Hari Pendidikan Nasional 2026: Akses, Mutu, Relevansi, dan Efisiensi di Tengah Wacana Penataan Program Studi

3 menit baca
Pepen Supendi
Ditulis oleh Pepen Supendi diterbitkan
Untuk menciptakan pendidikan yang bermutu, kita dihadapkan pada sederet tantangan. (Sumber: Pexels/muallim nur)
Untuk menciptakan pendidikan yang bermutu, kita dihadapkan pada sederet tantangan. (Sumber: Pexels/muallim nur)

Peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei selalu mengajak kita kembali pada esensi pendidikan, memerdekakan manusia, sebagaimana diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara. Namun, dalam konteks kekinian, refleksi itu menjadi semakin penting ketika pemerintah mulai menggulirkan wacana penataan - bahkan penutupan - sejumlah program studi di lingkungan perguruan tinggi.

Kebijakan ini tidak hadir dalam ruang hampa. Ia berangkat dari realitas pendidikan tinggi di Indonesia yang menghadapi tiga persoalan mendasar diantaranya, yaitu: akses, mutu dan relevansi. Ketiganya menjadi lensa penting untuk memahami arah kebijakan tersebut.

Selama ini, perluasan akses pendidikan tinggi telah berjalan cukup masif. Jumlah perguruan tinggi dan program studi meningkat signifikan, membuka peluang lebih luas bagi masyarakat untuk melanjutkan studi. Secara kuantitatif, ini adalah capaian penting. Namun, tidak semua program studi tumbuh dengan kualitas yang memadai. Sebagian menghadapi keterbatasan dosen, minimnya fasilitas, hingga rendahnya output lulusan.

Di titik ini, akses yang tidak diimbangi mutu justru berpotensi melahirkan ketertinggalan baru. Mahasiswa memang masuk ke perguruan tinggi, tetapi tidak semua memperoleh pengalaman belajar yang berkualitas. Lulusan pun menghadapi tantangan daya saing yang rendah. Dalam perspektif ini, penataan program studi termasuk opsi penutupan dapat dipahami sebagai upaya menjaga standar mutu pendidikan tinggi.

Namun demikian, mutu saja tidak cukup. Tantangan berikutnya adalah relevansi. Tidak sedikit program studi yang secara administratif memenuhi standar, tetapi tidak lagi sejalan dengan kebutuhan zaman. Perubahan dunia kerja yang cepat, disrupsi teknologi, serta pergeseran kebutuhan industri menuntut pendidikan tinggi untuk adaptif. Program studi yang tidak mampu menyesuaikan diri berisiko menghasilkan lulusan yang tidak siap menghadapi realitas.

Di sinilah muncul persoalan kedua, mutu tanpa relevansi menghasilkan ketidaksiapan. Penutupan program studi, jika hanya didasarkan pada indikator administratif tanpa mempertimbangkan relevansi kontekstual, justru bisa menghilangkan ruang-ruang penting dalam pengembangan keilmuan tertentu. Sebaliknya, mempertahankan program studi yang tidak relevan juga akan memperpanjang masalah mismatch antara pendidikan dan dunia kerja.

Anak sekolah di Indonesia. (Sumber: indonesia.go.id)
Anak sekolah di Indonesia. (Sumber: indonesia.go.id)

Aspek ketiga yang tak kalah penting adalah efisiensi. Banyaknya program studi dengan jumlah mahasiswa yang sangat sedikit, tata kelola yang tidak optimal, serta duplikasi bidang kajian di berbagai perguruan tinggi menimbulkan inefisiensi sistemik. Dalam jangka panjang, kondisi ini membebani sumber daya negara dan institusi pendidikan.

Relevansi tanpa efisiensi akan sulit berkelanjutan. Program studi yang sebenarnya penting dan dibutuhkan bisa menjadi tidak bertahan karena tidak dikelola secara efisien. Oleh karena itu, penataan program studi juga harus dilihat sebagai bagian dari upaya memperbaiki tata kelola pendidikan tinggi agar lebih efektif dan berdaya saing.

Kebijakan penutupan program studi perlu dilakukan secara hati-hati dan berbasis data yang komprehensif. Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian. Pertama, jangan sampai kebijakan ini justru mempersempit akses pendidikan, terutama bagi masyarakat di daerah yang pilihannya terbatas. Kedua, perlu ada mekanisme transisi yang jelas bagi mahasiswa yang sedang menempuh studi. Ketiga, pemerintah harus memastikan bahwa penataan ini diikuti dengan penguatan program studi yang relevan dan berkualitas.

Kondisi objektif pendidikan Indonesia hari ini menunjukkan bahwa tantangan kita bukan sekadar memperbanyak atau mengurangi jumlah program studi, tetapi bagaimana memastikan bahwa setiap program studi benar-benar memberikan nilai tambah. Pendidikan tinggi harus mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga adaptif, kreatif, dan siap menghadapi perubahan.

Momentum Hardiknas 2026 seharusnya menjadi ruang refleksi kolektif. Penataan program studi, termasuk wacana penutupan, seharusnya tidak dipahami sebagai langkah mundur, tetapi sebagai bagian dari upaya menyeimbangkan antara akses, mutu, relevansi, dan efisiensi. Namun, keseimbangan itu hanya dapat dicapai jika kebijakan dilakukan secara transparan, akuntabel, dan berpihak pada kepentingan jangka panjang bangsa.

Pendidikan bukan sekadar soal jumlah berapa banyak sekolah, mahasiswa, atau program studi, melainkan tentang kualitas dampak yang dihasilkan. Jika akses diperluas tanpa mutu, kita menciptakan ketertinggalan baru. Jika mutu ditingkatkan tanpa relevansi, kita menghasilkan lulusan yang tidak siap. Jika relevansi tidak didukung efisiensi, maka semua upaya baik akan sulit bertahan.

Di titik inilah kita diingatkan kembali bahwa pendidikan adalah investasi peradaban. Setiap kebijakan, termasuk penataan program studi, harus diarahkan untuk memastikan bahwa investasi itu benar-benar menghasilkan manusia Indonesia yang unggul, berdaya, dan siap menghadapi masa depan. Wallahu’alam. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)