Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Selasa 05 Mei 2026, 10:46 WIB
Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Di tengah gelombang digitalisasi ekonomi, sebuah bangunan besar di Kota Bandung kini menyimpan jejak perubahan yang tak terelakkan. Bandung Trade Mall (BTM), yang dulu menjadi simpul pertemuan antara distributor, pedagang, dan pembeli, perlahan kehilangan perannya sebagai perantara distribusi.

Jika sebelumnya barang harus melewati toko-toko kecil sebelum sampai ke tangan konsumen, kini distributor hingga importir bisa langsung menjual produknya melalui platform digital. Ruang yang dahulu dipenuhi ratusan toko mulai dari busana, kebutuhan pokok, hingga komputer dan aksesori elektronik kini menjadi saksi bagaimana rantai perdagangan dipangkas oleh teknologi, mengubah cara orang membeli sekaligus cara pedagang bertahan.

Di masa jayanya, BTM bukan sekadar tempat belanja. Ia menjadi tujuan para pelajar IT, gamer, teknisi, hingga masyarakat umum yang mencari perangkat dengan harga relatif murah. Orang datang bukan hanya untuk membeli, tetapi untuk membandingkan, bertanya, bahkan merakit impian mereka dari komponen-komponen kecil.

BTM sendiri lahir dari proyek besar pemerintah. Sebelum menjadi mal, kawasan ini merupakan Pasar Cicadas, yang sejak 1983 menampung pedagang relokasi dari Pasar Cikutra. Pada pertengahan 2000-an, Pemerintah Kota Bandung di bawah Wali Kota Dada Rosada melakukan revitalisasi besar-besaran.

Pasar yang sebelumnya dianggap kumuh dibongkar, lalu dibangun kembali menjadi pusat perbelanjaan modern. Konsepnya unik, memadukan pasar tradisional dengan mal. Area semi-basement tetap diisi pedagang pasar, sementara lantai atas difungsikan sebagai pertokoan modern.

BTM kemudian diresmikan pada 13 Mei 2009. Sejak saat itu, ia berkembang menjadi salah satu pusat elektronik yang cukup diperhitungkan di Bandung, sekaligus menjadi tempat perdagangan pakaian. Namun waktu berjalan, dan perubahan tak bisa dihindari.

Di masa itu, alur distribusi masih konvensional. Barang dari distributor turun ke toko-toko kecil, lalu sampai ke konsumen. BTM hidup dari rantai ini, ramai oleh pengunjung yang datang langsung, membandingkan harga dari satu konter ke konter lain hingga perubahan zaman perlahan menggerus fondasi tersebut.

Kevin Budi tetap bertahan di tengah sepinya BTM, mengandalkan servis saat penjualan tak lagi ramai. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Kevin Budi tetap bertahan di tengah sepinya BTM, mengandalkan servis saat penjualan tak lagi ramai. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Di salah satu sudut konter servis laptop, Kevin Budi Tasmono (40) masih bertahan. Sudah sekitar sepuluh tahun ia berjualan di BTM, cukup lama untuk menyaksikan perubahan yang perlahan terjadi.

“Dulu mah rame. Konsumen datang langsung, muter-muter, cari barang. Sekarang mah sudah berkurang jauh. Orang lebih banyak belanja online,” katanya.

Perubahan itu, menurut Kevin, bukan hanya dari kebiasaan pembeli, tetapi juga dari cara barang didistribusikan.

“Sekarang distributor sama importir juga sudah langsung jual online. Jadi toko-toko kecil kayak kita ini kebagian pasarnya makin sedikit. Dulu kan ada tahapannya, sekarang langsung ke konsumen,” ujarnya.

Artinya, fungsi BTM sebagai perantara perdagangan mulai tergerus. Apa yang dulu menjadi keunggulan sebagai akses barang dari distributor kini bisa diakses langsung oleh pembeli lewat platform digital. Pandemi Covid-19 menjadi titik yang mempercepat perubahan itu.

“Corona aja sudah kacau itu semuanya. Setelah itu ya belum balik lagi seperti dulu,” katanya.

Namun Kevin tak berhenti. Ia menyesuaikan diri dengan keadaan.

“Kalau penjualan sepi, servis masih ada. Jadi ya di situ kita bertahan. Kita juga sekarang jualan online, jadi enggak terlalu khawatir,” ujarnya.

Meski begitu, ia menyadari ada hal lain yang perlu diperbaiki.

“Harapannya dibenahi lagi. Sarana-prasarana, penampilan mal-nya sendiri kan memang sudah kurang. Itu juga ngaruh ke orang yang datang,” katanya.

Kesan serupa datang dari pengunjung. Firgiawan Satya Ramadan (23) sudah mengenal BTM sejak SMP. Ia masih datang sesekali untuk mencari komponen komputer.

“Kalau ke sini biasanya cari RAM, monitor, atau spare part komputer. Soalnya di sini bisa lebih murah dan masih bisa ditawar, beda sama mal lain,” katanya.

Namun pengalaman yang ia rasakan sekarang jauh berbeda.

“Sekarang makin memprihatinkan. Saya ke sini melihat, lantai dua itu sudah kayak enggak keurus. Bau ayam, pencahayaan kurang, terus eskalator juga ada yang enggak berfungsi. Jadi agak terganggu juga waktu belanja,” ujarnya.

Meski begitu, ia tetap datang bukan karena nyaman, tetapi karena kebutuhan.

“Ya gimana lagi, di sini barangnya lebih murah. Jadi walaupun suasananya kurang, tetap ke sini,” katanya.

Deretan konter di BTM tampak sepi, Senin, 4 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Deretan konter di BTM tampak sepi, Senin, 4 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Pengunjung lain, Daffa, juga melihat BTM sebagai tempat yang masih punya keunikan tersendiri.

“Kalau ke BTM biasanya buat cari spare part atau barang bekas. Di sini tuh barang bekasnya masih bagus, enggak asal-asalan. Itu yang enggak ada di mal lain,” ujarnya.

Namun ia tak menampik perubahan yang terjadi.

“Sekarang lebih sepi, pedagangnya juga mulai berkurang. Terus pencahayaan juga kurang banget dibanding mal lain,” katanya.

Baginya, BTM masih bisa bangkit asal ada pembenahan.

“Fasilitas harus di-upgrade. Pencahayaan, sirkulasi udara, terus mungkin bisa diadakan event-event biar pengunjung datang lagi,” ujarnya.

Syahdan, yang terjadi di BTM bukan sekadar cerita tentang satu mal yang sepi. Ia adalah gambaran perubahan struktur ekonomi dari perdagangan fisik ke digital, dari interaksi langsung ke transaksi layar. BTM dulu hidup dari keramaian manusia. Kini, banyak transaksi berpindah ke ruang yang tak terlihat.

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)