Renjana: Hidup yang Tertunda di Bandung

3 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Gitar disebuah taman kecil. (Foto: Abah Omtris)
Gitar disebuah taman kecil. (Foto: Abah Omtris)

“Manusia, meskipun harus mati, tidak dilahirkan untuk mati tetapi untuk memulai.” — Hannah Arendt

Di Bandung hari ini, gagasan tentang “memulai” terasa seperti sesuatu yang semakin asing. Manusia, kata Hannah Arendt , lahir untuk memulai—untuk mencipta, untuk mengubah arah kehidupannya sendiri. Tetapi di kota ini, banyak hal yang justru terasa menggantung. Tidak benar-benar selesai, namun juga tidak pernah benar-benar dimulai.

Barangkali, itulah yang saya sebut sebagai Renjana .

Renjana bukan sekedar judul lagu yang pernah saya tulis. Ia adalah cara saya membaca Bandung hari ini—sebuah kota yang dipenuhi oleh hasrat yang tertunda. Ingin hidup lebih layak, untuk memiliki waktu yang utuh, untuk didengar, untuk menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar bertahan—semuanya ada, tapi seperti berhenti di tengah jalan.

Di jalanan yang padat, orang-orang belajar bersabar tanpa pernah benar-benar memilihnya. Waktu habis di kemacetan, energi terkuras sebelum hari benar-benar dimulai. Kesabaran, yang seharusnya menjadi kebajikan, perlahan berubah menjadi kewajiban. Ia bukan lagi sikap, melainkan kondisi yang dipaksakan.

Melalui Renjana , saya melihat kesabaran itu bukan sebagai kekuatan, melainkan sebagai tanda dari sesuatu yang tertahan. Seolah-olah ada kehidupan yang ingin bergerak lebih jauh, tetapi terus-menerus ditarik kembali oleh keadaan.

Hal yang sama terjadi pada kerja. Di Bandung, bekerja tidak selalu berarti mendekati kehidupan yang diinginkan. Banyak orang yang bekerja keras, namun tetap merasa jauh dari kata “cukup”. Kota ini menyerap tenaga, waktu, dan perhatian—tetapi tidak selalu mengembalikan dalam bentuk yang setara.

Sebagai musisi balada, saya merasakannya dengan cara yang berbeda—dan mungkin lebih sunyi. Musik yang lahir dari cerita, dari jeda, dari perenungan, kini berhadapan dengan arus yang serba cepat dan instan. Bukan berarti kehilangan makna yang populer, tetapi ruang untuk sesuatu yang pelan-pelan semakin menyempit.

Renjana menjadi cara saya memahami kegelisahan itu. Ia adalah gema dari sesuatu yang tidak sempat diucapkan. Lagu-lagu seperti itu tidak diciptakan untuk berlomba dengan waktu, melainkan untuk menahan jeda. Namun di kota yang terus bergerak tanpa henti, siapa yang masih punya waktu untuk berhenti?

Di titik itulah bekerja berubah menjadi bentuk bertahan. Menjadi musisi balada bukan hanya soal berkarya, tapi juga soal mempertahankan keyakinan. Ketika panggung semakin sempit, ketika apresiasi semakin terfragmentasi, dan ketika perhatian publik terus berpindah dengan cepat—bertahan menjadi pilihan yang tidak selalu rasional, tetapi sulit ditinggalkan.

Dan mungkin, pengorbanan terbesar tidak selalu terlihat. Ia hadir dalam bentuk yang lebih halus: waktu yang tidak kembali, kesempatan yang terlewat, dan keyakinan yang diuji secara perlahan. Dalam diam, banyak orang di kota ini menyumbangkan sesuatu yang bahkan tidak mereka sadari telah hilang.

Melalui Renjana , semua itu terasa seperti satu kesatuan: hidup yang berjalan, namun tidak pernah benar-benar sampai. Orang-orang terus bergerak, tetapi tidak selalu menuju sesuatu. Mereka bertahan, tapi perlahan menjauh dari apa yang dulu ingin mereka mulai.

Pada akhirnya, mungkin yang paling menguji bukanlah kerasnya kota ini, melainkan ketidakjelasan arah yang ditinggalkannya. Kita bersabar, tapi tidak tahu sampai kapan. Kita bekerja, tapi tidak selalu tahu apa. Kita berkorban, tapi jarang sempat bertanya: apakah semua ini benar-benar membawa kita ke suatu tempat?

Dan jika manusia benar-benar lahir untuk memulai, seperti yang diyakini Hannah Arendt , maka pertanyaannya menjadi semakin sederhana sekaligus mendesak: di tengah segala renjana yang menggantung ini, apakah Bandung masih memberi ruang untuk memulai—atau hanya mengajarkan kita untuk terus bertahan dalam sesuatu yang tak pernah selesai? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)