Hikayat Bandung Lautan Sampah, Kota yang Hampir Dikubur Ulahnya Sendiri

7 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

AYOBANDUNG.ID - Bandung punya banyak julukan. Paris van Java, kota kembang, kota kreatif. Namun pada satu fase sejarahnya yang kelam, Bandung sempat mendapat cap yang jauh dari romantis: Bandung Lautan Sampah. Julukan ini bukan kiasan puitis seperti Bandung Lautan Api. Ia literal, berbau menyengat, dan jika dibayangkan terlalu lama bisa membuat nafsu makan hilang seharian.

Sejarah Bandung Lautan Sampah tidak lahir dari satu pagi yang sial saja. Ia adalah kisah panjang tentang kota yang tumbuh cepat, warganya kian konsumtif, sementara urusan membuang sisa hidup sehari-hari terus dianggap perkara remeh. Sampah, seperti halnya dosa kecil, lama-lama menumpuk hingga tak bisa lagi disembunyikan di kolong karpet.

Di Bandung, karpet itu bernama Tempat Pembuangan Akhir Leuwigajah.

Pada awalnya, Leuwigajah hanyalah lembah biasa di wilayah Cimahi. Pada akhir 1980-an, ia ditunjuk menjadi muara bagi sampah dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Cimahi. Tiga daerah, satu lubang. Sebuah kompromi yang di atas kertas tampak praktis, tetapi dalam praktiknya lebih mirip resep bencana.

Setiap hari, ribuan ton sampah datang tanpa pernah ditanya asal-usulnya. Sampah dapur bercampur popok sekali pakai, plastik makanan, bangkai tikus, kasur tua, hingga sisa lemari yang patah hati. Semua ditumpuk apa adanya. Tak ada pemilahan, tak ada pengolahan serius. Prinsipnya sederhana dan fatal: selama masih muat, teruskan saja.

Baca Juga: Sejarah Cicalengka, Gudang Kopi Kompeni dengan Sejuta Cerita di Ujung Timur Bandung

Bandung pun hidup tenang. Jalanan bersih, taman dirapikan, turis datang untuk berfoto dan belanja. Sampah sudah diserahkan urusannya ke truk dan ke lembah jauh dari pusat kota. Warga jarang berpikir ke mana perginya plastik air mineral setelah diteguk. Seolah sampah punya kemampuan gaib untuk menghilang secara moral.

Sampai akhirnya, pagi buta pada Februari 2005, sampah itu memutuskan untuk pulang kampung.

Tragedi Leuwigajah Pemicu Bandung Lautan Sampah

Dini hari yang dingin di Cimahi mendadak berubah mencekam. Tumpukan sampah di Leuwigajah yang telah menggunung selama bertahun-tahun ambruk dan meledak. Gas metana yang terperangkap di antara lapisan sampah menemukan momentum sempurna. Hujan deras sebelumnya mempercepat kehancuran. Gunungan itu meluncur, bukan pelan-pelan, melainkan seperti longsoran tanpa rasa bersalah.

Dua kampung di bawahnya terkubur. Rumah, sawah, dan manusia lenyap dalam waktu singkat. Ratusan orang meninggal. Banyak di antaranya adalah pemulung yang sehari-harinya justru membantu kota mengurangi sampah, meski tak pernah disebut dalam pidato peresmian apa pun. Tragedi itu menjadi salah satu bencana sampah terbesar di dunia, sekaligus tamparan keras bagi logika pengelolaan kota.

Leuwigajah ditutup. Dan di situlah babak baru Bandung Lautan Sampah dimulai.

Baca Juga: Tragedi Longsor Sampah Leuwigajah 2005: Terburuk di Indonesia, Terparah Kedua di Dunia

Penutupan itu ibarat menutup keran air di rumah tanpa sadar bahwa ember tetap terus diisi. Sampah Bandung tidak berhenti diproduksi hanya karena tempat buangnya ditutup. Dalam hitungan hari, Tempat Pembuangan Sementara penuh. Sampah meluber ke pinggir jalan, menumpuk di pasar, menyempitkan gang, dan menguasai sudut-sudut kota yang biasanya hanya dihuni pedagang kaki lima.

Bandung yang biasanya sejuk mendadak beraroma keras. Warga mulai beradaptasi dengan cara baru: menghindari jalur tertentu, menutup hidung dengan masker atau lengan baju, dan bersumpah akan lebih disiplin suatu hari nanti. Julukan Bandung Lautan Sampah muncul, bukan dari selebaran resmi, melainkan dari keluhan sehari-hari yang semakin sinis.

Ironisnya, saat itu Bandung sedang rajin mempromosikan diri sebagai kota wisata dan pendidikan. Di satu sisi brosur pariwisata berbicara tentang kreativitas, di sisi lain pengunjung disuguhi pemandangan kantong plastik yang mengembung seperti balon ulang tahun gagal.

Pemerintah pun bergerak cepat dalam logika darurat. Dibukalah TPA Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat. Statusnya sementara, tapi seperti banyak solusi sementara di negeri ini, ia bertahan lama. Sampah kembali mengalir, kota bisa bernapas, dan perlahan-lahan orang kembali lupa.

Padahal lupa adalah bahan bakar utama bagi bencana berikutnya.

Baca Juga: Tragedi AACC Bandung 2008, Sabtu Kelabu Konser Beside

Kondisi TPA Sarimukti di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)
Kondisi TPA Sarimukti di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)

Peralihan Sampah ke TPA Sarimukti

Setelah tragedi Leuwigajah, sampah sempat naik kelas menjadi isu nasional. Tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional. Seminar digelar, spanduk dipasang, jargon dirapikan. Namun dalam kehidupan sehari-hari, kebiasaan lama sulit dibongkar. Sampah tetap dicampur, ditenteng, lalu diserahkan kepada orang lain untuk diurus.

Bandung berkembang pesat. Kafe tumbuh lebih cepat dari pohon. Konsumsi meningkat, terutama yang berbungkus plastik. Kota ini gemar mencicipi tren, tetapi malas memikirkan residunya. Dari kopi susu hingga belanja daring, semuanya menyisakan jejak yang akhirnya kembali ke TPA.

TPA Sarimukti yang dibuka sebagai solusi darurat perlahan menua sebelum waktunya. Kapasitasnya terlampaui. Sampah datang lebih cepat daripada kemampuan alam untuk diam saja. Kebakaran beberapa kali terjadi, menghentikan pengangkutan, dan Bandung kembali merasakan déjà vu. Tumpukan sampah muncul di pasar, di dekat kampus, di kawasan niaga. Kota ini seperti lupa pelajaran yang sudah dibayar mahal dengan nyawa manusia.

Kini, hampir dua dekade setelah tragedi tersebut, Bandung masih bergulat dengan masalah yang sama. Tumpukan sampah masih kerap terlihat di berbagai sudut kota. Ditambah lagi, kondisi pesampahan di BandungRaya belakangan ini terbilang ruwet lantaran sekaratnya TPA Sarimukti yang selama ini jadi tumpuan.

TPA Sarimukti hari ini bukan lagi sekadar tempat pembuangan akhir. Ia sudah menjelma semacam ruang ICU bagi sistem persampahan Bandung Raya. Selang infusnya sudah mampet, oksigennya kian menipis.

Selama bertahun-tahun, Sarimukti menjadi tumpuan empat daerah: Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat. Dalam kondisi “normal”, sampah yang masuk mencapai 1.750 ton per hari. Walhi Jabar bahkan mencatat angka yang lebih brutal: hingga 2.500 ton sampah per hari dengan lebih dari 300 ritase truk. Ini bukan lagi tempat pembuangan, tapi tempat penumpukan dosa kolektif.

Baca Juga: Krisis Sampah Bandung Raya di Tengah Sarimukti yang Sekarat

Soalnya bukan cuma jumlah, melainkan wataknya. Sekitar 70 persen sampah yang masuk adalah sampah organik, dan sebagian besar tak pernah dipilah. Ia datang bercampur, membusuk bersama, lalu memadatkan usia Sarimukti lebih cepat dari jadwal kematian resminya. Kalau manusia punya asam urat karena gaya hidup, Sarimukti punya lindi karena gaya kelola.

Pemprov Jabar mencoba memainkan peran wasit dengan membatasi ritase. Dari 1.750 ton menjadi 1.250 ton per hari. Jatah dibagi-bagi seperti kupon beras miskin. Kota Bandung disuruh memangkas ritase, Cimahi ditekan, Kabupaten Bandung dan KBB ikut meradang. Semua protes, semua merasa paling terzalimi. Tak ada yang mau mengakui bahwa selama ini mereka hidup nyaman dengan satu tempat pembuangan yang dipaksa menanggung segalanya.

Padahal, kalau tidak dibatasi, Sarimukti bukan cuma kolaps—ia bisa mati sebelum 2026. Maka pilihan tinggal dua: berisik sekarang atau tenggelam bersama nanti.

Solusi jangka panjang konon sudah disiapkan: TPA Legoknangka yang dijanjikan mulai beroperasi 2028. Tahun yang terdengar futuristik, seperti janji mobil terbang. Sampai saat itu tiba, Sarimukti diminta hidup lebih lama, dipaksa menua dengan diet ketat dan manajemen darurat.

Di tingkat kota, Bandung mencoba berimprovisasi. Dibangunlah TPST Gedebage dengan teknologi RDF. Luasnya 1,7 hektare, kapasitasnya 390 ton per hari. Angka yang tampak besar sampai dihadapkan pada fakta bahwa Bandung memproduksi hampir 1.800 ton sampah per hari. TPST ini ibarat payung kecil di tengah badai, berguna tapi jangan berharap tetap kering.

Upaya lain bahkan lebih nekat: membuang masalah ke daerah lain. Kerja sama dengan Garut sempat berjalan, 200 ton sampah per hari dikirim ke TPA Pasir Bajing. Namun seperti kisah klasik, warga setempat mencium bau tak sedap lebih cepat daripada pejabat membaca kontrak. Protes muncul, kerja sama dihentikan. Bandung pun pulang dengan tangan kosong dan bau yang masih menempel.

Dalam situasi panik, Pemkot Bandung paling rajin memproduksi sesuatu yang tidak pernah kekurangan stok: program. Ada Kang Pisman, Kang Empos, Kawasan Bebas Sampah, Tidak Dipilah Tidak Diangkut, Sampah Hari Ini Habis Hari Ini. Akronim-akronim ini berbaris rapi seperti slogan kampanye. Sayangnya, dampaknya lebih sering berhenti di spanduk dan seminar.

Baca Juga: Umur Waduk Saguling Terancam Digerus Sedimen, Sampah, dan Eceng Gondok

Seolah-olah masalah sampah bisa diselesaikan dengan nama yang ramah dan mudah dihafal. Jika jargon bisa mengurai sampah, Sarimukti sudah berubah menjadi taman kota sejak lama. Faktanya, pemilahan baru berjalan di kurang dari 30 persen wilayah Bandung. Mayoritas warga masih mempraktikkan filosofi lama: buang, angkut, lupakan.

Ironisnya, rumah tangga sering dijadikan tersangka utama, padahal data berkata lain. Sampah organik terbesar justru datang dari kawasan komersial: pasar, hotel, restoran, kafe, rumah sakit, dan mal. Mereka memproduksi sampah dalam volume besar, homogen, dan relatif mudah dikelola kalau saja ada kemauan politik yang sepadan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Tag Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.