Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

4 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Di tengah gelombang digitalisasi ekonomi, sebuah bangunan besar di Kota Bandung kini menyimpan jejak perubahan yang tak terelakkan. Bandung Trade Mall (BTM), yang dulu menjadi simpul pertemuan antara distributor, pedagang, dan pembeli, perlahan kehilangan perannya sebagai perantara distribusi.

Jika sebelumnya barang harus melewati toko-toko kecil sebelum sampai ke tangan konsumen, kini distributor hingga importir bisa langsung menjual produknya melalui platform digital. Ruang yang dahulu dipenuhi ratusan toko mulai dari busana, kebutuhan pokok, hingga komputer dan aksesori elektronik kini menjadi saksi bagaimana rantai perdagangan dipangkas oleh teknologi, mengubah cara orang membeli sekaligus cara pedagang bertahan.

Di masa jayanya, BTM bukan sekadar tempat belanja. Ia menjadi tujuan para pelajar IT, gamer, teknisi, hingga masyarakat umum yang mencari perangkat dengan harga relatif murah. Orang datang bukan hanya untuk membeli, tetapi untuk membandingkan, bertanya, bahkan merakit impian mereka dari komponen-komponen kecil.

BTM sendiri lahir dari proyek besar pemerintah. Sebelum menjadi mal, kawasan ini merupakan Pasar Cicadas, yang sejak 1983 menampung pedagang relokasi dari Pasar Cikutra. Pada pertengahan 2000-an, Pemerintah Kota Bandung di bawah Wali Kota Dada Rosada melakukan revitalisasi besar-besaran.

Pasar yang sebelumnya dianggap kumuh dibongkar, lalu dibangun kembali menjadi pusat perbelanjaan modern. Konsepnya unik, memadukan pasar tradisional dengan mal. Area semi-basement tetap diisi pedagang pasar, sementara lantai atas difungsikan sebagai pertokoan modern.

BTM kemudian diresmikan pada 13 Mei 2009. Sejak saat itu, ia berkembang menjadi salah satu pusat elektronik yang cukup diperhitungkan di Bandung, sekaligus menjadi tempat perdagangan pakaian. Namun waktu berjalan, dan perubahan tak bisa dihindari.

Di masa itu, alur distribusi masih konvensional. Barang dari distributor turun ke toko-toko kecil, lalu sampai ke konsumen. BTM hidup dari rantai ini, ramai oleh pengunjung yang datang langsung, membandingkan harga dari satu konter ke konter lain hingga perubahan zaman perlahan menggerus fondasi tersebut.

Kevin Budi tetap bertahan di tengah sepinya BTM, mengandalkan servis saat penjualan tak lagi ramai. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Kevin Budi tetap bertahan di tengah sepinya BTM, mengandalkan servis saat penjualan tak lagi ramai. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Di salah satu sudut konter servis laptop, Kevin Budi Tasmono (40) masih bertahan. Sudah sekitar sepuluh tahun ia berjualan di BTM, cukup lama untuk menyaksikan perubahan yang perlahan terjadi.

“Dulu mah rame. Konsumen datang langsung, muter-muter, cari barang. Sekarang mah sudah berkurang jauh. Orang lebih banyak belanja online,” katanya.

Perubahan itu, menurut Kevin, bukan hanya dari kebiasaan pembeli, tetapi juga dari cara barang didistribusikan.

“Sekarang distributor sama importir juga sudah langsung jual online. Jadi toko-toko kecil kayak kita ini kebagian pasarnya makin sedikit. Dulu kan ada tahapannya, sekarang langsung ke konsumen,” ujarnya.

Artinya, fungsi BTM sebagai perantara perdagangan mulai tergerus. Apa yang dulu menjadi keunggulan sebagai akses barang dari distributor kini bisa diakses langsung oleh pembeli lewat platform digital. Pandemi Covid-19 menjadi titik yang mempercepat perubahan itu.

“Corona aja sudah kacau itu semuanya. Setelah itu ya belum balik lagi seperti dulu,” katanya.

Namun Kevin tak berhenti. Ia menyesuaikan diri dengan keadaan.

“Kalau penjualan sepi, servis masih ada. Jadi ya di situ kita bertahan. Kita juga sekarang jualan online, jadi enggak terlalu khawatir,” ujarnya.

Meski begitu, ia menyadari ada hal lain yang perlu diperbaiki.

“Harapannya dibenahi lagi. Sarana-prasarana, penampilan mal-nya sendiri kan memang sudah kurang. Itu juga ngaruh ke orang yang datang,” katanya.

Kesan serupa datang dari pengunjung. Firgiawan Satya Ramadan (23) sudah mengenal BTM sejak SMP. Ia masih datang sesekali untuk mencari komponen komputer.

“Kalau ke sini biasanya cari RAM, monitor, atau spare part komputer. Soalnya di sini bisa lebih murah dan masih bisa ditawar, beda sama mal lain,” katanya.

Namun pengalaman yang ia rasakan sekarang jauh berbeda.

“Sekarang makin memprihatinkan. Saya ke sini melihat, lantai dua itu sudah kayak enggak keurus. Bau ayam, pencahayaan kurang, terus eskalator juga ada yang enggak berfungsi. Jadi agak terganggu juga waktu belanja,” ujarnya.

Meski begitu, ia tetap datang bukan karena nyaman, tetapi karena kebutuhan.

“Ya gimana lagi, di sini barangnya lebih murah. Jadi walaupun suasananya kurang, tetap ke sini,” katanya.

Deretan konter di BTM tampak sepi, Senin, 4 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Deretan konter di BTM tampak sepi, Senin, 4 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Pengunjung lain, Daffa, juga melihat BTM sebagai tempat yang masih punya keunikan tersendiri.

“Kalau ke BTM biasanya buat cari spare part atau barang bekas. Di sini tuh barang bekasnya masih bagus, enggak asal-asalan. Itu yang enggak ada di mal lain,” ujarnya.

Namun ia tak menampik perubahan yang terjadi.

“Sekarang lebih sepi, pedagangnya juga mulai berkurang. Terus pencahayaan juga kurang banget dibanding mal lain,” katanya.

Baginya, BTM masih bisa bangkit asal ada pembenahan.

“Fasilitas harus di-upgrade. Pencahayaan, sirkulasi udara, terus mungkin bisa diadakan event-event biar pengunjung datang lagi,” ujarnya.

Syahdan, yang terjadi di BTM bukan sekadar cerita tentang satu mal yang sepi. Ia adalah gambaran perubahan struktur ekonomi dari perdagangan fisik ke digital, dari interaksi langsung ke transaksi layar. BTM dulu hidup dari keramaian manusia. Kini, banyak transaksi berpindah ke ruang yang tak terlihat.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)