Apa Saja yang Sudah Dilakukan Farhan?

7 menit baca
Guruh Muamar Khadafi
Ditulis oleh Guruh Muamar Khadafi diterbitkan
Pada awal 2025, Muhammad Farhan memulai tahun pertamanya sebagai wali kota, disambut harapan, sekaligus keraguan. (Sumber: Dok. Pemprov Jabar)
Pada awal 2025, Muhammad Farhan memulai tahun pertamanya sebagai wali kota, disambut harapan, sekaligus keraguan. (Sumber: Dok. Pemprov Jabar)

Setiap wali kota Bandung selalu membawa janji seperti membuat kota ini lebih tertib, lebih manusiawi, lebih nyaman ditinggali. Tapi Bandung bukan kota yang mudah ditaklukkan. Ia terlalu hidup, terlalu riuh, terlalu penuh sejarah. Di sinilah, pada awal 2025, Muhammad Farhan memulai tahun pertamanya sebagai wali kota, disambut harapan, sekaligus keraguan.

Tahun itu berjalan seperti alur film dokumenter: tidak selalu dramatis, tetapi dipenuhi detail-detail kecil yang menentukan apakah sebuah kota sedang membaik atau justru berjalan di tempat. Pertanyaannya, apa saja yang sebenarnya sudah dilakukan Farhan sebagai Wali kota Bandung?

Langkah-Langkah Sunyi di Balik Kantor Pemerintahan

Di awal masa jabatannya, Farhan memilih bekerja tanpa gemuruh. Tak banyak publik melihat ke mana ia melangkah, namun jejak pertamanya justru menuju kampus ITB, institusi yang sejak lama menjadi dapur riset pembangunan bagi Jawa Barat. Kerja sama pemerintah kota dengan perguruan tinggi itu sebenarnya bukan hal baru, tetapi cara Farhan menjadikannya fondasi awal pemerintahan menunjukkan bahwa ia ingin membangun arah, bukan sekadar meluncurkan program. Pada titik ini, ia tampak lebih seperti seorang manajer kota ketimbang politisi yang mengejar sorotan.

Dari pertemuan-pertemuan teknis dengan akademisi lahir dorongan untuk memperkuat tata kelola berbasis data dan kinerja. Sistem pelaporan yang selama bertahun-tahun berjalan ala kadarnya mulai direvisi. Aplikasi administrasi yang sebelumnya hanya menjadi formalitas mulai diberi fungsi nyata sebagai alat pemantau. Di banyak rapat, ritme birokrasi secara perlahan dipaksa berpindah dari pola “rapat demi rapat” menjadi pola “rapat demi hasil”. Ini proses yang menyakitkan bagi sebagian aparatur, tetapi tak terhindarkan bagi kota sebesar Bandung.

Perubahan semacam ini tidak menghadirkan spanduk peresmian. Tidak menghasilkan potret menarik untuk media sosial. Bahkan, sebagian besar warga mungkin tidak akan pernah tahu bahwa perubahan-perubahan itu terjadi. Tetapi di balik meja-meja kantor, di ruangan yang cahaya lampunya sering menyala hingga larut malam, ritme baru sedang disusun. Pemerintahan sering kali bekerja secara paling serius justru ketika publik tidak melihatnya.

Sampah, Luka Lama yang Coba Dijahit Perlahan

Kalau ada satu isu yang menempel paling kuat pada citra Farhan sejak hari pertamanya menjabat, itu adalah sampah. Bagi warga Bandung, persoalan ini bukan sekadar gangguan visual, tetapi luka lama yang terus terbuka. Mereka sudah terlalu sering melihat tumpukan sampah yang menggunung di sudut jalan, mencium bau busuk yang memenuhi udara, dan mendengar janji penanganan yang tak pernah benar-benar berubah menjadi kebiasaan baru. Setiap pergantian pemimpin menyalakan harapan, tetapi juga rasa jemu yang semakin menebal.

Farhan mencoba menanganinya dengan langkah yang pragmatis. Ia menginstruksikan penyisiran titik-titik rawan sampah saat Lebaran, memperbaiki pola operasi armada agar lebih responsif, dan memperkenalkan konsep kawasan bebas sampah di ratusan RW. Upaya itu tidak revolusioner, tetapi memberikan jeda kecil dari kekacauan tahunan yang selalu datang bersama musim liburan. Setidaknya, warga melihat ada pergerakan, meski belum cukup untuk mengubah wajah kota secara menyeluruh.

Namun kepuasan publik tetap jauh dari memadai. Survei memperlihatkan lebih dari separuh warga masih meragukan kemampuan Farhan menangani persoalan ini. Kritik dari politisi lokal semakin keras: mereka menuding Farhan lebih sering terlihat di acara seremonial ketimbang turun langsung melakukan langkah besar yang mengguncang sistem persampahan. Di media sosial, keluhan warga mengalir seperti arus yang tak pernah berhenti dan menjadi pengingat bahwa masalah ini tak bisa selesai dengan perbaikan kecil.

Masalah sampah Bandung memang seperti simpul kusut yang sudah terlanjur mengeras oleh waktu. Ditarik di satu sisi, ia mengencang di sisi lain. Diperbaiki hari ini, muncul di titik baru esoknya. Di sinilah Farhan menghadapi ujian sebenarnya, bukan sekadar kemampuan teknis untuk mengangkut sampah, tetapi kesanggupan membongkar akar persoalan yang sudah menahun. Upaya menjahit luka lama ini masih panjang, dan publik masih menunggu apakah jahitannya akan benar-benar kuat atau kembali lepas saat musim berikutnya datang.

Ketika Angka Bicara, dan Publik Mendengar

Di tengah kabut keraguan yang menyelimuti tahun pertama pemerintahannya, sebuah angka tiba-tiba menembus ruang public, 66 persen warga Bandung menyatakan puas terhadap kinerja pemerintah kota. Kenaikan ini drastis jika dibandingkan dengan awal tahun, saat ketidakpuasan masih dominan dan suara sumbang mengalir tanpa jeda. Angka itu muncul bukan sebagai kejutan, tetapi sebagai penanda bahwa sebagian warga mulai memperhatikan upaya-upaya kecil yang sebelumnya tenggelam di balik hiruk-pikuk persoalan kota.

Namun angka, seperti halnya statistik lain dalam politik lokal, tidak pernah berbicara sendirian. Ia membawa pertanyaan yang lebih besar yaitu apa maknanya? Apakah ini pertanda kemenangan seorang pemimpin, atau sekadar jeda sementara sebelum badai kritik berikutnya? Dalam politik kota seperti Bandung, persentase kepuasan publik tidak serta-merta berubah menjadi legitimasi penuh. Ia lebih mencerminkan momen, bukan kesimpulan.

Bagi sebagian pengamat, angka itu terasa seperti angin yang berembus pelan, sekadar isyarat bahwa warga mulai melihat ada gerak, meski hasil akhirnya belum terlihat jelas. Farhan menyebut kritik sebagai “vitamin”, sebuah sikap yang bagi sebagian warga terasa menyegarkan di tengah tradisi pejabat publik yang kerap defensif. Sikap itu mungkin tidak menyelesaikan masalah, tetapi menghasilkan kesan bahwa wali kota mereka tidak gentar menghadapi oposisi verbal maupun tekanan media.

Bencana, Gempa, dan Kesiapsiagaan yang Sering Terlupakan

Banjir pada tanggal 3 November 2025 di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Banjir pada tanggal 3 November 2025 di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Di luar hiruk-pikuk persoalan sampah yang menyedot energi publik, ada satu ruang kerja yang dijalankan Farhan nyaris tanpa suara yaitu mitigasi bencana. Bandung berdiri di atas patahan aktif, sebuah kenyataan geografis yang jarang diperbincangkan kecuali ketika gempa mengguncang kota. Menyadari risiko itu, Farhan mulai menggerakkan latihan simulasi gempa di sekolah dan fasilitas publik, memperkuat sistem peringatan dini, serta mengarahkan warga untuk memahami prosedur keselamatan yang sering kali hanya menjadi wacana di buku pedoman.

Dalam politik lokal, yang sering dihargai adalah sesuatu yang dapat difoto, dipublikasi, dan segera terlihat manfaatnya. Mitigasi bencana tidak menawarkan kemewahan itu. Ia menuntut kesabaran, disiplin kolektif, dan kemampuan memikirkan risiko yang tidak selalu kasat mata. Farhan mengambil pilihan yang tidak populer, tetapi pilihan yang justru menyentuh inti kerentanan Bandung sebagai kota di daerah cincin api.

Kadang, pekerjaan paling penting adalah pekerjaan yang tidak terlihat. Kesiapsiagaan bencana mungkin tidak memoles citra pemimpin, tetapi ia dapat menyelamatkan ribuan nyawa ketika patahan di bawah kota kembali bergerak. Dalam kesunyian inilah Farhan bekerja di wilayah yang jarang mendapat pujian, tetapi justru menentukan apakah kota ini akan siap menghadapi yang tak terduga.

Bayang-Bayang Integritas

Tahun 2025 membawa ujian yang jauh lebih berat daripada persoalan teknis kota: dugaan korupsi yang menyeret beberapa unsur di lingkungan pemerintahan Bandung. Meskipun Farhan memilih sikap yang tepat dengan menghormati seluruh proses hukum, aroma skandal yang menyelinap ke ruang publik telanjur menggores citra pemerintahannya. Di era ketika kepercayaan warga begitu rapuh dan kecurigaan mudah menyebar, satu kasus saja cukup untuk menenggelamkan daftar capaian yang susah payah dibangun sepanjang tahun.

Pada titik inilah karakter kepemimpinan benar-benar diuji. Transparansi bukan lagi strategi komunikasi, melainkan syarat dasar untuk bertahan. Publik menginginkan penjelasan yang gamblang, langkah korektif yang konkret, dan jaminan bahwa persoalan ini tidak ditutup-tutupi. Tekanan ini bukan sesuatu yang bisa diatasi dengan retorika; ia menuntut perubahan nyata dalam tata kelola, pengawasan internal, dan cara pemimpin merespons krisis kepercayaan.

Bayang-bayang integritas ini juga menjadi pengingat bahwa pembangunan sebuah kota tidak hanya soal fisik dan layanan publik, tetapi juga soal moralitas pemerintahan. Di mata warga, pemimpin yang bersih sama pentingnya dengan jalan yang mulus dan layanan yang cepat. Farhan kini berada pada persimpangan: apakah ia akan mampu mengubah krisis ini menjadi momentum pembenahan, atau justru membiarkannya menjadi noda yang membayangi seluruh masa jabatannya.

Kota yang Menilai, Waktu yang Menguji

Pada akhirnya, apa yang dilakukan Farhan bukan sekadar barisan program dalam laporan tahunan, melainkan upaya membentuk arah sebuah kota yang bergerak lebih cepat daripada birokrasi yang mengurusnya. Tahun pertamanya adalah fase peletakan fondasi, respons cepat terhadap isu harian, perbaikan citra publik, serta konsolidasi di tengah dinamika politik yang tidak selalu ramah. Ia sedang membangun pijakan, meski hasilnya belum sepenuhnya dapat diukur.

Bandung menilai dengan caranya sendiri seperti sabar, kritis, dan jujur. Kota ini tidak menuntut pemimpin yang sempurna, tetapi pemimpin yang bekerja. Dalam konteks ini, kerja keras Farhan sering kali mirip dengan kisah Ramon Tanque, seorang pemain yang mungkin belum banyak mencetak gol, tetapi ketekunannya terlihat dari setiap duel, pressing tanpa henti, hingga usaha kecil yang mengubah ritme permainan.

Baca Juga: Hikayat Bandung Lautan Sampah, Kota yang Hampir Dikubur Ulahnya Sendiri

Kota ini menghargai proses seperti itu: kerja yang mungkin belum menghasilkan statistik mencolok, tetapi terasa oleh mereka yang memperhatikan.

Perjalanan Farhan masih panjang. Tahun-tahun berikutnya akan menentukan apakah pijakan kecil yang ia bangun akan menjadi lompatan besar atau justru terhenti oleh ritme Bandung yang selalu berlari. Seperti Ramon Tanque yang harus membuktikan bahwa kerja kerasnya akan berbuah gol-gol penting, Farhan pun menghadapi ujian serupa, waktu yang akan menguji, dan kota yang akan menilai. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Guruh Muamar Khadafi
Analis Kebijakan Ahli Muda, Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Talenta ASN Nasional Lembaga Administrasi Negara

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 07 Agu 2026, 15:20

Jelajah Sungai Cigerendong, Surga Tersembunyi di Dusun Cukanggaleuh Pangandaran

Jelajahi Sungai Cigerendong di Desa Parakanmanggu dengan air jernih berwarna toska, pepohonan rindang, dan suasana yang masih alami.

Sungai Cigerendong Pangandaran. (Sumber: TikTok @cigerendongpangandaran)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 13:53

Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan

Apakah masyarakat kita memang masih menonton film di bioskop dengan cara yang sama seperti sebelumnya?

Ilustrasi Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan. (Sumber: Mochamad Arbani)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 11:58

Cipatat dan Krisis Kesehatan yang Tak Terlihat

Negara wajib memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dibangun di atas kesehatan dan penderitaan masyarakat. 

Beberapa truk bayawak pengangkut batu kapur terparkir di wilayah Cipatat Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ananda)
Ikon 07 Agu 2026, 11:15

Alun-alun Kota Cimahi, Pusat Pertemuan antara Warga dengan Ojol

Alun-alun Kota Cimahi menjadi pusat aktivitas warga, tempat bersantai, berolahraga, hingga titik berkumpul para driver ojol.

Rindang, strategis, dan nyaman, Alun-alun Kota Cimahi menjadi ruang publik sekaligus titik berkumpul para driver ojol setiap hari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 08:40

Saat Pohon Tumbang dan Rasa Aman Dipertaruhkan

Bandung sedang menghadapi ujian besar. Ujian yang menuntut respons yang tegas, kolaboratif, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) melakukan pemangkasan sejumlah pohon di ruas jalan Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 20:09

Menyambut Hari Kemerdekaan 2026, Deretan Ide Tulisan dari Semangat Kemerdekaan hingga Dinamika Kota Bandung

Tema tulisan tetap tidak dibatasi. Selama relevan dengan isu yang berkembang, setiap penulis bebas menentukan sudut pandang yang ingin diangkat.

Warga Kampung Pengkolan Pasang Bendera Merah Putih Sepanjang 540 Meter pada tahun 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 18:33

Rahasia Komunikasi Digital yang Bikin Sebuah Merek Kecantikan Mudah Diingat

Menganalisis komunikasi iklan melalui website resmi dan media sosial Instagram yang menunjukkan adanya upaya perusahaan dalam membangun komunikasi yang saling terhubung.

Ilustrasi komunikasi digital merek kecantikan.
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 18:07

Jelajah Gunung Salak Bogor: Pendakian, Kawah Ratu, Harga Tiket, dan Cara Booking Online

Panduan lengkap Gunung Salak mulai jalur pendakian, Kawah Ratu, harga tiket, booking online, hingga cara menuju kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Gunung Salak Bogor. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 16:17

Berita Yudha: Potret Sejarah dari Lembaran Surat Kabar Lawas

Kini, setelah 56 tahun berlalu, Berita Yudha tetap memiliki daya tarik yang kuat sebagai sumber sejarah.

Surat kabar Berita Yudha, salah satu harian berpengaruh pada era Orde Baru yang diterbitkan oleh TNI Angkatan Darat. (Sumber: Koleksi: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 15:59

Curug Panetean Tasikmalaya, Surga Tersembunyi dengan Leuwi Jernih

Temukan pesona Curug Panetean yang terkenal dengan kolam batu alami, air sejernih kaca, dan pengalaman berendam di tengah alam.

Curug Panetean Tasikmalaya. (Sumber: Instagram @r_dony26)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 15:27

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (bagian 1)

Hal-hal yang jarang diketahui khalayak menjelang proklamasi kemerdekaan pada 1945 di Kota Bandung.

Menjelang masa agresi militer di Bandung 1945- 1946. (Sumber: Album Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 14:43

Pabrik Boleh Berpindah, tetapi Kehidupan Buruh Tidak Semudah Itu Dipindahkan

Kala terjadi PHK, opsi untuk beralih profesi tidak selalu terbuka luas. Ini membuat ketergantungan pada industri garmen semakin kuat, sekaligus mempersempit ruang negosiasi buruh.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Agu 2026, 11:40

Jelajah Cigondewah, Pusat Perdagangan Kain Kerakyatan di Bandung

Cigondewah menjadi pusat kain di Bandung sejak 1980-an. Ketahui sejarah, daya tarik, dan perkembangan bisnis tekstilnya.

Cigondewah Bandung, pusat belanja kain eceran hingga grosir yang legendaris. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 11:26

Mahalnya Ongkos Kemerdekaan

Negeri kita memiliki sejarah yang wajib diproklamirkan tidak hanya di bulan kemerdekaan. Sejatinya mesti dijaga dan dirawat dengan sangat baik di pikiran bukan sekadar di buku pelajaran.

Beragam bendera merah putih yang dijual para pedagang selama bulan Agustus. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 08:33

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 2): Kesegaran Tradisi dan Kekayaan Cita Rasa

Berikut adalah 5 hidangan berikutnya dari daftar 10 kuliner Jawa Barat terbaik versi Taste Atlas.

Karedok (salad sunda) di Indonesia. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)