Hari Pendidikan Nasional 2026: Akses, Mutu, Relevansi, dan Efisiensi di Tengah Wacana Penataan Program Studi

Pepen Supendi
Ditulis oleh Pepen Supendi diterbitkan Minggu 03 Mei 2026, 14:25 WIB
Untuk menciptakan pendidikan yang bermutu, kita dihadapkan pada sederet tantangan. (Sumber: Pexels/muallim nur)

Untuk menciptakan pendidikan yang bermutu, kita dihadapkan pada sederet tantangan. (Sumber: Pexels/muallim nur)

Peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei selalu mengajak kita kembali pada esensi pendidikan, memerdekakan manusia, sebagaimana diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara. Namun, dalam konteks kekinian, refleksi itu menjadi semakin penting ketika pemerintah mulai menggulirkan wacana penataan - bahkan penutupan - sejumlah program studi di lingkungan perguruan tinggi.

Kebijakan ini tidak hadir dalam ruang hampa. Ia berangkat dari realitas pendidikan tinggi di Indonesia yang menghadapi tiga persoalan mendasar diantaranya, yaitu: akses, mutu dan relevansi. Ketiganya menjadi lensa penting untuk memahami arah kebijakan tersebut.

Selama ini, perluasan akses pendidikan tinggi telah berjalan cukup masif. Jumlah perguruan tinggi dan program studi meningkat signifikan, membuka peluang lebih luas bagi masyarakat untuk melanjutkan studi. Secara kuantitatif, ini adalah capaian penting. Namun, tidak semua program studi tumbuh dengan kualitas yang memadai. Sebagian menghadapi keterbatasan dosen, minimnya fasilitas, hingga rendahnya output lulusan.

Di titik ini, akses yang tidak diimbangi mutu justru berpotensi melahirkan ketertinggalan baru. Mahasiswa memang masuk ke perguruan tinggi, tetapi tidak semua memperoleh pengalaman belajar yang berkualitas. Lulusan pun menghadapi tantangan daya saing yang rendah. Dalam perspektif ini, penataan program studi termasuk opsi penutupan dapat dipahami sebagai upaya menjaga standar mutu pendidikan tinggi.

Namun demikian, mutu saja tidak cukup. Tantangan berikutnya adalah relevansi. Tidak sedikit program studi yang secara administratif memenuhi standar, tetapi tidak lagi sejalan dengan kebutuhan zaman. Perubahan dunia kerja yang cepat, disrupsi teknologi, serta pergeseran kebutuhan industri menuntut pendidikan tinggi untuk adaptif. Program studi yang tidak mampu menyesuaikan diri berisiko menghasilkan lulusan yang tidak siap menghadapi realitas.

Di sinilah muncul persoalan kedua, mutu tanpa relevansi menghasilkan ketidaksiapan. Penutupan program studi, jika hanya didasarkan pada indikator administratif tanpa mempertimbangkan relevansi kontekstual, justru bisa menghilangkan ruang-ruang penting dalam pengembangan keilmuan tertentu. Sebaliknya, mempertahankan program studi yang tidak relevan juga akan memperpanjang masalah mismatch antara pendidikan dan dunia kerja.

Anak sekolah di Indonesia. (Sumber: indonesia.go.id)
Anak sekolah di Indonesia. (Sumber: indonesia.go.id)

Aspek ketiga yang tak kalah penting adalah efisiensi. Banyaknya program studi dengan jumlah mahasiswa yang sangat sedikit, tata kelola yang tidak optimal, serta duplikasi bidang kajian di berbagai perguruan tinggi menimbulkan inefisiensi sistemik. Dalam jangka panjang, kondisi ini membebani sumber daya negara dan institusi pendidikan.

Relevansi tanpa efisiensi akan sulit berkelanjutan. Program studi yang sebenarnya penting dan dibutuhkan bisa menjadi tidak bertahan karena tidak dikelola secara efisien. Oleh karena itu, penataan program studi juga harus dilihat sebagai bagian dari upaya memperbaiki tata kelola pendidikan tinggi agar lebih efektif dan berdaya saing.

Kebijakan penutupan program studi perlu dilakukan secara hati-hati dan berbasis data yang komprehensif. Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian. Pertama, jangan sampai kebijakan ini justru mempersempit akses pendidikan, terutama bagi masyarakat di daerah yang pilihannya terbatas. Kedua, perlu ada mekanisme transisi yang jelas bagi mahasiswa yang sedang menempuh studi. Ketiga, pemerintah harus memastikan bahwa penataan ini diikuti dengan penguatan program studi yang relevan dan berkualitas.

Kondisi objektif pendidikan Indonesia hari ini menunjukkan bahwa tantangan kita bukan sekadar memperbanyak atau mengurangi jumlah program studi, tetapi bagaimana memastikan bahwa setiap program studi benar-benar memberikan nilai tambah. Pendidikan tinggi harus mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga adaptif, kreatif, dan siap menghadapi perubahan.

Momentum Hardiknas 2026 seharusnya menjadi ruang refleksi kolektif. Penataan program studi, termasuk wacana penutupan, seharusnya tidak dipahami sebagai langkah mundur, tetapi sebagai bagian dari upaya menyeimbangkan antara akses, mutu, relevansi, dan efisiensi. Namun, keseimbangan itu hanya dapat dicapai jika kebijakan dilakukan secara transparan, akuntabel, dan berpihak pada kepentingan jangka panjang bangsa.

Pendidikan bukan sekadar soal jumlah berapa banyak sekolah, mahasiswa, atau program studi, melainkan tentang kualitas dampak yang dihasilkan. Jika akses diperluas tanpa mutu, kita menciptakan ketertinggalan baru. Jika mutu ditingkatkan tanpa relevansi, kita menghasilkan lulusan yang tidak siap. Jika relevansi tidak didukung efisiensi, maka semua upaya baik akan sulit bertahan.

Di titik inilah kita diingatkan kembali bahwa pendidikan adalah investasi peradaban. Setiap kebijakan, termasuk penataan program studi, harus diarahkan untuk memastikan bahwa investasi itu benar-benar menghasilkan manusia Indonesia yang unggul, berdaya, dan siap menghadapi masa depan. Wallahu’alam. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pepen Supendi
Tentang Pepen Supendi
Pepen Supendi, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Mei 2026, 14:25

Hari Pendidikan Nasional 2026: Akses, Mutu, Relevansi, dan Efisiensi di Tengah Wacana Penataan Program Studi

Pendidikan adalah investasi peradaban. Setiap kebijakan, harus diarahkan untuk memastikan bahwa investasi itu benar-benar menghasilkan manusia yang unggul, berdaya, dan siap menghadapi masa depan.

Untuk menciptakan pendidikan yang bermutu, kita dihadapkan pada sederet tantangan. (Sumber: Pexels/muallim nur)
Wisata & Kuliner 03 Mei 2026, 11:58

Kebun Teh Ciater, Wisata Hijau dengan Sejarah Panjang di di Kaki Gunung Tangkuban Parahu

Dari eksploitasi kolonial hingga wisata populer, Kebun Teh Ciater menyuguhkan sejarah dan panorama alam yang menenangkan.

Kebun Teh Ciater, Subang. (Sumber: subang.go.id)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 09:36

Hardiknas 2026: Partisipasi Semesta Tanpa Fondasi Kuat Berisiko Jadi Semu

Partisipasi semesta dalam pendidikan tinggi menghadapi tantangan kualitas, relevansi prodi, dan kesejahteraan dosen, sehingga perlu penguatan kebijakan berbasis data dan kolaborasi.

Potret Ki Hadjar Dewantara yang dianugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 03 Mei 2026, 09:12

Mereka Tak Melihat Dunia, Tapi Dunia Perlu Melihat Mereka

Kisah pelajar difabel di SLB ABCD Caringin yang belajar mandiri, menghadapi keterbatasan, dan menunjukkan bahwa mereka mampu berkarya serta layak mendapat perhatian dan kesempatan setara.

Fathur Rohman M. Farel dan Aulia Ramadhani, siswa SLB ABCD Caringin, menjalani proses belajar dengan cara masing-masing. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 08:37

Renjana: Hidup yang Tertunda di Bandung

Bandung bukan sekadar tempat hidup, tetapi ruang bertahan. Melalui Renjana, tulisan ini membaca kesabaran, kerja, dan pengorbanan sebagai hidup yang terus tertunda.

Gitar disebuah taman kecil. (Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 07:12

Buruh, Kerja, dan Ibadah

Saatnya menempatkan empat falsafah kerja: ikhlas, cerdas, keras, dan tuntas.

Aksi Hari Buruh di Dago Diwarnai Pembakaran Water Barrier (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 02 Mei 2026, 18:34

Langkah Panjang Tatang Bangun SLB ABCD Caringin bagi Anak Difabel di Bandung

Kisah Tatang, pendiri SLB ABCD Caringin, yang berjuang membangun sekolah difabel dari rumah demi membuka akses pendidikan inklusif di Bandung.

Tatang, pendiri SLB ABCD Caringin, mendedikasikan hidupnya untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak difabel di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 02 Mei 2026, 18:34

Ketika Api Menjadi Guru: Pelajaran Bertahan Hidup Mengatasi Kebakaran Tanpa Panik

Kunjungan edukatif yang mengajak peserta masuk lebih dalam ke dunia para penjaga garis terdepan dari ancaman api.

Acara "Siaga Rumah Aman 2026" pada 2 Mei 2026, di Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 02 Mei 2026, 12:47

Di Tengah Riuh Stasiun Bandung, Musisi Tunanetra Menemukan Irama Kehidupan

Di tengah hiruk-pikuk Stasiun Bandung, musisi tunanetra menghadirkan harmoni yang tak hanya menghibur, tetapi juga menjadi cara mereka bertahan, berkarya, dan menantang stigma.

Virly Aulyvia, Rendra Jaya Ambara, dan Martin Aflatun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wisata & Kuliner 02 Mei 2026, 12:01

Panduan Wisata Pantai Ujung Genteng Sukabumi: Estimasi Biaya, Penginapan dan Spot Pilihan

Panduan lengkap Ujung Genteng Sukabumi mulai dari rute perjalanan, biaya tiket, penginapan, hingga pantai terbaik dan konservasi penyu.

Pantai Tenda Biru Ujung Genteng Sukabumi. (Sumber: Ayomedia)
Beranda 01 Mei 2026, 20:54

Terima Kasih Kawan! Jalan Masih Panjang

Hari ini 1 Mei 2026, ayobandung.id tepat berusia satu tahun. Ini adalah catatan reflektif.

ayobandung.id mensyukuri perjalanan 1 tahun. (Sumber: Unsplash | Foto: Marcel Eberle)
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 20:01

Potret Buruh Perempuan di Bandung: Independent Woman atau Tuntutan Kapitalisme?

Independent women acap kali lahir dari kesadaran seorang perempuan untuk berdikari sebagai manusia. Tapi apakah buruh perempuan juga lahir dari itu atau menjelma dari sistem kapitalis?

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 01 Mei 2026, 18:04

Jangan Anggap Sepele, Kelalaian Kecil di Rumah Bisa Picu Kebakaran Besar

Kelalaian kecil di rumah seperti listrik dan gas bisa memicu kebakaran besar. Simak langkah sederhana untuk mencegah dan melindungi diri serta keluarga dari risiko kebakaran.

Petugas Damkar Kota Bandung melakukan pendinginan usai kebakaran kios barang bekas di Jalan Soekarno-Hatta, Kamis (26/3/2026) dini hari yang menghanguskan belasan bangunan tanpa korban jiwa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 01 Mei 2026, 15:40

Jelajah Taman Cimanuk, Ruang Publik Bersejarah di Pusat Indramayu

Jelajahi Taman Cimanuk Indramayu dengan panduan lengkap mencakup sejarah pelabuhan, fasilitas taman, serta aktivitas santai di ruang publik kota.

Taman Cimanuk, Indramayu.
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 14:58

Di Kampung Beledug, Pernah Terdengar Ledakan dari Dalam Bumi

Dalam bahasa Sunda (RA Danadibrata, 2015), lema beledug dapat berarti suara guludug atau petir di langit, atau suara letusan di kejauhan.

Peta daerah Cintapada dan Maja tahun 1914-1916. (Sumber: Peta koleksi KITLV)
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 12:40

Membaca May Day, sebagai Proses Komunikasi

Hari Buruh Internasional 1 Mei 2026 dimaknai sebagai arena komunikasi publik, tempat buruh merebut ruang sosial, membentuk agenda, dan menegosiasikan kuasa di era digital.

Sejumlah buruh perempuan melakukan aksi peringatan Hari Perempuan Internasional di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Kamis (8/3/2018). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 10:40

Refleksi Awal Bulan Mei: Belajar dari Perilaku Binatang

Mungkinkah kita belajar dari perilaku binatang?

Boli dan Cimol berbagi tempat dan pengasuhan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kurniawan Abuwijdan)
Beranda 01 Mei 2026, 04:20

Potret Kehidupan Warga Usia Senja di Kecamatan dengan Jumlah Lansia Terbanyak di Kota Bandung

Potret keseharian warga lanjut usia di kecamatan dengan jumlah lansia terbanyak di Kota Bandung, menghadapi tantangan kesehatan, ekonomi, dan kesepian di tengah perubahan kota.

Lili Sutisna menikmati masa lansianya dengan aktif bekerja dan mengurus kebun kecilnya di Kiaracondong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 20:12

Tema Ayo Netizen Mei 2026: Bersabar, Bekerja, dan Berkorban demi Hidup di Bandung

Mei bukan sekadar bulan kelima dalam kalender. Di Bandung, Mei adalah bulan yang sesak.

Keluarga korban longsor Cisarua menangis usai mendengar informasi salah satu keluarganya ditemukan. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Mayantara 30 Apr 2026, 18:41

Kehidupan Sehari-hari sebagai ‘Arsip’

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari.

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari. (Sumber: Pexels | Foto: Şevval Pirinççi)