Umur Waduk Saguling Terancam Digerus Sedimen, Sampah, dan Eceng Gondok

4 menit baca
Restu Nugraha Sauqi Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi , Hengky Sulaksono diterbitkan
Warga menggunakan perahu saat melintas di aliran waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Warga menggunakan perahu saat melintas di aliran waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Waduk Saguling di Kabupaten Bandung Barat kini bukan hanya sekadar penampung air dan penghasil listrik untuk wilayah Jawa dan Bali. Ia juga menjadi waduk dari berbagai macam masalah: sedimentasi yang kian parah, gulma yang tak kunjung habis, serta serbuan sampah yang terus datang tanpa jeda.

"Hasil evaluasi kemarin di tahun 2023, laju sedimentasi sekitar 1,7 juta meter kubik per tahun. Harapan kami, Waduk Saguling ini bisa bertahan sampai 2084," kata Senior Manager PLN Indonesia Power UBP Saguling, Doni Bakar saat dikonfirmasi baru-baru ini.

Data angaka sedimentasi yang diungkap tersebut bukan main. Dalam jangka waktu beberapa tahun saja, daya tampung waduk bisa berkurang drastis. Pendangkalan perlahan mempersempit ruang air, mengurangi kapasitas pembangkit listrik, sekaligus memperpendek usia infrastruktur yang sudah ada sejak 1986 itu.

Selain sedimentasi, waduk juga dikepung oleh eceng gondok dan sampah rumah tangga. Doni menyebut sekitar 94 hektare dari 5.600 hektare luas waduk tertutup eceng gondok. Tanaman gulma ini tumbuh cepat di perairan yang kaya nutrien dan menjadi penyumbang sedimen ketika mati dan tenggelam.

"Kemudian dari 200 ton itu, tentunya jenis sampahnya macam-macam, ada sampah plastik, sampah kertas, dan lainnya. Dengan kondisi ini akan memengaruhi laju sedimentasi Waduk (Saguling), jadi umurnya akan singkat," tambahnya.

Tingginya sedimentasi bukan hanya soal tampungan air. Ia menyerang hingga ke peralatan mekanik pembangkit. "Sedimentasinya naik terus, kemudian ada benda-benda bersifat korosif yang digunakan di perairan Waduk Saguling berdampak ke peralatan sehingga cepat rusak. Maka pemeliharaan bakal lebih sering," tutur Doni.

Kondisi Waduk Saguling ini bahkan lebih mengkhawatirkan ketimbang Waduk Cirata atau Waduk Jatiluhur yang lebih dulu dibangun. Pasalnya, ia adalah pintu pertama dari Sungai Citarum. Seluruh kotoran, baik limbah padat maupun partikel tanah dari hulu, pertama kali mampir di sana sebelum terurai di hilir.

Prediksi Umur Waduk yang Fluktuatif

Hasil inspeksi besar oleh PLN Indonesia Power pada 2017 hingga 2018 menunjukkan usia operasional Waduk Saguling saat itu diperkirakan tinggal 18 tahun saja, terutama akibat sedimentasi. Namun, hasil pengukuran ulang pada 2022 memperpanjang usia prediksi operasional menjadi 32 tahun.

Penambahan usia ini bukan berarti ancaman selesai. Justru fluktuasi angka tersebut menunjukkan betapa rentannya kondisi waduk terhadap perubahan dinamika lingkungan. Sedikit perubahan di hulu bisa berdampak besar ke usia pakai waduk.

Perbaikan kondisi itu diklaim tak terlepas dari partisipasi banyak pihak—mulai dari reboisasi, pengangkatan sedimen, hingga pengelolaan eceng gondok.

Bertarung dengan Eceng Gondok

Sejak 2013, PT Indonesia Power menginisiasi program pemanfaatan eceng gondok berbasis komunitas. Dalam satu dekade, sebanyak 8.382 ton eceng gondok berhasil diolah menjadi bahan bakar, kerajinan tangan, pakan ternak, hingga kompos. Publikasi riset yang terbit 2023 lalu mencatat upaya ini berhasil mengurangi potensi sedimen sebanyak 17.289 meter kubik, atau hanya 0,09% dari total sedimentasi tahunan.

Secara kuantitatif, memang dampaknya kecil, namun secara simbolik dan ekologis, ia penting. Program ini menegaskan bahwa pengelolaan ekosistem bisa dilakukan secara partisipatif dan berkelanjutan.

Eceng gondok juga berdampak pada kehilangan air melalui evapotranspirasi. Data dari BMKG dan citra satelit menunjukkan bahwa pada 2016, Waduk Saguling kehilangan air lebih dari 35 ribu meter kubik per hari akibat gulma ini. Namun, angka tersebut turun hampir 47% di tahun 2023.

Eceng gondok di Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

Perubahan Iklim dan Fungsi Lahan

Sedimentasi tidak berdiri sendiri. Ia merupakan gejala dari persoalan lebih besar di hulu: alih fungsi lahan dan perubahan iklim. Publikasi riset peneliti hidrologi sejumlah kampus terbaru menunjukkan bahwa curah hujan ekstrem—yang disebut sebagai design rainfall—meningkat hingga 30% dalam 23 tahun terakhir (2000–2023) di kawasan DAS Citarum Hulu. Hujan yang dulu jarang kini menjadi lebih sering dan intens, memperbesar erosi tanah.

"Design rainfall meningkat rata-rata hingga 30% akibat perubahan iklim. Peningkatan ini turut mempengaruhi transportas sedimen," demikian catatan peneliti.

Pemukiman pun meningkat enam kali lipat dalam dua dekade. Dari yang hanya 4% di tahun 2000, kini menjadi 24% di tahun 2023. Area terbangun ini umumnya merupakan wilayah permukiman yang sebelumnya adalah ruang terbuka. Vegetasi juga berkurang, daya serap tanah menurun, dan tanah tergerus air hujan deras.

Simulasi di titik Majalaya, Dayeuhkolot, dan Nanjung menunjukkan peningkatan sedimentasi yang konsisten dari hulu hingga hilir. Dan siapa yang pertama menampung semuanya? Waduk Saguling.

Kondisi Waduk Saguling yang surut saat musim kemarau 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

Dalam konteks ini, Waduk Saguling bukan sekadar tempat menampung air atau menghasilkan listrik. Ia adalah cermin dari kondisi lingkungan hulu Citarum. Jika kondisi ini tak berubah, maka rencana memperpanjang umur waduk hingga 2084 bisa menjadi harapan yang sulit digapai.

Pemerintah memang telah menggulirkan berbagai program seperti Citarum Harum. Namun, sebagaimana waduk itu sendiri, upaya itu harus terus dibersihkan, dipelihara, dan diawasi. Jika tidak, ia hanya akan jadi ladang gulma dan sampah, bukan sumber daya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti
Tag Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)