Keberlangsungan Suatu Negara dalam Bayang-Bayang Deformasi Kekuasaan

7 menit baca
Stefano Linggom
Ditulis oleh Stefano Linggom diterbitkan
 (Sumber: Gemini AI)
(Sumber: Gemini AI)

Sebagai bangsa yang merdeka, Indonesia sudah memiliki 3 unsur dari suatu negara yaitu wilayah, pemerintahan, dan juga rakyat. Masyarakat dalam suatu negara memerlukan pemerintahan yang berdaulat untuk bisa mengatur dan mewujudkan keteraturan dalam kehidupan bermasyarakat. Keteraturan dalam masyarakat tidak terlepas dari yang namanya kinerja suatu pemerintahan.

Namun, sering kali ada pengaruh buruk dalam jalannya suatu pemerintahan yang dikenal dengan istilah deformasi kekuasaan. Menurut artikel Kompas yang ditulis oleh Farhan Abdul pada tahun 2024, Deformasi kekuasaan adalah penyimpangan kekuasaan yang berubah menjadi menjadi alat untuk kepentingan pribadi, kelompok, atau pihak tertentu. 

Deformasi kekuasaan bukan lagi menjadi mimpi buruk , melainkan suatu kenyataan dalam kehidupan bernegara. Dengan menggunakan kacamata masyarakat, kita bisa mengambil salah satu contoh dari jalannya pemerintahan di Indonesia.

Sering kali kita mengenal istilah  politik balas budi, politik dinasti, dan politik popularitas sebagai wujud dari penyimpangan tersebut. Indonesia sangat terikat dengan yang namanya popularitas dan kepentingan pribadi dalam menduduki posisi pemerintahan. Dengan tujuan seperti itu, seringkali kita melihat Pemerintah Indonesia tidak bisa mewujudkan kinerja optimal dalam menyelenggarakan Kesejahteraan Rakyat . 

Fenomena seperti politik balas budi, politik dinasti, politik popularitas dan berbagai macam politik sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat . Politik sudah dipandang sebagai kepentingan kelompok tertentu yang dekat dengan kekuasaan. Melalui opini yang dikemukakan oleh Dr. Lusi Andriyani, sebagai Ketua program Studi Magister Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pada tahun 2023, kita bisa melihat salah satu contoh  dimana politik dinasti yang lebih mementingkan kepentingan kelompoknya daripada kepentingan bersama.

Akibatnya, kita bisa melihat kondisi nyatanya sekarang dimana benih-benih kekecewaan masyarakat tumbuh semakin besar seiring hilangnya kepercayaan terhadap jajaran pemerintahan yang tidak kunjung mewujudkan cita-cita masyarakat yang adil. Masyarakat mulai bertanya-tanya, dimanakah bukti nyata akan keadilan sejati yang dikoar-koarkan oleh pemerintah ketika mereka berbicara di depan publik.

Pengabaian Aspirasi Publik

Seperti yang dinyatakan sebelumnya, pemerintah kita memang seringkali  diisi oleh pihak-pihak yang hanya berputar di dalam setiap pejabat yang sudah menjabat sebelumnya. Bahkan, demi mendapatkan dukungan masyarakat, pemerintah mulai melibatkan pihak-pihak dunia hiburan yang ketika menduduki jabatan pemerintah saja tidak bisa berbuat apapun.

Akibatnya, masyarakat tidak bisa merasakan dampak pembangunan yang optimal serta sulit untuk bisa menjadi bagian dari institusi pemerintahan. Kesulitan itu bisa kita lihat melalui jalannya sistem pemilu yang mengesampingkan orang biasa dan tak dikenal. Padahal, demokrasi semestinya menjadi bentuk negara yang menyediakan peluang bagi setiap masyarakat Indonesia untuk bisa memilih dan terpilih dalam setiap pemilu. 

Menurut pendapat yang dikemukakan seorang psikolog bernama Intan Erlita pada tahun 2024, setiap wakil rakyat ataupun pejabat seringkali tidak menyadari bahwa mereka harus memiliki kesiapan diri yang berbeda dari orang pada umumnya. Kesiapan tersebut menuntut mental dan tanggungjawab yang kuat dan juga membara. Bara api itu akan terus menyala selama sumber api itu tetap mempertahankan esensinya. Sebaliknya, bara api itu akan mati jika sumbernya tidak hadir lagi di dalamnya, hal itu bisa kita hubungkan dengan keadaan negara kita yang terus dirusak oleh penyimpangan yang ada . Penyimpangan ini seringkali diterapkan dalam banyak proses yang bisa mengancam keberadaan negara kita yang bersumber pada rakyat. Prosesnya melalui berbagai macam bentuk seperti revisi undang-undang hingga persidangan di mahkamah.

Contoh yang bisa kita lihat secara nyata adalah UU Cipta Kerja No. 6 tahun 2023 . Sejak awal, undang-undang ini memang telah mendapat penolakan dari berbagai kalangan masyarakat Indonesia, tetapi sejak awal DPR maupun pemerintah sudah memiliki tekad yang kuat untuk mengesahkan UUD ini dengan segala kondisi yang ada. Bentuk pertama dari undang-undang ini adalah RUU ( rancangan undang-undang ) yang menggunakan metode gabungan atau bisa disebut Omnibus Law. Meskipun hal ini sudah ditetapkan oleh DPR, rakyat merasa bahwa ada suatu perubahan besar dari hirarki yang sebenarnya telat kita anut dalam UU No 12/2011). Pada akhirnya, Mahkamah Konstitusi menuntut DPR untuk memperbaiki, nyatanya melalui perpu tahun 2022 hingga kini, RUU itu masih bisa berdiri dengan wujud undang-undang  di atas setiap penolakan masyarakat . Hal ini menunjukkan penyimpangan ataupun keengganan pemerintah untuk mendengarkan aspirasi publik yang seharusnya menjadi sumber evaluasi pemerintah. Padahal, dalam negara yang demokratis, suara masyarakat adalah fondasi terpenting.

Penyimpangan Kekuasaan

Deformasi memang akan berdampak pada banyak bidang karena memang jika deformasi itu ada dalam suatu pemerintahan, bidang-bidang dalam pemerintahan itupun akan turut terlibat. Kita bisa mengambil contoh dalam bidang politik dan juga bidang hukum. Dalam bidang politik, kita mengenal politik balas budi, politik dinasti, politik popularitas. Di dalam politik dinasti, kekuasaan tidak membuka peluang yang adil bagi masyarakat umum untuk ikut serta dalam proses politik dikarenakan sifatnya yang cenderung tertutup rapat. Lalu, politik balas budi memungkinkan Kekuasaan berubah menjadi alat transaksi dan pertukaran kepentingan, sehingga kebijakan pemerintah menjadi tidak objektif, tidak transparan, dan tidak berpihak pada masyarakat luas. Terakhir, politik popularitas yang merupakan deformasi kekuasaan karena disini jabatan publik tidak lagi digunakan sebagai instrumen pelayanan, tetapi menjadi panggung eksistensi dan kepentingan individu.

Di dalam hukum, kita melihat serangkaian kebijakan demi jalannya kehidupan masyarakat yang teratur. Melalui pemangku kepentingan, negara menciptakan aturan yang sejalan dengan kehidupan masyarakat. Akan sangat berbahaya jika hukum dijadikan sebagai alat kekuasaan dan disalahgunakan. Kekuasaan justru harus dibatasi oleh hukum yang mengandung sanksi sebagai salah satu faktor pendukung efektivitas hukum dengan memberi efek jera. 

Ancaman Deformasi Kekuasaan

Kita memang tidak bisa menghakimi secara langsung setiap pejabat dengan latar belakang yang berbeda. Tetapi, Pemerintah perlu lebih hati-hati menanggapi setiap kejadian yang menyulut emosi masyarakat. Jangan sampai pemerintah secara gampang malah berbalik menyalahkan masyarakat atas dampak kemarahan rakyat. Pemerintah dibentuk atas dasar persetujuan rakyat dan untuk kepentingan rakyat itu sendiri. Namun, seringkali pemerintah tidak memberi solusi dan tuntunan yang tepat sehingga banyak pejabat yang bertindak seenaknya saja dan tidak berfungsi semestinya. 

Salah satu wujud kemarahan itu bisa kita lihat melalui berita dalam beberapa bulan ini. Ada seorang pejabat bernama Uya kuya dengan latar belakang profesi yang datang dari dunia hiburan. Uya kuya adalah anggota DPR RI  yang tampak asyik berjoget ketika menghadiri Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR - DPD Tahun 2025. Masyarakat menilai aksi joget anggota dewan sangat tidak pantas mengingat momen Sidang Tahunan seharusnya berjalan sakral dan jadi kesempatan untuk memikirkan nasib rakyat. Akan tetapi, dengan segala kritikan yang ada, Uya kuya justru malah menanggapi penilaian itu dengan omongan, 

“Lah, kita artis. Kita DPR kan kita artis,” katanya.

Salah satu artikel Tempo yang ditulis oleh Eka Yudha Saputra pada tahun 2025 turut menanggapi pernyataan ini sebagai sebuah pernyataan yang hanya semakin menambah ataupun menyulut emosi sebagian besar masyarakat indonesia 

Baca Juga: Kota Bandung: Hak Trotoar, Pejalan Kaki, dan PKL

Pemerintah tidak boleh membiarkan setiap penyimpangan yang ada semakin berakar dalam pemerintah kita. Masyarakat pastinya akan memantau setiap pergerakan  wakil rakyat yang bekerja di suatu pemerintahan. Keseriusan dan kemampuan pejabat tersebut akan dipertanyakan rakyat karena jika mereka tidak mampu, masyarakat khawatir Indonesia tidak akan menjadi negara yang diimpikan setiap orang. Setiap motivasi, tujuan, dan latar belakang seorang pejabat akan sangat berpengaruh dalam pekerjaannya. Pemerintah perlu menyelidiki dan mengawasi secara berkala kinerja anggotanya, rakyat pun tidak boleh asal memilih wakilnya dalam suatu pemerintahan. Kedua hal tersebut, jika dilaksanakan secara efektif  akan menciptakan negara demokrasi yang dicita-citakan bersama serta mencegah deformasi atau penyalahgunaan kekuasaan kedepannya. 

Deformasi jangan sampai mengacaukan fungsi negara yang seharusnya. Deformasi memang tidak akan langsung berhenti seketika. Namun,  bisa dikatakan bahwa deformasi bisa mengacaukan fungsi negara itu jika diabaikan. Deformasi akan selalu menjadi mimpi buruk yang akan terus menghantui rakyat karena seringkali memberi efek yang tidak diinginkan atau merugikan masyarakat luas. Oleh karena itu, pemerintah perlu menghapuskan segala bentuk ciri deformasi dengan memperkuat transparansi dan akuntabilitas dalam setiap proses pengambilan kebijakan, mendorong partisipasi publik dan pengawasan masyarakat dalam jalannya pemerintahan  serta menerapkan pendidikan politik dan pembinaan etika bagi para pejabat dan calon pemimpin bangsa. Langkah-langkah tersebut diharapkan bisa mencegah deformasi merasuki jalannya pemerintah kita kedepannya. 

Pada prinsipnya, deformasi di Indonesia sendiri bisa terlihat pengaruhnya secara bertahap. Setiap penyimpangan awalnya dianggap remeh oleh pihak-pihak pemangku kepentingan. Namun, justru yang remeh seperti ini bisa berujung pada dampak yang lebih besar dan bisa jadi akan lebih sulit diatasi. Melalui berbagai kasus sebelumnya, setiap penyimpangan diawali atas dasar pertidaksetujuan rakyat terhadap berbagai keputusan pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah perlu betul-betul memikirkan langkah yang tepat agar masyarakat bisa turut terlibat secara optimal dalam jalannya pemerintahan suatu negara . Jangan sampai kita membiarkan KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) terus berkembang dalam negara kita tercinta ini. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)