PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

GELOMBANG pemutusan hubungan kerja (PHK) baru saja terjadi di PT Namnam Fashion Industries. Laporan media menyebut sedikitnya 178 orang terkena PHK.

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sekilas, alasan PHK tampak sederhana: order turun. Tapi, di balik itu, sesungguhnya ada perubahan struktural yang jauh lebih dalam dan tidak mudah dibalik begitu saja.

Pintu masuk industrialisasi

Kita sama-sama ketahui, selama puluhan tahun, industri garmen menjadi pintu masuk industrialisasi bagi banyak negara berkembang. Indonesia termasuk yang menikmati fase ini -- dengan murahnya tenaga kerja, pasar ekspor terbuka, dan permintaan global stabil.

Sayangnya, lanskap itu kiwari berubah cepat. Permintaan pasar global tidak lagi sekonsisten dulu. Siklusnya makin pendek, sementara volatilitasnya kian tinggi.

Salah satu biang keladinya adalah perubahan perilaku konsumen. Fast fashion -- model bisnis di industri pakaian yang menekankan produksi cepat, murah, dan mengikuti tren terbaru -- membuat tren datang dan pergi dalam hitungan minggu, bukan lagi musim.

Merek-merek besar kini tidak lagi melakukan pemesanan produk garmen dalam jumlah besar untuk stok jangka panjang. Sebaliknya, mereka memesan dalam jumlah kecil, dengan siklus yang cepat dan fleksibel, menyesuaikan perubahan tren pasar yang sangat dinamis.

Buntutnya, pabrik garmen seperti yang ada di Cimahi kehilangan kepastian order. Produksi tidak lagi bisa direncanakan jauh hari. Di sisi lain, tekanan harga juga semakin brutal. Brand global terus menekan biaya produksi agar tetap kompetitif di pasar.

Ini memicu perlombaan ke level bawah -- siapa yang paling murah, dia yang akhirnya dapat order. Negara-negara seperti Bangladesh dan Vietnam menjadi pesaing serius Indonesia. Mereka menawarkan biaya tenaga kerja lebih rendah dan insentif investasi yang agresif.

Bahkan, beberapa negara Afrika mulai masuk radar industri garmen. Ethiopia, contohnya, pernah dipromosikan sebagai the next Bangladesh.

Ujungnya, Indonesia berada di posisi yang sulit. Upah terus naik, tapi produktivitas belum melonjak sebanding. Di saat yang sama, biaya logistik juga masih menjadi beban. Infrastruktur memang membaik, tapi belum sepenuhnya efisien untuk rantai pasok global yang serba cepat.

Belum lagi soal kepastian regulasi. Dunia usaha membutuhkan stabilitas, sementara perubahan kebijakan sering terasa tidak sinkron.

Titik balik penting

Di level global, pandemi Covid-19 menjadi titik balik penting dalam cara perusahaan mengelola rantai pasoknya. Gangguan produksi di satu negara bisa langsung berdampak ke seluruh dunia. Dari situ, banyak brand mulai menyadari risiko terlalu bergantung pada satu pemasok utama.

Sebelum pandemi, China menjadi pusat produksi global yang dominan, termasuk untuk industri garmen. Skala besar, infrastruktur matang, dan efisiensi tinggi membuat banyak perusahaan menempatkan hampir seluruh produksinya di sana.

Namun, ketika pandemi melumpuhkan aktivitas industri di China, rantai pasok global ikut terguncang. Keterlambatan produksi, kelangkaan barang, hingga lonjakan biaya logistik menjadi pelajaran mahal bagi banyak perusahaan.

Dari pengalaman itu, muncul strategi yang dikenal sebagai China+1. Artinya, perusahaan tetap mempertahankan China sebagai basis produksi utama, tetapi menambahkan satu negara alternatif sebagai cadangan.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Negara +1 ini biasanya dipilih berdasarkan biaya tenaga kerja yang lebih murah atau insentif investasi, seperti Vietnam, Bangladesh, atau India. Tujuannya sederhana: jika terjadi gangguan di China, produksi masih bisa berjalan dari lokasi lain.

Namun, perkembangan tidak berhenti di situ. Seiring meningkatnya ketidakpastian global, mulai dari tensi geopolitik hingga perubahan kebijakan perdagangan, strategi ini berkembang menjadi China+many.

Dalam pendekatan China+many, perusahaan tidak lagi hanya menambah satu alternatif negara, tetapi menyebar produksi ke beberapa negara sekaligus. Produksi menjadi lebih terdistribusi, tidak terkonsentrasi pada satu atau dua lokasi saja.

Strategi ini membuat rantai pasok lebih tahan terhadap guncangan. Jika satu negara mengalami masalah, dampaknya tidak langsung melumpuhkan seluruh produksi.

Bagi negara seperti Indonesia, perubahan tersebut menciptakan peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, ada kesempatan untuk menarik relokasi produksi. Namun, di sisi lain, persaingan menjadi jauh lebih ketat karena banyak negara menjadi pemain dan berlomba menawarkan biaya dan kemudahan terbaik.

Dalam konteks inilah, penurunan order yang dialami pabrik-pabrik lokal di Indonesia tidak bisa dilihat semata sebagai masalah internal. Ia adalah bagian dari pergeseran besar dalam peta produksi global yang kini semakin tersebar dan kompetitif.

Buntutnya, order tidak lagi terkonsentrasi. Negara seperti Indonesia harus berbagi kue dengan lebih banyak pemain. Belum selesai sampai di situ, muncul pula tren reshoring dan nearshoring. Negara-negara maju mulai memproduksi lebih dekat ke pasar mereka sendiri.

Mengubah permainan

Teknologi juga ikut mengubah permainan bisnis garmen. Otomatisasi membuat produksi di negara mahal menjadi lebih masuk akal.

Jika mesin bisa menggantikan sebagian tenaga kerja, maka keunggulan upah murah menjadi berkurang. Di titik ini, industri garmen tidak lagi sekadar soal murah. Ia juga menjadi soal kecepatan, fleksibilitas, dan integrasi teknologi.

Sayangnya, banyak pabrik di Indonesia masih bermain di model lama, yakni volume besar, margin tipis, dan ketergantungan pada buyer. Nah, ketika order turun, tidak ada bantalan pengaman. Dampaknya langsung terasa: produksi berhenti, pekerja dirumahkan. Di sinilah PHK massal menjadi gejala, bukan penyebab.

Yang sering luput dibahas adalah posisi tawar. Pabrik-pabrik lokal berada di ujung rantai nilai. Mereka hanya produsen. Nilai terbesar justru ada di desain, branding, dan distribusi. Dan itu dikuasai oleh perusahaan-perusahaan global. Selama struktur ini tidak berubah, margin akan tetap tipis dan rentan terhadap guncangan. 

Pertanyaannya kemudian adalah: apakah Indonesia bisa naik kelas dari sekadar manufaktur menjadi bagian dari rantai nilai yang lebih tinggi, misalnya desain, pengembangan produk, atau bahkan brand sendiri?

Upaya ke arah itu sebenarnya sudah mulai terlihat. Sejumlah pelaku industri mencoba masuk ke segmen bernilai tambah lebih tinggi. Namun, skalanya masih terbatas dan belum berkembang menjadi arus utama dalam industri garmen nasional.

Di sisi lain, peran pemerintah sejauh ini lebih banyak terasa saat krisis terjadi. Misalnya, dengan memastikan hak pekerja tetap terpenuhi, memediasi konflik, atau menyalurkan bantuan. Langkah-langkah ini tentu penting sebagai respons jangka pendek.

Meski demikian, pendekatan tersebut belum cukup untuk menjawab tantangan struktural yang dihadapi industri. Yang dibutuhkan adalah strategi jangka panjang berupa sebuah kerangka kebijakan yang memandang industri garmen bukan semata sebagai penyerap tenaga kerja, melainkan sebagai ekosistem yang perlu didorong untuk bertransformasi, naik kelas, dan memiliki daya saing berkelanjutan.

Dan transformasi tidak instan. Ia butuh investasi, pelatihan, dan keberanian mengambil risiko. Di sisi pekerja, tantangannya juga besar. Keterampilan yang relevan hari ini belum tentu relevan besok. Maka, pelatihan ulang menjadi kunci.

Kisah PHK massal di Cimahi seharusnya menjadi alarm bukan hanya bagi pemerintah, tapi juga pelaku industri bahwa dunia sudah berubah, dan cara-cara lama berbisnis tidak lagi cukup.

Industri garmen sendiri belum mati. Namun, jelas, kondisinya tidak lagi seperti dulu. Saat ini, yang bisa bertahan bukan yang paling murah, tapi yang paling adaptif. Dan adaptasi, seperti yang kita ketahui, selalu datang dengan harga yang tidak kecil. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 18:09

Pandemi Senyap Kapitalisme dalam Industri Gula dan Obat-obatan

Membongkar masalah ketimpangan yang serius di balik industri gula dan obat-obatan. Keduanya berkolaborasi dalam industri kematian yang mengancam masyarakat berpenghasilan rendah.

Pabrik gula. (Sumber: Pexels | Foto: Deepak Sharma)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 17:07

Mengapa Kampanye Mi Nyemek Jogja Mudah Diingat?

Menganalisis bagaimana Mi Nyemek Ala Jogja Rasa Rendang dipublikasikan dengan pesan yang konsisten, sehingga informasi produk dapat diterima publik secara luas dan jelas.

Ilustrasi mie nyemek Jogja. (Sumber: Youtube | Foto: DewiRistiyaniKitchen)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 16:00

Dari Kasus Penebangan Pohon hingga Persib-Persija, Isu Menarik Pekan Ini untuk Ayo Netizen

Bagi penulis Ayo Netizen yang masih mencari ide segar, berikut beberapa isu yang layak diangkat dalam beberapa hari ke depan.

Lokasi pohon-pohon yang diduga ditebang tanpa izin pemerintah. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 15:02

Mengapa Kampanye Jumbo Mudah Diingat? Jawabannya Ada pada Konsistensi Pesan

Kolaborasi antara Fore Coffe dan film animasi Jumbo menjadi salah satu strategi pemasaran yang menarik untuk di teliti karena menghadirkan pengalaman yang baru bagi konsumen.

Ilustrasi kampanye film Jumbo yang masih tetap konsisten sampai saat ini. (Istimewa)
Sejarah 03 Agu 2026, 13:10

Sejarah Peuyeum Ketan Kuningan, Tradisi Fermentasi yang jadi Identitas Daerah

Peuyeum ketan Kuningan lahir dari tradisi kampung, berkembang menjadi oleh-oleh populer, dan tetap mempertahankan proses fermentasi tradisional.

Peuyeum atau tape ketan Kuningan.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 12:38

Momentum Agustus 2026: Saatnya Menggali Cerita dari Kemerdekaan hingga Budaya Bandung

Bulan Agustus selalu menghadirkan banyak momentum yang layak dijadikan bahan tulisan.

Sejumlah ibu rumah tangga mengikuti berbagai lomba 17 Agustus di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 10:05

Mengenang Acara Radio Favorit GANESHA IWAN FALS (GIF)

Lagu-lagu Iwan Fals menyebar dari kaset, panggung konser, hingga gelombang radio.

Sosok musisi legendaris Iwan Fals menghiasi berbagai halaman depan tabloid dan majalah musik populer sepanjang era 1990-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 08:48

Penebangan Pohon Malam Hari: Kejahatan Lingkungan atau Sekadar Pelanggaran Administratif?

Ketika penebangan pohon dilakukan tanpa izin, maka secara administratif, jelas itu pelanggaran lantaran ada prosedur yang dilanggar.

Aktivita penebangan pohon di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)