Keberlangsungan Suatu Negara dalam Bayang-Bayang Deformasi Kekuasaan

Stefano Linggom
Ditulis oleh Stefano Linggom diterbitkan Jumat 19 Des 2025, 10:21 WIB
 (Sumber: Gemini AI)

(Sumber: Gemini AI)

Sebagai bangsa yang merdeka, Indonesia sudah memiliki 3 unsur dari suatu negara yaitu wilayah, pemerintahan, dan juga rakyat. Masyarakat dalam suatu negara memerlukan pemerintahan yang berdaulat untuk bisa mengatur dan mewujudkan keteraturan dalam kehidupan bermasyarakat. Keteraturan dalam masyarakat tidak terlepas dari yang namanya kinerja suatu pemerintahan.

Namun, sering kali ada pengaruh buruk dalam jalannya suatu pemerintahan yang dikenal dengan istilah deformasi kekuasaan. Menurut artikel Kompas yang ditulis oleh Farhan Abdul pada tahun 2024, Deformasi kekuasaan adalah penyimpangan kekuasaan yang berubah menjadi menjadi alat untuk kepentingan pribadi, kelompok, atau pihak tertentu. 

Deformasi kekuasaan bukan lagi menjadi mimpi buruk , melainkan suatu kenyataan dalam kehidupan bernegara. Dengan menggunakan kacamata masyarakat, kita bisa mengambil salah satu contoh dari jalannya pemerintahan di Indonesia.

Sering kali kita mengenal istilah  politik balas budi, politik dinasti, dan politik popularitas sebagai wujud dari penyimpangan tersebut. Indonesia sangat terikat dengan yang namanya popularitas dan kepentingan pribadi dalam menduduki posisi pemerintahan. Dengan tujuan seperti itu, seringkali kita melihat Pemerintah Indonesia tidak bisa mewujudkan kinerja optimal dalam menyelenggarakan Kesejahteraan Rakyat . 

Fenomena seperti politik balas budi, politik dinasti, politik popularitas dan berbagai macam politik sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat . Politik sudah dipandang sebagai kepentingan kelompok tertentu yang dekat dengan kekuasaan. Melalui opini yang dikemukakan oleh Dr. Lusi Andriyani, sebagai Ketua program Studi Magister Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pada tahun 2023, kita bisa melihat salah satu contoh  dimana politik dinasti yang lebih mementingkan kepentingan kelompoknya daripada kepentingan bersama.

Akibatnya, kita bisa melihat kondisi nyatanya sekarang dimana benih-benih kekecewaan masyarakat tumbuh semakin besar seiring hilangnya kepercayaan terhadap jajaran pemerintahan yang tidak kunjung mewujudkan cita-cita masyarakat yang adil. Masyarakat mulai bertanya-tanya, dimanakah bukti nyata akan keadilan sejati yang dikoar-koarkan oleh pemerintah ketika mereka berbicara di depan publik.

Pengabaian Aspirasi Publik

Seperti yang dinyatakan sebelumnya, pemerintah kita memang seringkali  diisi oleh pihak-pihak yang hanya berputar di dalam setiap pejabat yang sudah menjabat sebelumnya. Bahkan, demi mendapatkan dukungan masyarakat, pemerintah mulai melibatkan pihak-pihak dunia hiburan yang ketika menduduki jabatan pemerintah saja tidak bisa berbuat apapun.

Akibatnya, masyarakat tidak bisa merasakan dampak pembangunan yang optimal serta sulit untuk bisa menjadi bagian dari institusi pemerintahan. Kesulitan itu bisa kita lihat melalui jalannya sistem pemilu yang mengesampingkan orang biasa dan tak dikenal. Padahal, demokrasi semestinya menjadi bentuk negara yang menyediakan peluang bagi setiap masyarakat Indonesia untuk bisa memilih dan terpilih dalam setiap pemilu. 

Menurut pendapat yang dikemukakan seorang psikolog bernama Intan Erlita pada tahun 2024, setiap wakil rakyat ataupun pejabat seringkali tidak menyadari bahwa mereka harus memiliki kesiapan diri yang berbeda dari orang pada umumnya. Kesiapan tersebut menuntut mental dan tanggungjawab yang kuat dan juga membara. Bara api itu akan terus menyala selama sumber api itu tetap mempertahankan esensinya. Sebaliknya, bara api itu akan mati jika sumbernya tidak hadir lagi di dalamnya, hal itu bisa kita hubungkan dengan keadaan negara kita yang terus dirusak oleh penyimpangan yang ada . Penyimpangan ini seringkali diterapkan dalam banyak proses yang bisa mengancam keberadaan negara kita yang bersumber pada rakyat. Prosesnya melalui berbagai macam bentuk seperti revisi undang-undang hingga persidangan di mahkamah.

Contoh yang bisa kita lihat secara nyata adalah UU Cipta Kerja No. 6 tahun 2023 . Sejak awal, undang-undang ini memang telah mendapat penolakan dari berbagai kalangan masyarakat Indonesia, tetapi sejak awal DPR maupun pemerintah sudah memiliki tekad yang kuat untuk mengesahkan UUD ini dengan segala kondisi yang ada. Bentuk pertama dari undang-undang ini adalah RUU ( rancangan undang-undang ) yang menggunakan metode gabungan atau bisa disebut Omnibus Law. Meskipun hal ini sudah ditetapkan oleh DPR, rakyat merasa bahwa ada suatu perubahan besar dari hirarki yang sebenarnya telat kita anut dalam UU No 12/2011). Pada akhirnya, Mahkamah Konstitusi menuntut DPR untuk memperbaiki, nyatanya melalui perpu tahun 2022 hingga kini, RUU itu masih bisa berdiri dengan wujud undang-undang  di atas setiap penolakan masyarakat . Hal ini menunjukkan penyimpangan ataupun keengganan pemerintah untuk mendengarkan aspirasi publik yang seharusnya menjadi sumber evaluasi pemerintah. Padahal, dalam negara yang demokratis, suara masyarakat adalah fondasi terpenting.

Penyimpangan Kekuasaan

Deformasi memang akan berdampak pada banyak bidang karena memang jika deformasi itu ada dalam suatu pemerintahan, bidang-bidang dalam pemerintahan itupun akan turut terlibat. Kita bisa mengambil contoh dalam bidang politik dan juga bidang hukum. Dalam bidang politik, kita mengenal politik balas budi, politik dinasti, politik popularitas. Di dalam politik dinasti, kekuasaan tidak membuka peluang yang adil bagi masyarakat umum untuk ikut serta dalam proses politik dikarenakan sifatnya yang cenderung tertutup rapat. Lalu, politik balas budi memungkinkan Kekuasaan berubah menjadi alat transaksi dan pertukaran kepentingan, sehingga kebijakan pemerintah menjadi tidak objektif, tidak transparan, dan tidak berpihak pada masyarakat luas. Terakhir, politik popularitas yang merupakan deformasi kekuasaan karena disini jabatan publik tidak lagi digunakan sebagai instrumen pelayanan, tetapi menjadi panggung eksistensi dan kepentingan individu.

Di dalam hukum, kita melihat serangkaian kebijakan demi jalannya kehidupan masyarakat yang teratur. Melalui pemangku kepentingan, negara menciptakan aturan yang sejalan dengan kehidupan masyarakat. Akan sangat berbahaya jika hukum dijadikan sebagai alat kekuasaan dan disalahgunakan. Kekuasaan justru harus dibatasi oleh hukum yang mengandung sanksi sebagai salah satu faktor pendukung efektivitas hukum dengan memberi efek jera. 

Ancaman Deformasi Kekuasaan

Kita memang tidak bisa menghakimi secara langsung setiap pejabat dengan latar belakang yang berbeda. Tetapi, Pemerintah perlu lebih hati-hati menanggapi setiap kejadian yang menyulut emosi masyarakat. Jangan sampai pemerintah secara gampang malah berbalik menyalahkan masyarakat atas dampak kemarahan rakyat. Pemerintah dibentuk atas dasar persetujuan rakyat dan untuk kepentingan rakyat itu sendiri. Namun, seringkali pemerintah tidak memberi solusi dan tuntunan yang tepat sehingga banyak pejabat yang bertindak seenaknya saja dan tidak berfungsi semestinya. 

Salah satu wujud kemarahan itu bisa kita lihat melalui berita dalam beberapa bulan ini. Ada seorang pejabat bernama Uya kuya dengan latar belakang profesi yang datang dari dunia hiburan. Uya kuya adalah anggota DPR RI  yang tampak asyik berjoget ketika menghadiri Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR - DPD Tahun 2025. Masyarakat menilai aksi joget anggota dewan sangat tidak pantas mengingat momen Sidang Tahunan seharusnya berjalan sakral dan jadi kesempatan untuk memikirkan nasib rakyat. Akan tetapi, dengan segala kritikan yang ada, Uya kuya justru malah menanggapi penilaian itu dengan omongan, 

“Lah, kita artis. Kita DPR kan kita artis,” katanya.

Salah satu artikel Tempo yang ditulis oleh Eka Yudha Saputra pada tahun 2025 turut menanggapi pernyataan ini sebagai sebuah pernyataan yang hanya semakin menambah ataupun menyulut emosi sebagian besar masyarakat indonesia 

Baca Juga: Kota Bandung: Hak Trotoar, Pejalan Kaki, dan PKL

Pemerintah tidak boleh membiarkan setiap penyimpangan yang ada semakin berakar dalam pemerintah kita. Masyarakat pastinya akan memantau setiap pergerakan  wakil rakyat yang bekerja di suatu pemerintahan. Keseriusan dan kemampuan pejabat tersebut akan dipertanyakan rakyat karena jika mereka tidak mampu, masyarakat khawatir Indonesia tidak akan menjadi negara yang diimpikan setiap orang. Setiap motivasi, tujuan, dan latar belakang seorang pejabat akan sangat berpengaruh dalam pekerjaannya. Pemerintah perlu menyelidiki dan mengawasi secara berkala kinerja anggotanya, rakyat pun tidak boleh asal memilih wakilnya dalam suatu pemerintahan. Kedua hal tersebut, jika dilaksanakan secara efektif  akan menciptakan negara demokrasi yang dicita-citakan bersama serta mencegah deformasi atau penyalahgunaan kekuasaan kedepannya. 

Deformasi jangan sampai mengacaukan fungsi negara yang seharusnya. Deformasi memang tidak akan langsung berhenti seketika. Namun,  bisa dikatakan bahwa deformasi bisa mengacaukan fungsi negara itu jika diabaikan. Deformasi akan selalu menjadi mimpi buruk yang akan terus menghantui rakyat karena seringkali memberi efek yang tidak diinginkan atau merugikan masyarakat luas. Oleh karena itu, pemerintah perlu menghapuskan segala bentuk ciri deformasi dengan memperkuat transparansi dan akuntabilitas dalam setiap proses pengambilan kebijakan, mendorong partisipasi publik dan pengawasan masyarakat dalam jalannya pemerintahan  serta menerapkan pendidikan politik dan pembinaan etika bagi para pejabat dan calon pemimpin bangsa. Langkah-langkah tersebut diharapkan bisa mencegah deformasi merasuki jalannya pemerintah kita kedepannya. 

Pada prinsipnya, deformasi di Indonesia sendiri bisa terlihat pengaruhnya secara bertahap. Setiap penyimpangan awalnya dianggap remeh oleh pihak-pihak pemangku kepentingan. Namun, justru yang remeh seperti ini bisa berujung pada dampak yang lebih besar dan bisa jadi akan lebih sulit diatasi. Melalui berbagai kasus sebelumnya, setiap penyimpangan diawali atas dasar pertidaksetujuan rakyat terhadap berbagai keputusan pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah perlu betul-betul memikirkan langkah yang tepat agar masyarakat bisa turut terlibat secara optimal dalam jalannya pemerintahan suatu negara . Jangan sampai kita membiarkan KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) terus berkembang dalam negara kita tercinta ini. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Stefano Linggom
Suka membaca

Berita Terkait

News Update

Beranda 04 Feb 2026, 11:56 WIB

Ironi Co-firing Biomassa PLTU di Jawa Barat, Klaim Transisi Energi dan Dampaknya bagi Warga

Skema yang diklaim lebih ramah lingkungan ini dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan mendasar, terutama dampak lingkungan dan kesehatan warga yang hidup berdampingan dengan PLTU.
Ilustrasi PLTU. (Sumber: Bruno Miguel / Unsplash)
Beranda 04 Feb 2026, 09:42 WIB

Jika Kebun Binatang Bandung Hilang, Apa yang Tersisa dari Kota Ini?

Tempat ini merupakan rangkaian panjang sejarah dan ungkapan cinta warga kota yang telah terbangun sejak satu abad lalu.
Pegunjung memanfaatkan Kawasan Kebun Binatang Bandung yang rindang dan sejuk untuk berkumpul dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 09:39 WIB

Aan Merdeka Permana Penulis Spesialis Tema Padjadjaran

Yayasan Kebudayaan Rancagé menetapkan sastrawan Sunda senior Aan Merdeka Permana sebagai peraih Hadiah Jasa 2026.
Buku-buku karya Aan Merdeka Permana. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 08:04 WIB

Ngabuburit dari Masa ke Masa

Ngabuburit di kota Bandung mengalami pergeseran nilai dan aktifitas serta cara melakukannya.
Masjid Al-Jabar di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Andry Sasongko)
Bandung 03 Feb 2026, 21:16 WIB

Misi Kemanusiaan dan Esensi CSR Berkelanjutan dalam Memulihkan Luka Bencana Cisarua

CSR berkelanjutan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang hadir dan tetap ada hingga masyarakat benar-benar mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri.
Dalam skenario bencana sebesar Cisarua, kecepatan respons adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan harapan. (Sumber: SANY Indonesia)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 19:40 WIB

Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Jalan Pasirluyu Selatan Bandung berubah menjadi sentra karangan bunga. Bulan Rajab dan Syaban membawa lonjakan pesanan papan ucapan pernikahan dan hajatan.
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 03 Feb 2026, 19:00 WIB

Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

“Kalau sampai ada yang keberatan atau komplain, jujur saja bingung mau berlindung ke siapa. Kita kan nggak punya lembaga atau badan hukum,” tuturnya.
Pemilik dan pengelola akun Info Ciumbuleuit, Dio Rama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 18:19 WIB

UU ITE dan Ancaman Kebebasan Ekspresi: Menggugat Pelanggaran Asas Lex Certa

Menganalisis pelanggaran asas lex certa dalam UU ITE yang memicu chilling effect dan mengancam kebebasan berekspresi serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 17:02 WIB

Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Puasa itu mengajarkan menahan diri, zakat menyempurnakannya. Ia menumbuhkan kesadaran sosial dan kebahagiaan bagi sesama.
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:33 WIB

Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

Kawasan Pasteur Bandung tumbuh dari pusat riset vaksin kolonial menjadi simpul penting ilmu kesehatan nasional yang jejaknya masih bertahan hingga kini.
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:31 WIB

Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

Didirikan di Bandung pada 1912, Indische Partij menjadi organisasi politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh dari kekuasaan kolonial Belanda.
Logo Indische Partij.
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 15:13 WIB

Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

Di tengah kecemasan, kisah “Nihilist Penguin” bertemu tekanan hidup kota. Dari luka personal lahir Florist Project dan lagu “Cemas”, seni yang tak menggurui, tapi menemani manusia belajar bertahan.
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)
Bandung 03 Feb 2026, 12:52 WIB

Berlari Menjemput Cahaya Pendidikan: Jejak Kebaikan di Balik DH Run 2026

Di balik kemeriahan medali dan garis finis, DH Run 2026 membawa misi sosial yang menyentuh akar kehidupan.
Konferensi pers DH Run 2026 yang membawa misi sosial untuk menyentuh akar kehidupan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 12:43 WIB

Raih Hadiah Jasa Rancage, Aan M.P. Sebut KDM Tidak Senang Bantu Sastrawan Miskin

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa.
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 11:11 WIB

Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Tema ini menjadi ajakan terbuka bagi para penulis Ayo Netizen untuk mengirim tulisan terbaik.
Ayo Netizen Ayobandung.id mengangkat tema "Bandung Raya dan Bulan Puasa: Tradisi, Ekonomi, dan Realita Saat Ini" untuk edisi Februari 2026. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT)
Bandung 03 Feb 2026, 10:58 WIB

Dari Kaki Lima ke Ruko Lantai Tiga: Strategi Awug Cibeunying Bertahan di Tengah Zaman

Rizky turut serta menjaga kualitas dan kuantitas awug supaya tetap terjaga meski pasang-surut perubahan zaman telah dihadapi bersama keluarga besarnya selama membangun bisnis ini.
Kios Awug Cibeunying. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 09:36 WIB

Kian Banyak Tertemper Kereta Api, Perlintasan Sebidang Titik Paling Mematikan

Setelah perlintasan sebidang dibangun jalan layang atau terowongan, ternyata kebijakan daerah sangat lemah.
Perlintasan sebidang di Cimindi yang sangat rawan. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Bandung 03 Feb 2026, 09:19 WIB

Digitalisasi Jejak Karbon: Menakar Teknologi Berkelanjutan dalam Layanan Pelanggan Singapore Airlines

Penumpang dan pelanggan kargo SIA dapat menghitung dan mengimbangi emisi karbon penerbangan mereka, baik sebelum maupun setelah terbang.
Maskapai Singapore Airlines. (Sumber: Singapore Air)
Beranda 03 Feb 2026, 07:12 WIB

Di Antapani, Komunitas Temu Tumbuh Menjadi Tempat Pulang bagi Percakapan yang Jujur

Nilai-nilai dalam kacamata tuntutan masyarakat inilah yang kemudian memantik kecenderungan rasa cemas manusia di masa kini.
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 19:47 WIB

Susah Payah Menjaga Tertib Bahasa Dicengkram Mesin Algoritma

Standar Bahasa Indonesia perlahan tidak lagi dibentuk oleh komunitas diskusi, melainkan oleh mesin berbasis data global.
Ilustrasi bahasa mesin yang menentukan algoritma. (Sumber: Sketsa oleh ChatGPT)