Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Encep Dulwahab
Ditulis oleh Encep Dulwahab diterbitkan Selasa 05 Mei 2026, 09:25 WIB
Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM đŸ’„ Photography)

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM đŸ’„ Photography)

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. Kesalahan pada olah kata di hadapan publik, yang akhirnya menjadi polemik dan mengundang kekisruhan. Reputasi lembaga, pemerintah, dan pribadi pun menjadi tercoreng. 

Sejarah mencatat banyak bukti bagaimana lisan yang terlontar tanpa pertimbangan matang bisa menjatuhkan jabatan seseorang, tidak peduli betapa tinggi jabatannya. Di Amerika Serikat, dalam acara penggalangan dana untuk kalangan terbatas, bakal calon presiden Mitt Romney membuat pernyataan yang membuatnya jatuh, bahwa hampir separuh warga Amerika adalah kelompok yang bergantung pada negara, dan tidak akan pernah mendukungnya. Pernyataannya ada yang merekam kemudian tersebar luas. Citra Romney pun hancur, dan ia akhirnya kalah oleh Barack Obama dalam pemilihan umum.

Kisah serupa juga terjadi di Inggris. Kwasi Kwarteng, Menteri Keuangan di bawah Perdana Menteri Liz Truss, yang mengumumkan kebijakan fiskal berupa pemangkasan pajak besar-besaran tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan lembaga pengawas anggaran yang independen. Kesalahan berikutnya ialah cara penyampaian kebijakan yang arogan, dan dianggap tidak transparansi kemudian memicu guncangan di pasar keuangan, disusul dengan merosotnya nilai poundsterling dan tekanan politik, yang memaksa Perdana Menteri Truss mengundurkan diri hanya setelah 45 hari dilantik. Ini merupakan PM yang menjabat terpendek dalam sejarah pejabat-pejabat di Inggris.

Tentu masih banyak kasus lain terjadi dengan latar belakang kesalahan dalam berkomunikasi yang dilakukan publik figur. Setidaknya ada tiga akar persoalan para pejabat yang salah dalam berkomunikasi. Pertama, ilusi impunitas kekuasaan. Keith Grint (2005) menjelaskan bahwa kekuasaan kerap menumbuhkan keyakinan palsu, dan ada pejabat yang merasakan kalau kata-kata sang penguasa tidak akan pernah dipersoalkan oleh publik. Selain itu, seringkali juga para pejabat merasa kalau kata-katanya adalah sakti, maka tidak akan ada yang berani menentangnya. Inilah kekeliruan yang bisa berakibat fatal untuk para pejabat. 

James Carey memperkuat argumen ini, bahwa komunikasi jauh melampaui sekadar pengiriman pesan dari satu pihak ke pihak lain. Komunikasi yang dilakukan para pejabat adalah sebuah ritual pembentukan realitas yang terus berlangsung. Ketika seorang pejabat berbicara, bahkan dalam forum yang dianggap tidak resmi sekalipun, tanda disadari pejabat tersebut sedang membentuk persepsi publik tentang dirinya, dan institusi yang diwakili nya.

Kedua, defisit empati dalam berkomunikasi. Carl Rogers (1961) menegaskan bahwa komunikasi yang sungguh-sungguh efektif dibutuhkan kemampuan untuk merasakan dan memahami kondisi situasi orang lain. Pejabat yang berbicara tanpa benar-benar memahami konteks masyarakat yang mendengarnya, hampir pasti tidak akan diterima dengan baik pesan-pesan yang disampaikannya. Tanpa empati terhadap apa yang dirasakan publik, maka komunikasi pun hanya akan menjadi satu arah dari kekuasaan semata, tanpa ada respon yang positif dari publik. 

Pejabat dan publik figur adalah sebagai pemegang mandat publik, yang dituntut benar-benar peka terhadap perasaan masyarakatnya. Setiap kata yang terucap, setiap gestur yang ditampilkan, setiap kebijakan yang diumumkan, tidak lagi urusan pribadi, semuanya menjadi milik dan berdampak pada publik. Untuk seorang publik, pesan harus berasal dari kondisi objektif publik.  

Ketiga, kegagalan dalam membaca ekologi media baru. Media sosial telah mengubah cara pesan yang menyebar ke segala arah secara serentak dan tidak terkendali. Berbeda dengan era konvensional yang pesan itu menyebar satu arah, dari media ke khalayak. Di era digital, rekam jejak itu tersimpan tanpa batas waktu, dan hampir mustahil untuk dihapus dengan mudah. Di era digital juga betapa mudahnya sesuatu itu viral, dan menjadi gerakan massif untuk sebuah perlawanan atau pembelaan. Ada prinsip di masyarakat, kalau perubahan akan terjadi jika sudah viral.  

Menurut Vosoughi dan kawan kawan (2018) bahwa konten yang membangkitkan reaksi emosional kuat, terutama kemarahan, keterkejutan, dan rasa jijik, akan menyebar jauh lebih cepat dibandingkan informasi yang bersifat netral atau positif. Ini berarti pernyataan pejabat yang terasa meremehkan, arogan, atau tidak berempati memiliki potensi viral yang jauh lebih besar daripada pernyataan yang bijak dan penuh pengertian.

Publik kini lebih berani dan kritis, lebih terhubung satu sama lain, dan lebih vokal dari sebelumnya, maka publik akan menghakimi keduanya. Beberapa pejabat yang salah ucap, salah merespon keresahan dan masalah publik, dan salah melontarkan gagasan, langsung menjadi bulan-bulanan di bully di jagat maya.

Sekarang ini adalah era di mana setiap kata menjadi arsip dan catatan sejarah, maka berhati-hatilah dalam merespon fenomena yang terjadi di tengah masyarakat. Kata-kata akan menjadi bukti dan saksi nyata di kemudian hari. Berbicaralah seolah-olah seluruh dunia mendengarkan. Berhati-hati karena jabatan adalah ibarat sebuah panggung, yang tidak pernah sepi dari para penonton. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Encep Dulwahab
Dosen Ilmu Komunikasi UIN Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)