Hikayat Bandung Lautan Sampah, Kota yang Hampir Dikubur Ulahnya Sendiri

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Minggu 14 Des 2025, 18:14 WIB
"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

AYOBANDUNG.ID - Bandung punya banyak julukan. Paris van Java, kota kembang, kota kreatif. Namun pada satu fase sejarahnya yang kelam, Bandung sempat mendapat cap yang jauh dari romantis: Bandung Lautan Sampah. Julukan ini bukan kiasan puitis seperti Bandung Lautan Api. Ia literal, berbau menyengat, dan jika dibayangkan terlalu lama bisa membuat nafsu makan hilang seharian.

Sejarah Bandung Lautan Sampah tidak lahir dari satu pagi yang sial saja. Ia adalah kisah panjang tentang kota yang tumbuh cepat, warganya kian konsumtif, sementara urusan membuang sisa hidup sehari-hari terus dianggap perkara remeh. Sampah, seperti halnya dosa kecil, lama-lama menumpuk hingga tak bisa lagi disembunyikan di kolong karpet.

Di Bandung, karpet itu bernama Tempat Pembuangan Akhir Leuwigajah.

Pada awalnya, Leuwigajah hanyalah lembah biasa di wilayah Cimahi. Pada akhir 1980-an, ia ditunjuk menjadi muara bagi sampah dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Cimahi. Tiga daerah, satu lubang. Sebuah kompromi yang di atas kertas tampak praktis, tetapi dalam praktiknya lebih mirip resep bencana.

Setiap hari, ribuan ton sampah datang tanpa pernah ditanya asal-usulnya. Sampah dapur bercampur popok sekali pakai, plastik makanan, bangkai tikus, kasur tua, hingga sisa lemari yang patah hati. Semua ditumpuk apa adanya. Tak ada pemilahan, tak ada pengolahan serius. Prinsipnya sederhana dan fatal: selama masih muat, teruskan saja.

Baca Juga: Sejarah Cicalengka, Gudang Kopi Kompeni dengan Sejuta Cerita di Ujung Timur Bandung

Bandung pun hidup tenang. Jalanan bersih, taman dirapikan, turis datang untuk berfoto dan belanja. Sampah sudah diserahkan urusannya ke truk dan ke lembah jauh dari pusat kota. Warga jarang berpikir ke mana perginya plastik air mineral setelah diteguk. Seolah sampah punya kemampuan gaib untuk menghilang secara moral.

Sampai akhirnya, pagi buta pada Februari 2005, sampah itu memutuskan untuk pulang kampung.

Tragedi Leuwigajah Pemicu Bandung Lautan Sampah

Dini hari yang dingin di Cimahi mendadak berubah mencekam. Tumpukan sampah di Leuwigajah yang telah menggunung selama bertahun-tahun ambruk dan meledak. Gas metana yang terperangkap di antara lapisan sampah menemukan momentum sempurna. Hujan deras sebelumnya mempercepat kehancuran. Gunungan itu meluncur, bukan pelan-pelan, melainkan seperti longsoran tanpa rasa bersalah.

Dua kampung di bawahnya terkubur. Rumah, sawah, dan manusia lenyap dalam waktu singkat. Ratusan orang meninggal. Banyak di antaranya adalah pemulung yang sehari-harinya justru membantu kota mengurangi sampah, meski tak pernah disebut dalam pidato peresmian apa pun. Tragedi itu menjadi salah satu bencana sampah terbesar di dunia, sekaligus tamparan keras bagi logika pengelolaan kota.

Leuwigajah ditutup. Dan di situlah babak baru Bandung Lautan Sampah dimulai.

Baca Juga: Tragedi Longsor Sampah Leuwigajah 2005: Terburuk di Indonesia, Terparah Kedua di Dunia

Penutupan itu ibarat menutup keran air di rumah tanpa sadar bahwa ember tetap terus diisi. Sampah Bandung tidak berhenti diproduksi hanya karena tempat buangnya ditutup. Dalam hitungan hari, Tempat Pembuangan Sementara penuh. Sampah meluber ke pinggir jalan, menumpuk di pasar, menyempitkan gang, dan menguasai sudut-sudut kota yang biasanya hanya dihuni pedagang kaki lima.

Bandung yang biasanya sejuk mendadak beraroma keras. Warga mulai beradaptasi dengan cara baru: menghindari jalur tertentu, menutup hidung dengan masker atau lengan baju, dan bersumpah akan lebih disiplin suatu hari nanti. Julukan Bandung Lautan Sampah muncul, bukan dari selebaran resmi, melainkan dari keluhan sehari-hari yang semakin sinis.

Ironisnya, saat itu Bandung sedang rajin mempromosikan diri sebagai kota wisata dan pendidikan. Di satu sisi brosur pariwisata berbicara tentang kreativitas, di sisi lain pengunjung disuguhi pemandangan kantong plastik yang mengembung seperti balon ulang tahun gagal.

Pemerintah pun bergerak cepat dalam logika darurat. Dibukalah TPA Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat. Statusnya sementara, tapi seperti banyak solusi sementara di negeri ini, ia bertahan lama. Sampah kembali mengalir, kota bisa bernapas, dan perlahan-lahan orang kembali lupa.

Padahal lupa adalah bahan bakar utama bagi bencana berikutnya.

Baca Juga: Tragedi AACC Bandung 2008, Sabtu Kelabu Konser Beside

Kondisi TPA Sarimukti di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)
Kondisi TPA Sarimukti di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)

Peralihan Sampah ke TPA Sarimukti

Setelah tragedi Leuwigajah, sampah sempat naik kelas menjadi isu nasional. Tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional. Seminar digelar, spanduk dipasang, jargon dirapikan. Namun dalam kehidupan sehari-hari, kebiasaan lama sulit dibongkar. Sampah tetap dicampur, ditenteng, lalu diserahkan kepada orang lain untuk diurus.

Bandung berkembang pesat. Kafe tumbuh lebih cepat dari pohon. Konsumsi meningkat, terutama yang berbungkus plastik. Kota ini gemar mencicipi tren, tetapi malas memikirkan residunya. Dari kopi susu hingga belanja daring, semuanya menyisakan jejak yang akhirnya kembali ke TPA.

TPA Sarimukti yang dibuka sebagai solusi darurat perlahan menua sebelum waktunya. Kapasitasnya terlampaui. Sampah datang lebih cepat daripada kemampuan alam untuk diam saja. Kebakaran beberapa kali terjadi, menghentikan pengangkutan, dan Bandung kembali merasakan déjà vu. Tumpukan sampah muncul di pasar, di dekat kampus, di kawasan niaga. Kota ini seperti lupa pelajaran yang sudah dibayar mahal dengan nyawa manusia.

Kini, hampir dua dekade setelah tragedi tersebut, Bandung masih bergulat dengan masalah yang sama. Tumpukan sampah masih kerap terlihat di berbagai sudut kota. Ditambah lagi, kondisi pesampahan di BandungRaya belakangan ini terbilang ruwet lantaran sekaratnya TPA Sarimukti yang selama ini jadi tumpuan.

TPA Sarimukti hari ini bukan lagi sekadar tempat pembuangan akhir. Ia sudah menjelma semacam ruang ICU bagi sistem persampahan Bandung Raya. Selang infusnya sudah mampet, oksigennya kian menipis.

Selama bertahun-tahun, Sarimukti menjadi tumpuan empat daerah: Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat. Dalam kondisi “normal”, sampah yang masuk mencapai 1.750 ton per hari. Walhi Jabar bahkan mencatat angka yang lebih brutal: hingga 2.500 ton sampah per hari dengan lebih dari 300 ritase truk. Ini bukan lagi tempat pembuangan, tapi tempat penumpukan dosa kolektif.

Baca Juga: Krisis Sampah Bandung Raya di Tengah Sarimukti yang Sekarat

Soalnya bukan cuma jumlah, melainkan wataknya. Sekitar 70 persen sampah yang masuk adalah sampah organik, dan sebagian besar tak pernah dipilah. Ia datang bercampur, membusuk bersama, lalu memadatkan usia Sarimukti lebih cepat dari jadwal kematian resminya. Kalau manusia punya asam urat karena gaya hidup, Sarimukti punya lindi karena gaya kelola.

Pemprov Jabar mencoba memainkan peran wasit dengan membatasi ritase. Dari 1.750 ton menjadi 1.250 ton per hari. Jatah dibagi-bagi seperti kupon beras miskin. Kota Bandung disuruh memangkas ritase, Cimahi ditekan, Kabupaten Bandung dan KBB ikut meradang. Semua protes, semua merasa paling terzalimi. Tak ada yang mau mengakui bahwa selama ini mereka hidup nyaman dengan satu tempat pembuangan yang dipaksa menanggung segalanya.

Padahal, kalau tidak dibatasi, Sarimukti bukan cuma kolaps—ia bisa mati sebelum 2026. Maka pilihan tinggal dua: berisik sekarang atau tenggelam bersama nanti.

Solusi jangka panjang konon sudah disiapkan: TPA Legoknangka yang dijanjikan mulai beroperasi 2028. Tahun yang terdengar futuristik, seperti janji mobil terbang. Sampai saat itu tiba, Sarimukti diminta hidup lebih lama, dipaksa menua dengan diet ketat dan manajemen darurat.

Di tingkat kota, Bandung mencoba berimprovisasi. Dibangunlah TPST Gedebage dengan teknologi RDF. Luasnya 1,7 hektare, kapasitasnya 390 ton per hari. Angka yang tampak besar sampai dihadapkan pada fakta bahwa Bandung memproduksi hampir 1.800 ton sampah per hari. TPST ini ibarat payung kecil di tengah badai, berguna tapi jangan berharap tetap kering.

Upaya lain bahkan lebih nekat: membuang masalah ke daerah lain. Kerja sama dengan Garut sempat berjalan, 200 ton sampah per hari dikirim ke TPA Pasir Bajing. Namun seperti kisah klasik, warga setempat mencium bau tak sedap lebih cepat daripada pejabat membaca kontrak. Protes muncul, kerja sama dihentikan. Bandung pun pulang dengan tangan kosong dan bau yang masih menempel.

Dalam situasi panik, Pemkot Bandung paling rajin memproduksi sesuatu yang tidak pernah kekurangan stok: program. Ada Kang Pisman, Kang Empos, Kawasan Bebas Sampah, Tidak Dipilah Tidak Diangkut, Sampah Hari Ini Habis Hari Ini. Akronim-akronim ini berbaris rapi seperti slogan kampanye. Sayangnya, dampaknya lebih sering berhenti di spanduk dan seminar.

Baca Juga: Umur Waduk Saguling Terancam Digerus Sedimen, Sampah, dan Eceng Gondok

Seolah-olah masalah sampah bisa diselesaikan dengan nama yang ramah dan mudah dihafal. Jika jargon bisa mengurai sampah, Sarimukti sudah berubah menjadi taman kota sejak lama. Faktanya, pemilahan baru berjalan di kurang dari 30 persen wilayah Bandung. Mayoritas warga masih mempraktikkan filosofi lama: buang, angkut, lupakan.

Ironisnya, rumah tangga sering dijadikan tersangka utama, padahal data berkata lain. Sampah organik terbesar justru datang dari kawasan komersial: pasar, hotel, restoran, kafe, rumah sakit, dan mal. Mereka memproduksi sampah dalam volume besar, homogen, dan relatif mudah dikelola kalau saja ada kemauan politik yang sepadan.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 25 Jan 2026, 18:15 WIB

Mencintai Kota seperti Kekasih: Kota Bandung, Konferensi Asia Afrika, dan Tanggung Jawab Kita

Bagaimana rasanya mencintai kota seperti kekasih? Dari Bandung yang terasa asing di kening hingga Bandung yang asyik untuk dikenang.
Bangku yang terduduk di Perpustakaan Kota Bandung (Sumber: Koleksi Pribadi Penulis | Foto: Penulis)
Ayo Jelajah 25 Jan 2026, 17:21 WIB

Sejarah Pasar Cimol Gedebage Bandung, Surga Thrifting Kota Kembang di Ujung Jalan

Jejak sejarah Pasar Cimol Gedebage bermula dari Cibadak hingga menjadi pusat pakaian bekas terbesar di Bandung.
Pasar Cimol Gedebage. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 25 Jan 2026, 16:13 WIB

Toponimi Kampung Muril: Serasa Berputar karena Gempa Sesar Lembang

Bila makna kata berputar-putar dikaitkan dengan toponimi Kampung Muril, sangat mungkin, penduduk di sana pada masa lalu pernah merasakannya.
Sangat mungkin toponim Muril karena pernah terjadi gempabumi yang menyebabkan serasa berputar-putar. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 25 Jan 2026, 13:38 WIB

Gali Potensi, Raih Prestasi

Pengalaman LDKB menjadi bekal berharga bagi kita untuk terus menggali potensi diri, memperbaiki diri, meraih prestasi
Sejumlah siswa SD Cirendeu saat bermain permainan tradisional. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Jan 2026, 11:05 WIB

Interior Bus Listrik Metro sebagai Pengalaman Ruang Bergerak di Kota Bandung

Transportasi publik dalam konteks ini, dipahami sebagai ruang interior bergerak yang dialami secara nyata oleh pengguna/penumpang.
Bus listrik metro. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Biz 24 Jan 2026, 21:30 WIB

Menyelami Dinamika Properti Indonesia: Antara Regulasi, Pasar, dan Integritas Developer

Industri properti kini bukan lagi sekadar urusan semen dan baja, melainkan pertarungan kecerdasan dalam menafsirkan naskah regulasi yang terus berganti.
Industri properti kini bukan lagi sekadar urusan semen dan baja, melainkan pertarungan kecerdasan dalam menafsirkan naskah regulasi yang terus berganti. (Sumber: Freepik)
Beranda 24 Jan 2026, 09:15 WIB

Memaknai Filosofi Warna Wayang Golek sebagai Cermin Karakter dan Arti Kehidupan

Tak hanya posisi mahkota, warna pada wajah wayang juga menjadi kunci untuk memahami filosofi karakter.
Tatang Ruhiana dan koleksi wayan goleknya yang dijual di galeri Alan Ruchiat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 22:10 WIB

Normalisasi Sungai Mandiri: Kepemimpinan RT/RW Menjawab Tantangan Banjir

Kabupaten Bandung termasuk wilayah yang hampir setiap musim penghujan mengalami banjir di sejumlah titik.
Ketua RT 02 dan warga membersihkan tumbuhan liar dan semak semak di aliran sungai. (Foto: Jumali indrayanto)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 20:43 WIB

Kualitas Perjalanan Warga Bandung Menurun, Evaluasi Infrastruktur Transportasi Mengemuka

Kemacetan di Bandung membuat perjalanan harian warga lebih lama, menurunkan produktivitas, dan menurunkan kenyamanan mobilitas. Perlu pengaturan lalu-lintas lebih baik.
Pengendara terjebak macet di Buah Batu Ketika hujan turun, Senin (01/12/2025). (Foto: Nabila Khairunnisa P)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 19:47 WIB

Lisa Blackpink di Bandung Barat: Antara Gengsi Global dan Ujian Tatakrama Kita

Lisa Blackpink syuting di Bandung Barat? Intip alasan Netflix memilih Citatah dan bagaimana warga menyikapi bocornya lokasi syuting tersebut.
Salah satu tebing karst yang terus dijaga bersama adalah Tebing Citatah 125 karena di sinilah sejarah panjat tebing Indonesia bermula. (Sumber: Eiger)
Ayo Biz 23 Jan 2026, 17:24 WIB

Industri Sepak Bola Putri Indonesia Sedang Bertumbuh di Tengah Kekosongan Liga Resmi

Dari Bandung, Tangerang hingga Samarinda, gairah sepak bola putri tumbuh dengan cepat, menghadirkan pemandangan baru yang beberapa tahun lalu masih jarang terlihat.
Dari Bandung, Tangerang hingga Samarinda, gairah sepak bola putri tumbuh dengan cepat, menghadirkan pemandangan baru yang beberapa tahun lalu masih jarang terlihat. (Sumber: MilkLife Soccer Challenge)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 16:58 WIB

Menata Ulang Wajah Transportasi Bandung

Lalu lintas Bandung yang terbilang sangat padat telah menjadi masalah bagi warga sejak tahun 2024.
Kemacetan Bandung Pada malam hari (21.52 WIB) di Jln. Terusan Buah Batu. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Muhammad Airell Fairuzia)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 16:24 WIB

Kota Wisata dengan Beban Mobilitas Tinggi: Tantangan Tata Transportasi Bandung

Pemerintah sudah mencoba menerapkan berbagai cara untuk mengatasi permasalahan kemacetan, namun masih tak kunjung menemukan solusi yang tepat.
Kemacetan arus lalu lintas di ruas jalan Buah Batu, Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, menjadi pemandangan sehari hari bagi warga yang melintas (03/12/2025). (Sumber: Ramadhan Dwiadya Nugraha)
Ayo Biz 23 Jan 2026, 15:58 WIB

Menjaga Pertumbuhan di Tengah Krisis Fiskal: Strategi Obligasi dan Sukuk Jawa Barat

Ekonomi Jawa Barat pada Triwulan II 2025 tumbuh solid sebesar 5,23% year-on-year. Namun, di balik angka yang tampak menjanjikan itu, terdapat bayangan tantangan fiskal yang semakin nyata.
Ilustrasi obligasi dan sukuk daerah memperluas inklusi keuangan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 15:01 WIB

Ketika Mobilitas Tersendat, Kepercayaan Publik Ikut Tergerus

Kemacetan yang terus menerus terjadi membuat masyarakat Bandung semakin resah.
Pengendara mobil dan motor yang menunggu macet di malam hari (02/11/2025). (Foto: Sherina Khairunisa)
Ayo Jelajah 23 Jan 2026, 14:03 WIB

Kisah Para Warga Bandung yang Terjerat Tipu Daya Judi Online Kamboja

Judi online jaringan Kamboja menjalar hingga Bandung lewat iklan kerja digital. Anak muda direkrut sebagai operator dari rumah kontrakan atau luar negeri dengan janji gaji bulanan yang terlihat wajar.
Ilustrasi judi Kamboja.
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 13:38 WIB

Dana Indonesiana Tertunda, Pelestari Budaya Ngada Alami Tekanan Mental

Dana Indonesiana belum cair, program budaya Ngada tertunda, pelakunya menghadapi tekanan sosial dan mental di kampungnya sendiri.
Desa Adat Bena. (Sumber: Arsip pribadi narasumber)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 12:08 WIB

Catatan Awal Tahun dari Wargi Bandung

Januari 2026 tiba, udara Bandung terasa berbeda.
Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di dekat Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 10:07 WIB

Semestinya Kita Berefleksi dari Bencana Sumatra

Peristiwa ini bukan sekadar kabar duka dari satu wilayah, melainkan cermin rapuhnya kesiapsiagaan kita menghadapi bencana yang berulang.
Sisa banjir di Sumatra Barat pada awal Desember 2025. (Sumber: pkp.go.id)
Beranda 23 Jan 2026, 06:49 WIB

Konsistensi infoantapani Menyapa Warga Antapani Selama 12 Tahun, Bukan Cuma Urusan Algoritma dan Engagement

Akun ini tidak ingin dipandang sebagai media yang semata-mata mengutamakan kecepatan, namun juga tidak memilih gaya bahasa yang saklek, kaku, atau terlalu formal.
Owner dan founder @infoantapani, Venda Setya Nugraha. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)