Kemacetan Bandung Makin Tidak Terkendali, Warga Mulai Kehabisan Sabar

Exnachia Clara
Ditulis oleh Exnachia Clara diterbitkan Senin 01 Des 2025, 15:31 WIB
Kemacetan memenuhi Jalan Buah Batu pada Bulan November akibat padatnya arus kendaraan. (Foto: Exnachia Clara)

Kemacetan memenuhi Jalan Buah Batu pada Bulan November akibat padatnya arus kendaraan. (Foto: Exnachia Clara)

Kemacetan di Kota Bandung semakin terasa padat dan mulai membuat banyak warga kehilangan kenyamanan saat beraktivitas. Jalan-jalan utama yang dulu masih bisa dilewati dengan cukup lancar kini hampir selalu padat, bahkan pada hari biasa sekalipun.

Hampir setiap sore daerah Sukajadi, Pasteur, Riau, hingga Dago berubah menjadi jalur yang nyaris tidak bergerak. Perjalanan singkat yang seharusnya hanya memakan waktu beberapa menit sering berubah menjadi hampir satu jam. Banyak orang akhirnya harus berangkat lebih cepat atau menunda berbagai keperluan agar tidak terjebak terlalu lama.

Lonjakan jumlah kendaraan pribadi jelas menjadi salah satu penyebab utama, tetapi bukan satu-satunya. Kapasitas jalan yang tidak berubah sejak lama membuat beban lalu lintas semakin tidak seimbang dengan pertumbuhan kendaraan setiap tahun. Warga yang tidak punya pilihan transportasi lain akhirnya tetap membawa kendaraan masing-masing.

Parkir liar juga menjadi masalah yang memperparah keadaan. Banyak kendaraan berhenti sembarangan di pinggir jalan atau depan toko, menghabiskan ruang yang seharusnya dipakai kendaraan lain untuk bergerak. Kondisi seperti ini sering membuat jalan yang sebenarnya cukup lebar menjadi terasa sempit dan macet jauh lebih cepat.

Kemacetan memenuhi Jalan Buah Batu pada Bulan Oktober akibat padatnya arus kendaraan setelah hujan deras. (Foto: Exnachia Clara)
Kemacetan memenuhi Jalan Buah Batu pada Bulan Oktober akibat padatnya arus kendaraan setelah hujan deras. (Foto: Exnachia Clara)

Pada situasi tertentu, beberapa pengendara bahkan naik ke trotoar untuk mencari celah. Pejalan kaki yang seharusnya punya ruang aman justru terpaksa mengalah, sementara arus kendaraan tetap tidak membaik. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa pengawasan di lapangan masih belum cukup kuat.

Transportasi umum sebenarnya bisa menjadi alternatif, tetapi kondisinya belum sepenuhnya mendukung. Armada yang terbatas, waktu kedatangan yang tidak konsisten, dan rute yang belum menjangkau banyak area membuat masyarakat belum merasa nyaman meninggalkan kendaraan pribadi. Banyak halte terlihat kosong karena warga sudah terbiasa tidak menunggu bus yang jadwalnya sulit ditebak.

Sistem park and ride yang diharapkan menjadi solusi juga belum menunjukkan hasil besar. Beberapa titik parkir masih minim fasilitas, sehingga orang lebih memilih membawa kendaraan hingga pusat kota. Tanpa layanan pendukung yang memadai, konsep ini akan sulit berjalan maksimal.

Kemacetan yang berlangsung lama tidak hanya menghabiskan waktu, tetapi juga memperburuk kualitas udara. Kendaraan yang berhenti dalam waktu lama menghasilkan asap yang menumpuk, membuat perjalanan menjadi semakin melelahkan. Banyak pengendara akhirnya merasa stres sebelum sampai ke tujuan.

Beberapa titik sebenarnya bisa terbantu jika ada petugas yang mengatur secara langsung. Ketidakhadiran pengawas di jam-jam ramai membuat arus lalu lintas berjalan tidak terarah dan kadang saling menyumbat. Pengendara yang tidak sabar justru membuat kondisi makin kacau.

Warga berharap langkah konkret segera terlihat, bukan hanya rencana di atas kertas. Penertiban, pengaturan ulang jalur padat, dan peningkatan pengawasan sangat dibutuhkan agar kondisi tidak terus memburuk. Perubahan kecil yang dilakukan konsisten dapat memberikan dampak yang cukup besar.

Situasi kemacetan ini perlu menjadi perhatian serius bagi Wali Kota Bandung, M. Farhan, agar masyarakat kembali merasakan perjalanan yang wajar dan tidak melelahkan. Bandung selayaknya menjadi kota yang nyaman untuk ditinggali, bukan tempat di mana warganya harus selalu khawatir soal waktu tempuh yang tidak menentu. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Exnachia Clara
Mahasiswi Digital Public Relations 2024 Telkom University

Berita Terkait

News Update

Beranda 04 Feb 2026, 11:56 WIB

Ironi Co-firing Biomassa PLTU di Jawa Barat, Klaim Transisi Energi dan Dampaknya bagi Warga

Skema yang diklaim lebih ramah lingkungan ini dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan mendasar, terutama dampak lingkungan dan kesehatan warga yang hidup berdampingan dengan PLTU.
Ilustrasi PLTU. (Sumber: Bruno Miguel / Unsplash)
Beranda 04 Feb 2026, 09:42 WIB

Jika Kebun Binatang Bandung Hilang, Apa yang Tersisa dari Kota Ini?

Tempat ini merupakan rangkaian panjang sejarah dan ungkapan cinta warga kota yang telah terbangun sejak satu abad lalu.
Pegunjung memanfaatkan Kawasan Kebun Binatang Bandung yang rindang dan sejuk untuk berkumpul dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 09:39 WIB

Aan Merdeka Permana Penulis Spesialis Tema Padjadjaran

Yayasan Kebudayaan Rancagé menetapkan sastrawan Sunda senior Aan Merdeka Permana sebagai peraih Hadiah Jasa 2026.
Buku-buku karya Aan Merdeka Permana. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 08:04 WIB

Ngabuburit dari Masa ke Masa

Ngabuburit di kota Bandung mengalami pergeseran nilai dan aktifitas serta cara melakukannya.
Masjid Al-Jabar di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Andry Sasongko)
Bandung 03 Feb 2026, 21:16 WIB

Misi Kemanusiaan dan Esensi CSR Berkelanjutan dalam Memulihkan Luka Bencana Cisarua

CSR berkelanjutan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang hadir dan tetap ada hingga masyarakat benar-benar mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri.
Dalam skenario bencana sebesar Cisarua, kecepatan respons adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan harapan. (Sumber: SANY Indonesia)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 19:40 WIB

Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Jalan Pasirluyu Selatan Bandung berubah menjadi sentra karangan bunga. Bulan Rajab dan Syaban membawa lonjakan pesanan papan ucapan pernikahan dan hajatan.
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 03 Feb 2026, 19:00 WIB

Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

“Kalau sampai ada yang keberatan atau komplain, jujur saja bingung mau berlindung ke siapa. Kita kan nggak punya lembaga atau badan hukum,” tuturnya.
Pemilik dan pengelola akun Info Ciumbuleuit, Dio Rama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 18:19 WIB

UU ITE dan Ancaman Kebebasan Ekspresi: Menggugat Pelanggaran Asas Lex Certa

Menganalisis pelanggaran asas lex certa dalam UU ITE yang memicu chilling effect dan mengancam kebebasan berekspresi serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 17:02 WIB

Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Puasa itu mengajarkan menahan diri, zakat menyempurnakannya. Ia menumbuhkan kesadaran sosial dan kebahagiaan bagi sesama.
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:33 WIB

Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

Kawasan Pasteur Bandung tumbuh dari pusat riset vaksin kolonial menjadi simpul penting ilmu kesehatan nasional yang jejaknya masih bertahan hingga kini.
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:31 WIB

Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

Didirikan di Bandung pada 1912, Indische Partij menjadi organisasi politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh dari kekuasaan kolonial Belanda.
Logo Indische Partij.
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 15:13 WIB

Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

Di tengah kecemasan, kisah “Nihilist Penguin” bertemu tekanan hidup kota. Dari luka personal lahir Florist Project dan lagu “Cemas”, seni yang tak menggurui, tapi menemani manusia belajar bertahan.
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)
Bandung 03 Feb 2026, 12:52 WIB

Berlari Menjemput Cahaya Pendidikan: Jejak Kebaikan di Balik DH Run 2026

Di balik kemeriahan medali dan garis finis, DH Run 2026 membawa misi sosial yang menyentuh akar kehidupan.
Konferensi pers DH Run 2026 yang membawa misi sosial untuk menyentuh akar kehidupan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 12:43 WIB

Raih Hadiah Jasa Rancage, Aan M.P. Sebut KDM Tidak Senang Bantu Sastrawan Miskin

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa.
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 11:11 WIB

Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Tema ini menjadi ajakan terbuka bagi para penulis Ayo Netizen untuk mengirim tulisan terbaik.
Ayo Netizen Ayobandung.id mengangkat tema "Bandung Raya dan Bulan Puasa: Tradisi, Ekonomi, dan Realita Saat Ini" untuk edisi Februari 2026. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT)
Bandung 03 Feb 2026, 10:58 WIB

Dari Kaki Lima ke Ruko Lantai Tiga: Strategi Awug Cibeunying Bertahan di Tengah Zaman

Rizky turut serta menjaga kualitas dan kuantitas awug supaya tetap terjaga meski pasang-surut perubahan zaman telah dihadapi bersama keluarga besarnya selama membangun bisnis ini.
Kios Awug Cibeunying. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 09:36 WIB

Kian Banyak Tertemper Kereta Api, Perlintasan Sebidang Titik Paling Mematikan

Setelah perlintasan sebidang dibangun jalan layang atau terowongan, ternyata kebijakan daerah sangat lemah.
Perlintasan sebidang di Cimindi yang sangat rawan. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Bandung 03 Feb 2026, 09:19 WIB

Digitalisasi Jejak Karbon: Menakar Teknologi Berkelanjutan dalam Layanan Pelanggan Singapore Airlines

Penumpang dan pelanggan kargo SIA dapat menghitung dan mengimbangi emisi karbon penerbangan mereka, baik sebelum maupun setelah terbang.
Maskapai Singapore Airlines. (Sumber: Singapore Air)
Beranda 03 Feb 2026, 07:12 WIB

Di Antapani, Komunitas Temu Tumbuh Menjadi Tempat Pulang bagi Percakapan yang Jujur

Nilai-nilai dalam kacamata tuntutan masyarakat inilah yang kemudian memantik kecenderungan rasa cemas manusia di masa kini.
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 19:47 WIB

Susah Payah Menjaga Tertib Bahasa Dicengkram Mesin Algoritma

Standar Bahasa Indonesia perlahan tidak lagi dibentuk oleh komunitas diskusi, melainkan oleh mesin berbasis data global.
Ilustrasi bahasa mesin yang menentukan algoritma. (Sumber: Sketsa oleh ChatGPT)