Renjana: Hidup yang Tertunda di Bandung

Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan Minggu 03 Mei 2026, 08:37 WIB
Gitar disebuah taman kecil. (Foto: Abah Omtris)

Gitar disebuah taman kecil. (Foto: Abah Omtris)

“Manusia, meskipun harus mati, tidak dilahirkan untuk mati tetapi untuk memulai.” — Hannah Arendt

Di Bandung hari ini, gagasan tentang “memulai” terasa seperti sesuatu yang semakin asing. Manusia, kata Hannah Arendt , lahir untuk memulai—untuk mencipta, untuk mengubah arah kehidupannya sendiri. Tetapi di kota ini, banyak hal yang justru terasa menggantung. Tidak benar-benar selesai, namun juga tidak pernah benar-benar dimulai.

Barangkali, itulah yang saya sebut sebagai Renjana .

Renjana bukan sekedar judul lagu yang pernah saya tulis. Ia adalah cara saya membaca Bandung hari ini—sebuah kota yang dipenuhi oleh hasrat yang tertunda. Ingin hidup lebih layak, untuk memiliki waktu yang utuh, untuk didengar, untuk menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar bertahan—semuanya ada, tapi seperti berhenti di tengah jalan.

Di jalanan yang padat, orang-orang belajar bersabar tanpa pernah benar-benar memilihnya. Waktu habis di kemacetan, energi terkuras sebelum hari benar-benar dimulai. Kesabaran, yang seharusnya menjadi kebajikan, perlahan berubah menjadi kewajiban. Ia bukan lagi sikap, melainkan kondisi yang dipaksakan.

Melalui Renjana , saya melihat kesabaran itu bukan sebagai kekuatan, melainkan sebagai tanda dari sesuatu yang tertahan. Seolah-olah ada kehidupan yang ingin bergerak lebih jauh, tetapi terus-menerus ditarik kembali oleh keadaan.

Hal yang sama terjadi pada kerja. Di Bandung, bekerja tidak selalu berarti mendekati kehidupan yang diinginkan. Banyak orang yang bekerja keras, namun tetap merasa jauh dari kata “cukup”. Kota ini menyerap tenaga, waktu, dan perhatian—tetapi tidak selalu mengembalikan dalam bentuk yang setara.

Sebagai musisi balada, saya merasakannya dengan cara yang berbeda—dan mungkin lebih sunyi. Musik yang lahir dari cerita, dari jeda, dari perenungan, kini berhadapan dengan arus yang serba cepat dan instan. Bukan berarti kehilangan makna yang populer, tetapi ruang untuk sesuatu yang pelan-pelan semakin menyempit.

Renjana menjadi cara saya memahami kegelisahan itu. Ia adalah gema dari sesuatu yang tidak sempat diucapkan. Lagu-lagu seperti itu tidak diciptakan untuk berlomba dengan waktu, melainkan untuk menahan jeda. Namun di kota yang terus bergerak tanpa henti, siapa yang masih punya waktu untuk berhenti?

Di titik itulah bekerja berubah menjadi bentuk bertahan. Menjadi musisi balada bukan hanya soal berkarya, tapi juga soal mempertahankan keyakinan. Ketika panggung semakin sempit, ketika apresiasi semakin terfragmentasi, dan ketika perhatian publik terus berpindah dengan cepat—bertahan menjadi pilihan yang tidak selalu rasional, tetapi sulit ditinggalkan.

Dan mungkin, pengorbanan terbesar tidak selalu terlihat. Ia hadir dalam bentuk yang lebih halus: waktu yang tidak kembali, kesempatan yang terlewat, dan keyakinan yang diuji secara perlahan. Dalam diam, banyak orang di kota ini menyumbangkan sesuatu yang bahkan tidak mereka sadari telah hilang.

Melalui Renjana , semua itu terasa seperti satu kesatuan: hidup yang berjalan, namun tidak pernah benar-benar sampai. Orang-orang terus bergerak, tetapi tidak selalu menuju sesuatu. Mereka bertahan, tapi perlahan menjauh dari apa yang dulu ingin mereka mulai.

Pada akhirnya, mungkin yang paling menguji bukanlah kerasnya kota ini, melainkan ketidakjelasan arah yang ditinggalkannya. Kita bersabar, tapi tidak tahu sampai kapan. Kita bekerja, tapi tidak selalu tahu apa. Kita berkorban, tapi jarang sempat bertanya: apakah semua ini benar-benar membawa kita ke suatu tempat?

Dan jika manusia benar-benar lahir untuk memulai, seperti yang diyakini Hannah Arendt , maka pertanyaannya menjadi semakin sederhana sekaligus mendesak: di tengah segala renjana yang menggantung ini, apakah Bandung masih memberi ruang untuk memulai—atau hanya mengajarkan kita untuk terus bertahan dalam sesuatu yang tak pernah selesai? (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Abah Omtris
Tentang Abah Omtris
Musisi balada juga aktif di berbagai komunitas lainnya

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)