Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

5 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)

Kita sering terjebak dengan skematik algoritma angka. Bahwa setiap pertanyaan dalam ruang belajar, harus diapresiasi dengan nilai. Apakah sistem pendidikan kita salah? Sebetulnya apa yang menjadi akar permasalahan dalam pendidikan kita? Pertanyaan ini sederhana, tetapi menjadi kompleks untuk dicarikan solusinya. Sementara, hampir setiap hari, dunia pendidikan menjadi polemik yang terus diperdebatkan.

Ada sesuatu yang tidak disadari dan berpotensi kesalahan besar. Ini berbahaya jika anak yang tidak bisa menjawab soal ujian, kemudian anak yang berhenti bertanya. Sebab ketika seorang anak tidak lagi bertanya, pendidikan perlahan kehilangan fungsi dasarnya. Sekolah mungkin masih berdiri, guru masih mengajar, buku masih dibagikan, ujian masih dilaksanakan, bahkan angka-angka kelulusan masih dapat diumumkan. Tetapi di balik semua itu, bisa saja sedang terjadi sebuah kehilangan yang jauh lebih besar: hilangnya kesempatan anak untuk tumbuh menjadi manusia yang mampu berpikir.

Pendidikan seharusnya tidak hanya membuat anak mengetahui jawaban. Pendidikan harus memberi mereka keberanian untuk bertanya: mengapa jawaban itu benar, apakah ada jawaban lain, siapa yang diuntungkan, siapa yang dirugikan, dan bagaimana sebuah persoalan dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Di sinilah persoalan pendidikan Indonesia menjadi penting untuk direnungkan.

Sebab berpikir kreatif bukan sekadar kemampuan menggambar, menulis puisi atau menghasilkan sesuatu yang unik. OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) mendefinisikan creative thinking sebagai kemampuan menghasilkan, mengevaluasi, dan memperbaiki gagasan untuk menghasilkan solusi yang orisinal dan efektif. Kemampuan tersebut digunakan dalam ekspresi tulisan, visual, pemecahan masalah sosial, maupun pemecahan masalah ilmiah.

Dengan demikian, persoalannya jauh lebih mendasar. Kita sedang berbicara tentang bagaimana seorang anak belajar menghadapi dunia. Salah satu masalah pendidikan yang sering luput dibicarakan adalah kecenderungan menjadikan pengetahuan sebagai kumpulan jawaban yang harus dihafalkan.

Pola semacam itu memang diperlukan pada tingkat tertentu. Anak tetap membutuhkan pengetahuan dasar, kemampuan membaca, berhitung, memahami sejarah, ilmu pengetahuan, bahasa, dan berbagai fondasi akademik lainnya. Tetapi pendidikan akan menjadi miskin apabila berhenti pada hafalan.

Pengetahuan adalah bahan baku berpikir, bukan tujuan akhir berpikir. Anak yang hafal banyak hal belum tentu mampu memahami persoalan. Anak yang memperoleh nilai tinggi belum tentu mampu melihat hubungan antara pengetahuan yang dipelajarinya dengan kenyataan hidup. Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya: berapa banyak yang diketahui seorang anak? Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang dapat dilakukan anak dengan pengetahuan itu?

Andreas Schleicher, Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD, menekankan bahwa berpikir kreatif merupakan kemampuan yang dapat dikembangkan. Kreativitas bukan semata-mata bakat bawaan. Anak dapat menjadi lebih kreatif ketika guru memberi ruang untuk mengeksplorasi, menghasilkan gagasan, dan merefleksikan gagasan tersebut. Artinya, kalau seorang anak tidak kreatif, kita tidak boleh buru-buru mengatakan bahwa anak itu memang “tidak berbakat”.

Dalam sebagian pengalaman pendidikan, kesalahan sering diperlakukan sebagai kegagalan. Padahal dalam proses berpikir, kesalahan justru dapat menjadi pintu masuk menuju pengetahuan.

Dalam jangka panjang, sekolah mungkin berhasil menghasilkan anak yang patuh terhadap soal, tetapi belum tentu menghasilkan anak yang berani menghadapi persoalan. Ini merupakan persoalan epistemologis dalam pendidikan: bagaimana manusia memperoleh pengetahuan dan bagaimana ia mengetahui bahwa pengetahuannya benar.

Maka kelas yang sehat bukan kelas yang selalu sunyi. Kelas yang sehat adalah kelas yang memungkinkan terjadinya percakapan intelektual. Guru tidak kehilangan kewibawaannya hanya karena murid bertanya. Sebaliknya, guru justru menunjukkan kualitas intelektual ketika mampu mengatakan, “Saya belum tahu. Mari kita cari jawabannya bersama.” Kalimat sederhana tersebut sebenarnya sangat revolusioner.

Data PISA 2022 menunjukkan hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam membaca, dibandingkan rata-rata OECD sebesar 74 persen. Pada tingkat yang lebih tinggi, hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau lebih dalam membaca. Pada level tersebut, siswa dituntut mampu memahami teks panjang, menghadapi konsep abstrak, serta membedakan fakta dan opini berdasarkan petunjuk yang tersirat dalam teks.

Ini penting. Sebab masyarakat yang lemah membaca akan mudah menjadi masyarakat yang lemah dalam menilai informasi. Membaca bukan hanya mengenali huruf. Membaca adalah kemampuan memahami konteks, mengenali argumentasi, membedakan fakta dan opini, menemukan bias, membandingkan sumber, dan membangun kesimpulan. Karena itu, literasi seharusnya tidak berhenti pada slogan “gemar membaca”. Yang kita perlukan adalah masyarakat yang mampu membaca secara kritis.

Anak yang tumbuh dalam keluarga dengan akses buku, internet, lingkungan akademik, ruang belajar, dan orang tua yang dapat mendampingi tentu memiliki kondisi yang berbeda dari anak yang harus belajar di tengah keterbatasan.

World Bank dan UNESCO menempatkan kemampuan membaca sebagai fondasi penting pembelajaran selanjutnya. Ketidakmampuan membaca dan memahami teks sederhana pada akhir pendidikan dasar akan membatasi kesempatan seorang anak untuk mempelajari bidang-bidang lain.

Karena itu, berbicara tentang kecerdasan anak tidak cukup dengan mengatakan bahwa “anak harus rajin belajar”. Andreas Schleicher mengajarkan bahwa kritik terhadap sebuah gagasan bukanlah serangan terhadap pribadi. Dengan demikian, kualitas pendidikan sangat bergantung pada kemampuan sistem pendidikan memberi ruang kepada guru untuk mengembangkan pedagogi yang hidup.

OECD menegaskan bahwa berpikir kreatif dapat dikembangkan melalui praktik pendidikan yang mendorong eksplorasi dan penemuan, bukan hanya pengulangan dan otomatisasi. Guru juga membutuhkan dukungan untuk mengenali serta mendorong kreativitas siswa.

Kecerdasan pada zaman digital bukan lagi sekadar kemampuan menemukan informasi. Mesin pencari dan kecerdasan buatan dapat membantu melakukan itu. Yang semakin penting adalah kemampuan menilai.

Karena itu, teknologi pendidikan harus digunakan untuk memperluas kemampuan berpikir, bukan menggantikan proses berpikir. Jika teknologi hanya membuat anak lebih cepat mendapatkan jawaban, tetapi tidak membuat mereka lebih mampu memahami pertanyaan, kita sebenarnya tidak sedang melakukan transformasi pendidikan.

PISA 2022 juga menunjukkan pentingnya strategi belajar aktif. OECD menemukan bahwa siswa yang menggunakan strategi seperti bertanya ketika tidak memahami sesuatu dan melihat persoalan dari perspektif yang berbeda cenderung memiliki capaian lebih baik, bahkan setelah mempertimbangkan latar belakang sosial-ekonomi siswa dan sekolah.

Sesungguhnya persoalan terbesar pendidikan Indonesia mungkin bukan kekurangan anak cerdas. Kita memiliki banyak anak dengan rasa ingin tahu yang besar. Masalahnya adalah apakah sistem pendidikan mampu merawat rasa ingin tahu tersebut sampai mereka dewasa. Padahal pendidikan semestinya memiliki tujuan yang lebih jauh: membentuk manusia yang mampu menjalani hidup dengan kesadaran.

Pendidikan tidak boleh semata-mata dipandang sebagai urusan sekolah. Pendidikan adalah investasi peradaban. Jalan keluar tentu tidak sederhana. Kita membutuhkan penguatan literasi dasar, peningkatan kualitas guru, pemerataan fasilitas, perubahan sistem evaluasi, pengembangan pembelajaran berbasis masalah, penguatan budaya membaca, serta pemanfaatan teknologi yang benar-benar memperkaya pengalaman belajar.

Semua itu harus berangkat dari satu kesadaran kolektif. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki banyak orang berpendidikan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki manusia-manusia yang berani berpikir, mampu berpikir, dan diberi kesempatan untuk berpikir.

Jangan sampai anak-anak bangsa kehilangan kesempatan itu hanya karena pendidikan kita terlalu sibuk mengajarkan jawaban, tetapi lupa mengajarkan bagaimana menemukan pertanyaan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)