Apa Saja yang Sudah Dilakukan Farhan?

Guruh Muamar Khadafi
Ditulis oleh Guruh Muamar Khadafi diterbitkan Minggu 14 Des 2025, 19:51 WIB
Pada awal 2025, Muhammad Farhan memulai tahun pertamanya sebagai wali kota, disambut harapan, sekaligus keraguan. (Sumber: Dok. Pemprov Jabar)

Pada awal 2025, Muhammad Farhan memulai tahun pertamanya sebagai wali kota, disambut harapan, sekaligus keraguan. (Sumber: Dok. Pemprov Jabar)

Setiap wali kota Bandung selalu membawa janji seperti membuat kota ini lebih tertib, lebih manusiawi, lebih nyaman ditinggali. Tapi Bandung bukan kota yang mudah ditaklukkan. Ia terlalu hidup, terlalu riuh, terlalu penuh sejarah. Di sinilah, pada awal 2025, Muhammad Farhan memulai tahun pertamanya sebagai wali kota, disambut harapan, sekaligus keraguan.

Tahun itu berjalan seperti alur film dokumenter: tidak selalu dramatis, tetapi dipenuhi detail-detail kecil yang menentukan apakah sebuah kota sedang membaik atau justru berjalan di tempat. Pertanyaannya, apa saja yang sebenarnya sudah dilakukan Farhan sebagai Wali kota Bandung?

Langkah-Langkah Sunyi di Balik Kantor Pemerintahan

Di awal masa jabatannya, Farhan memilih bekerja tanpa gemuruh. Tak banyak publik melihat ke mana ia melangkah, namun jejak pertamanya justru menuju kampus ITB, institusi yang sejak lama menjadi dapur riset pembangunan bagi Jawa Barat. Kerja sama pemerintah kota dengan perguruan tinggi itu sebenarnya bukan hal baru, tetapi cara Farhan menjadikannya fondasi awal pemerintahan menunjukkan bahwa ia ingin membangun arah, bukan sekadar meluncurkan program. Pada titik ini, ia tampak lebih seperti seorang manajer kota ketimbang politisi yang mengejar sorotan.

Dari pertemuan-pertemuan teknis dengan akademisi lahir dorongan untuk memperkuat tata kelola berbasis data dan kinerja. Sistem pelaporan yang selama bertahun-tahun berjalan ala kadarnya mulai direvisi. Aplikasi administrasi yang sebelumnya hanya menjadi formalitas mulai diberi fungsi nyata sebagai alat pemantau. Di banyak rapat, ritme birokrasi secara perlahan dipaksa berpindah dari pola “rapat demi rapat” menjadi pola “rapat demi hasil”. Ini proses yang menyakitkan bagi sebagian aparatur, tetapi tak terhindarkan bagi kota sebesar Bandung.

Perubahan semacam ini tidak menghadirkan spanduk peresmian. Tidak menghasilkan potret menarik untuk media sosial. Bahkan, sebagian besar warga mungkin tidak akan pernah tahu bahwa perubahan-perubahan itu terjadi. Tetapi di balik meja-meja kantor, di ruangan yang cahaya lampunya sering menyala hingga larut malam, ritme baru sedang disusun. Pemerintahan sering kali bekerja secara paling serius justru ketika publik tidak melihatnya.

Sampah, Luka Lama yang Coba Dijahit Perlahan

Kalau ada satu isu yang menempel paling kuat pada citra Farhan sejak hari pertamanya menjabat, itu adalah sampah. Bagi warga Bandung, persoalan ini bukan sekadar gangguan visual, tetapi luka lama yang terus terbuka. Mereka sudah terlalu sering melihat tumpukan sampah yang menggunung di sudut jalan, mencium bau busuk yang memenuhi udara, dan mendengar janji penanganan yang tak pernah benar-benar berubah menjadi kebiasaan baru. Setiap pergantian pemimpin menyalakan harapan, tetapi juga rasa jemu yang semakin menebal.

Farhan mencoba menanganinya dengan langkah yang pragmatis. Ia menginstruksikan penyisiran titik-titik rawan sampah saat Lebaran, memperbaiki pola operasi armada agar lebih responsif, dan memperkenalkan konsep kawasan bebas sampah di ratusan RW. Upaya itu tidak revolusioner, tetapi memberikan jeda kecil dari kekacauan tahunan yang selalu datang bersama musim liburan. Setidaknya, warga melihat ada pergerakan, meski belum cukup untuk mengubah wajah kota secara menyeluruh.

Namun kepuasan publik tetap jauh dari memadai. Survei memperlihatkan lebih dari separuh warga masih meragukan kemampuan Farhan menangani persoalan ini. Kritik dari politisi lokal semakin keras: mereka menuding Farhan lebih sering terlihat di acara seremonial ketimbang turun langsung melakukan langkah besar yang mengguncang sistem persampahan. Di media sosial, keluhan warga mengalir seperti arus yang tak pernah berhenti dan menjadi pengingat bahwa masalah ini tak bisa selesai dengan perbaikan kecil.

Masalah sampah Bandung memang seperti simpul kusut yang sudah terlanjur mengeras oleh waktu. Ditarik di satu sisi, ia mengencang di sisi lain. Diperbaiki hari ini, muncul di titik baru esoknya. Di sinilah Farhan menghadapi ujian sebenarnya, bukan sekadar kemampuan teknis untuk mengangkut sampah, tetapi kesanggupan membongkar akar persoalan yang sudah menahun. Upaya menjahit luka lama ini masih panjang, dan publik masih menunggu apakah jahitannya akan benar-benar kuat atau kembali lepas saat musim berikutnya datang.

Ketika Angka Bicara, dan Publik Mendengar

Di tengah kabut keraguan yang menyelimuti tahun pertama pemerintahannya, sebuah angka tiba-tiba menembus ruang public, 66 persen warga Bandung menyatakan puas terhadap kinerja pemerintah kota. Kenaikan ini drastis jika dibandingkan dengan awal tahun, saat ketidakpuasan masih dominan dan suara sumbang mengalir tanpa jeda. Angka itu muncul bukan sebagai kejutan, tetapi sebagai penanda bahwa sebagian warga mulai memperhatikan upaya-upaya kecil yang sebelumnya tenggelam di balik hiruk-pikuk persoalan kota.

Namun angka, seperti halnya statistik lain dalam politik lokal, tidak pernah berbicara sendirian. Ia membawa pertanyaan yang lebih besar yaitu apa maknanya? Apakah ini pertanda kemenangan seorang pemimpin, atau sekadar jeda sementara sebelum badai kritik berikutnya? Dalam politik kota seperti Bandung, persentase kepuasan publik tidak serta-merta berubah menjadi legitimasi penuh. Ia lebih mencerminkan momen, bukan kesimpulan.

Bagi sebagian pengamat, angka itu terasa seperti angin yang berembus pelan, sekadar isyarat bahwa warga mulai melihat ada gerak, meski hasil akhirnya belum terlihat jelas. Farhan menyebut kritik sebagai “vitamin”, sebuah sikap yang bagi sebagian warga terasa menyegarkan di tengah tradisi pejabat publik yang kerap defensif. Sikap itu mungkin tidak menyelesaikan masalah, tetapi menghasilkan kesan bahwa wali kota mereka tidak gentar menghadapi oposisi verbal maupun tekanan media.

Bencana, Gempa, dan Kesiapsiagaan yang Sering Terlupakan

Banjir pada tanggal 3 November 2025 di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Banjir pada tanggal 3 November 2025 di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Di luar hiruk-pikuk persoalan sampah yang menyedot energi publik, ada satu ruang kerja yang dijalankan Farhan nyaris tanpa suara yaitu mitigasi bencana. Bandung berdiri di atas patahan aktif, sebuah kenyataan geografis yang jarang diperbincangkan kecuali ketika gempa mengguncang kota. Menyadari risiko itu, Farhan mulai menggerakkan latihan simulasi gempa di sekolah dan fasilitas publik, memperkuat sistem peringatan dini, serta mengarahkan warga untuk memahami prosedur keselamatan yang sering kali hanya menjadi wacana di buku pedoman.

Dalam politik lokal, yang sering dihargai adalah sesuatu yang dapat difoto, dipublikasi, dan segera terlihat manfaatnya. Mitigasi bencana tidak menawarkan kemewahan itu. Ia menuntut kesabaran, disiplin kolektif, dan kemampuan memikirkan risiko yang tidak selalu kasat mata. Farhan mengambil pilihan yang tidak populer, tetapi pilihan yang justru menyentuh inti kerentanan Bandung sebagai kota di daerah cincin api.

Kadang, pekerjaan paling penting adalah pekerjaan yang tidak terlihat. Kesiapsiagaan bencana mungkin tidak memoles citra pemimpin, tetapi ia dapat menyelamatkan ribuan nyawa ketika patahan di bawah kota kembali bergerak. Dalam kesunyian inilah Farhan bekerja di wilayah yang jarang mendapat pujian, tetapi justru menentukan apakah kota ini akan siap menghadapi yang tak terduga.

Bayang-Bayang Integritas

Tahun 2025 membawa ujian yang jauh lebih berat daripada persoalan teknis kota: dugaan korupsi yang menyeret beberapa unsur di lingkungan pemerintahan Bandung. Meskipun Farhan memilih sikap yang tepat dengan menghormati seluruh proses hukum, aroma skandal yang menyelinap ke ruang publik telanjur menggores citra pemerintahannya. Di era ketika kepercayaan warga begitu rapuh dan kecurigaan mudah menyebar, satu kasus saja cukup untuk menenggelamkan daftar capaian yang susah payah dibangun sepanjang tahun.

Pada titik inilah karakter kepemimpinan benar-benar diuji. Transparansi bukan lagi strategi komunikasi, melainkan syarat dasar untuk bertahan. Publik menginginkan penjelasan yang gamblang, langkah korektif yang konkret, dan jaminan bahwa persoalan ini tidak ditutup-tutupi. Tekanan ini bukan sesuatu yang bisa diatasi dengan retorika; ia menuntut perubahan nyata dalam tata kelola, pengawasan internal, dan cara pemimpin merespons krisis kepercayaan.

Bayang-bayang integritas ini juga menjadi pengingat bahwa pembangunan sebuah kota tidak hanya soal fisik dan layanan publik, tetapi juga soal moralitas pemerintahan. Di mata warga, pemimpin yang bersih sama pentingnya dengan jalan yang mulus dan layanan yang cepat. Farhan kini berada pada persimpangan: apakah ia akan mampu mengubah krisis ini menjadi momentum pembenahan, atau justru membiarkannya menjadi noda yang membayangi seluruh masa jabatannya.

Kota yang Menilai, Waktu yang Menguji

Pada akhirnya, apa yang dilakukan Farhan bukan sekadar barisan program dalam laporan tahunan, melainkan upaya membentuk arah sebuah kota yang bergerak lebih cepat daripada birokrasi yang mengurusnya. Tahun pertamanya adalah fase peletakan fondasi, respons cepat terhadap isu harian, perbaikan citra publik, serta konsolidasi di tengah dinamika politik yang tidak selalu ramah. Ia sedang membangun pijakan, meski hasilnya belum sepenuhnya dapat diukur.

Bandung menilai dengan caranya sendiri seperti sabar, kritis, dan jujur. Kota ini tidak menuntut pemimpin yang sempurna, tetapi pemimpin yang bekerja. Dalam konteks ini, kerja keras Farhan sering kali mirip dengan kisah Ramon Tanque, seorang pemain yang mungkin belum banyak mencetak gol, tetapi ketekunannya terlihat dari setiap duel, pressing tanpa henti, hingga usaha kecil yang mengubah ritme permainan.

Baca Juga: Hikayat Bandung Lautan Sampah, Kota yang Hampir Dikubur Ulahnya Sendiri

Kota ini menghargai proses seperti itu: kerja yang mungkin belum menghasilkan statistik mencolok, tetapi terasa oleh mereka yang memperhatikan.

Perjalanan Farhan masih panjang. Tahun-tahun berikutnya akan menentukan apakah pijakan kecil yang ia bangun akan menjadi lompatan besar atau justru terhenti oleh ritme Bandung yang selalu berlari. Seperti Ramon Tanque yang harus membuktikan bahwa kerja kerasnya akan berbuah gol-gol penting, Farhan pun menghadapi ujian serupa, waktu yang akan menguji, dan kota yang akan menilai. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Guruh Muamar Khadafi
Analis Kebijakan Ahli Muda, Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Talenta ASN Nasional Lembaga Administrasi Negara

Berita Terkait

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)