Jejak Sejarah Cimahi jadi Pusat Tentara Hindia Belanda Sejak 1896

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Garinsun KNIL di Cimahi tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)
Garinsun KNIL di Cimahi tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Cimahi kiwari dikenal sebagai kota tentara. Tapi jauh sebelum baret hijau dan loreng TNI menguasai jalannya, serdadu berkulit pucat dengan seragam KNIL lebih dulu berbaris di sana. Sejarahnya jauh lebih tua dari berdirinya Republik. Di akhir abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda memilih daerah berhutan di barat Bandung itu sebagai pusat militer Hindia Belanda. Letaknya strategis, dikelilingi bukit dan lembah, serta dekat jalur kereta ke Batavia. Sejak itu, Cimahi tumbuh bukan dari pasar atau pelabuhan, melainkan dari derap sepatu tentara.

Peneliti di Balai Arkeologi Bandung Iwan Hermawan dalam risalahnya Bandung Sebagai Ibukota Hindia Belanda mengurai kisah ini bermula pada tahun 1896. Pemerintah kolonial Belanda kala itu tengah sibuk memikirkan strategi pertahanan baru. Pengalaman pahit pada 1811, ketika Inggris dengan mudah merebut Batavia dari laut, membuat mereka sadar: kota pelabuhan terlalu rawan untuk dijadikan pusat kekuasaan. Serangan laut cepat, perubahan arah angin, dan wabah penyakit tropis di pesisir menjadi alasan kuat untuk mencari lokasi baru di pedalaman yang lebih aman.

Pandangan itu sudah muncul sejak masa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada awal abad ke-19. Saat membangun Jalan Raya Pos (De Grote Postweg), Daendels sudah melihat Bandung yang kala itu masih berupa hutan dan rawa sebagai tempat ideal untuk pusat pemerintahan baru. Udara sejuk, tanah luas, dan letak di tengah Pulau Jawa menjadikannya pilihan menarik. Namun, Bandung belum cukup siap secara infrastruktur dan logistik.

Baca Juga: Sejarah Bandung Jadi Ibu Kota Hindia Belanda, Sebelum Jatuh ke Tangan Jepang

Karena itu, puluhan tahun kemudian, Belanda memilih kawasan di sebelah barat Bandung itu sebagai lokasi militer yang strategis. Kota ini berada di jalur persimpangan dua rute penting antara Bandung dan Batavia: jalur kereta api dan Jalan Raya Pos. Dengan demikian, pasokan logistik dan pergerakan pasukan bisa dilakukan dengan cepat. Selain itu, Cimahi dikelilingi oleh bentang alam berupa perbukitan dan lembah yang menjadi benteng alami.

Sebelum 1896, Cimahi hanyalah daerah berhutan dengan beberapa kampung kecil dan pos peristirahatan kuda. Tapi begitu pemerintah kolonial menetapkannya sebagai garnisun resmi, kawasan ini langsung berubah wajah. Barak-barak besar, gudang amunisi, rumah komandan, dan lapangan latihan bermunculan.

Pada September 1896, Cimahi resmi diresmikan sebagai pusat militer Hindia Belanda. Mayor Infanteri C.A. van Loenen ditunjuk sebagai komandan pertama, dengan Letnan J.A. Kohler sebagai ajudan. Sejak saat itu, derap langkah tentara mulai menggema setiap hari di tanah yang sebelumnya sepi itu.

Cimahi bukan hanya menjadi tempat pelatihan tentara, tapi juga jantung koordinasi pasukan di Priangan Barat. Letaknya yang dekat dengan Bandung membuatnya ideal sebagai benteng pelindung bagi kota utama yang tengah tumbuh. Pembangunan pabrik senjata di Bandung, sebagaimana dicatat oleh Kunto (1984), semakin memperkuat posisi Cimahi sebagai pusat militer utama di Jawa Barat.

Dari Cimahi, rel kereta menghubungkan langsung ke pelabuhan aman di Cilacap di pantai selatan, sebuah jalur logistik vital jika perang besar benar-benar pecah. Dengan sistem transportasi yang efisien, Belanda merasa lebih siap menghadapi kemungkinan invasi musuh dari laut utara.

Kota ini berkembang pesat. Rumah-rumah komandan dibangun bergaya Indis di sekitar barak, sementara jalan-jalan baru dibuka untuk menghubungkan pusat latihan dengan stasiun kereta. Dalam dua dekade saja, Cimahi berubah dari hutan sunyi menjadi kota garnisun modern yang lengkap dengan tata ruang militer.

Di masa itu, militer Hindia Belanda (KNIL) tidak hanya berfungsi sebagai kekuatan tempur, tapi juga penegak hukum dan ketertiban. Sejak 1927, kebijakan resmi pertahanan Belanda menekankan peran KNIL sebagai penjaga “rust en orde” atau ketenangan dan ketertiban dalam negeri. Cimahi menjadi panggungnya: dari sinilah pasukan dikirim untuk memadamkan perlawanan di daerah-daerah dan mengamankan kepentingan kolonial.

Rumah Sakit militer di Cimahi. (Sumber: KITLV)
Rumah Sakit militer di Cimahi. (Sumber: KITLV)

Baca Juga: Sejarah Pemekaran Cimahi, Kota Tentara yang Lepas dari Bayangan Bandung

Tapi, di luar ketertiban yang diciptakan, Cimahi juga menyimpan paradoks. Ia dibangun untuk mempertahankan kekuasaan yang pada akhirnya justru runtuh di hadapannya sendiri.

Jantung Pertahanan yang Runtuh di Tangan Jepang

Jelang akhir 1930-an, Eropa dan Asia mulai panas. Perang Dunia II di ambang pintu, dan Jepang perlahan menancapkan kukunya di Pasifik. Belanda, yang masih memegang kendali atas Hindia Belanda, mulai panik. Mereka meninjau ulang kebijakan pertahanan yang terlalu bergantung pada perlindungan sekutu Inggris dan Amerika.

Bandung yang sudah punya Lapangan Terbang Andir (sekarang Lanud Husein Sastranegara), segera dipersenjatai ulang. Lapangan itu awalnya untuk penerbangan sipil, tapi sejak 1939 diubah menjadi pangkalan militer udara. Cimahi, sebagai garnisun darat, kembali sibuk. Barak diperluas, gudang senjata diperbanyak, dan latihan militer digencarkan.

Tapi semua itu tak cukup menahan kekuatan Jepang. Pada awal Maret 1942, pasukan Dai Nippon menyerbu Jawa dengan kecepatan yang mengejutkan. Batavia jatuh, dan para pejabat tinggi kolonial melarikan diri ke Bandung, yang sempat menjadi ibu kota de facto Hindia Belanda.

Di saat genting itu, Cimahi yang selama puluhan tahun menjadi benteng pertahanan, tak berdaya menghadapi invasi besar-besaran. Pasukan Jepang menembus garis pertahanan barat dan timur. Benteng-benteng di Sumedang—Gunung Palasari, Gunung Kunci, dan Gunung Gadung—yang dibangun antara 1914 hingga 1918, tak mampu menahan laju musuh.

Bangunan pertahanan itu, yang berdiri kokoh dengan beton bertulang setebal satu meter, kini hanya menjadi saksi bisu. Letnan Jenderal H.W. van Mook dan Mayor S.H. Spoor melarikan diri ke Australia menggunakan pesawat Dakota yang lepas landas darurat dari Jalan Buahbatu, karena Lapangan Terbang Andir sudah hancur akibat serangan udara Jepang.

Pada 8 Maret 1942, Belanda menyerah tanpa syarat di Kalijati, Subang—hanya beberapa puluh kilometer dari Cimahi, markas militernya sendiri. Ironis, kota yang dibangun untuk bertahan justru menjadi saksi kejatuhan kekuasaan kolonial.

Baca Juga: Jejak Sejarah Kabupaten Bandung, Lahir 1641 karena Pemberontakan Dipati Ukur

Setelah Jepang berkuasa, barak-barak Cimahi diambil alih oleh tentara Dai Nippon. Seusai perang, fasilitas itu diwarisi oleh Tentara Nasional Indonesia. Maka, meski kolonialisme telah berakhir, napas militer tetap hidup di Cimahi. Dari sinilah julukan “kota tentara” itu bermula.

Kini, bangunan-bangunan kolonial di Cimahi masih berdiri: bekas rumah perwira dengan jendela besar dan serambi luas, gudang senjata yang berubah fungsi jadi kantor, hingga barak tua yang kini dihuni taruna. Semua menjadi artefak bisu dari masa ketika kota ini menjadi jantung pertahanan Hindia Belanda.

Situasi di Cimahi telah berganti zaman, tapi denyut militernya tetap abadi. Setiap langkah prajurit yang berbaris di lapangan latihan hari ini sejatinya menggemakan sejarah yang dimulai lebih dari seratus tahun lalu: ketika sebuah kota kecil di dataran Priangan disulap menjadi markas besar pasukan kolonial.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Wisata & Kuliner 21 Jun 2026, 13:04

5 Kuliner Semarang Pilihan yang Wajib Dicoba Wisatawan

Dari lumpia khas Pecinan hingga tahu gimbal dan nasi ayam malam hari, inilah rekomendasi kuliner Semarang yang wajib masuk daftar perjalanan Anda.

Kuliner Tahu Gimbal. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 12:17

Jembatan Cirahong, Warisan Belanda dengan Akses Lantai Ganda

Jembatan Cirahong, warisan dari Belanda yang memiliki dua jalur akses. Berfungsi sebagai rel kereta dan jalan bagi warga.

Jembatan Cirahong masa sekarang. (Sumber: Dokumen Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:48

Meraih Impian dari Sekolah Terbaik

Menentukan sekolah terbaik pun harus dianggap sebagai langkah yang menentukan impian murid baru terwujud.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:36

Risiko Kecil dari USG yang Berlebihan

Pentingnya membatasi frekuensi USG kehamilan sesuai indikasi medis guna mencegah potensi risiko efek termal dan paparan ultrasonik berlebihan pada janin.

Ilustrasi pemeriksaan USG kandungan pada ibu hamil. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:32

Tidak Hanya Judol, Blind Box Juga Dapat Memicu Kecanduan

Blind box justru mendorong perilaku konsumtif dan impulsif pada konsumen Generasi Z.

Ilustrasi blind box. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:25

Bukan Sekadar Paspor: Makna Nasionalisme Dalam Skuad Timnas Modern

Performa baik Timnas Indonesia ikut dipengaruhi pemain diaspora.

Ole Romeny (10) bersama Ramadhan Sananta (9) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3). (Sumber: kemenpora.go.id | Foto: Herry)
Beranda 20 Jun 2026, 13:46

Mengayuh dengan Cemas di Kota yang Mengaku Ramah Pesepeda

Komunitas pesepeda Bandung memasang Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta usai tewasnya seorang remaja pesepeda, sekaligus mendesak pemerintah memperbaiki keselamatan infrastruktur jalan.

Komunitas sepeda dan pejalan kaki memasang memorial Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta sebagai simbol duka atas tewasnya seorang remaja saat bersepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Beranda 20 Jun 2026, 05:35

Membongkar Operasi Informasi yang Tak Kasat Mata di Ruang Digital

Jurnalis diajak mengenali operasi manipulasi informasi di ruang digital, mulai dari disinformasi, narasi terkoordinasi, hingga rekayasa tren di media sosial.

Ika Ningtyas, Koordinator Cek Fakta Tempo, memaparkan cara mengenali operasi manipulasi informasi yang bekerja secara terorganisasi di ruang digital kepada para jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 19 Jun 2026, 20:59

Dobrak Batas Sinema Remaja, Film ‘Dan Bandung’ Garapan Rudi Soedjarwo Angkat Isu Strict Parents

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung.

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 20:00

Ciparay: Lumbung Padi Jawa Barat dari Dulu sampai Kini

Kecamatan Ciparay merupakan sentra produksi beras terbesar di wilayah Jawa Barat.

 (Sumber: KITLV, Diakses tangal 3 Juni 2026)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 18:45

Memahami Cara Ngiklan Game Digital, Bagaimana Valorant Memperkenalkan Skin Senjata agar Tak Biasa

Valorant resmi merilis skin terbarunya yang berjudul “Kuronami 2.0”, sebuah koleksi skin premium yang hadir untuk senjata Phantom, Operator, Guardian, Ghost, dan Melee.

Gambar Skin Senjata Kuronami 2.0
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:43

Naik Kereta Sambil Ketemu Karakter Favorit? Ternyata Ada Strategi Besar di Baliknya

Bagaimana sebuah kolaborasi karakter animasi lokal berhasil membuat audiens connect di berbagai platform dengan pendekatan yang disesuaikan, tanpa kehilangan benang merahnya.

Transportasi publik yang digunakan masyarakat Indonesia setiap harinya. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 17:09

Hutan Pinus Rahong Pangalengan, Destinasi Sejuk dengan Sungai dan Camping Ground

Hutan Pinus Rahong menawarkan suasana teduh, camping, rafting, hingga glamping. Kenali 6 klaster wisata dan daya tarik alamnya sebelum berkunjung.

Hutan Pinus Rahong, Pangalengan.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:00

Toponimi Lembang (bagian 3 – Habis)

Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang.

Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 16:18

Jari, Kata, dan Hati

Sentuhan jari di atas gawai, dapat mengirim kabar baik, berbagi ilmu, menguatkan persaudaraan, sebaliknya bisa menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.

Saatnya menulis di Ayo Bandung (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:46

Wewenang Kekuasaan Adityawarman di Kerajaan Malayu

Membahas mengenai peran Raja Adityawarman selama memimpin Kerajaaan Malayu.

Candi Muaro Jambi (Sumber: Pemerintah Provinsi Jambi (jambiprov.go.id))
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:09

Mengapa SNI Gempa Masih Jadi Formalitas di Indonesia

Esai ini membahas lemahnya penerapan SNI 1726:2019 sebagai standar ketahanan gempa pada bangunan rumah tinggal di Indonesia, yang saya telaah dari sudut pandang keilmuan teknik sipil.

Ilustrasi kerusakan akibat gempa.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 13:39

Strategi Penyampaian Pesan dalam Publikasi Film melalui Website dan Media Sosial

Website resmi menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai film, pemeran, dan jadwal penayangannya.

Ilustrasi menonton film. (Sumber: Pexels | Foto: Pavel Danilyuk)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 11:44

Menelusuri Jejak dan Pola Aktivitas Manusia Masa Lampau di Situs Gua Batu

Daerah Pegunungan Meratus adalah surga bagi kehidupan ribuan tahun silam.

Kondisi Gua Batu dari Luar (Sumber: Geopark Meratus)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 11:06

Wisata Kawasan Tunjungan Surabaya: Sejarah, Kuliner, dan Walking Tour Heritage

Jelajahi Kawasan Tunjungan Surabaya yang memadukan sejarah perjuangan, bangunan kolonial, wisata kuliner, hingga walking tour heritage yang sedang populer.

Kawasan Tunjungan Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)