam retensi Ciporeat memiliki misi penting dari pemerintah, yaitu mengantisipasi banjir di kawasan tersebut. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Kolam retensi Ciporeat memiliki misi penting dari pemerintah, yaitu mengantisipasi banjir di kawasan tersebut. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

AYOBANDUNG.ID - Kolam Retensi Ciporeat hampir rampung sepenuhnya. Cekungan besar yang dirancang untuk menampung ratusan ribu kubik air hujan kini berdiri di tengah kawasan Bandung Timur. Pemerintah optimis infrastruktur ini akan mencegah banjir, namun warga masih ragu terhadap efektivitasnya.

Kolam tersebut terletak di Jalan Ciporeat, Pasanggrahan, Kecamatan Ujung Berung, Kota Bandung. Proyek ini baru diresmikan pada 27 Mei 2025 oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan.

Pembangunannya ditujukan untuk mengantisipasi banjir saat hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi. Namun, bagaimana tanggapan masyarakat sekitar terhadap keberadaan kolam ini?

Bagi Susi (43), keberadaan kolam retensi Ciporeat belum memberi dampak signifikan. Ia mengakui banjir memang sudah jarang terjadi di jalan Ciporeat, namun masih sesekali terjadi saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut.

Ia mengenang, jalanan kerap tergenang air hingga lebih dari 20 sentimeter setiap kali hujan deras turun. Dengan tinggi badan sekitar 165 sentimeter, ia menggambarkan air bisa mencapai sebatas betis.

Harapan akan terbebas dari banjir langsung terbersit kala mendengar proyek kolam ini akan dibangun. Susi sempat membayangkan kawasan itu akan lebih aman, tanpa kekhawatiran setiap kali langit mendung menggantung.

Harapannya belum sepenuhnya terwujud. Meski banjir tak separah dulu, air masih menggenang ketika hujan deras datang. Pengalamannya melihat kolam retensi Gedebage yang tidak optimal pun menambah keraguannya pada kolam Ciporeat.

Lingkungan kolam retensi Ciporeat terasa panas saat siang karena pohon besar baru tumbuh di sisi kanan kolam, sementara sisi lainnya masih minim peneduh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan.)
Lingkungan kolam retensi Ciporeat terasa panas saat siang karena pohon besar baru tumbuh di sisi kanan kolam, sementara sisi lainnya masih minim peneduh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan.)

Ia pun masih merasa waswas bila hujan turun deras dalam waktu lama. Kendati tak tahu detail soal rencana dan anggaran proyek, ia meyakini niat pemerintah membangun kolam ini memang untuk kebaikan warga.

Ia berharap pengelolaan kolam dilakukan dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar proyek formalitas. Perubahan memang dirasakan, tetapi belum cukup untuk menghilangkan rasa khawatir saat musim hujan tiba.

Warga lain, Reza (25), memandang kolam ini sebagai solusi jangka panjang. Namun ia menekankan pentingnya pengelolaan yang serius dan melibatkan masyarakat agar hasilnya tidak setengah hati.

Jika diberi kesempatan berbicara langsung dengan pemerintah, ia ingin menyampaikan dua hal: pentingnya evaluasi dan perlunya perawatan rutin. Hal ini, menurutnya, penting agar manfaat kolam bisa maksimal.

Ia menekankan bahwa proyek ini harus dijaga keberlanjutannya agar tidak sekadar menghabiskan anggaran, namun juga menyelesaikan masalah banjir secara nyata.

Kolam retensi di Jalan Ciporeat, Pasanggrahan, Kecamatan Ujung Berung, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan.)
Kolam retensi di Jalan Ciporeat, Pasanggrahan, Kecamatan Ujung Berung, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan.)

Melihat Kolam Retensi

Kolam Retensi Ciporeat juga memiliki daya tarik visual. Gunung Manglayang menjulang gagah sebagai latar, menambah pesona kawasan ini.

Begitu tiba di lokasi, pengunjung akan disambut papan besar bertuliskan "Agroforestry & Kolam Retensi Ciporeat" berwarna merah dan biru. Akses jalannya masih berupa bebatuan yang menambah kesan alami meski agak menyulitkan.

Namun di sisi taman kecil, jalur pejalan kaki sudah ditata dengan paving block. Meski demikian, pembangunan kawasan belum sepenuhnya rampung. Beberapa pekerja masih menyelesaikan bagian-bagian tertentu.

Udara cukup sejuk berkat pepohonan rimbun dan area kebun yang mengelilingi kolam. Namun setelah pukul 10 pagi, panas mulai terasa karena pohon besar baru tumbuh di sisi kanan kolam, sementara sisi lainnya masih minim peneduh.

Pagar pembatas dipasang rapi di sekitar kolam, menandai batas aman. Kolam ini seluas setengah hektare dan dibangun di atas lahan seluas satu hektare, menjadi ruang terbuka hijau sekaligus infrastruktur pengendali banjir.

Papan peringatan terlihat di beberapa bagian pagar, menandakan bahwa kolam memiliki kedalaman 4 meter. Hal ini juga untuk membatasi akses warga ke area cekungan air demi keselamatan.

Saat dikunjungi, air hanya mengisi sebagian kecil kolam. Volume yang minim membuat dasar kolam masih bisa terlihat samar-samar dari permukaan.

Kolam retensi Ciporeat diresmikan pada 27 Mei 2025 oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Kolam retensi Ciporeat diresmikan pada 27 Mei 2025 oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Harapan Besar Pemerintah di Balik Pembangunan Kolam Retensi Ciporeat

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut pembangunan kolam ini sebagai langkah untuk menjaga ekosistem, khususnya di Bandung Timur yang rentan bencana hidrometeorologi.

Ia menegaskan bahwa pembangunan ini bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi juga bentuk penguatan ketangguhan warga Bandung terhadap ancaman banjir, dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk masyarakat.

Kawasan perbukitan di Bandung memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan, sehingga kolam ini juga diharapkan dapat menjadi media edukasi masyarakat tentang konservasi dan ruang ekowisata yang produktif.

Farhan juga meminta agar tak ada bangunan tinggi yang mengganggu pemandangan Gunung Manglayang. Ia ingin menjaga kelestarian kawasan sekaligus menumbuhkan kesadaran budaya tentang pentingnya menjaga alam.

Ia mendorong pengelolaan kolam dilakukan berkelanjutan dengan melibatkan warga. Salah satu caranya melalui pembentukan Koperasi Merah Putih, yang diharapkan menjadi penggerak ekonomi lokal dan pengelola kolam.

Selain itu, Farhan juga meminta instansi terkait segera membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sederhana di sekitar kolam, mengingat adanya aktivitas usaha rumah tangga di kawasan itu.

Ia menekankan bahwa penyelesaian masalah lingkungan tak bisa dilakukan dengan teguran semata. Pemerintah juga harus hadir memberi solusi bersama warga sebagai bentuk nyata dari semangat gotong royong.

Kepala DSDABM Kota Bandung, Didi Ruswandi, menegaskan bahwa kolam ini merupakan bagian dari solusi menyeluruh untuk mengatasi banjir dan memulihkan fungsi kawasan hulu secara bijak dan kolaboratif.

Ia berharap kolam Ciporeat bisa menjadi contoh pengelolaan ruang yang melibatkan berbagai pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun sektor swasta untuk menciptakan manfaat bersama.

Sementara itu, Anggota Komisi III DPRD Kota Bandung, AA Abdul Rozak, menyatakan dukungannya terhadap program ini. Ia mendorong warga untuk ikut menjaga dan memanfaatkan kolam sebagai ruang bersama yang edukatif dan bermanfaat.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 21 Jul 2026, 19:52

Menilik Komunikasi Digital dalam Publikasi Peluncuran Layanan Kereta Api

Penggunaan kata kunci pada website dan Instagram memiliki fokus informasi yang sama kepada seluruh masyarakat pembaca digital.

Ilustrasi komunikasi digital layanan kereta api. (AI)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 17:12

Propaganda Masa Pendudukan Jepang di Bandung

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik.

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik. (Foto: wowshack.com)
Wisata & Kuliner 21 Jul 2026, 17:05

Lontong Balap, Kuliner Ikonik Surabaya yang Lahir dari Para Pedagang Berlari

Sejarah lontong balap Surabaya, dari tradisi pedagang memikul kemaron hingga menjadi salah satu makanan khas Jawa Timur yang paling legendaris.

Lontong Balap khas Surabaya. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:20

Time Travel Seru bareng Cerita Bunda: Menguak Sejarah dan Thrifting Perangko di Museum Pos Bandung!

Kemarin, hari Sabtu tanggal 18 Juli 2026, saya bareng 20 orang teman-teman dari komunitas Cerita Bunda, main ke Museum Pos Indonesia. Mari simak keseruannya!

Foto 1 Peserta Komunitas Cerita Bunda Sedang Thrifting Perangko dan Postcard. (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:07

Tren Manusia Digital: Ketika Live Streamer menjadi Pekerjaan Baru bagi Masyarakat

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun dibalik gemerlap dunia maya seringkali menyisakan moral dan budaya yang semakin terkikis.

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun terkadang ada harga yang dibayar untuk moral. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 15:32

Kampanye Digital Akhir Tahun Terbesar Raih Lebih dari 200 Juta Pengguna dalam Satu Hari

Spotify Wrapped 2025 jadi kampanye digital akhir tahun terbesar dengan lebih dari 200 juta pengguna dalam 24 jam pertama dan lebih dari 500 juta kali dibagikan di TikTok, Instagram, dan X.

Ilustrasi platform musik. (Sumber: Pexels | Foto: Breakingpic)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 14:48

Pengembangan Stadion GBLA dan Pusat Produk Peralatan Olahraga

Pentingnya transformasi stadion olahraga dengan ekosistem yang memberikan tempat untuk menumbuhkan industri produk peralatan olahraga

Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 12:06

Tangkis Tengkes untuk Generasi Emas Bandung

Urusan stunting pada dasarnya kompleks dan penuh perjuangan dengan menggunakan pendekatan multi sektor dan multi disiplin.

Pencegahan stunting di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 21 Jul 2026, 11:51

Debu Kapur Tak Kenal Batas Administratif, Derita Warga Cipatat Berlanjut

Sejauh ini, arah angin itu selalu membawa debu ke rumah-rumah warga, bukan ke meja rapat para pejabat yang seharusnya menanganinya sejak lama.

Pemandangan udara menunjukkan aktivitas pabrik pengolahan batu gamping di Kecamatan Cipatat, yang dilalui jalur utama penghubung Bandung menuju Padalarang dan Cianjur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 10:34

Adaptasi Batik terhadap Perubahan Gaya Hidup Masyarakat Modern

Adaptasi kain batik terhadap tren di era modern.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 21 Jul 2026, 10:33

Tamasya ke Leuwi Jurig Garut, Grand Canyon Sunda di Bungbulang

Panduan lengkap wisata Leuwi Jurig Garut, mulai dari harga tiket, jam buka, rute menuju lokasi, fasilitas, hingga peringatan keselamatan saat berenang.

Leuwi Jurig Bungbulang Garut. (Sumber: YouTube budi ahmadr)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 09:41

Belajar tentang Desain dari Monumen Jenderal Soedirman di Soreang

Di balik sebuah monumen, ternyata tumbuh ruang publik yang menghidupkan interaksi sosial, aktivitas ekonomi, dan kebersamaan masyarakat.

Monumen Jenderal Soedirman di Jalan Panglima Besar Jenderal Soedirman, Soreang. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 19:14

Urgensi Sekolah Ramah, Aman dan Nyaman

Penciptaan lingkungan belajar yang berfokus pada daya dukung psikologis dan keterampilan sosial juga mampu dipenuhi praktik implementasi kerjasama dan empati.

Suasana MPLS di sekolah. (Sumber: Kemendikdasmen.go.id | Foto: Kemendikdasmen)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 18:01

Darurat Penerangan dan Melonjaknya Kriminalitas di Jalanan Kota Bandung

Bandung kini berbeda dan kenyamanan kotanya tak lagi sama. Kian hari tingkat kecelakaan lalu lintas dan tindak kriminalitas kian menjamur tanpa ada solusi yang nyata untuk menyelesaikannya.

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Magang Foto/Lukman Hidayat)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 17:00

Pendidikan di Bandung pada Masa Pendudukan Jepang

Pendidikan dalam masa penjajahan Jepang diawali dengan dibukanya kembali sebagian dari sekolah-sekolah yang dahulu pernah berdiri.

Museum Geologi saat Masa Pendudukan Jepang. (Sumber: Koleksi Museum Geologi Bandung)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 16:01

Bandung Begal, Beungal, dan Bedul

Memberantas begal tidak cukup hanya dengan menangkap pelakunya.

Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 15:15

Pembongkaran Perpustakaan Gasibu Picu Kekecewaan Pembaca Buku di Bandung

Pembongkaran fisik Perpustakaan Gasibu Bandung memicu banyak kekecewan dari warga sekitar dan pegiat literasi.

Perpustakaan Gasibu yang dibongkar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 14:34

Posisi Strategis Ibu dalam Pelestarian Bahasa Ibu

Pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah tidak bisa lepas dari peran ibu sendiri.

Ilustrasi masyarakat tradisional Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Wahyu Prabowo)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 13:14

Legitnya Peuyeum Ciruluk, Warisan Kuliner Khas Kalijati Subang

Sebuah kuliner tradisional yang memiliki keunikan tersendiri, yakni Peuyeum Ciruluk, tape ketan hijau yang telah menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.

Peuyeum Ciruluk khas Kalijati, Kabupaten Subang, memiliki ciri khas dibungkus menggunakan daun muncang (daun kemiri), sehingga tampil alami sekaligus membantu menjaga cita rasa dan kualitas produknya. (Foto: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 20 Jul 2026, 11:47

Hikayat Pasar Andir Pusat Grosir Fesyen Bandung yang Mencoba Terus Bertahan

Pasar Andir pernah menjadi pusat grosir fesyen Bandung dan kini berjuang menghadapi perubahan perilaku belanja masyarakat.

Suasana Pasar Andir, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)