AYOBANDUNG.ID - Di tengah gelombang digitalisasi ekonomi, sebuah bangunan besar di Kota Bandung kini menyimpan jejak perubahan yang tak terelakkan. Bandung Trade Mall (BTM), yang dulu menjadi simpul pertemuan antara distributor, pedagang, dan pembeli, perlahan kehilangan perannya sebagai perantara distribusi.
Jika sebelumnya barang harus melewati toko-toko kecil sebelum sampai ke tangan konsumen, kini distributor hingga importir bisa langsung menjual produknya melalui platform digital. Ruang yang dahulu dipenuhi ratusan toko mulai dari busana, kebutuhan pokok, hingga komputer dan aksesori elektronik kini menjadi saksi bagaimana rantai perdagangan dipangkas oleh teknologi, mengubah cara orang membeli sekaligus cara pedagang bertahan.
Di masa jayanya, BTM bukan sekadar tempat belanja. Ia menjadi tujuan para pelajar IT, gamer, teknisi, hingga masyarakat umum yang mencari perangkat dengan harga relatif murah. Orang datang bukan hanya untuk membeli, tetapi untuk membandingkan, bertanya, bahkan merakit impian mereka dari komponen-komponen kecil.
BTM sendiri lahir dari proyek besar pemerintah. Sebelum menjadi mal, kawasan ini merupakan Pasar Cicadas, yang sejak 1983 menampung pedagang relokasi dari Pasar Cikutra. Pada pertengahan 2000-an, Pemerintah Kota Bandung di bawah Wali Kota Dada Rosada melakukan revitalisasi besar-besaran.
Pasar yang sebelumnya dianggap kumuh dibongkar, lalu dibangun kembali menjadi pusat perbelanjaan modern. Konsepnya unik, memadukan pasar tradisional dengan mal. Area semi-basement tetap diisi pedagang pasar, sementara lantai atas difungsikan sebagai pertokoan modern.
BTM kemudian diresmikan pada 13 Mei 2009. Sejak saat itu, ia berkembang menjadi salah satu pusat elektronik yang cukup diperhitungkan di Bandung, sekaligus menjadi tempat perdagangan pakaian. Namun waktu berjalan, dan perubahan tak bisa dihindari.
Di masa itu, alur distribusi masih konvensional. Barang dari distributor turun ke toko-toko kecil, lalu sampai ke konsumen. BTM hidup dari rantai ini, ramai oleh pengunjung yang datang langsung, membandingkan harga dari satu konter ke konter lain hingga perubahan zaman perlahan menggerus fondasi tersebut.

Di salah satu sudut konter servis laptop, Kevin Budi Tasmono (40) masih bertahan. Sudah sekitar sepuluh tahun ia berjualan di BTM, cukup lama untuk menyaksikan perubahan yang perlahan terjadi.
“Dulu mah rame. Konsumen datang langsung, muter-muter, cari barang. Sekarang mah sudah berkurang jauh. Orang lebih banyak belanja online,” katanya.
Perubahan itu, menurut Kevin, bukan hanya dari kebiasaan pembeli, tetapi juga dari cara barang didistribusikan.
“Sekarang distributor sama importir juga sudah langsung jual online. Jadi toko-toko kecil kayak kita ini kebagian pasarnya makin sedikit. Dulu kan ada tahapannya, sekarang langsung ke konsumen,” ujarnya.
Artinya, fungsi BTM sebagai perantara perdagangan mulai tergerus. Apa yang dulu menjadi keunggulan sebagai akses barang dari distributor kini bisa diakses langsung oleh pembeli lewat platform digital. Pandemi Covid-19 menjadi titik yang mempercepat perubahan itu.
“Corona aja sudah kacau itu semuanya. Setelah itu ya belum balik lagi seperti dulu,” katanya.
Namun Kevin tak berhenti. Ia menyesuaikan diri dengan keadaan.
“Kalau penjualan sepi, servis masih ada. Jadi ya di situ kita bertahan. Kita juga sekarang jualan online, jadi enggak terlalu khawatir,” ujarnya.
Meski begitu, ia menyadari ada hal lain yang perlu diperbaiki.
“Harapannya dibenahi lagi. Sarana-prasarana, penampilan mal-nya sendiri kan memang sudah kurang. Itu juga ngaruh ke orang yang datang,” katanya.
Kesan serupa datang dari pengunjung. Firgiawan Satya Ramadan (23) sudah mengenal BTM sejak SMP. Ia masih datang sesekali untuk mencari komponen komputer.
“Kalau ke sini biasanya cari RAM, monitor, atau spare part komputer. Soalnya di sini bisa lebih murah dan masih bisa ditawar, beda sama mal lain,” katanya.
Namun pengalaman yang ia rasakan sekarang jauh berbeda.
“Sekarang makin memprihatinkan. Saya ke sini melihat, lantai dua itu sudah kayak enggak keurus. Bau ayam, pencahayaan kurang, terus eskalator juga ada yang enggak berfungsi. Jadi agak terganggu juga waktu belanja,” ujarnya.
Meski begitu, ia tetap datang bukan karena nyaman, tetapi karena kebutuhan.
“Ya gimana lagi, di sini barangnya lebih murah. Jadi walaupun suasananya kurang, tetap ke sini,” katanya.

Pengunjung lain, Daffa, juga melihat BTM sebagai tempat yang masih punya keunikan tersendiri.
“Kalau ke BTM biasanya buat cari spare part atau barang bekas. Di sini tuh barang bekasnya masih bagus, enggak asal-asalan. Itu yang enggak ada di mal lain,” ujarnya.
Namun ia tak menampik perubahan yang terjadi.
“Sekarang lebih sepi, pedagangnya juga mulai berkurang. Terus pencahayaan juga kurang banget dibanding mal lain,” katanya.
Baginya, BTM masih bisa bangkit asal ada pembenahan.
“Fasilitas harus di-upgrade. Pencahayaan, sirkulasi udara, terus mungkin bisa diadakan event-event biar pengunjung datang lagi,” ujarnya.
Syahdan, yang terjadi di BTM bukan sekadar cerita tentang satu mal yang sepi. Ia adalah gambaran perubahan struktur ekonomi dari perdagangan fisik ke digital, dari interaksi langsung ke transaksi layar. BTM dulu hidup dari keramaian manusia. Kini, banyak transaksi berpindah ke ruang yang tak terlihat.
