Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

4 menit baca
Encep Dulwahab
Ditulis oleh Encep Dulwahab diterbitkan
Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. Kesalahan pada olah kata di hadapan publik, yang akhirnya menjadi polemik dan mengundang kekisruhan. Reputasi lembaga, pemerintah, dan pribadi pun menjadi tercoreng. 

Sejarah mencatat banyak bukti bagaimana lisan yang terlontar tanpa pertimbangan matang bisa menjatuhkan jabatan seseorang, tidak peduli betapa tinggi jabatannya. Di Amerika Serikat, dalam acara penggalangan dana untuk kalangan terbatas, bakal calon presiden Mitt Romney membuat pernyataan yang membuatnya jatuh, bahwa hampir separuh warga Amerika adalah kelompok yang bergantung pada negara, dan tidak akan pernah mendukungnya. Pernyataannya ada yang merekam kemudian tersebar luas. Citra Romney pun hancur, dan ia akhirnya kalah oleh Barack Obama dalam pemilihan umum.

Kisah serupa juga terjadi di Inggris. Kwasi Kwarteng, Menteri Keuangan di bawah Perdana Menteri Liz Truss, yang mengumumkan kebijakan fiskal berupa pemangkasan pajak besar-besaran tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan lembaga pengawas anggaran yang independen. Kesalahan berikutnya ialah cara penyampaian kebijakan yang arogan, dan dianggap tidak transparansi kemudian memicu guncangan di pasar keuangan, disusul dengan merosotnya nilai poundsterling dan tekanan politik, yang memaksa Perdana Menteri Truss mengundurkan diri hanya setelah 45 hari dilantik. Ini merupakan PM yang menjabat terpendek dalam sejarah pejabat-pejabat di Inggris.

Tentu masih banyak kasus lain terjadi dengan latar belakang kesalahan dalam berkomunikasi yang dilakukan publik figur. Setidaknya ada tiga akar persoalan para pejabat yang salah dalam berkomunikasi. Pertama, ilusi impunitas kekuasaan. Keith Grint (2005) menjelaskan bahwa kekuasaan kerap menumbuhkan keyakinan palsu, dan ada pejabat yang merasakan kalau kata-kata sang penguasa tidak akan pernah dipersoalkan oleh publik. Selain itu, seringkali juga para pejabat merasa kalau kata-katanya adalah sakti, maka tidak akan ada yang berani menentangnya. Inilah kekeliruan yang bisa berakibat fatal untuk para pejabat. 

James Carey memperkuat argumen ini, bahwa komunikasi jauh melampaui sekadar pengiriman pesan dari satu pihak ke pihak lain. Komunikasi yang dilakukan para pejabat adalah sebuah ritual pembentukan realitas yang terus berlangsung. Ketika seorang pejabat berbicara, bahkan dalam forum yang dianggap tidak resmi sekalipun, tanda disadari pejabat tersebut sedang membentuk persepsi publik tentang dirinya, dan institusi yang diwakili nya.

Kedua, defisit empati dalam berkomunikasi. Carl Rogers (1961) menegaskan bahwa komunikasi yang sungguh-sungguh efektif dibutuhkan kemampuan untuk merasakan dan memahami kondisi situasi orang lain. Pejabat yang berbicara tanpa benar-benar memahami konteks masyarakat yang mendengarnya, hampir pasti tidak akan diterima dengan baik pesan-pesan yang disampaikannya. Tanpa empati terhadap apa yang dirasakan publik, maka komunikasi pun hanya akan menjadi satu arah dari kekuasaan semata, tanpa ada respon yang positif dari publik. 

Pejabat dan publik figur adalah sebagai pemegang mandat publik, yang dituntut benar-benar peka terhadap perasaan masyarakatnya. Setiap kata yang terucap, setiap gestur yang ditampilkan, setiap kebijakan yang diumumkan, tidak lagi urusan pribadi, semuanya menjadi milik dan berdampak pada publik. Untuk seorang publik, pesan harus berasal dari kondisi objektif publik.  

Ketiga, kegagalan dalam membaca ekologi media baru. Media sosial telah mengubah cara pesan yang menyebar ke segala arah secara serentak dan tidak terkendali. Berbeda dengan era konvensional yang pesan itu menyebar satu arah, dari media ke khalayak. Di era digital, rekam jejak itu tersimpan tanpa batas waktu, dan hampir mustahil untuk dihapus dengan mudah. Di era digital juga betapa mudahnya sesuatu itu viral, dan menjadi gerakan massif untuk sebuah perlawanan atau pembelaan. Ada prinsip di masyarakat, kalau perubahan akan terjadi jika sudah viral.  

Menurut Vosoughi dan kawan kawan (2018) bahwa konten yang membangkitkan reaksi emosional kuat, terutama kemarahan, keterkejutan, dan rasa jijik, akan menyebar jauh lebih cepat dibandingkan informasi yang bersifat netral atau positif. Ini berarti pernyataan pejabat yang terasa meremehkan, arogan, atau tidak berempati memiliki potensi viral yang jauh lebih besar daripada pernyataan yang bijak dan penuh pengertian.

Publik kini lebih berani dan kritis, lebih terhubung satu sama lain, dan lebih vokal dari sebelumnya, maka publik akan menghakimi keduanya. Beberapa pejabat yang salah ucap, salah merespon keresahan dan masalah publik, dan salah melontarkan gagasan, langsung menjadi bulan-bulanan di bully di jagat maya.

Sekarang ini adalah era di mana setiap kata menjadi arsip dan catatan sejarah, maka berhati-hatilah dalam merespon fenomena yang terjadi di tengah masyarakat. Kata-kata akan menjadi bukti dan saksi nyata di kemudian hari. Berbicaralah seolah-olah seluruh dunia mendengarkan. Berhati-hati karena jabatan adalah ibarat sebuah panggung, yang tidak pernah sepi dari para penonton. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Encep Dulwahab
Tentang Encep Dulwahab
Dosen Ilmu Komunikasi UIN Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)